Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 81 Sandiwara


__ADS_3

Aku masuk ke kamar di mana Harsa dirawat. Kondisi ruangan itu masih sama persis dengan terakhir aku datang.


Hanya saja, di atas tempat tidur sana ada gundukan selimut putih yang kotor oleh darah. Bukan di selimut saja, melainkan di ranjang dan ada yang bersimbah ke lantai.


Alexa yang ada di sampingku langsung mengatupkan telapak tangan menutup ke dua matanya begitu dia melihat tubuh Harsa.


Aku menelan salivaku dengan kasar, dan menarik tubuh Alexa ke dalam dekapanku agar dia tidak melihat pemandangan mengenaskan di depan sana.


“Siapa yang pertama kali menemukan Harsa tewas?” tanyaku pada dokter yang biasa menangani Harsa.


“Pagi tadi, salah satu perawat masuk untuk mengantarkan makanan, tapi dia malah dikejutkan dengan Harsa yang sudah bersimbah darah.”


“Bagaimana bisa dia bunuh diri?” tanya Kak Alan yang masih syok dengan kejadian ini.


“Ada sebuah pisau terselip di tempat tidur pasien. Kemungkinan pisau itu yang dipakai Harsa untuk mengiris nadi sendiri.”


“Kenapa ada pisau di tempat tidurnya?” tanyaku yang penasaran.


Dokter itu menggeleng tidak tahu. Lalu dengan keraguan yang terpancar dari raut wajah sangat dokter, dia membuka suara.


“Apakah kalian akan membawa kasus ini ke jalur hukum?” tanya sangat dokter.


“Aku serahkan saja semua keputusan pada Balin,” ucap Kak Alan yang melempar pandangan padaku.


“Tidak,” kataku dengan tegas.


Dokter itu terlihat menghela napas lega. Aku tahu jika kasus ini dibawa ke jalur hukum, pihak rumah sakit yang mungkin akan dirugikan.


Dengan adanya kasus bunuh diri seorang pasien akan mencoreng citra rumah sakit.


“Kita makamkan saja Harsa dengan layak. Aku tidak mau ambil pusing.”


 


***


 


Aku membukakan pintu mobil untuk Alexa dan menuntunnya berjalan menuju rumah. Sementara semua kakaknya Alexa berjalan perlahan membuntuti kami berdua.


Juan dan Rama menyambut kedatangan kami dengan wajah yang tertunduk menatap lantai.


Ketika itu, Alexa mulai terisak. Dia maju menghampiri Rama.


“Rama, mana Kirana?” tanya Alexa yang mengeluarkan suara serak.


Rama menjawab tanpa menatap lurus pada lawan bicaranya. Bahu Rama terlihat bergetar. Entah dia sedang menahan tangis atau apa.


“Kami membaringkannya di kamar, Kak. “


Alexa mengajakku untuk melihat Kirana di kamarnya. Begitu pula semua kakak Alexa yang juga ingin ikut melihat.

__ADS_1


“Tunggu! Sebaiknya kita bergiliran untuk melihat Kirana. Aku, Alexa dan Rama saja yang terlebih dahulu masuk,” kataku memberi saran. Dan semua menyetujuinya.


Sesampainya di depan kamar Kirana, aku membuka pintu dan Alexa langsung menerobos masuk sebelum pintu terbuka sempurna.


Dia menghampiri tubuh Kirana yang seperti sedang tidur di atas kasurnya. Memberi kecupan tanpa henti di kening dan pipi.


Tangis Alexa tidak bisa dibendung lagi, dia menangis sambil memeluk Kirana.


“Kirana, jangan tinggalkan Mama.”


Sedangkan aku menutup pintu dan melirik pada Rama yang juga melirikku.


“Tunggu sebentar,” Alexa menghentikan tangisannya.


Raut wajah Alexa tampak aneh, dia menempelkan punggung tangannya ke dahi, lalu berpindah ke dua pipi Kirana.


“Balin, kenapa Kirana tidak dingin dan kaku? Dia malah hangat,” ungkap Alexa yang kini meletakkan jari telunjuknya di antara hidung dan bibir atas Kirana.


“Balin, Kirana bernapas!” pekik Alexa.


Lalu dia meletakkan telinganya ke dada anak kecil itu.


“Jantung Kirana masih berdetak, Balin.”


Saat itu juga, mata bulat Kirana membuka perlahan. Bibirnya mengembangkan senyum yang dibalas oleh Alexa dengan kecupan.


