
Beberapa minggu setelah aku sakit, aku dan Kirana berencana datang ke restoran untuk melihat penjualan menu baru. Frans bilang menu baru ini sangat disukai pembeli.
Bahkan ada pembeli yang mengunggah video makanan itu ke media sosial dan menjadi viral.
Aku sampai di restoran tepat saat jam makan siang karyawan kantor. Tentu Restoran Kenangan sedang ramai-ramainya.
Seperti biasa, aku mengamati kondisi restoran yang ramai oleh pembeli. Namun, saat aku melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran, Kirana menangis.
Kirana menyembunyikan wajahnya di dadaku.
Kenapa? Apa dia takut?
Aku berdiam diri di tempat parkir beberapa menit, menunggu Kirana tenang. Tapi Kirana menangis lagi begitu aku masuk ke restoran.
Pasti Kirana takut karena di dalam restoran banyak sekali orang. Dia takut keramaian.
“Balin,” panggil Frans yang berjalan menghampiriku.
“Ada yang perlu kita bicarakan di dalam.”
“Sebentar, Frans. Anakku sepertinya tidak mau masuk ke dalam restoran.”
“Aduh. Masalahnya pembicaraan kita ini penting. Terkait giveaway yang sudah rencanakan sebelumnya.”
Selang tak berapa lama mataku menangkap sosok Rama yang baru saja keluar dari toko buku.
Rama mendekat dengan wajah lesu. Ketika aku menyuruhnya untuk menjaga Kirana, saat itu juga Cindy datang.
“Balin, Kirana kenapa?” tanya Cindy.
“Dia tidak mau dibawa masuk.”
“Kalau begitu, biar aku saja yang menjaga Kirana di sini.”
“Tidak perlu. Ada Rama yang akan menjaga Kirana.”
Aneh, begitu datang, Cindy langsung menawarkan diri untuk ikut menjaga Kirana di luar restoran. Padahal biasanya dia selalu masuk ke restoran untuk makan.
Namun Frans segera menarik lenganku sebelum aku sempat menanyakan alasan dia ingin menjaga Kirana.
Kami berdiskusi di lantai dua restoran. Tempat yang sengaja dirancang lebih bersifat santai dengan kursi sofa panjang dan interior yang nyaman.
Waktu terasa begitu cepat berlalu.
Hingga tiba-tiba, aku mendengar suara ribut dari bawah. Saking penasarannya, aku mencoba melongok dari jendela atas.
Hanya melihat sekilas saja, aku tahu apa yang sedang terjadi di bawah sana.
Cindy menjerit minta pertolongan, di samping kereta bayi yang kosong.
Aku membelalakkan mata, dan adrenalinku seketika meningkat. Aku mengepalkan tangan, meninju udara kosong, lalu berlari melewati Frans yang berdiri kebingungan.
“Balin, ada apa?” tanya Frans ketika aku menuruni tangga. Dia pun ikut berlari di belakangku.
__ADS_1
Aku tak menjawab.
Di bawah anak tangga, Rama yang hendak naik ke atas terhenti seketika melihat aku yang menuruni tangga.
“Kak, Kirana diculik!”
“Aku tahu,” kataku sambil terus berlari.
Aku meraih baju Cindy, dan memutar badannya dengan kasar. Untung saja dia perempuan. Kalau bukan, pasti sudah aku tonjok.
“M-mereka membawa Kirana ke sana,” Cindy menunjuk ke arah selatan dengan wajah pucat dan suara yang gemetar karena panik.
Tapi aku tak tahu apakah dia sedang berakting atau tidak. Jelas-jelas aku tadi melihat dari lantai atas Cindy dengan cerobohnya mengabaikan Kirana. Dia malah asyik menelepon seseorang.
“Mereka ada dua orang dan pakai sepeda motor,” tutur Cindy yang masih belum bisa menenangkan diri.
Aku tak punya banyak waktu.
Aku putuskan meminjam sepeda motor milik salah satu karyawanku untuk mengejar si penculik itu.
“Kak, tunggu aku!” teriak Rama ketika aku menancapkan gas.
Di jalan yang padat, aku nyaris kehilangan jejak pengemudi motor yang menculik Kirana. Tadi aku sempat melihat mereka dari atas. Mengendarai sepeda motor butut, berhelm hitam dan memakai penutup mulut hitam juga.
Yah itu dia.
