Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 17 Peringatan terakhir


__ADS_3

Satu jam berikutnya, aku sudah ada di lorong rumah sakit. Berjalan mondar-mandir di depan pintu instalasi gawat darurat sambil menggendong Kirana. Alexa ada di dalam sana sedang diobati lukanya.


Sementara Kirana sudah sejak tadi keluar dari ruangan dokter. Aku meminta dokter memeriksa Kirana secara menyeluruh, takutnya ada luka yang dalam atau apapun itu.


Syukurlah, dokter menyatakan Kirana baik-baik saja, hanya mengalami syok karena terkejut dengan kejadian tadi.


Kirana kini menempel di dadaku, masih merengek lirih minta dimanja. Aku mencium ujung kepala Kirana.


Dan datanglah Rama yang lari tergopoh-gopoh menghampiriku. Napasnya tersengal dan dia memegang kedua lututnya saat sudah berada di depanku.


Setelah dapat mengatur napas, Rama menanyakan kecelakaan yang menimpa kami.


Aku sempat menelepon Rama saat menuju rumah sakit dan menyuruh dia datang secepatnya.


“Kak Balin, apakah Kirana tidak apa-apa? Terus Kak Alexa mana?” suara Rama terdengar gemetar.


“Kirana baik-baik saja, tapi Alexa masih di dalam,” aku menunjuk ruang IGD menggunakan ujung daguku.


“Syukurlah, kalau begitu. Aku khawatir Kak Balin, Kirana dan Kak Alexa mengalami kecelakaan yang sama persis dengan yang dialami Indra Irawan. Tapi untungnya semua baik-baik saja.”


Rama mengusap dada sambil membuang napas. “Hanya Kak Alexa yang terluka? Apa lukanya parah?”


Dari ucapan Rama tadi, aku seolah tersadar. Mungkinkah Harsa yang melakukan hal ini? Apakah dia sudah tahu tentang keberadaan anaknya?


Otakku mencoba memutar ingatan saat kejadian tabrakan itu berlangsung. Aku ingat truk itu tidak memiliki plat kendaraan dan wajah pengemudinya juga tidak jelas.


Jika benar pengemudi truk itu adalah Harsa, bagaimana dia tahu keberadaanku dan Kirana? Apakah dia memiliki seorang mata-mata?


Jika iya, aku harus lebih waspada dengan semua orang di sekitarku.


Reflek aku menendang dinding dan dilihat oleh Rama yang kebingungan dengan sikapku. Kirana menangis seolah tahu apa yang sedang aku rasakan. Kutepuk lembut punggung Kirana agar dia tenang.


“Tidak, Kirana. Papa tidak marah pada Kirana. Ssshhtt.”


Rama mendengus sekaligus menyeringai, “Kakak ini ada-ada saja sih. Pakai tendang tembok segala. Kalau mau jadi pemain sepak bola... “


“Diam!” teriakku memotong perkataan Rama.


Kemudian ruang IGD terbuka, dan Alexa muncul dari balik pintu. Siku Alexa sudah dibalut dengan kain kasa. Aku dapat melihat sebagian lengan baju Alexa yang terkena noda darah.


“Kak Alexa, bagaimana lukanya? Apakah parah?”

__ADS_1


“Yah, lumayan. Enam jahitan,” tutur Alexa seraya menunjukkan sikunya, meskipun begitu dia tetap tertawa kecil.


Aku mencerna raut wajahnya Alexa dan mengingat tiga bulan ini, Alexa selalu ingin mendekati Kirana, walaupun aku selalu memberikan respons dingin padanya.


Apakah dia kaki tangan Harsa yang memantau gerak-gerikku?


“Memang bagaimana kronologi kejadiannya sampai bisa terjadi tabrakan?”


Rama bertanya menatap aku dan Alexa bergantian, “aku lihat mobil Kak Balin di tempat parkir tadi. Pintu samping sampai penyok begitu.”


“Tadi waktu kami melewati pertigaan yang sepi ada truk dari arah lain dan menabrak pintu samping mobil. Lalu truk itu kabur,” papar Alexa.


“Astaga, Kak Balin, yang benar dong kalau menyetir mobil tuh. Jadinya Kak Alexa luka, kan? Untung hanya luka. Kalau Kak Alexa sampai meregang nyawa, Kak Balin yang harus tanggung jawab.”


Aku menoyor kepala Rama yang isi otaknya sama saja dengan Alexa. Sok tahu.


