
“Ibu dengar kemarin Kirana diculik? Apa itu benar, Balin?” tanya Ibu melalui panggilan video.
Aku menghela napas, “Ibu tahu dari mana?”
“Rama yang cerita.”
Ah Rama. Aku melirik adikku yang sedang duduk memakan cemilan kentang. Dia membalas lirikanku.
Sambil mulut yang terus mengunyah, dia menaikkan kedua alisnya, tanda dia sedang bertanya ada apa.
Tapi aku mengacuhkannya. Mataku kembali fokus ke layar ponsel.
“Ibu tenang saja. Kirana tidak apa-apa kok.”
“Bukan itu yang jadi masalahnya, Balin.”
“Lantas?”
“Ucapan Ibu benar kan? Lebih baik kamu segera menikah agar ada yang mengurus Kirana di rumah dan kamu fokus bekerja.”
“Ibu, aku menikah untuk mencari seorang istri, seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku. Bukan seorang yang akan aku jadikan babu.”
Dari seberang telepon di sana, Ibu mendesah. Kemudian, aku melihat Bapak yang tak sengaja terekam kamera sedang lewat di belakang Ibu.
Seperti biasa aku mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar Bapak. Namun, Ibu kali ini telah hafal dengan trik muslihatku ini.
Entah dari mana datangnya, Rama sudah ada di belakang kepalaku.
“Ibu, kemarin Kak Balin sakit dan dirawat sama Kak Alexa,” tutur Rama tiba-tiba.
Aku sontak mendorong bahu Rama yang langsung terjatuh ke lantai. Akan tetapi dia malah tergelak.
“Apakah itu benar, Balin? Kamu sakit?”
“Dan Kirana juga, Bu,” Rama muncul kembali di belakangku.
“Bisa diam tidak? masuk sana ke kamarmu!” aku membentak Rama yang terkikik.
“Nah, Balin,” ucap Ibu lembut. “Kalau kamu menikah kurang lebih begitulah rasanya. Ada yang mengurus ketika kamu dan Kirana sakit.”
Aku mengacak-acak rambutku frustasi.
Ibu mengoceh terus tentang gambaran jika aku menikah. Akan tetapi telingaku tidak menangkap perkataan Ibu, pikiranku justru melayang memikirkan Alexa.
Sekelebat kejadian aku dan Alexa saling menarik kaos terulang kembali di benakku. Kejadian yang pada akhirnya dia menubruk badanku dan kami saling bertatapan di jarak yang paling dekat.
Kemudian memori di otakku berpindah, memutar momen ketika Alexa menyuapi bubur.
Tak sadar aku tersenyum mengingat kejadian itu.
“Balin, kamu dengar Ibu tidak?” tegur Ibu yang membuyarkan lamunanku.
“Ah iya, Bu. Hmm Ibu bilang apa tadi?”
Ibu mendesah lagi, “Ibu tanya, apa makanan kesukaan Alexa ?”
__ADS_1
“Hah? Apa? Mana aku tahu, Bu.”
“Iya, makanya kamu cari tahu. Tanyakan pada Alexa.”
“Memangnya Ibu mau apa? Sampai aku harus bertanya makanan favoritnya Alexa?”
“Ibu ingin masak makanan kesukaan Alexa, sebagai tanda terima kasih karena dia sudah merawatmu saat kamu sakit.”
“Tidak perlu, Bu. Aku sendiri juga akan berencana mentraktir Alexa makan malam.”
“Iya, tapi ini spesial dari Ibu. Eh, apa katamu tadi? Makan malam?” tanya Ibu tercengang
Aku memutarkan bola mata sekaligus menghela napas panjang. Menyesal karena telah kelepasan bicara, ujungnya Ibu jadi tahu kalau aku dan Alexa akan makan malam.
Dari tempatku duduk, aku melihat pintu kamar Rama sedikit membuka. Pasti adik konyol itu sedang menguping di balik pintu.
“Balin, kamu dan Alexa akan berkencan? Di mana? Kapan? Ibu sarankan padamu cari tempat yang romantis seperti... “
“Ibu,” panggilku memotong perkataan Ibu.
“Aku dan Alexa hanya berencana makan malam. Bukan kencan.”
Tangisan Kirana terdengar dari dalam kamarku. Dia sudah bangun dari tidur siangnya, rupanya.
“Ibu, maaf teleponnya nanti lagi. Kirana bangun.”
“Jangan lupa tanyakan makanan kesukaan Alexa, Ibu tunggu jawabannya.” ucap Ibu sebelum telepon dimatikan.
Tut.
