
“Good morning, my little girl, ” sapaku sambil menyembulkan kepala di pintu kamar Kirana.
Sang pemilik kamar sedang duduk di tempat tidur, wajahnya tertunduk memandang buku gambar yang ada di pangkuannya. Tatapannya kosong dengan wajah ditekuk.
Aku yang membawa nampan berisi roti dan segelas susu, berjalan menghampiri Kirana dan meletakan nampan di atas nakas.
“Kenapa tadi tidak ikut sarapan, Kirana? Memangnya kamu tidak lapar? Papa sudah bawakan roti, kamu makan ya? Nanti Kirana bisa sakit jika telat makan.”
Tampaknya semua ucapanku tidak didengar oleh Kirana. Bahkan mungkin dia tidak menganggap aku ada. Kirana tetap diam tak bergeming.
“Kirana habis menggambar? Boleh Papa lihat?”
Tanganku menjulur berniat mengambil buku gambar yang ada di hadapan Kirana, namun secepat kilat buku itu didekap erat oleh pemiliknya.
Aku menghela napas sejenak. Duduk di tepi kasur untuk meluruskan pandangan dengan Kirana. Perlahan menarik dagu Kirana agar dia menatap wajahku.
“Apa Kirana ada masalah di sekolah? Ceritakan pada Papa, Nak!”
“Semua teman aku bilang, kalau aku tidak mirip dengan Papa maupun Mama. Mereka bilang aku ini anak adopsi.”
Air yang mengenang di ujung mata Kirana, kini meluncur ke bawah pipi.
“Adopsi itu apa sih, Pa?”
Di saat aku kelimpungan akan pertanyaan Kirana, mataku menangkap buku yang terletak tak jauh dari tempat tidur. Buku yang berjudul ‘Anak Itik Yang Buruk Rupa.’
Seakan ada yang menyalakan lampu di otak, aku menemukan sebuah ide lalu meraih buku itu.
“Kirana, sudah pernah baca buku ini?” tanyaku sambil memperlihatkan buku dongeng di tangan.
Kirana mengelap air matanya, dan mengangguk.
Aku membacakan buku itu di depan Kirana. Isi ceritanya tentang seekor anak itik yang terlahir berbeda dari saudaranya. Karena dianggap jelek, sang anak itik ditinggalkan oleh induknya.
Anak itik sedih, tapi kemudian dia bertemu induk angsa yang baik hati. Lalu induk angsa merawat dan menanggap anak itik sebagai anaknya sendiri.
Dan pada akhirnya, sang anak itik tidak lagi sedih karena dia merasa istimewa bersama induk angsa.
Aku menutup buku, sejenak melihat ekspresi Kirana. Wajahnya masih tertunduk lesu.
“Nah, si anak itik yang ada di buku dialah anak adopsi dari induk angsa. Meskipun bukan terlahir dari induk angsa, tapi induk angsa merawat dan menyayangi anak itik.”
“Jadi, aku ini anak adopsi Papa atau bukan?” tanya Kirana lirih.
“Mau itu anak adopsi, anak tiri, maupun anak kandung, yang terpenting Papa sayang Kirana. Papa akan selalu ada untuk Kirana. Papa untuk Kirana.”
__ADS_1
Aku mengelus rambut Kirana, mengulum senyum agar dia juga tersenyum. Akan tetapi Kirana membuang muka, tidak mau menatapku.
Tak bisa ditahan lagi, Kirana menangis sejadi-jadinya. Dia menumpahkan semua rasa sedihnya di hadapanku yang langsung memeluknya.
“Kirana, jangan dengarkan kata mereka! Sekarang ini Papa memang sibuk mendekor kamar untuk adik bayi, tapi bukan berarti Papa tidak sayang lagi pada Kirana,” ucapku masih dengan nada yang lemah lembut.
Tanganku menyeka pipi Kirana yang basah. Gadis kecil itu masih sesenggukan dan masih tak mau menatapku.
“Bohong! Papa bohong! Papa lebih sayang adik bayi, kan? Aku hanya anak adopsi,” kata Kirana dengan suara parau.
“Papa minta maaf, selama ini Papa kurang bisa membagi waktu dengan Kirana. Kalau begitu, bagaimana kalau kita belajar renang lagi?”
“Papa sudah tidak sayang Kirana lagi!” seru Kirana.
“Kirana, Papa sayang sama kamu, Nak,” ucapku sambil berusaha memeluknya, tapi Kirana menepis tanganku.
“Aku benci Papa. Aku benci adik bayi. Papa lebih sayang ke adik bayi,” tangis Kirana makin menderai.
Dengan mata sembab dan bibir yang melengkung ke bawah, Kirana menyibakkan selimut, turun dari ranjang, aku memanggilnya tapi Kirana keluar kamar sambil membanting pintu.
