
Aku merasa menjadi dokter bedah yang siap melakukan operasi. Memakai sarung tangan lateks dan masker, di sampingku, Rama juga melakukan hal yang sama. Ku baringkan Kirana di meja yang telah dilapisi perlak.
“Kamu sudah siap, Rama?”
“Siap, Kak Balin.” Jawab Rama tegas. “Pertama-tama apa yang perlu kita lakukan?”
“Pakai tanya segala. Sudah pasti buka popoknya Kirana.”
“Aku yang membuka?” tanya Rama mengarahkan jari telunjuk ke dadanya sendiri. Dari sorot matanya aku dapat pastikan Rama sedang dilanda gugup. “Sungguh suatu kehormatan bagi saya. Tapi kenapa bukan Kakak saja?”
Aku melepas perekat popok Kirana. Seketika itu, Rama melompat menjauh, badannya bergidik jijik. Lalu aku membersihkan Kirana sesuai video tata cara yang aku tonton di internet.
Bosan mendengar keluh kesah Rama, aku memintanya untuk menyiapkan air hangat untuk memandikan Kirana agar badannya segar dan dia bisa tidur lelap.
Memandikan bayi memang hal yang gampang-gampang susah karena ada ketakutan dalam diriku apabila aku tidak sengaja membuat Kirana jatuh atau tenggelam di bak mandi.
Ah pikiranku memang sering ke mana-mana. Aku yakinkan pada diriku sendiri bahwa aku bisa.
Rama keluar dari kamar mandi. Dia berkata padaku layaknya seorang tentara melapor pada komandannya.
“Kak, air hangat, handuk, sabun, sampo, semua sudah siap.” Kata Rama dengan badan tegap.
“Minggir!”
“Siap.” Jawab Rama. Dia bergeser ke samping benar-benar seperti pasukan pengibar bendera.
Aku masuk ke kamar mandi memandangi bak mandi bayi yang akan menjadi tempat Kirana mandi. Sementara Kirana masih di dalam dekapanku. Sesaat aku ragu, lalu berteriak memanggil Rama.
“Ada apa, Kak?” Rama berlari tergopoh-gopoh masuk ke kamar mandi.
“Coba kamu cek airnya!”
Rama menghela napas. Berdecak dan memutarkan bola matanya. “Sudah, Kak. Airnya hangat. Tidak panas, tidak dingin.”
“Cek lagi!”
“Astaga kakakku yang satu ini. Padahal baru tiga menit yang lalu aku mengecek suhu airnya.” Rama menggerutu tapi tetap saja menuruti perintahku. “Masih hangat, Kak.”
Perlahan aku menurunkan Kirana ke dalam bak mandi. Satu tanganku memegangi tangannya satu lagi tanganku sibuk mengambil sabun. Ternyata cukup sulit juga. Apalagi aku belum pernah memandikan bayi sebelumnya.
Jadi aku menyuruh Rama untuk memegangi Kirana, sementara aku menyabuni Kirana. Bayi kecil itu tenang dan sama sekali tidak menangis.
Semalam aku telah menonton di internet cara memandikan bayi. Kebanyakan bayi yang ada di dalam video menangis saat dimandikan.
Tapi Kirana tidak. Jauh dari bayanganku ternyata memandikan bayi sangatlah mudah. Hanya kita saja yang perlu hati-hati.
“Itu sabun yang tidak perih di mata kan Kak?”
“Tidak. Aku sudah baca di labelnya.”
__ADS_1
“Hmm, Kak Balin.”
“Apa?”
“Kakak yakin dengan keputusanmu keluar dari pekerjaan saat ini.”
“Yakin. Kenapa?”
“Sangat disayangkan. Padahal gaji sudah besar, jabatan lumayan keren tapi kamu malah berhenti bekerja begitu saja. Kalau ibu tahu pasti bakal marah besar.”
“Aku juga tahu.”
“Lalu bagaimana dengan kuliahku?”
“Tidak usah terlalu dipikirkan. Kamu belajar saja yang rajin. Aku pastikan akan tetap membayar biaya kuliahmu.”
Selesai memandikan Kirana, aku menggendongnya ke kamar dan meletakkan di atas kasur. Kini aku tinggal memakaikan baju sambil aku mengingat-ingat kembali video tutorial memakaikan baju pada bayi yang aku tonton kemarin.
Setelah itu, aku membuatkan susu untuk Kirana. Menyeduh susu bayi ternyata tidak semudah menyeduh kopi untuk orang dewasa. Aku harus tepat dalam takaran dan juga suhu airnya.
Diusahakan sebelum memberikan susu, kita cek suhu terlebih dahulu dengan cara meneteskannya ke punggung tangan. Setidaknya itu yang aku ingat saat menonton video cara membuat susu untuk bayi.
Kirana meminum susu dengan sangat cepat. Aku tersenyum. Dia pasti kelaparan karena tenaganya habis untuk menangis. Aku melirik pada Rama yang membuntutiku sejak aku memandikan Kirana tadi.
“Apa?”
“Kau diam saja. Tidak usah ikut campur urusan orang lain.”
