
Sesaat aku merasakan desiran aneh yang mengalir di sekujur tubuhku. Alexa mendongak. Dari jarak sedekat ini, aku bisa merasakan napas Alexa yang lembut nan hangat menerpa wajahku.
Sekali lagi, aroma stroberi bercampur harum bunga tercium oleh hidungku.
Tampak raut muka Alexa terkejut dan pipinya bersemu semerah buah tomat. Beberapa menit berlalu dan kami masih dalam posisi yang sama, tak berubah.
Kemudian, suara dering telepon menyadarkan kami.
Alexa buru-buru berdiri kelabakan dan bola matanya bergerak-gerak tampak salah tingkah. Sedangkan aku mengambil ponselku.
Aku berdeham sebelum mengangkat telepon, supaya tak terdengar jelas bahwa aku pun sedang gugup.
“Halo, Frans.”
“Halo, Balin. Aku meneleponmu karena aku ingin diskusi tentang launcing menu baru di restoran kita.”
“Frans, tunggu sebentar.”
Aku sengaja menjauhkan ponsel agar Frans yang ada di seberang telepon tidak mendengarku berbicara dengan Alexa.
“Kenapa kamu masih berdiri di situ? Katanya mau mencuci baju.”
Alexa yang sudah mengumpulkan beberapa potong baju kotor, justru mendekatiku.
Lalu berteriak, “Balin sedang sakit. Jangan lama-lama kalau mengobrol. Dia butuh istirahat.”
Aku membelalakkan mata, hendak menutup mulutnya, namun Alexa dengan gesit berlari ke luar kamar. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tersenyum.
“Halo, Balin. Suara siapa tadi?” terdengar Frans bertanya setelah aku kembali menempelkan ponsel ke telinga.
“Oh itu... Itu suara Ibuku,” ucapku berbohong.
“Ibu? Tapi suaranya tadi seperti bukan ibu-ibu. Apa dia pacarmu?”
“Ah, sudahlah. Tidak perlu dibahas.”
Setelah tiga puluh menit berlalu, aku menutup telepon dari Frans. Melayangkan pandangan ke arah boks bayi, di sana Kirana tidur tapi sering kali dia bergerak berpindah posisi tidur.
Mataku berat, dan benar apa yang dikatakan Alexa. Aku butuh istirahat. Dan tak tahu bagaimana mulanya, aku langsung terbuai oleh mimpi.
Ketika aku bangun, suasana di kamarku sepi dan redup. Aku menggeliat di bawah selimut, kemudian tanganku menyembul, meraba-raba sekeliling untuk mencari ponsel yang aku temukan di samping bantal.
Pukul 17.38
Angka yang tertera di jam ponselku membuatku sontak berdiri, berlari menuju boks tidur Kirana.
Bayi kecil namun gendut itu tak ada di dalam boks bayinya.
Deg.
Jantungku berpacu dengan sangat cepat. Aku berputar-putar mencari sosok Kirana di kamarku. Tapi yang kudapati ialah tatanan kamar yang rapi.
__ADS_1
Tidak ada baju kotor tergantung di sembarang tempat. Tidak ada mainan Kirana yang berserakan. Dan pastinya, tidak ada sebutir debu yang menempel di setiap sudut kamar.
Aku menerjang pintu kamar. Tidak ada siapa pun di ruang tamu. Tapi aku mendengar bunyi kelontangan dari dapur. Jadi, aku langkahkan kaki menuju sumber bunyi.
Ternyata itu suara Alexa yang sedang memasak dan Kirana terbalut rapat oleh kain gendongan di badan Alexa. Satu tangan Alexa sibuk mengaduk masakan di dalam panci.
Aku segera menarik lengan Alexa menjauh dari kompor. Tampak Alexa tertegun dengan tindakanku.
“Hei, sedang apa kamu?”
“Masak,” jawab Alexa dengan wajah polosnya.
“Masak sambil menggendong Kirana? Kalau Kirana kecipratan minyak bagaimana? Kalau kaki Kirana tidak sengaja menyenggol panci panas bagaimana?”
Alexa menatapku dengan serius, kepalanya agak dimiringkan seolah sedang meneliti raut wajahku. Aku pun jadi tampak malu. Apakah ada belek di mataku?
Lalu tangan Alexa terulur, punggung tangannya terasa dingin saat menyentuh pipi kiriku.
Aku tersentak. Ada sesuatu yang menari-nari di dalam dadaku.
