
Dan tanpa aku sangka. Satu pukulan keras mendatar di kepalaku. Ternyata itu perbuatan pria gendut yang masih bisa bangkit lagi.
Refleks, aku mengendurkan lengan dan si pria ceking melepaskan diri.
“Ayo kabur saja!” ajak si pria gendut.
“T-tapi.”
“Ayo, sudah kabur saja. Dia jago bela diri.”
Aku yang masih merasakan sakit di kepala mencoba meraih helm si pria ceking.
Pria itu meronta, lalu lepaslah helm itu dari kepalanya. Dia berambut keribo dan sempat meringis kesakitan memperlihatkan giginya yang berantakan.
Mereka menaiki sepeda motor dan tancap gas sekencang mungkin.
“WOI, JANGAN KABUR, PENGECUT!”
Aku berlari mengejar sepeda motor itu, tapi percuma saja. Motor itu hilang dengan cepat bakal ditelan bumi.
Rama keluar dari tempat persembunyiannya di balik pohon besar. Kepalanya menengok ke kiri dan kanan, lalu menghembuskan napas lega.
“Syukurlah mereka sudah pergi.”
“Akan aku kejar mereka!” seruku yang masih menyimpan marah hendak naik ke sepeda motor.
“Kak, percuma. Mereka sudah pergi jauh. Yang penting Kirana selamat.”
Mataku tertuju pada Kirana yang memasukkan satu jarinya ke mulut dan tersenyum padaku. Aku membalas senyuman lucu itu.
“Nyalinya saja yang preman tapi isinya mah jelly,” gumam Rama.
“Dari mana kau dapatkan pistol itu?” mataku beralih ke pistol yang masih dipegang Rama.
“Oh, ini.” Rama mengeluarkan pistol dari saku celananya. “Ini cuma mainan kok.”
“Tapi tadi aku dengar kamu melepaskan tembakan.”
“Iya, hanya suaranya saja. Tapi tidak ada peluru sungguhan. Tuh lihat!”
Rama menyodorkan pistol mainan itu, aku tidak peduli dengan pistol. Yang aku pedulikan ialah Kirana kecilku.
Aku menggendong Kirana, dan kulempar helm si pria ceking kepada Rama.
“Tuh, helm baru untukmu.”
Rama menatap jijik helm itu layaknya dia melihat kotoran di tangannya. “Ih, tidak mau. Bagaimana kalau rambut dia banyak kutunya, nanti aku bisa ketularan.”
Rama bergidik jijik, lalu melempar helm itu ke tempat sampah.
“Hei, bukannya rambutmu sudah ada kutu. Pakai saja helm itu. Supaya kutu di rambutmu itu punya jodoh.”
“Enak saja. Rambutku bebas dari kutu tahu.”
***
Beberapa menit sebelum Kirana diculik.
Cindy melipat tangannya di depan dada sambil memandang Rama yang terlihat lesu. Rama baru saja menyatakan cintanya pada Shinta untuk ke lima kalinya. Tapi ditolak juga.
“Sudah lima semester dan lima kali pula aku menyatakan cinta... “ Rama bergumam sendiri. Dia tidak sadar ada Cindy yang sedang memperhatikannya.
“Tapi kenapa jawabannya tak pernah berubah.” Rama berteriak histeris.
Cindy menyeringai sambil menggerutu, “Lebay.”
__ADS_1
“Setidaknya ada perubahan dari jawaban Shinta. Dari dulu dia selalu menjawab, ‘kita lebih baik berteman saja.’”
Kini Rama berjongkok di samping kereta bayi, mengacak-acak rambut. Kirana yang ada di dalam kereta bayi mengoceh dan bertepuk tangan.
“Kirana, kamu senang Paman ditolak cintanya? Kalau kamu besar, jangan mirip seperti ayahmu yang senang kalau adiknya patah hati. Oke?”
Cindy tergelak yang membuat Rama tersadar ada Cindy yang mendengar ocehannya sejak tadi. Rama jadi malu sendiri.
Rama kembali berdiri.
“Kamu adiknya Balin ya? Namamu siapa?”
“Rama, Tante. Auww.”
Rama kesakitan karena dicubit lengannya oleh Cindy.
“Jangan panggil aku tante! Memangnya aku sudah seperti tante-tante apa?” cibir Cindy.
“Oh iya. Maaf, Nenek.”
“Apa?” geram Cindy
Rama langsung mengangkat tangan, “Iya ampun, ampun. Kakak.”
“Nah gitu dong.”
Cindy dan Rama lanjut mengobrol dengan topik yang sudah kemana saja. Tanpa mereka sadari ada dua orang yang duduk di atas sepeda motor sedang mengintai mereka.
