
Sebelum membaca, bab ini mengandung kegiatan hareudang. Jadi dimohon untuk yang masih single untuk diskip saja. Mohon bijaksana dalam memilih bacaan.
Aku dan Alexa duduk berseberangan di tepi ranjang. Kami saling lirik dan sama-sama tersipu malu. Padahal saat tadi di kamar sebelah, suasana sudah panas, tapi begitu pindah kami malah merasa canggung.
Dari ujung mataku, aku melihat Alexa yang gugup dan menarik selimut hingga menutupi leher dan secepat kilat tanganku menyibaknya kembali.
“Untuk apa ditutup? Lagi pula aku sudah melihatnya.”
Perkataanku itu membuat Alexa semakin salah tingkah. Dia menghirup napas mengisi paru-parunya dengan oksigen.
“Aku ini sudah jadi istrimu,” ucap Alexa tiba-tiba saja.
“Lantas?” tanyaku penuh keheranan.
Alexa memutar bola matanya, “Kamu tidak akan memanggil istrimu dengan panggilan yang romantis, begitu?”
Aku bergumam, tahu akan maksud pembicaraan Alexa. Dia mau aku memanggilnya dengan sebutan sayang seperti yang diucapkan Kak Alan dan Kak Lily.
Akan tetapi aku berpura-pura bodoh. Mengerutkan dahi agar Alexa mengira aku kebingungan.
“Panggilan romantis seperti tetangga sok tahu?”
Alexa berdecak kesal, “Aku kan sudah bukan tetanggamu lagi. Bahkan aku ini nyonya rumah di tempat tinggalmu sekarang.”
“Lalu kamu ingin dipanggil seperti apa?”
“Terserah,” kata Alexa sambil melibatkan tangan di depan dada.
“Kamu mau dipanggil sayangku, cintaku, pujaan hatiku, kekasihku, istriku, belahan jiwaku, ayang, yayang, babe, bebeb, baby.”
Aku menghirup napas sebentar dan melanjutkan lagi.
“... Honey, lovely, my love, darling, my wife, my adventure, eh.”
Segera aku menutup mulut karena kelepasan bicara pada sebutan yang terakhir.
“Jadi, kamu mau pilih yang mana?”
Alexa semakin memajukan bibirnya, dan melirik dengan sorot mata menghunus tajam. Hidungnya kembang kempis karena marah.
“Kamu tidak romantis,” keluhnya yang berbaring sambil menarik selimut.
“Katamu tadi terserah, dan aku sudah memberimu pilihan mau dipanggil dengan sebutan apa.”
Alexa membenamkan wajahnya di balik selimut. Tak ada sahutan. Tampaknya dia benar-benar jengkel denganku. Tanganku menarik selimut itu, namun Alexa juga tak mau kalah mempertahankan selimut itu untuk menutupi dirinya.
“Kamu marah? Aku kan hanya bercanda.”
Gundukan selimut di hadapanku tak bergerak, membuat aku semakin gemas dengan istriku ini. Lalu aku ikut membenamkan diri ke bawah selimut, tanganku melingkar di perut Alexa yang langsung memberontak.
Namun, semakin dia memberontak, semakin aku merapatkan diri ke tubuhnya. Hingga Alexa kehabisan tenaga dan akhirnya pasrah.
Aku tersenyum dan berbisik, “Aku sangat mencintaimu, Alexa Salma Mahendra, istriku tercinta.”
Lalu aku menghujani tengkuknya dengan kecupan yang membuat Alexa menggeliat geli.
“Aku minta maaf, aku tidak punya bakat merayu,” bisikku di telinga Alexa dan kemudian melanjutkan mencium bahunya.
Baju Alexa yang sudah robek, aku koyakkan saja sekalian, hingga terlepas dari tubuh pemiliknya. Udara semakin panas dan pengap di bawah selimut, maka aku pun menendang selimut itu yang langsung tergeletak di atas lantai.