“Aku titip Kirana padamu, Rama. Tapi ingat! Meskipun aku memperbolehkan Alexa bermain dengan Kirana, kamu harus tetap mengawasinya dengan benar. Jangan sampai teledor seperti waktu itu.”
“Iya, Kak. Aku akan menjaga Kirana lebih dari aku menjaga diriku sendiri,” ujar Rama penuh percaya diri.
“Aku pegang ucapanmu!”
Kemudian aku beralih pada Kirana yang sedang bermain boneka kelinci. Berjongkok menjajarkan pandangan mataku dengan Kirana. Dia mengoceh.
Sekarang ocehannya sudah semakin jelas didengar. Baba, papa, dada. Entah apa itu artinya.
Aku mengecup kening Kirana dan mengucapkan kata perpisahan sebelum aku pergi bekerja. Sebentar lagi Alexa pasti datang.
Tok. Tok. Tok.
Tuh kan? Kataku juga apa?
Alexa masuk ke rumahku dan dia menyapa Kirana seperti biasa.
“Kak Alexa sudah pulang mengajar?” tanya Rama.
“Dia sekarang ada di sini, ya tentu sudah selesai mengajar,” aku menimpali dengan ketus.
__ADS_1
“Ye, aku kan sekedar basa basi. Memang tidak boleh?”
“Kirana, Papa tinggal dulu. Nanti Papa usahakan pulang cepat. Jangan rewel ya?” ucapku pada Kirana.
“Perasaan, Kakak sudah bilang kata-kata itu hampir sepuluh kali dalam satu hari ini.”
“Diam kau!”
Alexa yang menyaksikan aku berdebat dengan Rama hanya menutup mulut menahan tawa.
Ketika aku berada di mobil, aku menoleh sekali lagi ke dalam rumah. Alexa berdiri di ambang pintu menggendong Kirana yang tangannya melambai ke arahku.
Aku tersenyum dan membalas lambaian Kirana. Saat pandangan mataku bertemu dengan Alexa, aku mengangguk kaku. Lalu kulajukan mobil.
Di tengah perjalanan ke restoran, ponselku berdering. Satu panggilan telepon masuk dari Frans.
“Halo, Balin. Kamu ke restoran hari ini?” tanya Frans.
“Iya, ini aku sedang ada di jalan. Ada apa?”
“Aku tidak bisa ke restoranmu hari ini. Mendadak sekali ibuku mengajak aku bertemu dengan sahabatnya. Jadi, aku mau minta tolong bisa kamu cek laporan omset untuk bulan ini?”
“Oh, baik. Nanti akan aku cek begitu sampai di restoran,” sesaat aku terdiam.
Ragu untuk berbicara.
“Hmm, Frans, aku ingin reservasi tempat di restoranmu yang ada di Blok H. Apa kamu bisa menghubungi karyawanmu di sana? Aku perlu meja untuk dua orang,” ucapku sambil fokus menyetir.
“Untuk hari ini?”
“Ya, malam ini. Pukul delapan malam. Kalau bisa pilihkan meja yang memiliki view yang bagus.”
“Oh, kamu akan makan malam dengan siapa, kalau boleh tahu? Kenapa tidak di restoranmu sendiri?” tanya Frans yang mulai penasaran.
“Restoranku hanya restoran kecil,” jawabku singkat.
Sebenarnya aku hanya tidak mau nanti para karyawanku salah paham tentang hubunganku dengan Alexa.
Nanti malah tersebar gosip yang bukan-bukan.
“Oke, baiklah. Akan aku pesankan meja untukmu. ”
Panggilan telepon ditutup, tepat saat aku sampai di depan restoranku.
Seperti yang diperintahkan Frans, aku menuju ruangan khusus bagi karyawan. Mengambil beberapa dokumen laporan keuangan restoran.
Setengah jam bergelut dengan puluhan lembaran kertas, aku menyimpulkan, ada beberapa data yang rancu. Terlebih pada pengeluaran restoran.
Aku membanting bolpoin ke meja. Menghembuskan napas jengah.
Aku harus memanggil Dian dan Ela, selaku kasir restoran agar lebih detail dalam menuliskan pengeluaran restoran.
Namun aku mengurungkan niat, karena seketika aku teringat pada Kirana. Jadi aku putuskan untuk menelepon Rama melalui panggilan video.
Sedang apa Kirana sekarang? Batinku ketika menunggu telepon diangkat dari seberang.
__ADS_1
Ternyata yang mengangkat telepon bukan Rama, melainkan Alexa. Wajahnya yang selalu ceria memenuhi layar ponselku.
Sontak aku merasa tersengat listrik.