
Aku menoleh ketika Galang memanggilku.
Saat itu sudah menjelang malam hari, kami baru pulang dari pantai dan mampir ke restoran untuk memesan makan malam.
Gara-gara Rama yang kekeh ingin melihat sunset, kami jadi pulang terlalu malam.
Galang menghampiriku dengan kedua tangan membawa sebuah kotak berwarna putih.
“Tadi ada yang mengirimkan ini untuk Pak Balin.”
“Dari siapa?”
“Kurirnya bilang dari Pak Frans,” tutur Galang.
“Oh, begitu. Terima kasih ya, Galang.”
Galang mengangguk, “Sama-sama, Pak. Saya mau balik lagi ke restoran.”
Aku penasaran dengan kotak yang dikirim Frans untukku, jadi aku buka sedikit untuk mengintip apa isinya.
Ternyata itu kue ulang tahun. Kata-kata selamat untuk Kirana tertulis indah di atas kue coklat itu dan ada buah ceri menghiasi pinggiran kue.
Aku masuk ke dalam mobil. Semua penumpang kecuali aku masih terlelap. Aku memandang mereka satu per satu.
Kirana di kursi bayinya, Rama tidur meringkuk di samping Kirana. Lalu mataku beralih ke Alexa yang tertidur di kursi depan. Kepala Alexa menunduk dan badannya sedikit agak merosot dari kursi.
“Pasti pegal tidur dengan posisi seperti ini,” gumamku sambil membetulkan kepala Alexa dan mengatur sandaran kursi mobil agar terasa nyaman.
Kemudian aku menyalakan mesin, dan mobilku melaju meninggalkan tempat parkir restoran.
“Hei, bangun. Kita sudah sampai di rumah,” ucapku kepada Rama dan Alexa.
Sementara aku membiarkan Kirana tetap terlelap, menggendongnya dengan hati-hati, masuk ke dalam rumah.
Setelah menaruh Kirana ke dalam boks bayi. Aku kembali lagi ke halaman rumah hendak mengambil makanan yang ada di dalam mobil.
Namun langkahku terhenti karena Rama sudah berinisiatif membawa kantong berisi makan malam kami.
Kalau soal makan saja pasti dia ingat.
“Kak, kotak ini apa isinya?” tanya Rama seraya mengangkat kotak pemberian dari Frans.
“Itu kue ulang tahunnya Kirana. Awas jangan dimakan!” bentakku pada Rama.
Mengingat Rama selalu menghabiskan makanan tanpa menyisakan untuk orang lain, aku melayangkan sorot mata tajam padanya.
“Iya, iya, tenang saja. Tidak akan aku habiskan.”
Lalu pandanganku beralih ke Alexa yang masih berdiri di samping mobil. Tangannya memegang tas miliknya dan aku berjalan mendekat.
Mataku menangkap ada sedikit pasir yang mengotori garis rahang Alexa, dan tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, aku mengusap pasir itu agar segera enyah dari pipi Alexa.
Gadis bermata hitam mengkilap itu terkesiap karena tindakanku, jadi aku segera menghentikan usapan tanganku. Takut membuatnya merasa tak nyaman.
“Mau makan bersama kami?” tawarku pada Alexa.
Dia menggeleng mengibaskan rambut, “Aku mau langsung istirahat saja.”
__ADS_1
“Kalau begitu ambillah makanan di rumahku. Kamu belum makan lagi kan?”
“Kenapa kamu jadi peduli padaku?” tanya Alexa.
Aku membuang muka agar Alexa tidak melihat wajahku yang semerah buah tomat.
“Jangan berpikir yang berlebihan! Aku hanya tidak mau tetanggaku sakit. Nanti aku juga yang repot.”
Alexa tersenyum. Sebenarnya aku pun ingin tersenyum juga tapi aku tahan.
“Aku ada kado untuk Kirana, tapi sayangnya ketinggalan di kamar. Akan aku ambil dulu.”
Alexa berlari kecil ke dalam rumahnya. Tak lama, dia balik lagi membawa kado berbentuk persegi yang dibungkus kertas merah muda dan dihiasi pita yang indah.
Aku menerima kado itu dan bertanya, “Apa isinya?”
“Rahasia dong.”
“Bukan bom isinya kan?” tanyaku sambil membolak-balikkan kado itu.
“Bukan.”
“Aku buka sekarang,” tanganku hendak menyobek kertas pembungkus kado.
“Jangan!” pekik Alexa. “Nanti, biar Kirana sendiri yang membukanya.”
“Oh, oke. Semoga Kirana senang dengan kado darimu.”
