Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 58 Segera Menikah


__ADS_3

Aku memarkirkan mobil di halaman rumah orang tuaku. Membanting pintu, dan pada saat yang sama Kirana berlari dari dalam rumah.


Senyummu berkembang melihat Kirana menghampiriku, dan aku langsung menangkupnya dalam dekapan. Kirana pun melakukan hal yang sama. Lengan kecilnya menempel di pundakku.


Kirana tertawa kecil ketika aku mencium pipi bakpaonya.


“Aku sayang Papa.”


“Papa juga sayang Kirana.”


Dari balik pundak Kirana, aku melihat Alexa berjalan melintasi halaman rumah. Gadis berambut ikal itu tersenyum sepanjang melangkahkan kaki. Bergabung bersama aku dan Kirana.


“Kita masuk yuk. Yang lain sudah menunggu,” ucap Alexa sambil melingkarkan tangan di lenganku.


Di dalam rumah sudah ada kedua orang tuaku, Rama, serta tidak lupa juga Frans dan Cindy. Mereka bersorak begitu satu langkah kakiku memasuki rumah. Satu per satu memberiku ucapan selamat.


Kemudian kami semua berkumpul di meja makan. Ayahku memimpin doa bersyukur Kirana dan aku bisa kembali dalam keadaan sehat.


Setelah itu, Rama yang sudah seperti orang kesetanan menyendok nasi ke atas piringnya. Tidak tanggung-tanggung dia juga menyambar semua lauk yang ada di meja.


Rama menjatuhkan bokongnya ke kursi melahap makanannya. Mendahului yang lain.


“Frans, Cindy, maafkan tingkah adikku ini ya?” kataku canggung.


“Iya, tidak apa-apa kok.”


“Rama, apa kabar Shinta-mu itu?” tanya Cindy yang duduk di samping Frans.


Mendadak Rama menghentikan gerakan mulutnya, menoleh cepat ke Cindy, dan tiba-tiba meringis. Dia menangis dengan bibir yang terbuka membuat beberapa serpihan makanan jatuh ke meja.


Kami semua saling lirik keheranan, tapi tidak dengan aku.


Aku malah mengangkat bahu bergidik melihat kelakuan konyol Rama. Lagi pun aku bisa menebak apa yang membuatnya menangis.


“Kamu pasti ditolak lagi oleh Shinta untuk ke enam kalinya, kan?” kataku menebak.


“Kakak salah hitung!” bantah Rama. “Kemarin yang ketujuh kalinya aku ditolak Shinta.”


Tangisan Rama semakin membahana di ruang makan. Ibu yang melihat kelakuan anak bungsunya, hanya bisa menggelengkan kepala, lalu menjejalkan tempe goreng ke mulut Rama yang menganga karena menangis.


Seketika itu Rama diam, dan kami semua tergelak menertawakannya.


“Hmm, enak juga tempe goreng buatan Ibu,” ucap Rama dengan pipi menggembung penuh makanan.


“Mungkin sudah saatnya kamu berhenti mengejar Shinta, Ram,” Alexa menasihati sambil tangannya menyendokkan nasi ke atas piringku.


“Tidak! Aku yakin Shinta adalah jodohku. Dari namanya saja kita sudah cocok jadi pasangan hidup,” Rama berbicara dengan suara sendu.


“Apa yang dikatakan Alexa benar,” Ibu menimpali. “Jangan memikirkan cinta melulu! Pikirkan juga karirmu nanti setelah lulus kuliah!”


Rama menghela napas dan membungkuk pasrah. Terlihat dari wajahnya dia sangat putus asa. Apakah cintanya akan kandas begitu saja?


Lalu pandanganku berpindah ke Frans yang kepergok olehku sedang menggeserkan kursinya sedikit lebih dekat ke kursi Cindy.


Sejak dari rumah sakit, mereka tampak semakin dekat. Bahkan sekarang Frans menjatuhkan tangannya ke tangan Cindy yang ada di atas meja. Menggenggamnya erat. Lalu keduanya tersenyum.


Apakah mereka sudah pacaran?


“Balin, kamu tadi dari mana?” tanya Alexa yang ada di sampingku.

__ADS_1


Aku menatap lekat Alexa. Dia belum tahu kalau aku dan Kirana mendapatkan warisan dari Indra Irawan, kakeknya Kirana.


“Nanti akan aku ceritakan.”


“Mau itu,” Kirana yang duduk di antara aku dan Alexa, menunjuk ayam kecap yang tersaji di meja.


Aku mengambilkan bagian paha bawah kesukaan Kirana, yang langsung diterima oleh balita lucu itu, lalu melahap daging ayam hingga pipinya kotor oleh kecap.


Alexa terkekeh melihat Kirana makan, dia mengambil tissue dan menyeka pipi Kirana.


Sementara itu, Ibu menuangkan teh ke cangkir sambil berbicara pada ayahku. Aktivitas semua orang di meja makan, membuat Rama semakin berkecil hati.


Pasalnya, hanya dia saja yang tidak punya pasangan mengobrol. Dia menatap sedih pada potongan daging ayam yang digenggamnya. Membuang napas berat.


“Kasihan sekali aku ini. Sudah jomblo, tidak ada yang mengajakku bicara,” Rama menarik keras ingusnya.


“Wahai, daging ayam yang lezat, bolehkah aku menyantapmu?”


Rama menjawab sendiri pertanyaannya, “Tentu saja boleh. Aku diciptakan untuk mengganjal isi perutmu.”


“Sepertinya kita harus bawa anak bungsu kita ke rumah sakit jiwa, Pak,” gumam Ibu yang memperhatikan Rama.


