
Frans yang menyetir mobil menuju stasiun TV tempat Cindy bekerja, beberapa kali menoleh cemas padaku. Aku menyandarkan kepala ke pintu mobil, memandang kosong pada trotoar jalan yang tampak bergerak selama mobil melaju.
“Semoga saja kita mendapat kabar baik dari Cindy,” kata Frans berusaha membuatku sedikit tenang.
“Polisi yang tadi itu kebanyakan makan micin atau kenapa sih,” aku bergumam geram.
“Aku juga tidak tahu. Ah, kebetulan sekali. Itu dia Cindy.”
Aku mengikuti arah pandang Frans. Memang benar Cindy baru saja melangkah keluar dari pintu masuk stasiun TV.
Cindy terlihat cemberut, melipat tangan di depan dada dan menghentak-hentakan kaki karena kesal. Dari gestur tubuhnya, aku yakin Cindy tidak mendapat izin membuat berita mengenai Harsa.
“Bagaimana?” tanya Frans begitu kami menghampirinya.
“Nihil,” ujar Cindy memutar bola matanya.
“Apa kata Bos kamu tadi?” tanya Frans.
Cindy berkacak pinggang, dan suaranya dibuat-buat menyerupai laki-laki, “Harsa itu tokoh publik yang terkenal baik di lembaga amal. Jika kita membuat berita burung seperti ini, yang ada masyarakat malah menuduh kita melakukan pencemaran nama baik dan berimbas pada rating stasiun TV kita.”
Aku dan Frans tertawa melihat Cindy yang meragakan ucapan Bosnya.
“Kalau dari kalian bagaimana?” Cindy balik bertanya.
“Kita juga sama,” tutur Frans. “Aneh, polisi malah balik menuduh kita mengada-ada.”
Frans menggaruk tengkuknya yang sepertinya tidak gatal. Bersamaan dengan Cindy yang berdecak kesal.
Sepertinya semua jalan sudah buntu. Polisi dan media tidak bisa membantu. Lalu apa yang harus aku lakukan?
Pikiranku melayang mengingat bagaimana nasib Kirana sekarang ini. Apakah dia masih hidup? Ah, tidak. Aku tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh. Aku harus berpikiran positif.
“Ketika berada di kantor polisi tadi, sepertinya mereka tidak serius menanggapi laporan dari kita. Kenapa ya?” Frans bergumam.
“Itu karena Harsa memiliki koneksi di kepolisian,” sahut sebuah suara.
Kami bertiga menoleh ke sumber suara yang berasal dari seorang wanita di belakangku.
“Alexa.”
Aku tertegun melihat dia tepat ada di belakangku, terlebih penampilannya. Dia tampak lebih kurus dari yang terakhir aku lihat.
Alexa maju bergabung dengan kami yang disambut hangat oleh Cindy.
“Oh, jadi kamu yang namanya Alexa. Yang dimaksud oleh Rama tambatan hatinya Balin.”
Cindy melirikku, sengaja berdeham keras beberapa kali. Dia mengulum senyum, dan menjabat tangan Alexa.
“Kenalkan aku, Cindy.”
__ADS_1
“Alexa.”
“Aku, Frans.”
Frans juga mengulurkan tangan hendak berjabat tangan. Namun entah kenapa, tanpa sadar aku menepis tangan Frans yang langsung melonjak kaget.
Aku pun sebenarnya kaget kenapa aku melakukan itu.
“Jadi, Harsa punya koneksi di kepolisian. Memangnya siapa?” tanya Cindy penasaran.
“Komisaris polisi bernama Jones.”
Seketika Frans menjentikkan jari, matanya melotot tanda dia mengingat sesuatu.
“Iya aku ingat. Pak Jones, dia memang berteman baik dengan Harsa.”
Lalu aku melihat sosok pria bertubuh pendek yang baru saja keluar dari stasiun TV. Pria itu tampak mencari seseorang, dan berkacak pinggang ketika sorot matanya menangkap kami berempat.
“Cindy, cepat kembali bekerja!” teriak pria itu.
“Itu atasanmu, Cindy?” tanyaku sambil menatap pria pendek yang berjalan menghampiri kami.
Cindy mengangguk, dan berbisik, “Namanya Pak Sholeh, tapi semua karyawan memanggilnya Mang Oleh.”
Mang Oleh berhenti, menatap kami berempat satu per satu penuh kekesalan.
“Kalian jangan memaksa Cindy untuk membuat berita murahan. Stasiun TV kami tidak akan menyiarkan berita yang tidak jelas seperti yang kalian mau.”
