
Aku mengejapkan mata, sudut bibirku masih terasa sakit bekas pukulan Rama kemarin, tapi tidak terlalu parah. Aku meringkuk di bawah selimut dan mendengar Kirana menangis.
Astaga, sudah berapa lama Kirana menangis?
Kucoba untuk bangkit dari tidurku, namun, kepalaku terasa berat sekali. Sekedar untuk berdiri pun aku merasa tidak kuat. Apalagi berjalan dan menggendong Kirana.
Badanku tumbang ke atas tempat tidur. Kamar ini sangat dingin, udara masuk ke paru-paru bagaikan serpihan es. Tubuhku menggigil.
Meskipun begitu, aku harus meraih Kirana yang menangis di dalam boks bayi. Ku paksakan berjalan, tanganku terjulur meraih lengan Kirana.
“Papa di sini, Kirana. Sshhtt jangan nangis ya?”
Kepalaku berdenyut nyeri, dan aku mencengkeram pinggiran tempat tidur Kirana. Kaki terasa lemas dan limbung. Jadi aku putuskan untuk kembali ke tempat tidurku. Membungkus diri dengan selimut.
Tepat ketika itu, pintu depan diketuk seseorang. Terpaksa aku berdiri dan berjalan terseok-seok menuju pintu.
Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Alexa yang masih memakai piyama dan rambut ikal sebahunya mencuat di segala tempat.
“Balin, aku dengar dari kamarku Kirana menangis terus dari tadi. Ada apa dengan Kirana?” tanya Alexa tampak cemas.
Aku tak menjawab, hanya bergeser memberikan jalan agar Alexa bisa masuk. Dan Alexa memang benar masuk ke dalam kamarku. Dia langsung tertuju pada Kirana yang tidur sambil menangis.
Ketika Alexa menggendong Kirana, aku merebahkan diri lagi ke tempat tidur.
“Balin, badan Kirana panas. Sepertinya dia demam,” tutur Alexa dengan satu tangan menempel di dahi Kirana.
“Balin. Balin. Kamu dengar aku tidak?” Alexa menarik-narik selimutku. “Hei, kamu ini bagaimana sih, jadi ayah malah diam saja saat anakmu sakit?”
Alexa menyibakkan selimutku dan menarik lenganku agar aku bangun. Namun, terhenti seketika begitu tangan Alexa menyentuh kulitku.
“Astaga, kamu juga panas?”
Kemudian Alexa meletakkan punggung tangannya di dahi dan pipiku.
“Ibu dan Rama ada di mana?”
Alexa berjalan ke luar dari kamarku. Meneriaki nama Rama dan tak lama kembali masuk karena tak ada siapa pun di rumah kecuali aku dan Kirana.
“Ibu sudah pulang kemarin sore dan Rama pagi buta tadi pergi bersama teman-temannya,” ucapku dengan suara lemas dan gemetar.
“Kemana?” tanya Alexa cepat.
“Camping ke hutan.”
__ADS_1
Alexa menghirup napas panjang. “Hmm, kalau begitu kamu punya termometer? Biar aku cek suhu tubuh Kirana dan kamu juga.”
“Ada di kotak P3K.”
“Kotak P3K ada di sebelah mana?”
“Ada di... “ aku berpikir sejenak.
Mengingat kembali kapan terakhir aku menaruh kotak putih berisi obat-obatan itu. Namun, sayangnya memori di otakku tidak dapat mengingat di mana dan kapan aku menaruhnya.
Aku menggeleng, dan Alexa memberengut. Dia meletakkan Kirana kembali ke boks bayi. Memintaku menunggu sebentar sementara dia mengambil kotak P3K miliknya.
Alexa kembali dengan langkah terburu-buru. Mengecek suhu tubuh Kirana menggunakan termometer infra-red. Dia tidak berkata apa-apa saat melihat hasilnya.
Lalu berpindah duduk di tepi tempat tidurku.
“Tiga puluh sembilan koma delapan derajat Celsius,” Alexa membaca angka yang tertera di termometer.
“Balin, kamu dan Kirana demam tinggi. Kita ke rumah sakit sekarang juga ya? Aku bisa kok menyetir mobil.”
“Tidak. Tidak perlu ke rumah sakit segala. Nanti juga sembuh sendiri,” kataku sambil memiringkan badan membelakangi Alexa.
