
Kirana memasukkan beberapa keperluannya ke dalam tas ransel kecil berwarna pink. Setelah selesai, dia keluar kamar menghampiriku yang sudah menanti di depan pintu.
Tanganku menjulur meraih tangan kecilnya, dan kami berjalan keluar rumah, masuk ke dalam mobil.
Aku membantu memasangkan sabuk pengaman pada Kirana. Namun, gadis kecil itu menolak bantuanku.
“Aku bisa sendiri, Papa.”
“Benarkah?” tanyaku tak percaya.
Kirana mengangguk dan betapa kagumnya aku melihat dia bisa sendiri memasang sabuk pengaman.
“Tuh, gampang kok. Mama yang ajarkan aku.”
Aku mengacak rambutnya dan mengulum senyum.
“Selalu pakai sabuk pengaman jika mengendarai mobil oke, Sayang?”
Belum juga aku menyalakan mesin mobil, ponselku berdering dan nama Rama tertera di layar.
“Halo, Rama.”
“Halo, Kak Balin. Ibu terus menerus menangis di ruang sakit. Jadi aku berniat mengantar Ibu pulang ke rumah. Ibu sangat terpukul kehilangan cucunya.”
“Lalu, siapa yang menjaga Alexa?”
“Kak Balin tenaga saja. Tadi sudah ada Kak Alan yang menjaga Kak Alexa. Operasinya berjalan lancar, Kak, dan sekarang Kak Alexa dirawat inap di kamar VVIP,” terang Rama dari seberang telepon.
“Oke, aku akan ke sana sekarang.”
***
Langkah kaki Kirana berjalan beriringan denganku sepanjang koridor rumah sakit yang sepi, dikarenakan koridor itu khusus untuk pengunjung kamar VVIP.
Di ujung sana ada dua pria yang berdiri tegap di samping kiri dan kanan pintu. Begitu aku dan Kirana mendekat, dua pria itu menahan badanku untuk masuk ke dalam ruangan Alexa dirawat.
Aku mengerutkan dahi dan melirik tajam pada dua pria asing itu.
“Anda dilarang masuk ke ruangan Nona Alexa,” kata salah satu petugas itu.
“Kenapa? Aku suaminya,” bentakku marah.
Aku tidak menggubris perintah sang penjaga, dan berusaha menerobos, tapi sekali lagi penjaga itu mendorongku sehingga aku mundur beberapa langkah.
“Ini perintah dari Tuan Alan. Anda dilarang bertemu lagi dengan Nona Alexa.”
__ADS_1
“Apa katamu?” ucapku yang mulai naik pitam.
Lalu pintu terbuka sedikit, sosok dingin Kak Alan keluar dari pintu, melayangkan tatapan sinis padaku dan Kirana. Dia menutup pintu yang ada di belakangnya dengan sangat perlahan.
Aku maju menghadap Kak Alan. Kali ini aku tidak akan pasrah begitu saja. Jika kemarin dia memukulku hingga babak belur, aku terima. Memang aku pantas mendapatkannya.
Namun, kali ini aku tidak akan membiarkan dia yang ingin memisahkan aku dengan Alexa.
“Kenapa Kak Alan melakukan ini?” tanyaku yang membalas tatapan tajamnya.
Kak Alan menyeringai, memasukkan kedua tangan ke dalam saku, dan membuang muka.
“Sudah aku bilang, kan? Sekali saja, kamu menyakiti Alexa, aku tidak akan segan-segan membawanya pulang kembali padaku. Kamu terbukti tidak bisa menjaga Alexa dan bayi yang sedang dikandungnya. Lalu saat Alexa dioperasi, kamu ke mana Balin?”
“Aku menjemput Kirana, Kak. Dia sendirian di rumah,” sahutku dengan nada geram.
“Sendirian?” ulang Kak Alan sambil memunculkan senyum seringai. “Bukankah di rumahmu ada banyak pelayan.”
Kak Alan melempar pandangan yang tidak bersahabat ke arahku.
“Kamu lebih mementingkan anak yang bukan darah dagingmu sendiri, Balin. Aku menjadi berpikir, jangan-jangan kamu menikahi Alexa hanya sekedar ingin memberikan sosok ibu untuk anak itu.”
Dari ujung mata, aku melihat Kirana menegang. Dia melirikku dan Kak Alan bergantian. Sementara aku menjelaskan bahwa Alexa sendiri yang meminta aku untuk pulang. Bukan atas kemauanku sendiri meninggalkan Alexa di ruang operasi.
Namun, tampaknya penjelasanku itu bagaikan dengungan lebah bagi Kak Alan. Dia mengibaskan tangan sambil tertawa mencemooh.
