
Sebelum membaca, bab ini mengandung kegiatan hareudang. Jadi dimohon untuk yang masih single untuk diskip saja. Mohon bijaksana dalam memilih bacaan.
“Kamu suka dengan rumah ini?” tanyaku saat turun dari mobil.
Bola mata hitam mengkilap milik Alexa berbinar menatap rumah bergaya Eropa yang ada di depan kami. Dia mengulum senyum padaku yang melingkarkan lengan di punggungnya. Dan ada Kirana di tengah-tengah kami berdua, melompat kegirangan.
“Iya, aku suka,” jawab Alexa.
“Aku sengaja membeli rumah ini untukmu. Sebagai hadiah pernikahan kita.”
“Aku kira kamu akan menempati rumah kakeknya Kirana,” kata Alexa saat kami bertiga mulai melangkahkan kaki melintasi halaman rumah.
“Rumah itu akan ditempati ketika Kirana dewasa. Lagi pula Kirana lebih suka rumah yang ini.”
“Iya, aku suka rumah ini,” Kirana menimpali. dengan berjingkrak. “Ada kolam renangnya.”
Aku membukakan pintu untuk Alexa dan Kirana. Mereka berdua masuk terlebih dahulu. Lalu Alexa menyapu pandangan ke sekeliling.
Aku mengajak mereka melihat setiap sudut rumah dan aku senang luar biasa karena Alexa dan Kirana menyukainya.
Ini memang niatku dari awal. Aku tidak memesan kamar hotel untuk malam pertama pernikahan aku dan Alexa. Aku langsung membawa mereka ke rumah baru yang sudah aku siapkan.
“Ada ruang baca juga di lantai atas. Supaya Kirana lebih rajin membaca buku, Papa sudah menyiapkan banyak buku anak-anak.”
“Benarkah?” tanya Kirana.
Aku mengangguk, “Kirana lihat saja. Ruang bacanya ada di samping kamar Kirana.”
Kirana melompat, saking antusiasnya dia berlari ke lantai atas dengan sangat cepat. Meninggalkan aku dan Alexa di anak tangga. Alexa yang memandangi Kirana naik, berseru agar berhati-hati menaiki tangga.
“Masih belum banyak perabotan, aku sengaja.”
“Kenapa?” tanya Alexa heran.
“Biar kamu saja yang mengisi perabotan rumah sesuai dengan apa yang kamu suka.”
Bibir Alexa melengkungkan senyuman, dan memelukku yang membalasnya dengan kecupan di kening.
Lalu aku berbisik di telinga Alexa untuk memberi kode, “Sebaiknya kamu segera mengajak Kirana tidur.”
***
Aku duduk bersandar di atas tempat tidur sudah dalam keadaan badan yang wangi karena selesai mandi. Beberapa kali aku berubah posisi duduk menanti Alexa yang tak kunjung datang ke kamar.
__ADS_1
Alexa tengah berada di kamar Kirana untuk mengajak tidur. Tapi hampir dua jam, dia tidak lekas kembali dan aku mulai tidak sabar.
“Apa aku coba temui mereka ya? Kenapa lama sekali sih? Atau Kirana tidak mau tidur?” aku bergumam sendiri sambil mengetuk-ketukan jari ke dagu.
Aku putuskan untuk beranjak melihat Alexa dan Kirana di kamar sebelah. Namun, baru saja aku berdiri, pintu kamar dibuka oleh Alexa yang menggendong Kirana.
Aku membuka mulut untuk berbicara tapi Alexa mendahuluiku.
“Kirana mau tidur di sini dengan kita berdua.”
Aku menghela napas berat, memberungutkan bibir tapi Alexa malah tertawa melihatku.
“Kenapa tidak di kamar Kirana saja?” aku berbicara dengan lirih agar Kirana tidak dengar.
Alexa menggelengkan kepala, “Dia tidak mau, Balin.”
Lalu Alexa membaringkan Kirana di tengah-tengah tempat tidur, dan menunjukkan padaku wajah Kirana yang sudah setengah mengantuk.
Sesaat aku tersenyum melihat wajah polos Kirana. Aku mengusap kepalanya dan memberikan kecupan selamat tidur.
Dengan mata yang tinggal lima watt, Kirana bergumam, “Papa, aku tidur di sini ya?”
Aku mengangguk.
“Aku takut tidur sendiri.”
Kemudian ponselku berdering, aku beranjak dari tempat tidur agar Kirana tidak terganggu, dan memilih duduk di sofa yang ada di sudut kamar.