“Tapi kamu demam tinggi. Kalau semakin parah bagaimana?”
Aku mendengar Alexa menggeram, dia berkacak pinggang dan menarik lenganku agar aku menghadapnya.
“Masalahnya sekarang kamu sudah punya anak, berbeda saat kamu masih bujangan,” hardik Alexa. “Kamu harus sembuh, supaya tidak menular ke Kirana.”
Ya, benar juga apa yang dikatakan Alexa. Aku harus berpacu untuk sembuh, agar bisa merawat Kirana lagi, agar Kirana juga tidak ikut sakit.
Aku setuju dengan usulan Alexa.
Dan satu jam kemudian, aku telah berada di ruang tunggu rumah sakit. Mengantre giliran pemeriksaan dokter.
Aku menarik tudung jaket untuk menutupi kepala. Alexa bersama Kirana menunggu di tempat yang berbeda. Di depan ruangan dokter anak. Aku tak tahu apakah pasien dokter anak mengantre lama seperti antreanku saat ini atau tidak.
Ruangan dokter umum dan dokter anak beda lantai. Jadi aku tidak bisa melihat Kirana diperiksa oleh dokter.
Alexa pula melarang, karena kondisi tubuhku yang sedang sakit.
“Atas nama pasien Balin Mahendra,” seru seorang perawat dengan nada lembut.
Akhirnya namaku dipanggil juga.
__ADS_1
Aku diperiksa oleh seorang dokter pria paruh baya yang perawakannya mirip dengan Pak Bambang, mantan bosku. Setelah pemeriksaan singkat dan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan, akhirnya aku keluar dari ruang dokter.
Selanjutnya aku melangkah ke bagian kasir untuk membayar biaya administrasi, lalu ke apotek untuk mengambil obat yang tadi sudah diresepkan oleh dokter.
Aku kembali duduk menunggu Alexa datang. Kulirik jam besar yang tergantung di dinding rumah sakit. Jarum jam menunjuk ke angka sembilan, itu berarti kami sudah menghabiskan waktu hampir satu jam di rumah sakit.
Akhirnya Alexa muncul dari balik lift. Dia mendorong kereta bayi menuju arahku.
“Maaf menunggu lama ya? Aku titip Kirana sama kamu, biar aku saja yang mengambil obatnya Kirana.”
Alexa hendak beranjak pergi, tapi aku memanggilnya, “Alexa.”
Langkah Alexa terhenti, berbalik badan, “ada apa?”
Aku mengeluarkan dompetku dan menjulurkannya pada Alexa. Dia langsung mengerti akan maksudku.
“Oh iya, hampir saja lupa.”
Ku tatap punggung Alexa yang semakin menjauh, pikiranku melayang pada obrolanku dengan Ibu kemarin sore, sesaat sebelum Ibu pulang.
Aku dan Ibu duduk di ruang tamu. Hanya aku dan Ibu. Alexa telah pamit pulang, Kirana tidur sedangkan Rama sedang mandi.
“Ibu sudah menceritakan pada Bapak apa yang terjadi padamu, Balin,” ucap Ibu tiba-tiba.
“Lalu, apa respons Bapak?”
“Bapak akan menjaga rahasia Kirana,” Ibu mengerlingkan mata. “Tapi setelah berdiskusi panjang, Bapak dan Ibu telah sepakat agar kamu segera menikah.”
Aku menghela napas, “Ibu, aku sudah bilang berkali-kali kan? Saat ini aku tidak ada rencana untuk menikah.”
“Balin, kalau kamu menikah orang-orang tidak akan menaruh curiga padamu. Mereka akan percaya Kirana adalah anak kamu dan juga istrimu nanti.”
“Bu, saat ini sudah ada beberapa temanku yang mengira aku telah berkeluarga dan memiliki anak. Aku mengatakan pada mereka kalau aku seorang duda anak satu. Dan mereka percaya itu.”
Ibu membuang muka dan melipat kedua tangan di depan dada. Lalu Ibu menggigit kuku jari telunjuk, pertanda Ibu tengah gelisah.
“Sampai kapan kamu akan menutupi hal ini? Ibu khawatir kamu dituduh yang bukan-bukan, Balin.”
Aku meraih tangan Ibu yang sudah mulai mengkeriput.
“Sampai aku berhasil mengungkap kebenaran apa yang telah terjadi pada Karina dan juga ayahnya.”
__ADS_1