“Dih.” Rama membuang muka. Tapi beberapa detik menoleh lagi.
“Kakak bilang ingin membuka bisnis. Memang bisnis apa? Terus apakah Kak Balin sanggup membuka bisnis dengan Kakak juga harus mengurus Kirana?”
Aku membuang napas. Memang sifat banyak tanya Rama ini turunan langsung dari ibu.
“Memangnya membuka bisnis itu satu dua hari langsung jadi? Memangnya Kirana ini akan selamanya menjadi bayi?”
Kirana menangis karena suaraku yang tak kusadari ternyata mengagetkannya. Aku dan Rama kompak menenangkan Kirana. Bayi kecil itu perlahan tenang, meminum susunya kembali dan kelopak mata Kirana menutup.
“Lalu, apa rencana Kak Balin? Aku kan ingin tahu.” Kata Rama dengan nada berbisik.
“Aku akan membuka sebuah restoran dari tabunganku selama bekerja. Tapi aku belum menemukan tempat yang cocok dan masih banyak lagi hal yang menjadi pertimbanganku. Mengerti? Sudah cukup! Jangan banyak tanya lagi!”
Rama menjentikan jari. “Nah begitu dong. Aku kan jadi bisa menyumbangkan ide dan pemikiranku yang cemerlang ini.” Ujar Rama over percaya diri.
Kirana meminum susunya hingga tandas tak bersisa. Kini dia tertidur lelap. Ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman. Senyuman yang sangat mirip dengan ibunya.
Ah andai Karina dapat melihat pemandangan ini. Aku mengelap ujung mataku. Kemudian melirik Rama. Untunglah dia tidak melihatku menitikkan air mata.
“Aku minta satu hal padamu.”
__ADS_1
“Apa itu, Kak?”
“Pertama, kamu harus membantuku menutupi identitas Kirana. Ini menjadi tugasmu juga. Jika ada orang bertanya, katakan saja bahwa dia adalah keponakanmu.”
“Siap, Komandan.” Rama memberi hormat. “Lalu, yang kedua?”
“Kedua, saat ini berita tentang tewasnya Indra Irawan sedang menjadi trending topik. Jadi aku harap kamu jaga mulutmu agar tidak kelepasan bicara. Ingat! Pada siapa saja. Termasuk pada wanita yang sudah menolakmu mentah-mentah sebanyak empat kali. Hmm, siapa itu namanya? Aku lupa.”
Aku menjentikkan jari berkali-kali mencoba mengingat nama perempuan yang menjadi tambatan hati Rama sejak dulu. Ternyata nasib percintaan Rama tidak jauh beda denganku.
“Kakak.” Rama merengek layaknya anak kecil. Dia tahu aku sedang menyindirnya. “Dia namanya Shinta.”
“Ah, ya, Shinta. Pura-pura saja kamu tidak tahu apa-apa.”
Tangan Rama terangkat ingin bertanya. “Apa yang diberitakan oleh media tentang kecelakaan Indra Irawan itu benar, Kak? Murni sebuah kecelakaan?”
“Aku yakin pasti bukan kecelakaan. Aku malah mencurigai menantu Indra Irawan.” Aku berdiri dan berjalan keliling kamar karena gelisah. “Heran. Kenapa media tidak menyorot suaminya Karina? Polisi seperti tidak menaruh curiga pada dia.”
“Dari yang aku lihat di berita televisi tadi, menantu Indra Irawan itu sedang dalam keadaan sakit dan tidak keluar rumah sejak Indra Irawan dinyatakan hilang, Kak.”
“Bisa saja itu hanya dalih agar nama Harsa tidak terseret dalam kasus meninggalnya Indra Irawan.”
Kini Rama yang jenuh melihatku banyak berspekulasi dan mondar-mandir di depannya. Dia membuang napas.
“Kak Balin sepertinya terlalu banyak baca novel detektif. Sudahlah, aku mau pergi. Kirana sudah tidur dan Kak Balin juga sudah ada di rumah. Jadi sekarang giliran aku yang main.”
Rama bangkit dari duduknya. Berjalan keluar sambil bersiul. Ketika dia sampai di ambang pintu kamar, sebuah bantal mendarat tepat di kepalanya. Aku tertawa puas karena lemparanku mengenai sasaran. Rama berputar dengan bibir monyong.
“Apalagi sih, Kak.” Rama mengusap kepalanya.
“Aku belum selesai bicara.”
“Memangnya apalagi yang harus dibicarakan? Semuanya sudah clear dan aku akan menuruti apa yang komandan Balin perintahkan.”
“Satu lagi. Kita akan pindah tempat tinggal.”
“Hah? Apa? Pindah. Tapi... Tapi pindah kemana? Dan kenapa?”
“Kita perlu mencari tempat tinggal baru. Berada di tengah-tengah orang yang tidak mengenal siapa kita sebelumnya dan untuk menghemat karena sekarang aku punya pengeluaran tambahan.”
Pengeluaran tambahan yang aku maksud ialah apalagi kalau bukan kebutuhannya Kirana.
__ADS_1