Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 76 Rencana Dimulai


__ADS_3

Aku sengaja membiarkan Kirana turun dari mobil dan berjalan mendekati gerbang rumah Kak Alan. Dari tempatku, aku melihat Kirana disambut oleh seorang penjaga yang seminggu ini telah bosan memarahiku dan Kirana.


Perlahan aku berjalan mengendap, menghampiri penjaga itu dari arah belakang.


“Om sudah bilang, kamu itu tidak dibolehkan bertemu Mama.”


Si penjaga rumah berkacak pinggang dan menunduk menatap Kirana yang jauh lebih pendek darinya.


“Oh, begitu ya. Tapi aku boleh titip salam buat Mama, tidak?” tanya Kirana menampilkan wajah polosnya.


Penjaga itu menghela napas jengah.


“Salam apalagi sih. Sana sudah pergi! Ngomong-ngomong, kamu sendirian ke sini? Mana Papa kamu yang galak itu!”


Kirana terkekeh, dia menunjuk ke arahku.


“Itu, ada di belakang Om.”


Si penjaga segera berbalik dengan wajah terkejut dan saat itu juga aku membekap hidung si penjaga menggunakan sapu tangan yang sudah aku beri obat bius.


Sejenak si penjaga meronta di antara leganku, tapi tak lama, tubuhnya seketika lemas. Layaknya bayi besar yang tertidur pulas di dekapan sang ibu.


Aku menggeret tubuh gendut itu ke dalam pos penjaga. Menggeletakkan di sana begitu saja. Lalu mengambil napas sebentar, sambil berkacak pinggang memandang pria itu.


“Kamu beruntung, hanya sekedar dibius, karena aku tidak mau baku hantam di depan Kirana.”


“Papa, ayo!” ajak Kirana yang setengah berlari ke dalam rumah.


Aku menyusulnya seraya mengamati sekeliling mencari sosok Alexa.


“Pa, Kira-kira Mama ada di mana?” tanya Kirana saat aku dan dia berhasil menyusup ke ruang tamu.


Aku menggeleng sebagai jawaban. Namun, saat itu juga aku mendengar suara Kak Lily dan Kak Alan yang sedang berdebat. Mereka ternyata ada di ruang makan. Keduanya dalam posisi duduk memunggungi arah pintu.


Satu orang pelayan berjalan mondar-mandir menyajikan beberapa hidangan ke meja. Mata pelayan itu menangkap keberadaan aku dan Kirana, akan tetapi Kirana dengan cepat menekan jari telunjuk ke bibir, memberi isyarat agar diam. Dan pelayan itu mengangguk penuh ketakutan.


“Coba kamu pikirkan lagi, Sayang. Apakah keputusanmu memisahkan Alexa dan Balin sudah tepat?”


Kak Alan mendesah frustrasi, “Aku tidak akan berubah pikiran. Balin tidak bisa menjaga Alexa dengan benar.”


“Tapi di sini Alexa juga menderita. Dia tidak mau makan dan mengurung diri di kamar,” kata Kak Lily yang disusul suara terisak.

__ADS_1


“Dia pasti akan makan jika lapar,” sahut Kak Alan sangat tenang.


Kemudian, Kak Alan menyuruh pelayan untuk mengantarkan sarapan ke kamar Alexa, dikarenakan adiknya itu menolak bergabung saat Kak Lily mengajaknya ke ruang makan.


Inilah saat yang tepat. Pelayan itu pamit kepada Kak Alan untuk mengantarkan sarapan Alexa, dan tanpa menimbulkan suara, aku dan Kirana membuntutinya.


Baru ketika sudah berada di jarak yang aman, aku berbicara pada pelayan yang membawa nampan.


“Biar aku saja yang mengantar sarapan itu.”


Pelayan wanita itu sedikit gamang dan ketakutan. Aku tahu dia pasti takut jika tuannya mengetahui dia diam saja saat aku masuk ke rumah.


