
Aku memutar badan untuk melihat apa yang telah terjadi. Ternyata Leo berlari menghampiriku dengan sangat cepat sehingga aku tak bisa menghindar saat pria bermuka angkuh itu mengayunkan sebatang besi dan mendaratkannya ke kepalaku.
Aku langsung jatuh menelungkup. Darah mengucur dari kepalaku dan bersimbah ke lantai.
Di ujung sana, Alexa yang masih ditahan oleh dua pria, menangis histeris dengan bibirnya yang terus memanggil namaku.
“Kamu lihat, Alexa! Kekasihmu itu tidak ada apa-apanya,” cemooh Harsa.
Harsa tertawa, mengayunkan tangan memberi isyarat pada Leo.
“Bawa dia ke sini, Leo! Jangan dulu buat dia mati. Balin dan Alexa harus menyaksikan bagaimana aku membunuh anak yang sudah mereka besarkan sejak bayi.”
Leo melakukan perintah Harsa. Menyeret dan menahanku tepat di samping Alexa yang terus menangis. Bola mata Alexa menatap nanar luka di kepalaku yang mengalirkan darah melewati pelipis hingga ke pipi.
“Balin...” ucap Alexa lirih.
“Aku tidak apa-apa. Jangan menangis lagi,” kataku dengan menahan rasa perih dan berdenyut di kepala.
Aku memaksakan diri untuk tersenyum pada Alexa, agar gadis itu berhenti menangis. Namun, yang terjadi derai air mata malah bertambah. Menundukkan kepala dan bahunya bergetar. Dia tahu aku berpura-pura.
Sementara itu, Harsa berdecak kesal. Dia melirik pada Leo yang mengangguk paham akan maksud tuannya.
“Kalian berdua, bantu Leo menahan pria itu!”
Dua orang yang sejak tadi mencengkeram lengan Alexa, sekarang berpindah memegangi badanku.
Aku sendiri heran. Entah apa yang akan dilakukan Harsa. Aku tidak mengerti jalan pikirannya.
Kemudian, dengan menampilkan seringai jahat Harsa mendekati Alexa yang menyeka pipinya dengan cepat.
“Aku sudah bilang padamu, Balin. Ini akibatnya jika ada orang yang mencoba melawanku. Kamu tampaknya sangat penasaran sekali dengan urusan pribadiku. Jadi, aku akan memberitahumu bagaimana dulu aku menyiksa Karina.”
Harsa menarik tangan ke belakang, dan menampar pipi Alexa hingga terjatuh ke lantai. Lalu Harsa menunduk meraih rambut ikal Alexa, menjambaknya dengan sangat kuat.
Aku menggeliat berusaha melepaskan diri dari jeratan tiga orang yang memegangi tubuhku. Aku ingin berlari menyelamatkan gadis yang aku cintai. Tak akan aku biarkan Harsa menyakiti Alexa.
Aku semakin memberontak menjadi-jadi ketika mendengar jerit kesakitan yang menyayat hati di seberang ruangan sana. Bahkan Harsa tak segan-segan menarik rambut, lalu menyeret tubuh Alexa yang tidak mampu melawan. Kemudian mengayunkan kaki menendang bagian perut Alexa.
“Kurang lebih seperti itulah aku menyiksa Karina setiap hari, Balin.”
Begitu aku mampu melepaskan diri dari cengkeraman, aku langsung berlari menuju Harsa. Dengan berteriak penuh kemarahan aku meninju pipi Harsa.
“Tidak akan lagi aku biarkan kau menyakiti orang yang aku sayangi,” aku meraung keras dan hendak melayangkan tinju berikutnya.
Namun, Leo kembali menahanku, Harsa sendiri tertawa mencemooh. Sedangkan Alexa dipaksa berdiri oleh dua anak buah Harsa.
“Sebenarnya banyak yang ingin aku tunjukan ke kamu seperti apa penyiksaan yang Karina dapatkan dariku, tapi kita tidak punya waktu. Sebelum polisi datang, aku pastikan kalian bertiga sudah menjadi mayat.”
Harsa tertawa, tangannya merogoh saku dalam jasnya, lalu memperlihatkan sebuah pistol hitam.
“Alexa, Balin, aku berterima kasih pada kalian sudah membesarkan anakku. Akan tetapi aku lebih bahagia jika anak ini mati saja menyusul ibunya.”
__ADS_1
Harsa mengarahkan pistol itu ke arah tubuh Kirana yang masih terlelap di sofa. Siap menekan pelatuk pistol dan...
“Selamat tinggal, mimpi burukku.”
Dengan gerakan secepat kilat, aku menginjak kuat kaki Leo, berputar untuk menjotos perut bergelambir Leo yang membungkuk kesakitan. Lalu aku berlari menerjang lengan Harsa.
Dor.
Suara tembakan terlepas dari pistol yang digenggam Harsa. Jantungku seakan berhenti, dengan harap-harap cemas aku menoleh pada Kirana.
Terlihat tak ada cacat sedikit pun di tubuh kecil Kirana. Dia masih tidur menyamping seperti pada posisi semula. Lalu mataku menangkap satu lubang di sandaran sofa.
Aku menghela napas lega, karena tembakan Harsa meleset. Kirana nyaris tertembak, untung saja aku mengarahkan lengan Harsa di saat yang tepat.
“Dasar sial. Kau mengacaukan semuanya, Balin! Gara-gara kau tembakanku salah sasaran,” desis Harsa dengan mata berapi-api.
Tanganku langsung memelintir lengan Harsa sehingga pistol di genggamannya terjatuh ke lantai, kakiku menendang senjata api itu dan hilang ke bawah kolong sofa.