Alexa yang masih membelakangiku, diam tak bergeming. Aku hanya dapat memandang punggung mulus tak bercacat itu.
“Kamu masih marah?” tanyaku.
Alexa tak menjawab.
“Kamu tidur?” tanyaku lagi.
__ADS_1
Masih tidak ada jawaban.
“Kalau begitu tidurlah. Kamu pasti lelah, kan?” kataku pada akhirnya mengalah.
Aku mengambil lagi selimut yang tergeletak di atas lantai. Membentangkan selimut itu untuk menutupi badan yang tidak tertutup oleh sehelai kain.
Aku juga ikut berbaring di samping Alexa.
“Selamat tidur istriku tercinta,” kataku lalu sengaja menyindir, “Dan jangan lupakan bahayanya tidak melayani seorang suami.”
Detik berikutnya, tubuh Alexa bangkit, dia menatapku dengan tatapan terkejut.
“Ayo, kita lakukan itu sekarang,” kata Alexa bersemangat.
Kini balik aku yang terkejut dengan tingkah Alexa.
“Apa katamu?”
“Kita lakukan itu. Yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri ketika malam pertama.”
Aku melingkarkan bola mataku, menyeringai dan kembali berpura-pura menjadi laki-laki polos.
“Memangnya apa yang mereka lakukan?” tanyaku sambil menarik selimut menutupi bibirku yang kini menahan tawa.
Alexa berdecak kesal, “Tuh kan? Kamu berpura-pura tidak tahu lagi. Kalau begitu aku juga akan marah lagi.”
Aku segera memeluk tubuh Alexa sebelum dia berpaling dariku, mencium bibir ranumnya yang sedikit membuka, dan lidahku menerobos masuk membelai lidah miliknya.
Aku memutarkan badan, sehingga kini aku yang berada di atas menindihi tubuh Alexa. Sejenak aku melepaskan tautan bibir kami untuk melihat wajah cantik yang berada di bawah kungkunganku.
“Maafkan aku, Sayang.”
Alexa tersenyum.
“Kamu suka dengan sebutan itu?” tanyaku.
“Panggil Alexa saja. Suaramu terdengar mengerikan ketika menyebut kata-kata romantis.”
Kemudian pandangan Alexa terfokus pada bekas luka tusuk di perut sebelah kiriku.
“Jika seandainya kamu tidak datang malam itu, aku dan Kirana mungkin sudah dibunuh oleh Harsa.”
“Jangan sebut nama itu di hari bahagia kita!” kata Alexa tegas.
Aku mengangguk dan memeluknya.
Di bawah selimut yang semakin membuat gerah, kami saling menyatakan cinta dalam diam, memeluk untuk memberi dan menerima kehangatan.
Napas kami berpacu selaras dengan degupan jantung. Tangan Alexa mencengkeram kuat seprai meski aku melakukannya dengan perlahan.
“Katakan saja apabila kamu merasa tidak nyaman!” bisikku disela merasakan kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuh.
Alexa hanya tersenyum sebagai jawaban. Dan aku mengartikan senyuman itu, bahwa Alexa mengizinkanku melakukan yang lebih panas lagi.
Getaran di dalam dada memuncak seiring penyatuan cinta suci kami berdua. Peluh membasahi tubuh kami yang larut dalam permainan yang kami ciptakan sendiri. Mengarungi malam yang indah bersama.
***
Pagi hari, aku mengerjap, tapi kelopak mata ini sungguh terasa berat untuk dibuka. Maka aku pun hanya membuang napas berat. Lalu berguling di atas tempat tidur.
Pada saat itu, tanganku mengusap ruang kosong di sampingku yang seharusnya ada sosok Alexa di sana. Namun, istri cantikku itu tidak ada di tempatnya.
Ke mana dia?
__ADS_1
Kepalaku mendongak dengan mata yang setengah menutup.
“Alexa,” panggilku.
Beberapa menit berlalu tak ada sahutan dari sang istri.