“Tenanglah! Tunjukan di mana kamar Alex! Lalu pura-pura saja Anda tidak tahu kalau aku masuk ke rumah ini.”


Pelayan itu memberikan nampan padaku, dan menunjukkan letak kamar Alexa. Setelah itu berlalu pergi entah ke mana.


Aku mengetuk pintu kamar yang tadi ditunjuk oleh pelayan. Tidak ada sahutan. Jadi, aku mengetuk lagi.


“Sudah aku bilang, aku tidak mau diganggu,” suara Alexa yang marah dari dalam kamar.


“Ini aku, Balin, suamimu. Keluarlah! Ada Kirana juga di sini.”


Pintu terbuka seketika, dan tampaklah Alexa yang membelalakkan mata sekaligus bibirnya melengkungkan senyuman manis. Dia langsung maju memelukku cukup lama, lalu berganti memeluk Kirana.


“Papa buat Om penjaga bobo, Ma,” tutur Kirana mengedipkan satu mata ke arahku.


Alexa terheran, “Maksudnya?”


“Ayo kita pulang! Nanti saja aku ceritakan.”


“Tapi Kak Alan... “ Alexa terpaku sejenak tampak ragu saat aku menarik lengannya.


“Biarkan saja,” kataku tenang.


Kami bersama-sama menuruni tangga, melintas ruangan setenang mungkin. Bahkan saat berpapasan dengan Kak Alan dan Kak Lily yang baru keluar dari ruang makan. Berjalan lurus seolah tak ada halangan apa pun.


Ketika kami sampai di halaman depan, aku meminta Alexa dan Kirana masuk lebih dulu ke dalam mobil. Sedangkan aku memutar badan menghadapi Kak Alan yang berlari menyusul.


Dia langsung menyambar kerah bajuku, yang aku tepis dengan begitu mudah.


“Kamu tidak bisa membawa Alexa pergi dari rumah ini,” geram Kak Alan yang matanya telah melotot.

__ADS_1


“Kalau Kak Alan ingin mengambil Alexa, datanglah ke rumahku pukul empat sore nanti,” kataku dengan tenang membalas tatapan setajam silet Kak Alan.


“Ajak juga Mirza dan Nick!"


“Untuk apa mereka ikut?”


“Nanti Kakak akan tahu.”


Aku melangkah pergi meninggalkan Kak Alan yang berteriak memanggil penjaga, tentu saja tak ada seorang pun yang datang.


Aku menyeringai puas karena Kak Alan tidak tahu penjaganya sudah aku bius.


 


***


 


Satu per satu aku menyambut tamu undanganku yang datang secara bersamaan. Lalu aku memandu mereka untuk masuk ke dalam ruang baca.


Kak Alan, Nick, dan Mirza tampak kebingungan dengan apa yang akan aku lakukan. Begitu juga Alexa yang belum tahu apa yang tengah aku rencanakan.


Kami berdua tengah berada di depan pintu ruang baca. Aku menarik dagu Alexa, dan menciumnya begitu dalam. Ciuman yang sudah beberapa hari aku tak mendapatkannya.


Setelah melepas ciuman, aku mengulum senyum melihat wajah khawatir dari Alexa yang tak belum pudar.


“Aku ikut ke dalam,” kata Alexa.


“Tidak. Kamu tetap bersama Kirana,” ucapku tegas dan Alexa akhirnya mengangguk menuruti.


Alexa turun ke bawah, untuk menemani Kirana. Mataku melihat sosoknya yang menuruni tangga hingga menghilang saat di berbelok ke ruangan yang lain.


Lalu ponselku berdering yang langsung aku angkat tanpa melihat nama si penelepon.


“Semua sudah siap, Tuan,” lapor suara di seberang.


“Baiklah,” jawabku singkat.


Kemudian, segera menutup telepon. Melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang baca. Tidak lupa mengunci pintu ruang baca, dan kuncinya aku simpan di saku jas.


 

__ADS_1


 


__ADS_2