“Kalau begitu aku pulang dulu. Aku mau istirahat.”
“Ya, beristirahatlah!”
Aku hanya mengangguk.
Pandanganku beriringan mengikuti langkah Alexa yang berjalan menuju rumahnya. Gadis itu berhenti sebentar di depan pintu, perlahan memutar kepalanya menatapku, tersenyum dan aku membalasnya.
Kemudian, Alexa menghilang masuk ke balik pintu.
Begitu pula aku yang juga masuk ke dalam rumah dan tercengang mendapati Rama yang sedang duduk melahap kue ulang tahunnya Kirana.
Aku melotot dan menyambar kotak kue. Sementara Rama dengan wajah tanpa dosa melirikku.
“Kenapa dimakan?” aku memprotes.
“Ya habis, kuenya menggiurkan,” ucap Rama menjilat ujung jemarinya yang kotor oleh whipped cream.
“Tapi itu kue ulang tahunnya Kirana. Harusnya Kirana dulu yang makan kue itu,” aku mengepalkan tangan saking geramnya.
“Santai saja, Kak Balin, aku sisakan buat Kirana kok. Tuh,” Rama menunjuk potongan kue yang tinggal seperempatnya.
“Kirana juga tidak akan menghabiskan semuanya kan?” Rama menambahkan.
“Masalahnya, Kirana belum melihat kue ulang tahunnya secara utuh, tapi kamu sudah mengacak-acak kue itu.”
Ingin rasanya aku menonjok bibir itu yang sedang maju mundur asyik mengunyah sejak tadi.
“Biarkan saja. Kirana kan masih bayi belum tahu apa-apa.”
Aku mengatur napasku. Memandang penuh amarah ke arah Rama yang kini berdiri dari duduknya.
Aku mengayunkan kepalan tangan dan siap mendaratkannya di perut adikku. Tapi belum juga pukulanku mendarat, Rama sudah lebih dulu membungkuk kesakitan.
__ADS_1
“Jangan bercanda kau!” gertakku. “Aku belum menonjokmu.”
Rama terus membungkuk dan mengaduh kesakitan. Kedua tangannya menekan perut buncit yang baru saja diisi kue coklat.
“Kak Balin, perutku sakit,” rintihan Rama.
Dia kembali duduk dengan napas yang tidak beraturan. Keringat sebesar biji jagung mengucur dari keningnya. Menutup mulut dengan telapak tangan, karena sepertinya dia ingin muntah.
“Aku tahu kamu cuma akting,” aku membantah meski separuh dari diriku mengatakan kalau Rama sedang tidak main-main.
Rama semakin membungkuk dalam, tersungkur jatuh terbaring di lantai. Seluruh tubuhnya kejang, seperti saat Kirana sakit demam.
Bahkan kejangnya Rama ini lebih parah dan lebih menakutkan.
“K-Kak Balin,” panggil Rama.
Aku mulai diserang panik.
Apa yang harus aku lakukan?
Aku membungkuk untuk membantu Rama bangun dan saat itu juga dia mengeluarkan semua isi perutnya.
“Kak B-Balin,” panggil Rama sekali lagi dengan susah payah.
“Ayo kita ke rumah sakit!” ucapku mencoba memapah Rama.
“Kak, jangan berikan kue itu pada Kirana!”
“Aku tahu!”
Tapi tunggu dulu. Siapa yang akan menjaga Kirana selama aku membawa Rama ke rumah sakit?
Alexa.
Aku meninggalkan Rama, berlari ke luar, melompat pagar yang menjadi batas rumahku dengan rumah Alexa.
Dan aku gedor pintu rumah Alexa sekeras mungkin. Alexa tak kunjung membukakan pintu, jadi aku berteriak memanggilnya.
“Alexa... Alexa... “
Tak lama, pintu terbuka dan aku terbius mematung di tempat. Sepersekian detik aku lupa akan tujuan awalku menggedor pintu rumah tetangga.
Semua itu karena Alexa sedang berdiri di depanku dengan rambut yang basah. Tetesan air dari rambutnya mengalir membasahi bath robe berwarna coklat yang dia pakai.
Harum sabun mandi samar-samar tercium oleh hidungku.
“Ada apa, Balin?”
Aku menggelengkan kepala agar terbebas dari sihir yang Alexa pancarkan padaku.
“A-aku titip Kirana sebentar padamu. Rama keracunan makanan, jadi aku akan membawanya ke rumah sakit,” jelas ku dengan cepat.
“Dan satu lagi, jangan makan kue yang ada di atas meja. Kue itu beracun.”
__ADS_1