Aku terus memanggil dengan mata terpejam. Masih tetap tak ada sahutan, bahkan sosoknya pun tidak muncul.
Maka aku mengucek mata, bangun terduduk di atas tempat tidur, dan kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari pakaianku yang semalam terbuang entah ke mana.
Karena tak kunjung menemukan baju itu, aku sekalian saja mandi dan mengambil pakaian yang baru. Kemudian turun ke lantai bawah.
Saat menuruni tangga, aku melihat Alexa dan Kirana tengah menyiapkan sarapan.
“Aku baru saja mau ke atas membangunkanmu,” tutur Alexa ketika menyadari kehadiranku.
“Papa, ayo sarapan,” ajak Kirana yang sudah duduk di kursinya.
Aku tersenyum pada mereka berdua, “Ayo. Kalian masak apa? Nasi kuning? Hm, kelihatannya enak.”
Setelah selesai makan, kami bertiga berada di ruang bersantai menghadap tumpukan kado di atas meja.
Kirana dengan senang hati membantu membuka kado-kado pernikahan.
“Balin, lihat! Ini kado dari Cindy,” kata Alexa yang memperlihatkan sebuah lingerie sexy berwarna merah.
Sontak aku membelalakkan mata, segera tanganku merebut lingerie itu, dan meletakannya di sandaran sofa.
Kemudian aku berbisik di daun telinga Alexa supaya Kirana tidak dengar.
“Jangan perlihatkan itu sekarang! Kalau aku mau kan bahaya. Pakai itu untuk nanti malam, oke?”
Alexa hanya terkekeh, dan kami melanjutkan membuka kado. Kirana berhasil membuka bungkus kado pemberian dari salah satu rekan guru TK Alexa. Isinya dua buah cangkir couple.
Sejenak aku teringat kado dari Rama. Dari kemarin dia menanyakan terus kado itu. Jadi aku pun mencari kado dari Rama di antara tumpukan kado yang ada.
Ketemu.
Sebuah kotak persegi berwarna hijau. Aku membuka kotak itu yang isinya ada satu botol yang bertuliskan, ‘Obat Kuat Rahasia Pria Perkasa.’
“Apa-apa ini?” kataku tercengang.
Tak perlu pikir panjang, aku membuang botol itu ke tempat sampah.
“Dia pikir aku pria impoten apa?” desisku geram.
“Ada apa? Itu tadi kado dari siapa? Kenapa dibuang?” tanya Alexa penuh rasa penasaran.
Aku membuang napas, “Itu kado dari Rama. Sudahlah, kado yang tidak penting kok.”
Aku melanjutkan memilih kado yang akan dibuka. Sesaat tanganku menyentuh kotak persegi berwarna hitam yang entah kenapa membuat aku penasaran.
Perlahan aku membuka kotak yang berisikan sebuah kalung dengan bandul huruf H.
“Tunggu, ini kan kalung milik... “
Jantungku berdetak kencang saat melihat kalung di dalam kotak, tanganku yang gemetar mengambil kalung itu.
“Harsa. Ini kalung milik Harsa. Tapi bagaimana bisa kalung ini ada di antara kado pernikahanku. Siapa yang mengirimkan kalung ini?”
Tanganku meremas bandul kalung itu. Sorot mataku tertuju pada Alexa dan Kirana yang tertawa saat membuka kado, mereka tidak menyadari perubahan wajahku yang menegang.
Mendadak pandanganku buram karena pelupuk mata sudah berlinang air mata. Sedangkan di bawah meja tanganku semakin kuat meremas kalung milik Harsa.
“Orang yang mengirimkan kalung ini tentu sedang memberi peringatan bahwa Harsa masih hidup dan mengintai keluarga kecilku. Aku tidak akan biarkan Harsa menyakiti Alexa maupun Kirana.”
Satu bulir mengalir ke rahangku.
__ADS_1
“Tidak akan pernah.”