
“Rama di mana?”
Alexa tidak menjawab, tapi mengarahkan kamera ke sosok yang sedang tengkurap di atas sofa ruang tamu. Suara dengkuran keras terdengar jelas dari sana.
Ya Tuhan. Aku sudah bilang untuk mengawasi Alexa, tapi adikku itu malah tidur dengan nyenyaknya.
“Bangunkan dia sekarang!”
“Kasihan, Balin. Dia sepertinya kelelahan.”
“Kirana mana?”
“Nih, Kirana,” Alexa memutarkan kamera yang kini memperlihatkan Kirana yang selesai makan.
Mulutnya berlepotan. Rambutnya diikat dua, entah oleh siapa yang mengucirnya, tapi Kirana terlihat lucu.
“Ini ada Papa, Kirana,” terdengar suara Alexa seraya menunjuk ke layar kamera.
Kirana tersenyum, dan bergumam, “papapa... “
Melihat wajah Kirana melalui panggilan video saja sudah cukup bagiku untuk mengobati rindu.
Kirana pun tampaknya sama rindunya denganku. Dia memekik riang dan bertepuk tangan melihatku.
“Alexa.”
“Iya.”
Wajah Alexa kembali memenuhi layar ponselku yang membuat aku tiba-tiba saja gugup. Lalu aku berdeham, untuk menghilangkan rasa gugup itu.
“Seperti yang kamu mau, aku akan mentraktirmu makan malam. Makan ini jam setengah delapan malam.”
Tut.
Aku menutup panggilan secara sepihak. Dengan tanganku yang sedikit gemetar, dan kutaruh ponsel di meja.
***
Pukul 19.25
Aku memandang bayangan diriku di pantulan cermin. Memikirkan ulang penampilanku malam ini. Aku memakai setelan jas hitam yang ukurannya sangat pas di badanku, dengan kemeja biru muda dan dasi yang berwarna senada.
Aku merapikan rambutku sekali lagi yang kini sudah mengkilap berkat bantuan pomade.
Sempurna.
Sudah lama aku tidak memakai setelan jas lagi semenjak berhenti bekerja.
Tak jauh dariku, Kirana tidur pulas di dalam boks bayi. Aku membungkuk, dan mencium keningnya.
Keluar dari kamar, aku di sambut oleh Rama yang sudah berdiri di depan kamarku entah sejak kapan.
Rama cengengesan seperti orang gila.
“Malam ini kamu tidur di kamarku. Jaga Kirana dengan betul.”
“Iya, Kak. Tenang saja. Kirana pasti aman.”
Rama mengacungkan jempolnya.
“Jangan ketiduran lagi seperti tadi siang.”
“Iya, iya. Bawel sekali kakakku ini,” Rama menggerutu.
Aku berjalan ke luar rumah dan berbelok memasuki pekarangan rumah Alexa. Kuketuk pintu.
Tak lama kemudian, pintu berderak terbuka dan Alexa melangkah keluar. Dia terpaku menatapku dengan sorot mata geli.
Begitu pula dengan aku yang memandangnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sontak aku ingin berteriak memaki.
__ADS_1
Apa yang Alexa pakai untuk acara makan malam? Sepatu kets, celana jeans, kaos polos yang terbalut jaket parka. Rambut ikalnya, dia kuncir tinggi.
“Hei, kamu mau makan malam atau mau jogging?” sindirku dengan nada meninggi.
“Kamu sendiri, mau makan malam atau mau interview kerja? ” Alexa memindai penampilanku sambil menahan tawa.
Seketika aku melirik lagi bajuku. Apa ada yang salah?
“Hei, aku tunggu sepuluh menit,” Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.
“Sepuluh menit dari sekarang, pakai baju terbaikmu, dandan juga rapikan rambutmu! Kalau tidak, acara makan malamnya batal,” ancamku geram.
Aku dibuat semakin geram karena Alexa malah mengerutkan dahi. Bukanya segera menuruti perintahku.
“Memangnya kita mau kemana? Kita cuma makan malam biasa di restoranmu kan?”
Aku mendesah, “Cepat, tidak usah banyak tanya! Atau aku urungkan saja niat mentraktirmu makan.”
Alexa memberengut, kembali masuk ke dalam rumahnya dengan kaki yang sengaja dihentak-hentakkan ke lantai.
Aku menunggu sambil menyenderkan punggungku ke tembok. Melipat kedua tangan di depan dada. Berkali-kali melirik jam tangan.
Sepuluh menit bagi Alexa telah habis, Kemudian, terdengar derap langkah kaki dari dalam rumah.
Aku berdiri tegap ketika melihat kaki seindah porselen yang memakai sepatu hak tinggi melangkah keluar dari balik pintu. Lalu pandanganku naik ke atas.
Alexa tampak menawan dengan gaun hitam polos selutut, tangannya menggenggam clutch bag, rambutnya dibiarkan terurai rapi dan sepasang anting mengkilap nan indah tergantung di telinganya.
Aku tercengang sekaligus terpesona dengan penampilan Alexa.
“Kita jalan sekarang?” tanya Alexa yang sepertinya salah tingkah karena aku menatapnya terlalu lama.