Alexa mulai menyanyikan lagu pengantar tidur untuk Kirana, sedangkan aku mengangkat telepon dari Rama.
“Kak, bagaimana sudah buka kado dariku?”
“Memang kamu memberiku kado apa?” aku balik bertanya.
Di seberang sana Rama terkikik, “Buka saja. Nanti juga tahu.”
Tut.
Dan Rama segera mematikan telepon. Aku mengerutkan dahi, memangnya apa isi kado dari Rama?
Namun, aku tidak menggubris ucapan Rama tadi. Perhatianmu malah terfokus pada pesan masuk di ponsel yang sudah ada ratusan chat.
Sejak pagi aku tidak sempat menyentuh benda tipis itu, dan ketika aku membuka pesan, isinya dari orang-orang yang mengucapkan selamat. Padahal mereka sudah menyampaikan secara langsung saat di pesta.
Jariku bergulir mengetikan balasan pada mereka satu per satu. Aku larut dan keasyikan membaca pesan, hingga tak terasa ada sebuah tangan lentik yang merebut ponselku.
Aku mendongak, ternyata Alexa sudah berdiri di depanku, dan pandanganku melirik Kirana yang sudah pulas di atas tempat tidur.
__ADS_1
“Kirana sudah tidur?” aku bertanya.
Alexa hanya mengangguk, dan tersenyum.
Aku membalas senyuman itu, menarik tangannya untuk duduk di atas pangkuanku. Kedua tangan Alexa diletakan di bahuku, dan aku sedikit mendongakkan kepala agar bisa menatap wajahnya.
Kami saling diam dan saling menatap dalam waktu yang cukup lama.
“Dua bulan kita jarang bertemu, dan sekarang aku bisa melihat wajahmu sesuka hati. Ini yang aku nanti,” ungkap Alexa.
“Aku juga. Akhirnya kita bisa melewati syarat yang diberikan kakakmu.”
Lalu Alexa menjatuhkan kepala dan mendaratkan bibirnya ke atas bibirku. Kami saling menutup mata karena sensasi yang luar biasa menggelora di dalam dada.
Lidahku menelusuri setiap sudut rongga mulut Alexa, dan beradu dengan lidahnya. Kami mengecap dengan mata yang masih tertutup.
Jemari Alexa membelai rambutku ketika pada saat yang bersamaan, tanganku juga menyusup masuk ke dalam baju tidurnya yang tipis. Mengusap punggung yang mulus dan aku terpaku karena mendapati Alexa tidak memakai...
Aku melepaskan ciuman untuk melihat sejenak wajah Alexa yang bersemu merah, menyisir helai rambutnya ke belakang telinga, dan mengulum senyum.
“Pipimu sudah semerah kepiting rebus,” kataku.
Alexa tersipu malu, “Benarkah?”
“Aku bahagia sekali menikah denganmu, Alexa.”
Satu ciuman mendarat lagi di bibirnya, turun meluncur ke rahang, leher, hingga sampai ke dada. Sedangkan tanganku menyibak baju tipis itu dengan tidak sabar, hingga robek.
Alexa menggigit bibir bawah ketika menikmati rasa yang menggelora tak tertahankan akibat ulahku yang bermain dengan puncak bukit kembarnya.
Dia mengeluarkan suara yang pelan, lembut, dan seperti rintihan kecil. Napasnya memburu dan menggeliat, menyihirku untuk jangan berhenti.
“Papa... Mama... “
Sontak aku dan Alexa membeku mendengar Kirana memanggil. Mungkinkah Kirana terbangun karena suara berisik dari kami berdua?
Aku langsung memeluk tubuh Alexa untuk menghalangi tubuh polos itu, takut Kirana akan melirik ke tempat kami berada. Dengan jantung yang berdebar aku menoleh pada Kirana di atas tempat tidur.
Bocah itu masih memejamkan mata, mulutnya mengecap dan menggeliat mengubah posisi tidurnya.
Serempak aku dan Alexa menghela napas lega. Ternyata Kirana hanya mengigau. Aku sudah panik terlebih dahulu. Bagaimana kalau Kirana melihat kami?
“Sepertinya kita harus pindah kamar. Aku lupa ada Kirana di sini,” bisik Alexa di dekat telingaku.
Aku mengangguk, membantu Alexa memakai baju, dan kami berjalan melintasi kamar. Memandang Kirana yang terbungkus selimut sebelum akhirnya aku menutup pintu.
__ADS_1