
Akhirnya setelah mendapat sogokan berupa ciuman hangat di pagi hari, aku terpaksa membiarkan Alexa pergi mengajar.
Di depan sekolah, aku menatap gundah wajah Alexa. Menyisir rambut ikal Alexa menggunakan jemariku dan meletakannya di belakang daun telinga. Alexa tersenyum setiap kali aku mengusap rambutnya.
“Nanti kamu bisa terlambat kerja jika menyisir rambutku terus.”
“Kalau tidak enak badan, cepat telepon aku! Jangan dipaksakan jika kelelahan! Mengerti?”
Alexa mengangguk.
“Begitu mengajar, jangan pulang sebelum ada sopir yang menjemput kalian! Jangan makan sembarangan! Jangan berbicara dengan orang asing, apalagi kalau orang asing itu seorang pria.”
Alexa malah tertawa melihat kekhawatiran di wajahku. Dia melipat tangan di depan dada, dan bola mata hitamnya meneliti setiap gerak-gerikku yang membuat salah tingkah.
Sedangkan Kirana ada di tengah-tengah kami, menatap aku dan Alexa bergantian.
“Balin, kamu terlihat lebih tampan saat sedang cemas. Aku jadi ingin dalam bahaya terus.”
“APA KATAMU?” aku berseru sambil mencubit lengan Alexa yang tentu saja cubitan itu aku kurangi kekuatannya.
“Iya, iya aku minta maaf, Suamiku Sayang. Aku pasti akan menjaga Kirana dan diriku sendiri sebaik-baiknya.”
“Nah begitu dong. Aku pamit pergi dulu,” ucapku yang kemudian memeluk Alexa dan menciumnya. Tidak peduli di mana kita sekarang.
“Balin,” Alexa memekik seraya mendorong dadaku. “Kita ada di depan sekolah, dan ada Kirana juga.”
Aku mengabaikan ucapan Alexa, mataku beralih pada Kirana yang tidak sabar ingin masuk ke kelas. Aku berjongkok untuk menyejajarkan pandangannya.
“Kirana, tolong jaga Mama ya? Dan jaga diri Kirana juga.”
“Iya, Papa. Aku bakal lindungi Mama dari orang jahat kok. Seperti Papa yang selalu lindungi aku.”
Aku tersenyum dan mengecup poni Kirana. Lalu segera masuk ke dalam kursi pengemudi. Di dalam mobil, sudah ada Rama juga yang duduk di kursi depan.
Rama bersiul sambil merapikan tatanan rambut yang dipoles pomade. Aku melayangkan tatapan keheranan pada adikku itu. Pasalnya, jarang sekali dia dandan serapi itu.
Sejenak dari indra penciumanku, tercium bau wangi semerbak. Dia pakai parfum berapa botol sih?
Namun, aku lebih memilih melajukan mobil, melambaikan tangan ke arah Alexa dan Kirana yang masih berdiri di depan gerbang sekolah.
“Kak Balin dan Kak Alexa padahal sudah dua tahun menikah tapi seperti layaknya pengantin baru saja, bikin iri tahu.”
“Makanya jangan jomblo terus,” kataku menohok hingga ulu hati.
“Kakak belum tahu ya? Sekarang aku dan Shinta sudah resmi pacaran.”
__ADS_1
Pandanganku yang tadinya fokus menyetir langsung beralih ke Rama dengan cepat.
“Hah? Masa sih? Bagaimana bisa?”
“Empat tahun kuliah bersama dan sekarang, kerja di kantor yang sama pastilah akan tumbuh sesuatu. Seperti sebuah pepatah. Witing tresno jalaran soko kulino.”
Aku berdecak pelan tanpa didengar oleh Rama, “Kasihan sekali nasib Shinta.”
“Ngomong-ngomong apakah Kakak belum memprogram kehamilan? Memangnya Kakak tidak mau menambah anak? Kakak sih tidak pernah memakai obat yang sering aku kasih.”
Aku melirik tajam pada Rama. Dua tahun aku menikah, dia tidak ada kapoknya memberi aku obat sialan itu. Padahal obat itu sudah aku buang ke tempat sampah persis di hadapan Rama.
“Bukan itu masalahnya,” aku menggertak. “Kami hanya belum diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati.”
Aku membuang napas berat. Aku ceritakan pada Rama bahwa saat ini aku masih dihantui rasa ngeri dan takut semenjak aku membantu persalinan Karina.
Selain dihantui oleh bayang-bayang Harsa, pikiranku juga diselimuti rasa cemas jika nanti Alexa melahirkan, dan saat itu juga Alexa dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Meninggalkan aku dan anak yang baru saja dia lahirkan.
“Bagaimana kalau nanti Alexa melahirkan dan meregang nyawa seperti yang terjadi pada Karina? Aku tidak akan bisa membayangkannya.”