Harsa mengumpat dan menghajarku, tapi aku tidak tinggal diam. Aku memiringkan tubuh menghindari serangannya. Lalu kami berkelahi dengan pertarungan yang sengit.
Tak lama, aku mendengar jerit kesakitan dari dua anak buah Harsa. Aku menoleh sebentar, melihat dua pria itu terhuyung sambil mengatupkan tangan ke mata.
“Ah... Mataku sakit!”
“Rasakan ini, Leopard gila!” teriak Alexa yang juga menyemprotkan semprotan merica ke arah Leo.
Aku tertawa melihat Alexa. Ternyata dia menyimpan semprotan merica yang pernah aku berikan padanya. Dan menggunakan semprotan merica itu di saat yang tepat.
Dan pisau itu menghunus perut sebelah kiri. Harsa yang tengah menindihi badanku, tersenyum licik. Sementara tanganku sekuat tenaga menahan lengan Harsa agar dia tidak menancapkan pisau itu lebih dalam lagi.
“Seharusnya kalian bertiga sudah mati begitu aku menyuruh orang untuk menabrak mobilmu, Balin. Tapi kenapa? Kenapa kalian selalu saja selamat?”
Aku mengerang kesakitan karena Harsa mendorong pisau semakin dalam ke arah perutku. Seketika itu Alexa berlari menghampiri kami dan menggigit daun telinga Harsa.
Pria itu menjerit, menghempaskan tubuh Alexa dengan kasar, lalu bangkit berlari ke tumpukan barang di pojok ruangan.
Alexa membantuku berdiri sambil menahan rasa perih. Dia tersentak gemetaran ketika melihat pisau masih menancap di perutku.
Sementara itu, Harsa membuka penutup botol dan menumpahkan isinya ke sembarang tempat. Sontak hidungku mencium bau bensin yang sangat menyengat.
Harsa menyalakan pematik api. Senyum seringainya tampak menakutkan saat diterpa cahaya api dari bawah dagunya.
“Ayo kita buat acara ini semakin panas, Balin!”
Harsa melempar pematik api ke lantai, dan detik berikutnya kobaran api menyambar ke segala penjuru ruangan.
“Cepat ambil Kirana dan bawa dia keluar!”
“Tapi bagaimana denganmu, Balin?” tanya Alexa cemas.
“Aku akan menyusul kalian nanti,” kataku mantap.
__ADS_1
Alexa diam tak bergerak, menatapku penuh kekhawatiran. Lalu aku memeluk dan mengusap lengan Alexa, agar dia sedikit lebih tenang.
“Jangan cemaskan aku!”
Alexa menganggukkan kepala di dalam dekapanku. Lalu aku mendaratkan kecupan singkat di dahinya dan membiarkan dia berlari menghampiri Kirana.
Harsa yang melihat Alexa membawa Kirana tidak tinggal diam, dia berniat mengejar Alexa akan tetapi aku menghadangnya.
Para anak buah Harsa yang mulai tersadar, terlihat kebingungan dengan adanya kobaran api yang tiba-tiba saja sudah melahap separuh ruangan. Mereka terbatuk karena asap hitam yang mengepul.
“Ada api! Ayo lari...” seru salah satu sang kaki tangan menyeret tubuh temannya. Diikuti oleh anak buah yang lain.
Aku menghajar tubuh Harsa yang terjungkal ke lantai dan dia segera membalas seranganku. Rasa muak yang ada pada diriku terhadap Harsa membuatku melakukan serangan membabi-buta. Sedangkan Harsa terlihat pasrah.
“Tanpa bantuan anak buahmu, ternyata kau bukan tandinganku, Harsa.”
Ruangan semakin panas, dan udara semakin sesak, jadi aku menyeret tubuh Harsa yang babak belur sebelum kobaran api bertambah besar.
“Kenapa kau tak membiarkan aku mati terbakar?” tanya Harsa dengan suara lirih.
“Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja. Kau harus mendapatkan hukuman di dunia atas perbuatanmu.”
Harsa terkekeh, “Pilihan yang salah.”
Tiba-tiba Harsa mendorongku. Di saat bersamaan balok kayu yang terbakar api, jatuh layaknya batang pohon yang tumbang dan menjadi pemisah antara aku dan Harsa.
Kepulangan asap hitam memenuhi ruangan, membuat susah bernapas dan membatasi jarak pandangku.
“HARSA!” aku berteriak memanggil namanya.
“Harsa, kau terjebak!”
Tidak ada sahutan, dan api semakin menjalar hingga ke pintu keluar rumah. Pandanganku berkeliling mencari Harsa di setiap sudut.
Namun, aku tidak menemukan sosok pria itu. Terdengar derak suara, dan aku langsung menghindar begitu menyadari ada kayu yang nyaris menjatuhiku.
Jalan menuju pintu sudah terhalang oleh kobaran api. Sambil terbatuk, aku melompati lidah api, memilih jalan pintas dengan cara menerobos jendela kaca.
Kemudian, badanku terjatuh berguling di tanah yang keras. Beberapa serpihan kaca sepertinya menancap di lengan dan aku bangkit berdiri.
Sayup-sayup terdengar raungan sirene mobil polisi yang semakin lama, semakin jelas. Aku berjalan dengan langkah gontai. Kepulan asap masih menghalangi jarak pandanganku.
“Balin,” pekik siluet perempuan yang berlari menghampiriku di antara kepulan asap.
“Alexa,”
Dan tiba-tiba semuanya berubah gelap.
__ADS_1