Ayahku menyeruput tehnya, “Tidak usah, Bu. Sudah terlambat, seharusnya sejak dulu kita bawa dia.”


Ibu mendesah, “Aku mengidam apa sih saat hamil Rama dulu?”


Setelah selesai makan, semua orang mengobrol di ruang tengah. Ayahku, Frans dan Cindy berbicara banyak tentang bisnis. Sedangkan aku menemani Kirana bermain mainan rumah boneka.


Rama meratapi kisah asmaranya sambil menonton sinetron di TV, yang kebetulan pemeran tokoh utama  bernasib sama dengan dia. Alhasil, suasana hati adikku itu semakin tidak karuan.


Dan aku menyadari Alexa tidak ada bersama kami. Aku memutar kepala untuk mencari sosok gadis itu.


“Papa bosan,” kata Kirana dengan nada jengah.


Senyum ceria mengembang di bibir mungil Kirana, dia melompat kegirangan, “Ayo, Papa.”


Ketika aku dan Kirana melewati ruang makan untuk menuju halaman belakang rumah, aku melihat Alexa yang sedang membereskan meja makan.


“Ternyata kamu ada di sini.”


Sejenak aku berhenti melangkahkan kaki, sedangkan Kirana tetap berlari ke luar rumah. Aku membelokkan langkah kaki untuk mendekati Alexa.


Berbisik di dekat daun telinganya, “Temui aku di kamar.”


Alexa langsung terperanjat, wajahnya bersemu merah, entah karena malu atau marah. Dia mendorong tubuhku menggunakan jari telunjuknya.


Pasti sekarang, pikiran Alexa tengah melayang ke mana-mana.


“Jangan macam-macam kamu!” gertak Alexa dengan mata melotot.


Aku tergelak, mengacak poninya.


“Kamu serius sekali. Aku kan hanya bercanda. Temui aku di halaman belakang, oke.”


Lalu aku melangkah pergi meninggalkan Alexa yang pipinya sudah semerah buah tomat. Aku keluar rumah, menghampiri Kirana yang tengah memegangi pagar bambu pembatas tepi kolam ikan.


Aku mengambil pakan ikan dan menaburkannya ke permukaan air. Kirana memperhatikan ikan-ikan yang saling berebutan makan. Setelah itu, aku berjongkok untuk menyejajarkan pandangan dengan balita itu.


“Kirana tahu, Kirana mendapatkan sebuah hadiah dari kakek Kirana.”

__ADS_1


Kirana mengerutkan dahi kebingungan.


“Kakek siapa?”


Aku yang hendak membuka mulut, sontak menutup lagi. Aku baru ingat kalau Kirana belum tahu menahu tentang kakek dari pihak ibu kandungnya.


“Kirana itu punya kakek yang bernama Kakek Indra. Beliau memberikan Kirana rumah yang beeesaaarr sekali. Kirana suka?”


“Seperti apa?” tanya Kirana sambil bola matanya melirik ke atas. Menandakan dia tengah membayangkan seperti apa persisnya rumah itu.


“Nanti Papa akan tunjukan seperti apa rumahnya.”


Kirana mengangguk, kemudian kembali memperhatikan ikan-ikan di kolam. Tangan kecilnya menaburkan pakan ikan.


Tak lama, Alexa datang. Dia memeluk tubuh Kirana dan ikut memberi makan ikan.


“Alexa,” panggilku.


Alexa menoleh dan berdiri di sampingku, “Ada apa?”


Aku mengulurkan Sebuah benda yang aku ambil dari saku celanaku. Sebuah kotak beludru merah.


Alexa sendiri tampak terkesiap ketika aku membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin safir biru yang dikelilingi berlian-berlian kecil tersemat di dalam sana. Cincin itu berkelip saat tertimpa cahaya matahari.


“Kamu suka cincin ini?”


Alexa mengatupkan mulutnya menggunakan kedua tangannya. Dia terperangah, menatap aku dan cincin itu bergantian.


“Cincin ini untukku?” Alexa balik bertanya.


Kuputar kedua bola mataku, saat Alexa bertanya.


“Tentu saja. Memangnya untuk siapa lagi. Kirana? Cincin ini terlalu besar untuk Kirana,” kataku dengan nada kesal.


Alexa memberengut, “Kamu tidak romantis sama sekali.”


“Jadi, terima atau tidak cincin ini,” gertakku. “Kalau tidak, akan aku buang ke kolam ikan.”


“Iya, iya, aku terima,” ucap Alexa sambil mengentakkan kaki.


Aku mengambil cincin dan menyematkan ke jari manis Alexa. Gadis itu tampak tersipu malu, saat aku meninggalkan satu kecupan di jemari lentiknya.


Aku mengulum senyum, menarik tubuh Alexa ke dalam dekapanku dan Alexa pun meletakan kepalanya di dadaku.


“Kalau begitu, besok kita akan menikah.”


Alexa segera kembali menegakkan kepalanya.


“Apa besok?” tanya Alexa terperangah.


“Memang kenapa? Kamu tidak mau?”


“Bukan begitu, tapi kita kan harus meminta restu ke kakak aku.”


Aku mengusap rambut Alexa, dan memintanya untuk menyenderkan kepalanya lagi ke dadaku. Aku memperhatikan Kirana yang terlalu fokus memberi makan ikan, hingga dia tak menyadari kalau ada dua orang dewasa yang tengah berpelukan di belakangnya.


“Kalau begitu kapan aku bisa menemui kakakmu? Aku ingin kita segera menikah. Beberapa bulan ke depan aku akan disibukkan mengurus perusahaan Irawan Group.”


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2