“Omong kosong. Ingat, Balin! Anak itu yang membuat Alexa keguguran.”
Sedangkan dua penjaga berusaha memisahkan kami.
“Jangan katakan itu di depan Kirana, Kak! Tidak mungkin Kirana berbuat seperti itu.”
“Mungkin yang dilakukan Kirana memang tidak sengaja. Tapi tetap saja, kecerobohan anak itu membuat anakmu pergi.”
Cengkeramanku di kerah baju Kak Alan perlahan berubah menjadi cekikan di leher. Namun dua penjaga itu lebih dulu mampu memisahkan aku dan Kak Alan yang kini mengusap baju, seolah tanganku tadi telah mengotorinya.
“Sekarang, kamu hanya punya dua pilihan. Alexa atau Kirana?”
“Apa?” aku mendengus tak percaya.
“Kamu bisa bertemu lagi dengan Alexa, asalkan kamu menaruh Kirana ke panti asuhan. Atau kalau kamu mau mempertahankan anak itu, ceraikan Alexa!”
Tanganku terkepal kuat menahan marah. Darah mendidih hingga ke ubun-ubun. Siapa yang tidak akan marah jika diberi pilihan yang menyulitkan seperti itu.
Aku berteriak kembali maju untuk menghajar pipi kiri Kak Alan. Tidak peduli lagi dengan citraku sebagai adik ipar yang baik.
“Kakak tidak berhak memberikan aku pilihan. Ini hidupku! Rumah tanggaku! Kakak tidak punya wewenang untuk ikut campur.”
Kak Alan hanya berdehem, sekali lagi merapikan jas yang melekat di badannya sambil memandangi aku yang dijegal oleh dua pria.
__ADS_1
“Aku anggap itu sebagian jawaban kalau kamu memilih Kirana. Baiklah, berarti mulai detik ini juga jangan pernah temui Alexa. Dan aku akan mengurus surat perceraian kalian.”
Kak Alan melirik pada dua kaki tangannya, dan memerintah akan untuk mengusirku dari ruangan Alexa.
Akan tetapi saat itu juga, Kirana maju berhadapan dengan Kak Alan.
“Om Alan, biarkan aku bertemu Mama. Aku mau kasih lihat gambar untuk Mama,” rengek Kirana menahan ujung pakaian Kak Alan yang hendak masuk.
Kak Alan meneliti Kirana, dan melayangkan seringai mencemooh.
“Kirana, apakah kamu pernah bertanya pada Papa, siapa sebenarnya Mama kamu itu?” cibir Kak Alan dan langsung menutup pintu.
***
Di antara deretan makam yang terjajar rapi, aku dan Kirana terus melangkah beriringan. Hingga aku berhenti di sebuah makan yang dengan batu nisan bernama Karina.
Aku melepas kacamata hitam yang aku pakai, berjongkok agar bisa menatap lurus pada Kirana.
“Ini Mama kamu, Kirana,” ungkapku.
Selama ini yang Kirana tahu, Alexa adalah ibunya. Memang dari awal aku dan Alexa ingin menyimpan rahasia siapa ayah dan ibu Kirana hingga dia dewasa nanti.
Namun, perkataan Kak Alan di rumah sakit tadi, menjadikan Kirana meminta jawaban pasti.
Kirana menatap pusara sang ibu dengan wajah yang tidak bisa ditebak olehku. Lalu dia menoleh.
“Mama tidur di sini?”
Aku mengangguk, “Ini tempat peristirahatan terakhir Mama Karina.”
Aku meletakan bunga dia atas batu nisan di saat yang bersamaan Kirana juga menaruh kepalanya di bahuku, dan kami bersama-sama menatap pusara.
“Lihat, Karina! Anakmu sudah tumbuh besar dan pintar. Aku menjaganya dengan baik seperti yang kamu minta.”
Aku menelan ludahku, tak terasa aku menitikkan air mata. Lalu menghirup udara untuk mengisi paru-paruku.
“Kini aku juga punya permintaan darimu, Karina. Aku mohon titip dan jaga Boy di sana. Sama seperti aku menjaga Kirana.”
Aku menunduk tidak bisa lagi membendung perasan sedih dan perih yang bercampur menjadi satu. Menatap tanah yang aku pijak, mengingat nasib bayi yang bahkan aku belum sempat melihat wajahnya.
Kirana melingkarkan lengannya ke pundakku.
“Mama Karina pasti akan menjaga adik bayi.”
Kemudian Kirana meninggalkan kecupan batu nisan makan ibunya. “Iya, kan, Ma?”
__ADS_1
“Kalau ini mama aku, lalu siapa papa aku, Pa?”