“Truk itu yang sengaja menabrak mobilku. Lagian, siapa yang suruh dia ikut belanja?”


Rama mengalihkan pandangan dariku, memilih untuk mengobrol dengan Alexa dan menanyakan posisi Kirana saat tabrakan terjadi.


Alexa pun menjawab saat itu Kirana ada di pangkuannya. Lalu Rama menepuk lembut bahu Alexa. Tersenyum menampilkan deretan giginya. Mereka seperti tidak menganggap keberadaanku.


Seakan aku ini makhluk kasat mata.


Alexa hanya mengangguk dan tersenyum.


“Kak Balin juga harus berterima kasih pada Kak Alexa. Jangan bilang Kakak belum mengatakannya?”


“Sebenarnya, Kirana akan lebih selamat jika dia duduk di car seat.” Ucapku sinis.


Melirik Alexa yang tertunduk tapi tidak menampakkan raut sedih ataupun tersinggung.


Aku mencoba menelan kenyataan bahwa andai saja Kirana duduk di kursi bayi, belum tentu Kirana terlindung dari serpihan kaca. Aku melihat dengan jelas, Alexa menunduk untuk melindungi Kirana.


Akan tetapi aku tidak mau mengatakan rasa berterima kasihku karena nantinya Alexa pasti akan merasa besar hati.


Rama menyadari suasana akan menjadi lebih tegang.


Lalu dia mengalihkan perhatianku dengan bertanya, “Sekarang bagaimana, Kak? Kita pulang sekarang?”


“Tunggu! Ini sebabnya aku meneleponmu. Aku akan mengurus administrasi rumah sakit. Sementara itu kamu, Rama, pesan taksi, pindahkan barang-barang belanjaanku, lalu kamu bawa mobilku ke bengkel.”

__ADS_1


Aku melempar kunci mobil yang ditangkap kelabakan oleh Rama. Lalu melangkah pergi.


Setelah semua proses administrasi dan pembayaran beres, aku mendapati taksi yang dipesan Rama sudah ada di depan rumah sakit. Begitu pula dengan barang belanjaanku yang sudah masuk di bagasi taksi.


Aku tidak melihat sosok Rama di area depan rumah sakit. Mungkin dia sudah lebih dulu membawa mobilku ke bengkel.


Ketika aku masuk ke dalam taksi dan duduk di kursi belakang, ada Alexa juga yang sudah duduk manis di kursi depan.


“Kenapa kamu ikut? Turun sana!”


“Balin, kamu mengusir sopir taksi?” gurau Alexa.


“Aku mengusirmu, Alexa Salma. Pesan taksimu sendiri!”


“Kenapa? Kita satu tujuan, bukan?”


Alexa memalingkan wajah menghadap si sopir taksi dan berkata, “Pak, saya akan bayar dua kali lipat jika bapak menjalankan mobil sekarang juga.”


“Pak, saya akan bayar tiga kali lipat jika bapak bisa membuat gadis ini turun dari taksi,” kataku tak mau kalah. “Kalau tidak, saya yang akan turun.”


Sopir taksi melirikku melalui kaca spion dan aku pun melihat dari pantulan kaca, si sopir taksi tampak berang dan kumis tebalnya bergerak-gerak.


“Maaf, Pak, Bu. Kalau mau bertengkar mending dua-duanya turun saja dari taksi saya,” gertak sang sopir taksi yang heran dengan tingkah kekanakan kami berdua.


Namun, tidak menunggu kami turun, sopir taksi itu malah langsung tancap gas.


 ***


Sopir taksi meninggalkan kami setelah membantu menurunkan barang belanjaanku. Aku hendak masuk ke rumah tapi terhenti. Membalikkan badan untuk memanggil Alexa yang juga akan masuk ke rumah.


Alexa mendekati pagar yang menjadi pemisah rumahku dan dia.


“Aku katakan sekali lagi. Ini peringatan terakhir dariku. Jangan pernah dekati Kirana lagi!”


“Memangnya salah aku apa?” tanya Alexa dengan santainya.


“Aku benci denganmu, tetangga sok tahu, sok pintar, dan sok ikut campur urusan orang lain. ”


Aku melihat ekspresi wajah Alexa yang mendadak berubah. Tapi aku tidak peduli, aku beranjak meninggalkan Alexa yang sendirian termenung.


 

__ADS_1


 


__ADS_2