Si pria ceking turun dari motor, berjalan kaki sepanjang trotoar mendekati Cindy dan Rama. Berpura-pura memainkan HP agar tak ada yang curiga.
Sementara temannya yang berbadan gempal, tetap berada di sepeda motor sambil mengawasi sekitar.
“Eh, kira-kira mendiang istrinya Balin itu seperti apa sih? Aku penasaran sama perempuan yang telah sukses merebut hati Balin.”
Rama tertawa kecil.
“Oh iya.”
“He-em. Namanya Kak Alexa.”
Rama tersentak saat tangannya tak sengaja menepuk saku celana. Dia baru ingat dompetnya ketinggalan di meja kasir saat membayar buku di toko buku milik ayah Shinta.
“Kak Cindy, bisa jaga Kirana sebentar. Satu menit saja. Aku mau mengambil dompetku yang ketinggalan di toko buku.”
Cindy mengangguk.
Rama membungkuk berbicara pada Kirana, “Kirana tunggu di sini sama Aunty Cindy ya? Uncle Rama mau ambil dompet dulu. Satu menit, kok.”
Kemudian Rama berlari ke toko buku. Di saat yang sama, ponsel Cindy berdering.
“Iya, Halo.”
Cindy tidak bisa mendengar jelas suara penelepon yang ada di seberang karena terkalahkan oleh suara kendaraan yang lewat.
Mau tak mau Cindy membalikkan badan, mencari tempat yang agak sepi. Dia melupakan Kirana yang ada di kereta bayi.
Si pria ceking mengendap-endap mendekati Kirana.
Sedangkan Rama yang baru satu langkah keluar dari pintu toko buku, langsung berteriak, “CULIK. ADA PENCULIK ANAK!”
Segera pria ceking itu berlari ke arah temannya yang sudah siap melajukan sepeda motor.
Cindy berbalik, matanya sempat beradu pandang dengan si penculik. Saking terkejutnya Cindy malah diam tak bergerak.
***
__ADS_1
Aku mendengarkan cerita Rama saat kami sudah ada di rumah.
Aku mendengus ketika Rama menuturkan kalau Cindy sebenarnya bisa saja mencegah penculik itu untuk kabur. Setidaknya untuk beberapa saat.
Tapi Cindy malah diam.
Dan sikapnya yang panik sepertinya hanya akting belaka.
Tok. Tok. Tok.
“Masuk,” ucapku dan Rama bersamaan.
Kemudian, kepala Alexa menyembul dari pintu. Dia tersenyum seperti biasa.
“Hai,” sapanya.
Kemudian Alexa ikut duduk bersama kami di sofa. Aku sudah tidak mempermasalahkan Alexa yang ingin mendekati Kirana.
Jadi, aku diam saja ketika Alexa menjulurkan lengan untuk memeluk Kirana. Dia meletakan Kirana di pangkuannya.
Lalu Alexa tersadar ada yang tidak beres dengan raut wajahku dan Rama.
“Kalian kenapa? Berkelahi lagi?”
“Tadi Kirana diculik,” kataku langsung pada inti permasalahan.
“Apa? Diculik?” Alexa terperangah, “bagaimana bisa?”
“Ceritanya panjang,” jawabku.
“Kak, aku mau kasih saran.” Rama menegakkan duduknya. “Lebih baik Kakak jangan membawa Kirana ke restoran lagi. Terlebih saat restoran sedang ramai.”
“Iya, Balin. Aku setuju sama Rama,” imbuh Alexa. “Lagian kalian bisa bergantian menjaga Kirana.”
Aku memijit dahi, berpikir.
Aku pun memikirkan hal itu. Tapi sayangnya Rama tidak becus kalau menjaga Kirana. Sudah dibuktikan barusan.
Tapi tunggu.
Lampu bohlam di otakku menyala seketika. Aku melirik Alexa dan Rama bergantian.
Rama, adikku, aku percaya dia akan menjaga Kirana dengan baik. Hanya dalam pelaksanaannya, dia selalu ceroboh.
Sementara, Alexa, dia pandai mengurus bayi, tapi aku belum bisa mempercayakannya seratus persen.
Jika dua manusia ini bergabung, akan menjadi partner in crime. Saling melengkapi.
Alexa dan Rama saling lirik, sorot mata mereka bertanya-tanya. Kemudian mendadak aku bertepuk tangan, yang diikuti oleh Kirana.
Bayi itu tertawa.
Sedangkan Alexa dan Rama makin bingung.
“Kakak baik-baik saja? Apa pukulan di kepala tadi begitu keras sehingga Kak Balin menjadi gila?”
“Apa katamu?” seruku melotot pada Rama.
Rama menjauhkan badannya, takut terkena amukan dariku.
Lalu terlintas pertanyaan di benakku. Siapa sebenarnya bos dari dua penculik tadi?
__ADS_1