“Saya tidak merekayasa video itu. Orang yang ada di video itu benar-benar mantan anak buahnya Harsa yang telah disuruh untuk melakukan tindak kejahatan.”
Mang Oleh berkacak pinggang menantang, “Kalau begitu aku ingin bertemu dengan orang itu.”
Aku gugup seketika, menyadari Dodi sudah dibunuh oleh Harsa begitu dia ketahuan telah membelot.
Mang Oleh tersenyum sinis melihat aku yang tidak bisa berkata-kata. Lalu dia menyuruh Cindy untuk kembali dengan pekerjaannya dan berjalan meninggalkan kami.
Cindy yang masih diam tak bergerak hanya bisa menghela napas jengah.
“Sebenarnya aku lebih senang jadi admin akun gosip dari pada menjadi reporter,” ungkap Cindy.
“Itu dia. Gosip,” seru Alexa terperangah.
Aku, Cindy, dan Frans menoleh cepat ke arah Alexa yang mengulum senyum.
“Masyarakat lebih mudah termakan gosip kan? Kita buat saja berita gosip tentang kejahatan Harsa melalui sosial media. Pasti nanti netizen akan mencari tahu sendiri kebenarannya.”
“Pintar,” puji Frans.
Cindy pun mengangguk, “Ide bagus. The power of netizen. Perlu kita coba.”
__ADS_1
“Cinndddyyy!” raung Mang Oleh yang sejak tadi menunggu Cindy.
“Iya. Iya, Bos. Aku datang,” balas Cindy yang berjalan setengah berlari menghampiri Mang Oleh.
Kini hanya ada aku, Alexa dan Frans yang ada di depan gedung stasiun TV. Tiba-tiba Frans mendapat telepon dari ibunya yang meminta untuk ditemani ke suatu tempat.
Frans menutup panggilan itu dengan mengeluh. Dia sudah dapat menebak ibunya akan menjodohkan dengan wanita yang sama sekali tidak dia kenal.
Namun begitu, Frans mau tidak mau harus menuruti perintah sang ibu agar namanya tidak dicoret dalam kartu keluarga.
“Kamu pergi saja, Frans. Aku bisa naik taksi ke rumah Cindy untuk mengambil mobil dan koperku.”
“Oke, kalau begitu. Kabari lagi jika kamu butuh bantuan.”
Frans menepuk bahuku sebelum dia naik ke mobilnya. Sementara Alexa masih tetap berdiri di sampingku meski aku mengabaikan keberadaannya.
Aku hendak melangkah pergi, tapi Alexa menggenggam tanganku.
“Balin, kamu percaya aku, kan?”
Aku tidak menjawab, menghempaskan ikatan tangan kami dan berlalu pergi.
“Balin,” panggil Alexa.
Langkahku terhenti dan memutar kepala. Satu bulir bening mengalir di pipi Alexa yang menatap pilu ke arahku. Hidung gadis berambut ikal itu memerah karena menangis.
Alexa, perempuan yang aku kenal periang dan jarang bersedih, kini pertama kalinya aku melihat dia menangis.
Apakah tindakanku sudah melukainya?
Aku berusaha untuk terus melangkah menelusuri trotoar dengan Alexa yang terus membuntuti dan memanggil namaku.
Lalu saat menyeberang jalan raya, dari ujung mataku, aku melihat seorang pengendara motor melaju kencang ke arah Alexa. Aku segera berbalik.
Berlari sekencangnya mendekati Alexa, dan aku memeluknya, mendorong tubuh Alexa untuk menepi.
Nyaris saja. Satu detik saja aku terlambat, pengendara motor itu pasti sudah menyerempet Alexa.
Aku meneriaki pengendara motor yang tetap melaju kencang tanpa rasa bersalah. Kemudian, aku menyadari kami masih dalam posisi berpelukan di pinggir jalan dan segera melepaskan diri.
“Lain kali hati-hati kalau menyeberang jalan,” teriakku memarahi Alexa.
“Kamu masih peduli padamu,” kata Alexa lirih.
Aku membuang muka, masih tidak menjawab ucapan Alexa, tapi wanita itu memaksaku menatapnya.
“Balin, aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi untuk menebus semua kesalahanku,” ungkap Alexa memelas.
Aku kembali meninggalkan Alexa, namun baru beberapa langkah, Alexa berteriak, “Aku akan mempertemukanmu dengan orang yang bisa membantumu mendapatkan bukti.”
__ADS_1
Aku berhenti.
“Siapa?”