Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 56 Sadarkan Diri


__ADS_3

Perlahan mataku terbuka, namun, penglihatanku buram saat melihat tempatku berada sekarang. Maka aku pun memejamkan mataku sebentar dan membukanya lagi. Lalu kuedarkan pandangan ke sekeliling.


Berada di sebuah ruangan serba putih, aku sudah bisa menerka sekarang ini aku ada di rumah sakit kamar VVIP.


Aku mengusap perban yang melingkar di kepalaku, dan saat itu juga aku menyadari tanganku diinfus.


Kemudian pandanganku tertuju pada seseorang yang tertidur di kursi dengan kepalanya bersandar di tepian tempat tidur.


“Alexa,” panggilku dengan suara yang lirih.


Gadis itu tak membuka matanya masih pulas tertidur. Tanganku mengusap lembut ujung kepalanya.


“Kamu pasti kelelahan,” gumamku.


Tak lama pintu ruangan terbuka, dan aku melihat ayahku masuk dengan membawa satu cup kopi dan sebuah koran terimpit di ketiaknya.


Ayahku tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut saat mendapati anak sulungnya telah siuman.


“Kamu sudah bangun, Nak?” tanyanya yang kemudian menyeruput kopi dan meletakkannya di atas meja.


Memang begitulah ayahku. Santai di segala situasi. Namun begitu aku tahu betul betapa ayahku menyayangi aku dan Rama. Hanya saja cara pengungkapannya berbeda dari orang lain.


“Bapak, tolong bangunkan Alexa. Suruh dia tidur di sofa sana,” kataku menunjuk sofa panjang yang ada di sudut ruangan.


“Bapak sudah beberapa kali menyuruhnya tapi tidak pernah dituruti. Dia tidak pernah beranjak dari kursi itu.”


“Sudah berapa lama aku di rumah sakit, Pak?”


Ayahku mengernyitkan dahi, “Dua hari, mungkin.”


“Benarkah? Lalu Kirana di mana sekarang?” tanyaku terperangah.


“Kirana baik-baik saja. Dia ada bersama Ibu di rumah.”


Ayahku tersentak seakan teringat sesuatu yang kelupaan, “Ah, Bapak lupa tadi tidak sekalian beli camilan. Memang faktor usia.”


Aku hanya tersenyum melihat punggung ayahku yang melangkah melintasi ruangan dan menghilang di balik pintu.


Kemudian, perhatianku kembali terpusat pada Alexa. Gadis itu menggumam tidak jelas dan perlahan kelopak matanya membuka. Memperlihatkan sepasang manik hitam mengkilap yang indah.


Bibirku melengkungkan senyuman ketika Alexa menegakkan duduknya. Dia mengucek matanya beberapa kali, seakan tidak yakin dengan apa sedang dilihatnya.


“Balin, akhirnya kamu bangun juga.”


“Ada iler di pipimu,” kataku menunjuk pipi Alexa yang langsung menyeka cepat pipi hingga ke bawah dagu.


“Mana?”


“Tapi bohong.”


Alexa membelalakkan mata marah, mencubit lenganku dan aku berakting kesakitan. Wajahnya tampak panik luar biasa tapi sekejap sirna karena melihat aku tergelak.


“Kamu itu baru juga siuman, langsung buat ulah. Pingsan lagi sana!”


Alexa memajukan bibirnya dan melipat kedua tangannya.


“Aku minta maaf, Sayangku,” ucapku sambil mencubit hidungnya.

__ADS_1


“Kamu tidak ada yang luka?”


Aku mengulum senyum dan bernapas lega ketika Alexa menggelengkan kepala. Lalu tanganku mengusap ujung kepalanya, teringat bagaimana Harsa menjambak dan menarik rambut indah Alexa.


“Aku telepon Ibu ya? Kamu pasti ingin sekali melihat Kirana, kan?”


Alexa meraih ponsel dan jemarinya yang lentik menekan-nekan layar benda tipis itu. Kami berdua menunggu beberapa saat menunggu Ibu mengangkat panggilan di seberang sana.


Tak butuh waktu lama, layar ponsel Alexa memunculkan wajah Ibu yang terlihat begitu lega mendapat kabar aku telah sadarkan diri. Netra Ibu mengerjap beberapa kali. Tanda Ibu sedang menahan tangis.


Lalu layar ponsel beralih ke arah Kirana yang sedang bermain puzzle ditemani oleh Rama. Kirana berlari mendekati, dan kini wajah bulatnya memenuhi layar ponsel.


“Kangen Papa.”


Aku mengulum senyum, “Papa juga kangen Kirana.”


Terdengar bisik-bisik Rama yang mengajari Kirana berbicara.


“Papa... cepat sembuh.”


“Iya, Kirana Sayang. Papa akan usahakan cepat sembuh supaya bisa ketemu sama Kirana lagi.”


“Bilang ke Papa, I love you,” samar-samar Rama menuntun Kirana berbicara.


“Papa... I love you.”


“I love you too, Kirana.”


“Kirana, bicara ke Papa, bilang I love you juga ke Aunty Alexa,” bisik Rama.


“Rama, jangan mengajari Kirana yang tidak-tidak!” bentakku yang kemudian melirik canggung pada Alexa.