Rama berdecak dan memutar kedua bola mata, “Kak, Ibu juga melahirkan kita berdua tapi Ibu masih hidup sampai sekarang. Kakak harusnya berpikir yang positif. Tidak semua ibu melahirkan akan bernasib sama dengan mendiang Kak Karina.”
“Kamu gampang bisa bicara seperti itu, aku yang melihat kejadian langsungnya bagaimana Kirana lahir, dan kemudian Karina meninggal.”
Setelah makan malam yang diadakan oleh Frans, kami duduk bersantai untuk melihat bayi yang berumur beberapa hari. Sejenak aku jadi teringat saat pertama kali aku merawat Kirana.
Begitu melihat wajah sang buah hati Cindy dan Frans, Alexa tidak mau beranjak pergi dari samping tempat tidur bayi perempuan, yang diberi nama Sunny.
Dua bola mata hitam milik Alexa mengamati terus Sunny. Saking cintanya dia pada anak-anak, di mana pun dia berada, jika melihat anak kecil terutama bayi dia akan merasa gemas.
Cindy yang ada di dekat Alexa juga bercerita panjang lebar tentang bagaimana perasaannya menjadi ibu baru. Yang membuat Alexa semakin betah berada di dekat Sunny.
Kirana ada bersama dua wanita yang bercakap-cakap hangat dan sesekali bertanya tentang banyak hal.
Sementara aku mengamati mereka dari jauh, di sampingku ada Frans yang juga melakukan hal yang sama denganku.
“Frans, bagaimana perasaanmu ketika menemani persalinan Cindy? ”
“Aku menangis,” kata Frans berterus terang.
Aku terperanjat dengan pengakuan Frans. Menoleh cepat ke arahnya, merasa tidak percaya dengan pendengaranku.
__ADS_1
“Hah? Yang benar saja?”
Frans mengangguk, “Saat itu aku sudah berpikiran Cindy akan meninggalkan aku dan bayi kita. Aku menangis sejadi-jadinya. Tapi ternyata Cindy bisa melalui rasa sakit itu dan semua kembali baik-baik saja.”
“Begitu ya?” gumamku sambil perlahan melempar pandangan ke arah Alexa.
“Bahkan begitu Sunny lahir, aku tidak pernah melihat Cindy sebegitu bahagianya. Dia bilang, semua rasa sakitnya sudah terobati ketika melihat Sunny lahir dengan selamat.”
Frans menyeka ujung matanya, dan tertawa, “Maaf aku terbawa suasana. Nanti juga kamu akan merasakannya, Balin.”
Apa mungkin benar yang dikatakan Alexa? Aku terjebak di dalam ketakutanku sendiri yang membuat aku merasa tidak tenang. Aku takut jika nanti Alexa hamil dan kemudian melahirkan.
Aku tidak mau melihat Alexa kesakitan. Tidak mampu aku bayangkan nanti, bagaimana risaunya aku saat menemani persalinan Alexa. Apakah ada cara lain supaya seorang perempuan dapat melahirkan tanpa rasa sakit?
Di saat aku merenungkan semua itu, Kirana menghampiriku dengan dahi berkerut.
“Papa, adik bayi itu asalnya dari mana?”
“Apa?” tanyaku terperangah akibat pertanyaan Kirana.
Aku berdehem, agar suaraku tidak terdengar gugup.
“Coba tanya ke Om Frans, dia kan yang punya adik bayi.”
Frans langsung menyikutku, kegugupan kini menular kepadanya. Pandangan Kirana beralih ke Frans, dia menatap dengan binar mata menanti jawaban.
Kaki Frans mengetuk-ngetukkan lantai, dan menggigit jari telunjuknya, tanda dia sedang mencari jawaban yang pas, dan akhirnya dia menegakkan punggungnya.
“Coba tanyakan pada Tante Cindy, dia kan yang melahirkan adik bayi.”
“Tante Cindy, adik bayi itu dari mana sih?” tanya Kirana menampilkan wajah polosnya.
Aku melihat bola mata Cindy yang gugup dan dengan ragu-ragu menjawab, “Dari dalam perut Tante.”
“Kenapa bisa ada di dalam perut?” Kirana melancarkan pertanyaan berikutnya yang tak kalah membuat kami kelimpungan.
Cindy mencolek lengan Alexa yang sejak tadi tersenyum melihat tingkah Kirana.
“Alexa, ini kan kemampuanmu. Kamu saja yang jawab,” bisik Cindy.
Alexa menyejajarkan pandangan pada Kirana dan berkata, “Pertanyaan Kirana bagus sekali, tapi Mama belum bisa jawab sekarang. Jadi pertanyaan dari Kirana, Mama simpan dulu ya?”
Ajaibnya, Kirana mengangguk dan tidak bertanya yang aneh-aneh lagi. Serempak kami menghela napas lega. Memang Alexa ini adalah pawangnya anak-anak.
__ADS_1