“Oh, hmm, iya,” jawabku gelagapan.
Selama berada di perjalanan menuju tempat tujuan. Mataku serasa ditarik oleh magnet. Dan magnet itu adalah Alexa.
Aku tidak bisa berhenti meliriknya. Sampai-sampai aku nyaris lupa berhenti saat di lampu merah. Untung Alexa mengingatkan aku. Kalau tidak, aku pasti sudah kena tilang dua kali dalam seminggu ini.
Padahal dia hanya memakai gaun hitam, tapi kenapa? Kenapa dia sangat menawan?
Kesenanganku memandang Alexa terhenti ketika mobil yang ada di belakangku membunyikan klakson.
“Balin, ayo cepat jalan! Pengemudi mobil di belakang kita marah-marah tuh.”
Aku tersentak, ternyata lampu hijau telah menyala dan aku langsung melajukan mobilku kembali.
Sampailah kita di restoran mewah milik Frans. Seorang wanita pramusaji restoran membukakan pintu untuk kami.
“Saya sudah reservasi meja. Atas nama Balin Mahendra.”
“Baik, Tuan. Mari ikuti saya,” kata pramusaji wanita dengan ramah.
Aku dan Alexa berjalan beriringan di belakang pramusaji wanita.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat tatapan para pria melirik Alexa dengan sorot mata menggoda. Bahkan ada yang berani bersiul kecil saat berpapasan dengan kami.
Tanganku terkepal. Ingin melayangkan tinju pada pria itu. Tapi untungnya, akal sehatku segera kembali menguasai diriku.
Kemudian, kami berhenti di meja yang sesuai dengan keinginanku. Meja dengan dua kursi yang saling berhadapan, dan berada di area outdoor restoran.
Sudah ada satu botol red wine beserta dua gelas anggur menanti kami di atas meja
“Untuk red wine-nya hadiah dari Tuan Frans,” ujar pramusaji.
“Tuan Frans?” ulang Alexa.
“Dia temanku.”
Dari meja ini, kami bisa melihat jalanan yang dihiasi kelap-kelip lampu kendaraan, pemandangan gedung-gedung tinggi dan bulan purnama di atas langit menjadi pelengkap keindahan suasana malam ini.
Aku berinisiatif membantu menarik kursi Alexa seperti yang biasa ada pada adegan film-film romantis.
Namun Alexa sepertinya salah memahami tindakanku. Dia malah mengurungkan niat untuk duduk di kursi yang aku tarik.
__ADS_1
“Kamu mau duduk di kursi ini?” Alexa bertanya. “Oke, kalau begitu aku yang akan duduk di kursi satunya lagi.”
Dasar gadis kurang peka!
Umpatku dalam hati.
Kuputar bola mataku, dan menjatuhkan diri di kursi yang sudah terlanjur aku tarik. Aku menekuk wajahku karena kesal.
Pramusaji restoran memberikan buku menu untuk kami berdua yang langsung dibolak-balikkan halamannya oleh Alexa.
Berbeda jauh denganku yang membiarkan buku menu tetap tergeletak di meja.
Aku tidak selera makan.
Lalu Alexa mendongak dari buku menu, “Balin, kamu mau pesan apa?”
“Terserah. Samakan saja denganmu. Kamu boleh pesan apa saja yang kamu mau,” kataku tak bersemangat.
“Serius?” mata Alexa berbinar senang.
Dia kembali menunduk melihat daftar menu sekali lagi. Aku meletakkan punggungku di sandaran kursi dan memalingkan pandangan.
Tak sengaja mataku tertuju pada beberapa tamu restoran pria yang duduk lumayan jauh dari meja kami. Tapi aku melihat mereka bergantian melirik ke arah kami. Tepatnya, ke arah Alexa.
Tanganku kembali terkepal kuat di bawah meja. Memandang penuh amarah pada gerombolan pria di sana.
“Kami pesan greek salad dan sirloin steak. Untuk kematangan steak, aku medium.”
“Dan Tuan... “ pramusaji berganti menatapku yang masih bermuka masam menatap ke sudut restoran.
“Balin,” panggil Alexa.
“Medium well,” jawabku tanpa memalingkan muka.
Setelah pramusaji restoran pergi, aku menatap lekat wajah Alexa. Dia tersenyum, dan aku merasa ada yang memompa dadaku. Membuat tubuhku terasa ringan dan ingin melayang.
“Hapus lipstikmu!”
Satu detik, mimik muka Alexa langsung berubah terheran. Sontak jari lentiknya menyentuh bibir.
“Memang kenapa?”
Kenapa? Dia masih tanya kenapa? Semua laki-laki melayangkan lirikan menggoda padanya. Apa dia tidak menyadari?
“Kamu terlihat norak dengan riasan itu,” cibirku.
“Masak sih?” tanya Alexa tak percaya. “Tapi menurutku, aku sudah memakai riasan yang natural.”
“Cepat, hapus lipstikmu!”
Aku mengeluarkan selembar tisu, berharap Alexa akan mengambil tisu itu untuk mengelap lipstiknya.
Tapi Alexa malah tersenyum, dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Tolong hapuskan!”
__ADS_1