Aku hanya bisa mendesah pasrah. Lalu pandanganku menemukan buku gambar yang terjatuh ke lantai. Aku meraih buku gambar Kirana dan membuka halaman terakhir.
Di sana tergambar satu orang pria, satu orang wanita dan satu bayi saling berimpitan dan tersenyum. Namun agak jauh dari gambar ketiga orang itu, ada satu gambar anak perempuan yang tampak murung dan Kirana menuliskan namanya sendiri di bawah gambar gadis itu.
Acara gender reveal Party yang sudah direncanakan aku dan Alexa membuat Kirana semakin salah paham. Tiap hari dia sengaja menjaga jarak denganku, lebih sering menghabiskan waktu di kamar.
Aku dan Alexa bertambah khawatir, meski kami telah berusaha menjelaskan tapi tidak ada hasil.
Ini pertama kalinya hubungan aku dan Kirana renggang seperti ini.
Terlebih ketika pesta dimulai, Kirana hanya duduk lesu di pojokkan memandangi semua orang lebih perhatian pada Alexa dan bayinya.
Aku melangkahkan kaki untuk mendekati Kirana, duduk di samping bocah itu yang sedang memegangi bola kasti.
“Kirana, mau main kasti? Kenapa pegang bola itu?”
Kirana tidak menggubris. Bocah empat tahun itu tetap menatap lurus pada Alexa.
“Kirana, sebentar lagi acaranya mau dimulai. Kira-kira adik bayi laki-laki atau perempuan? Kalau perempuan, nanti Kirana akan punya teman bermain kalau laki-laki... “
“ Kalau laki-laki, Papa akan lebih sayang sama adik bayi kan?” potong Kirana yang kini napasnya naik turun.
__ADS_1
“Bukan. Kalau laki-laki, nanti Kirana akan punya seorang yang melindungi Kirana.”
“Dia kan adik bayi. Mana bisa melindungi aku,” cibir Kirana.
Aku melihat tangan Kirana mencengkeram kuat bola kasti dengan sangat kuat. Hingga ujung jarinya memutih.
Aku tidak tinggal diam, kurangkul bahu Kirana, lalu mengelusnya. Tapi tidak berefek apa pun. Karena nyatanya Kirana tetap mengambek.
Pesta belum dimulai karena ada satu orang yang belum hadir, yaitu Kak Mirza. Namun, selang lima belas menit, orang yang dinanti pun tiba.
Kak Mirza datang dengan jas biru dongker yang sedikit agak basah. Dia meminta maaf karena di luar hujan lebat dan ada penutupan jalan. Sehingga dia harus putar balik.
“Jasmu basah, Sayang. Lepas saja! Nanti kamu bisa masuk angin,” ucap Kak Alea yang sebagai seorang istri sangat perhatian.
“Iya, Kak. Kalau perlu Kakak bisa pinjam pakaiannya Balin dulu,” Alexa menimpali.
“Tidak usah. Hanya jasnya yang kebasahan kok. Aku lepas saja ya?”
Lalu acara dimulai, namun perhatian aku fokus pada Kirana yang duduk sendirian di saat semua orang bergembira menebak jenis kelamin calon anakku.
Hingga Alexa menyikutku yang membuat aku tersadar sudah waktunya potong kue.
Tanganku menggenggam tangan Alexa yang sedang memegang pisau. Kami berdua bersama-sama memotong kue berlapis coklat putih, yang diperhatikan oleh semua orang. Kecuali Kirana.
Suara sorak beradu dengan pekikan bahagia saat potongan kue terangkat yang memperlihatkan warna biru.
“Laki-laki? Anak kita laki-laki?” ucapku antara senang dan terkejut.
Alexa mengulum senyum sambil mengangguk, dan aku langsung memeluknya. Namun, saat itu juga dari bahu Alexa, aku melihat Kirana menangis dan beranjak pergi ke lantai atas.
Aku berlari memecah keramaian orang yang sedang bersuka cita. Mencoba menghampiri Kirana, tapi dia sudah lari kencang ke kamarnya.
“Kirana... Kirana...” aku berteriak memanggil namanya dari bawah anak tangga.
Alexa juga menghampiri dan mengelus pundakku untuk menenangkan, “Nanti biar aku yang bicara pada Kirana.”
“Nah, Balin, anakmu laki-laki. Sekarang kamu mau panggil dia siapa? kalian sudah menyiapkan nama? ” tanya Nick mengalihkan perhatianku.
“Belum,” kataku yang masih tertunduk.
“Kalau begitu mulai sekarang kita bisa panggil anak kalian dengan sebutan yang lucu. Kira-kira apa ya?” ucap Kak Lily mengetuk-ketukan jari telunjuk ke dagu.
“Boy,” kataku singkat.
Aku mengelus perut Alexa dan mendaratkan kecupan di sana, “Mulai sekarang Papa akan panggil kamu, Boy.”
__ADS_1