“Mama... Papa... ”


“Kirana, Mama pikir Kirana sudah...”


“Kita kan sedang main pura-pura, Ma,” kata Kirana dengan gaya polosnya.


“Apa? Pura-pura?” pekik Alexa yang menegakkan kepala secepat kilat.


“Iya, Ma. Kata Papa dan Uncle Rama, kita sedang main pura-pura. Ceritanya aku jadi putri tidur, dan Mama yang jadi pangerannya. Begitu kata Papa dan Uncle Rama.”


Alexa melemparkan lirikan tajam pada aku dan Rama yang seketika salah tingkah dan gugup.


Gerung kemarahan dan gemeletuk gigi Alexa mulai terdengar. Dia mengibaskan selimut dengan kasar, lalu berdiri menampilkan wajah yang seperti banteng mengamuk.


“Sayang, jangan marah! Ini semua ide dari Rama,” kataku sambil menunjuk Rama yang matanya membulat sempurna.


Rama mengibaskan kedua tangannya, saat lirikan tajam Alexa berpindah padanya.


“Bohong! Kak Balin bohong. Dia yang punya ide. Aku hanya menurut saja, Kak Alexa. Ampun,”


Rama menyatukan kedua telapak tangannya ke depan dada. Meminta ampunan dari sang kakak ipar.


Rama menyikutku, “Kak, jangan lempar batu sembunyi tangan dong.”


“Kamu yang lempar batu sembunyi tangan,” aku membalas sikutan Rama yang terlalu keras. Sehingga dia terjungkal.

__ADS_1


“Baaaallliinnn.... Kamu jahat! Jahat! Jahat! Jaaahhaaat! ” teriak Alexa.


Dia maju memukulku sambil terus mengatakan kalau aku jahat.


Aku yang mendapat pukulan hanya bisa menangkisnya dengan sangat mudah dan mulai tertawa. Namun, gelak tawaku itu membuat Alexa semakin emosi.


“Kamu keterlaluan! Ini tidak lucu! Awas kau ya?”


Detik berikutnya, Alexa mengejarku yang berlari mengelilingi kamar Kirana.


Sedangkan Rama duduk di samping Kirana sambil membuka satu bungkus keripik kentang. Mereka berdua menonton adegan kejar-kejaran dengan diiringi gelak tawa.


Lalu aksi kejar-kejaran itu tidak berlangsung lama karena aku jatuh tersandung karpet, dan Alexa langsung menindihiku.


“Alexa sayang, jangan menindihi aku seperti ini. Ada Kirana dan juga Rama.”


Plak.


Plak.


Dua tamparan aku dapatkan di pipi kiri dan kanan.


“Aw.”


“Puas!”


Napas Alexa yang terengah-engah menerpa wajahku. Dia mengacungkan jari telunjuk tepat di hidungku.


“Selama sebulan ini, kamu tidur di luar!” seru Alexa penuh ancaman.


“What?!”


Rama tertawa lepas di atas kasur sana. Hingga dia tersedak keripik kentang.


“Uhuk, kasian sekali juniornya Kak Balin. Uhuk. Uhuk,” kata Rama yang masih terbatuk.


Kirana yang ikut mencomot keripik kentang mengerutkan dahi.


“Siapa junior, Uncle?” tanya Kirana.


Rama kembali terbatuk akibat pertanyaan Kirana. Lalu dia mengelus ujung kepala keponakannya itu.


“Bukan siapa-siapa, kok. Lupakan saja!”


Saat itu pintu terbuka oleh Kak Alan yang pastinya terheran dengan kegaduhan yang kami perbuat. Di belakangnya, ada Mirza yang menyembulkan kepala.


Alexa segera bangkit berdiri, mendekati Kak Alan, layaknya anak kecil yang mengadu telah dijahili.


“Kak, lihat Balin! Dia membuat lelucon yang keterlaluan sekali. Balin bilang Kirana sudah tiada. Pantas kalau aku marah, kan?”


Akan tetapi aduan Alexa itu tidak didengar Kak Alan, karena netranya menangkap sosok Kirana yang tersenyum pada semua orang.

__ADS_1


Kak Alan dan yang lain masuk memenuhi kamar Kirana. Satu per satu memeluk dan menghibur anak perempuan itu.


Dari tempatku berdiri, aku tersenyum melihat semua orang sayang pada Kirana.


__ADS_2