
Orang yang tersisa di dalam ruang baca serentak berlari ke balkon,melihat di bawah sana Harsa tercebur ke kolam dan berenang menuju tepi. Dia menyempatkan diri mendongak ke atas untuk memamerkan senyum seringai penuh kemenangan.
Deg.
Aku tahu apa yang sedang incar Harsa. Kirana. Harsa pasti mengincar Kirana.
Aku segera membuka pintu, berlari ke menuruni anak tangga yang di susul Kak Alan dan Mirza. Selama menuruni tangga, aku tak habis-habisnya mengutuki diriku sendiri.
Aku bodoh, tidak mengira Harsa akan kabur dengan cara menjatuhkan diri ke kolam renang, dan bodohnya lagi aku seharusnya mengamankan Kirana dan juga Alexa.
Saat langkahku berada di anak tanga terakhir, aku mendengar jeritan Alexa di ruang makan. Lalu segera aku menuju ke sana.
Di ruang makan, Alexa telah dalam posisi jatuh terduduk. Seorang pelayan wanita membantunya berdiri. Begitu pula aku yang langsung menghampiri dan memeluknya.
"Kamu tidak apa-apa, Alexa?"
Alexa menggeleng. Kemudian, pandangan kami semua mengarah pada Harsa yang basah kuyup berdiri di salah satu sudut ruangan sambil menggendong Kirana dan menekan sebilah pisau ke leher anak kecil yang ketakutan itu.
"Jangan bertindak ceroboh, Harsa! Rumah ini sudah dikepung polisi," bentakku memperingatkan Harsa yang tidak takut sama sekali.
"Kau yang jangan bertindak ceroboh, Balin! Atau kau akan melihat Kirana mati di tanganku."
Setelah itu, Harsa lari ke halaman depan dengan Kirana yang terus digendong dan mengacungkan pisau ke segala arah begitu polisi mengepungnya. Harsa yang menampilkan wajah marah, melotot padaku, sekali lagi dia menaruh pisau itu ke leher kirana.
"Balin, perintahkan mereka untuk menjatuhkan senjata!" teriak Harsa.
Sesaat aku bimbang. aku tidak mau Harsa meloloskan diri untuk kedua kalinya. Namun, di sisi lain, ada Kirana yang nyawanya terancam.
Kak Alan dan Alexa maju satu langkah mendekati Harsa yang juga mundur satu langkah saat itu juga. Kak Alam mengepal tangannya kuat-kuat dan dada yang naik turun menahan marah. Aku tahu dia ingin menghajar Harsa tapi aku merentangkan tanganku untuk menahan langkahnya.
"Lepaskan Kirana, Harsa! Jangan jadi pengecut kamu," raung kak Alan.
"Papa tolong aku..." rengek Kirana yang menangis ketakutan.
Namun tangisan kirana mengundang tawa bagi Harsa. Dia semakin kuat menekan pisau ke leher Kirana yang membuat kami semua membeku di tempat.
"CEPAT, BALIN!"
"Papa, aku takut..."
"Suruh mereka meletakkan senjata atau kepala Kirana aku penggal!"
Aku gamang, akan tetapi pada akhirnya memerintahkan para polisi untuk menjatuhkan senjata api mereka. Sesaat semua orang ragu akan perintah dariku, dan aku mengulang lagi.
"Perintahkan juga mereka untuk menjauh dariku dan tidak ada yang boleh bergerak!"
"Kalian dengar! Menjauh darinya dan tidak boleh ada yang bergerak!"
Sejenak tidak ada satu pun yang mengikuti perintahku. Lalu aku mengedarkan pandangan pada semua polisi dengan penuh kecemasan saat tangisan Kirana semakin keras.
__ADS_1
Aku menggenggam erat tangan Alexa yang hendak lari ke arah Kirana.
"Ayo cepat lakukan! Apa kalian tidak dengar? Menjauh dari Harsa!" titahku dengan berteriak keras. Sementara tanganku yang bergemetar mengepal kuat.
Senyum Harsa mengembang begitu polisi melangkah mundur dan menurunkan senjata mereka. Dia segera masuk ke mobilnya yang tadi terparkir di halaman depan, membanting Kirana ke kursi samping pengemudi, lalu melajukan mobil.
Satu orang polisi nekat menghalang jalannya mobil, namun bagi Harsa sendiri menabrak satu orang sudah dianggapnya hal biasa. Dia sama sekali tidak mengurangi kecepatan mobil, malah menambah. Sehingga polisi itu dengan segera menghindar tepat satu detik sebelum tertabrak.
Aku dan Alexa lebih dulu masuk ke mobil kami dari semua orang yang ada. Mengejar mobil hitam milik Harsa yang kini sudah berbelok di tikungan. Aku menginjak gas, mempercepat kendaraan hingga batas maksimal.
Hingga akhirnya kami menemukan mobil Harsa di antara padatnya kendaraan yang lain. Aku menyalip kendaraan yang ada di depanku, beberapa kali membunyikan klakson agar tak ada yang menghalangi jalanku.
"Lebih cepat lagi, Balin!" perintah Alexa dengan mata tertuju lurus ke depan, sama sekali tidak ada ketakutan saat mobil melaju kencang.
Aku hendak menyalip mobil Harsa yang sekarang tepat ada di depanku. Namun, mobil itu juga menambah kecepatannya.
Kemudian, aku sengaja menabrak bagian belakang mobil Harsa sebagai peringatan agar dia berhenti.