Pengemudi motor yang menculik Kirana berbelok saat berada di pertigaan. Seketika aku meningkatkan laju sepeda motor, menyalip beberapa mobil di depan dan menerobos lampu merah.
Suara bising knalpot beradu dengan deru angin yang memekakkan telingaku.
Lalu motor yang sedang aku incar berbelok lagi masuk ke sebuah jalan kecil yang padat penduduk.
Aku menghentikan motorku. Berbahaya jika aku mengebut di jalan yang banyak sekali anak-anak kecil bermain di jalanan seperti ini.
Tak lama, Rama dengan sepeda motor pinjamannya berhasil menyusulku.
“Kemana perginya si penculik itu, Kak?” tanya Rama.
Aku tetap menatap lurus sepeda motor yang berusaha kabur dariku itu. Tiba-tiba, aku ingat, jalan ini hanya memiliki dua cabang.
“Rama, putar balik!” perintahku.
“Apa?”
“Putar balik! Kita hadang mereka. Kamu menuju Jalan Aster, hadang mereka di sana! Sementara aku akan menghadang mereka dari arah Jalan Amanda.”
“Ide bagus, Kak.”
“Ayo cepat!”
Kami berputar balik dan berpisah. Aku menarik setang gas motor sampai ke batas maksimal. Tak akan aku biarkan mereka membawa Kirana.
Aku bahkan merasa seperti sedang melayang saat mengendarai motor saking kencangnya.
__ADS_1
Yah, ternyata perkiraanku benar. Penculik itu memilih Jalan Amanda. Mereka menghentikan sepeda motor saat melihatku.
Aku menyeringai penuh kemenangan.
Orang yang duduk di jok belakang, sekaligus yang menggendong Kirana, turun dari motor. Lalu memerintahkan pada temannya.
“Lo hajar dia. Sementara gue kabur. Yang terpenting sekarang, bocah ini harus sampai di tangan si bos.”
Pria yang mendapat perintah mengangguk dan menghampiriku. Aku tak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh helm hitam. Dia menggertakkan jari, dan aku siap dengan posisi kuda-kuda.
“Lo pasti bakal K.O di tangan gue.”
“Aku sama sekali tidak takut, pria gendut.”
Pria gendut. Begitulah aku menamainya. Karena dia memang gendut dibandingkan dengan pria yang membawa Kirana.
Aku berhasil menyingkir dari pukulan yang dia berikan padaku. Menunduk dari pukulannya yang kedua.
Lalu aku meraih lengannya. Memelintir sampai pria gendut itu menjerit kesakitan dan menyikut keras tepat di punggungnya.
“Hei, mau kemana kau?” tanya Rama mencoba menghalangi pria yang membawa Kirana.
Aku hanya menoleh sekali pada Rama saat aku sedang menghadapi pukulan si pria gendut.
“Jangan macam-macam! Kau tahu benda apa ini?”
Ternyata Rama mengeluarkan sebuah pistol. Aku pun tak tahu dari mana dia mendapatkan pistol itu.
“Nah, sekarang. Serahkan bayi itu atau kamu mau pulang ke rumah dalam keadaan kepala bolong? Ayo, pilih yang mana?”
Rama mengancam si pria ceking tapi dengan nada bicara seperti orang melawak. Dasar Rama.
Tentulah si pria ceking tidak akan terpengaruh dengan ancaman Rama.
“Memangnya gue takut sama ancaman lo, hah?”
“Hei, tidak percaya! ini pistol sungguhan. Nih, kalau tidak percaya.”
Rama mengarahkan pistol ke atas dan menembakkan satu peluru.
Pria itu ketakutan, begitu pula Kirana yang sedang digendongnya. Lalu Rama mengarahkan pistol itu lagi ke si pria ceking.
Ketika pria ceking mulai ketakutan, Rama dengan gesit mengambil kesempatan untuk merebut Kirana. Dia memutarkan badan dan berlari menjauh.
Sementara aku telah berhasil menjatuhkan pria gendut ke jalan aspal yang panas oleh terik matahari dan mendaratkan pukulan tepat di pipinya.
Kemudian, aku melihat pria ceking hendak menyerang Rama, tapi aku segera berlari ke arahnya.
Melingkarkan satu lenganku ke leher pria ceking dari belakang dan menekannya sekuat tenaga. Pria ceking itu menjulurkan lidah karena susah bernapas.
“Katakan! siapa bos kalian?”
__ADS_1