“Nanti Papa telepon lagi. Papa harus diperiksa dulu sama Om Dokter.”


“Dadah Papa,” Kirana melambaikan tangan dengan sangat ceria.


“Bye bye, Kirana. Jangan rewel ya? Papa pasti akan cepat pulang kok.”


Siang menjelang sore hari, aku merasa bosan berada di rumah sakit. Ayahku yang menunggu saja jengah, apalagi aku yang menjadi pasien. Saat ini ayahku ada di keluar untuk mencari udara segar.


Sedangkan aku tetap terbaring di tempat tidur, dengan benakku yang terus memikirkan Kirana di rumah.


Meski ayahku dan Alexa berkata Kirana baik-baik saja, tapi aku ingin memastikan sendiri. Penculikan yang dilakukan Harsa pasti meninggalkan trauma pada Kirana.


Alexa terus mengeluh karena aku tidak memakan makan siangku. Dia sudah seperti Ibu ketika aku mogok makan sewaktu kecil dulu.


“Aku mau menelepon Kirana lagi,” kataku meraih ponsel di atas nakas.


Namun, ketika jariku siap menekan panggilan, saat itu juga gawaiku mati. Aku mendesah frustrasi, dan melempar kembali benda canggih itu ke atas nakas.


“Biar aku charge. Sementara itu, kamu makan dulu.”


“Apa sebaiknya Kirana suruh datang ke sini?”


“Lebih baik jangan membawa anak kecil yang sehat ke rumah sakit. Karena daya tahan tubuh mereka tidak sama seperti orang dewasa.”


Alexa menatap lekat padaku, satu tangannya menempel di pipiku. Lalu bibir ranumnya melengkungkan senyuman.

__ADS_1


“Kamu harus cepat sembuh supaya bisa bertemu lagi dengan Kirana.”


“Cium aku agar cepat sembuh!” kataku menggoda Alexa.


Alexa tampak menelan salivanya dengan berat, sorot matanya ragu-ragu, namun perlahan dia mendekat mengikis jarak di antara kami.


Sementara aku menutup mata, menanti kecupan dari Alexa dan...


Tok... Tok... Tok...


Ketukan pintu membuat kami terkesiap, Alexa segera menjauh dariku, dia berjalan untuk membukakan pintu, meninggalkan aku yang menggerutu akibat gagal mendapatkan kecupan.


Sebenarnya siapa sih yang datang mengganggu?


“Cindy, Frans,” kata Alexa menyapa dua orang yang berdiri di ambang pintu. “Silakan masuk.”


Selama dua orang itu melangkah mendekatiku, aku melihat tangan Cindy yang menggelayut di lengan Frans.


“Bagaimana kondisimu, Balin?” tanya Frans.


Aku mengangguk, “Ya, lumayan membaik.”


“Apakah kamu sudah tahu kalau Harsa... “


Perkataan Cindy dipotong oleh Alexa segera menepuk bahunya. Cindy menatap Alexa yang menggeleng pelan.


“Harsa kenapa?” tanyaku mengernyitkan dahi, bingung dengan maksud Cindy. Lalu aku menatap Frans dan Alexa bergantian meminta penjelasan dari mereka.


“Kenapa kalian diam saja? Katakan Harsa kenapa? Dia sudah dipenjara, kan?” aku berseru.


Tiga orang di depanku terdiam, mereka malah saling pandang ketakutan. Lalu Frans menarik napas dalam dan membuka mulut untuk berbicara.


“Balin, pada malam itu polisi hanya menangkap lima orang anak buah Harsa dan satu sekretarisnya yang bernama Leo.”


“Tidak! Tidak mungkin,” bantahku. “Kenapa polisi tidak bisa menangkap Harsa? Aku melihat sendiri dia terjebak di dalam kobaran api.”


“Ada kemungkinan Harsa kabur lewat pintu belakang rumah, Balin, dan dia melarikan diri ke arah hutan,” tutur Cindy.


“Apa? Sial. Kalau begitu, seharusnya aku membunuhnya saat malam itu juga,” geramku meremas selimut.


Alexa mendekat dia menggenggam kedua tanganku yang masih meremas kuat selimut.


“Balin, tenang dulu,” kata Alexa.


“Alexa, kenapa kamu tidak memberitahuku sejak tadi kalau Harsa berhasil meloloskan diri?”


“Aku sengaja menunda menceritakan semua ini ke kamu, Balin. Aku mau kamu fokus dengan kesehatanmu dulu.”


“Tapi Harsa lolos. Sekarang dia masih berkeliaran bebas di luar sana,” aku berkata dengan penuh amarah.


“Iya, aku tahu tapi apakah kamu akan menangkap Harsa dengan kondisi seperti ini?” seru Alexa yang tidak mau kalah.


Frans menengahi kami, meletakan tangannya ke bahuku, dan menepuk untuk menenangkan aku.


“Apa yang dikatakan Alexa benar, Balin. Setidaknya sekarang ini Harsa telah menjadi buronan polisi.”


Kepalaku tertunduk, deru napasku semakin cepat, dan terdengar suara gemeletuk gigi.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Kirana lagi.”


 


__ADS_2