“Badanmu sudah tidak panas lagi?”
Ah ya, aku baru menyadari. Tubuhku sudah agak lebih ringan ketimbang tadi pagi. Tapi masalahnya sekarang aku diselimuti perasaan yang aneh dan tak mau hilang.
Begitu pula dengan tangan Alexa yang tak mau menyingkir dari pipiku. Dan akhirnya aku menampik tangan yang halus itu seperti sedang mengusir lebah.
“Jangan menyentuhku! Aku alergi dengan wanita. Apalagi yang seperti dirimu.”
Ujung bibir Alexa tertarik ke atas, ingin tertawa tapi menahannya. Lalu dia menggelengkan kepala.
“Tidak,” jawab Alexa cepat. “Aku sudah masak sayur sop ayam jahe. Kamu makan ya?”
Alexa mematikan kompor, menyajikan sayur sop ke sebuah mangkok, dan memberikannya padaku.
“Ini ambil!”
Aku diam saja. Tak langsung mengambil mangkok di tangan Alexa. Sehingga Alexa semakin mendekatkan mangkok itu padaku.
Kepulan asap menguap dari sayur sop yang berkuah kental dan kekuningan. Potongan daging ayam dan beberapa sayuran berenang di dalam kuah sop.
Sungguh menggugah selera. Tampaknya.
“Ayo, cepat ambil,” kata Alexa semakin tidak sabar. “Tanganku kepanasan nih.”
“Kamu tidak memberikan racun ke sayur sop ini kan?”
Alexa menghela napas, lalu berseru, “Iya aku kasih racun.”
Aku menyipitkan mata, sekaligus memberengut. Kubuka mulut hendak berbicara tapi Alexa mendahului.
“Aku kasih racun cinta. Puas!”
__ADS_1
Alexa menyodorkan mangkok semakin dekat lagi. Bahkan kini mangkok itu sudah ada tepat di bawah hidungku.
Uap hangat menerpa wajahku dan aroma sayur sop yang lezat bisa aku rasakan. Cipratan kuah sop tumpah ke bajuku karena tangan Alexa bergetar. Sepertinya dia tidak dapat menahan lebih lama lagi untuk memegang mangkok panas itu.
“Cepat ambil!”
Dan akhirnya aku mengambil mangkok itu. Alexa meniup telapak tangan dan mengibaskannya.
“Nah begitu dong dari tadi.”
Kami duduk untuk makan siang yang sebenarnya sudah terlewat siang. Sore malah. Jadi kami makan sore dengan posisi duduk seperti tadi kami sarapan bubur.
Aku melahap satu sendok. Daging ayamnya empuk saat dikunyah, dan kuah sop yang terasa hangat, kental dan gurih.
“Sayur sop nya enak kan?”
Aku berdeham dan bersikap datar.
“Biasa saja.”
“Badan Kirana masih panas. Semoga nanti malam sudah agak membaik,” tutur Alexa sambil menyendok nasi.
Kemudian, Kirana merengek di pangkuan Alexa yang sedang makan. Tangan Kirana terangkat menyentuh pipi Alexa. Bayi itu meminta perhatian kepada perempuan yang sedang memangkunya.
Alexa yang membuka mulut siap melahap makanannya pun akhirnya menunduk. Menatap bayi itu penuh kelembutan.
Lalu tangan Kirana mengacung ke arah panci yang dipakai Alexa memasak sayur sop. Mengoceh dengan suaranya yang lemas.
“Oh, Kirana juga mau makan? Kirana duduk dulu sini, Tante Alexa akan ambil makanannya Kirana.”
Alexa menaruh Kirana di kursi tinggi, beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil sesuatu di dapur dan meletakannya di hadapan Kirana.
“Apa itu?” aku bertanya sambil mengerutkan dahi dan mencondongkan badan untuk melihat makanan Kirana lebih jelas.
Makanan itu bukan bubur bayi yang biasa dimakan Kirana. Lebih seperti makanan yang diblender halus.
“Kirana sudah waktunya makan dengan tekstur yang lebih kasar. Jadi aku buat ini.”
Alexa memperlihatkan isi mangkoknya Kirana.
“Ini tuh aku buatnya dari kentang, telur puyuh, wortel, daging... “
“Iya, iya, tidak perlu diteruskan,” kataku memotong ucapan Alexa.
Kalau diteruskan pasti keluar lagi mode sok pintarnya.
__ADS_1