"Balin, jangan! Ada Kirana di dalam sana," ucap Alexa melarangku menabrak mobil Harsa.
Aku hanya bisa berdecih, menatap geram Harsa.
"Kali ini kamu tidak akan bisa lolos, Harsa!"
Aksi kebut-kebutan itu berlanjut sampai mobil kami berada di jembatan yang melintasi sebuah danau besar. Tak banyak kendaraan yang lewat. Bahkan mungkin hanya mobil kami berdua yang ada di atas jembatan. Lalu tiba-tiba...
BRAK!!!
Seketika aku mendadak menginjak rem, yang membuat kami berdua sedikit terpenting ke depan. Mataku membelalak menyaksikan mobil yang ditumpangi harsa dan Kirana perlhan tenggelam ke dalam danau.
"KIRANA..." pekik Alexa saat turun dari mobil.
Sementara aku juga turun dari mobil tanpa bisa berkata apa pun. Jantungku berdegup kencang mengingat Kirana masih berada di dalam mobil.
***
Beberapa saat sebelumnya,
Harsa mengendarai mobilnya dengan sangat brutal, di sampingnya duduklah Kirana yang sudah berhenti menangis.
Gadis kecil itu berhenti menangis bukan disebabkan ketakutannya berkurang, melainkan bertambah. Karena saat ini dia sedang berada satu mobil dengan pria asing menakutkan dan melajukan mobil yang juga tak kalah menakutkan.
Kirana memasang sabuk pengamannya sendiri, lalu melirik pria di samingnya.
"Om harus pakai sabuk pengaman. Kata Papa aku kita harus selalu pakai sabuk pengaman jika sedang ada di mobil."
Harsa tidak menggubris, dia tengah fokus mengintip mobil di belakangnya melalui kaca spion.
"Om ini siapa? Aku takut. Aku mau turun di sini saja," ucap kirana memelas agar dia diperbolehkan turun.
__ADS_1
Kirana mengikuti apa yang dilakukan Harsa. Melihat dari kaca spion yang memantulkan bayangan mobil ayahnya. wajah kirana sedikit tenang, saat dia tahu ayahnya sedang berusaha menyusulnya.
"Om, aku mau turun sini. Itu Papa aku."
"DIAM KAU, ANAK KECIL!" bentak Harsa yang membuat Kirana terlonjak kaget.
Muka Kirana pias seketika, begitu Harsa membentak tepat di hadapannya dengan menampilkan wajah yang menyeramkan.
"Dia itu bukan papa kamu, Kirana. Akulah Papa kamu yang sebenarnya," kata Harsa yang diakhiri dengan tawa jahat.
"NO!" pekik Kirana menahan tangis.
"Papa aku, papa Balin."
Harsa membelokkan setir mobil, karena dia nyaris saja menabrak truk yang ada di depannya. Hal itu membuat Kirana kembali menangis. Dia memohon agar Harsa menurunkan dari mobilnya.
Akan tetapi gelak tawa Harsa semakin pecah, melihat anak kandungnya sendiri ketakutan. Mengingatkan dia akan istri yang telah melahirkan anak tak diinginkan itu.
BRAK.
Satu benturan di belakang mobil, menyela tawa gembira Harsa. Dia diam seketika, dan langsung melirik ke belakang. Mengumpat keras pada pengemudi yang sejak tadi mengikutinya itu.
Lalu terbesit sebuah ide gila di benaknya.
"Kenapa Om jahat sama aku? Apa salah aku, Om?" ucap Kirana sesenggukan.
"Sudah aku bilang aku ini Papa kamu, Kirana. Seharusnya aku yang kamu panggil dengan sebutan Papa," kata Harsa dengan nada geram.
Kirana menggeleng kuat.
"Aku bukan anak Om. Aku anaknya Papa Balin."
"Balin itu bukan Papa kamu," tegas Harsa tak mau kalah. Dia tersenyum menyeringai yang sangat menakutkan.
"Aku papa kamu, kirana. Papa yang sudah membunuh Kakek Indra, Kakek yang memberikan kamu banyak uang. Dan kamu mau tahu bagaimana Papa membunuh Kakek Indra? Seperti ini, Kirana."
Harsa sengaja menabrakkan mobilnya ke dinding pembatas dan terjun ke air danau. Airbag mobil mengembang seketika itu.
Di tempat duduknya, Kirana menjerit ketakutan, berpadu dengan suara gelak tawa dari Harsa, saat mobil mengambang di permukaan danau untuk beberapa detik.Dengan sengaja, Harsa membuka kaca jendela mobil agar air cepat masuk ke dalam mobil. Dia pula mengambl tali yang kebetulan ada di jok belakang.
Tali itu dia gunakan supaya tubuh Kirana terikat dengan tempat duduknya dan tidak dapat meloloskan diri. Sementara tangannya sibuk mengikat, mata Harsa justru tertuju pada Balin dan Alexa yang trun dari mobil.
"Lihat, Balin! Aku membunuh Kirana tepat di hadapanmu," gumam Harsa yang kemudian tergelak.
"Kenapa Om ikat aku?"
"Karena kirana akan mati tenggelam bersama Papa di sini."
Kirana menjerit dan menggeleng begitu air mulai menenggelamkan mobil yang mereka tumpangi. Detik itu juga, Kirana teringat ucapan ayahnya ketika belajar berenang.
__ADS_1
Suara itu seakan menggema jelas di telinganya.
"Kirana, hirup udara sebanyak-banyaknya! Lalu begitu masuk air, buang napas melalui mulut secara perlahan."