Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 44 Hidup Dalam Pelarian


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Aku duduk di bangku taman, memperhatikan Kirana bermain ayunan bersama dua anak laki-laki. Mereka kakak beradik, satu berumur lima tahun dan adiknya berusia dua tahun.


Dan neneknya kedua bocah laki-laki itu sedang duduk di sampingku.


“Berapa usianya Kirana?” tanya sang Nenek.


Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat umur Kirana.


“Dua puluh dua bulan,” kataku tercekat.


Astaga, berarti sudah hampir sepuluh bulan aku dan Kirana hidup dalam pelarian. Menginap di hotel ke hotel yang lain. Terkadang menyewa kontrakan hanya beberapa minggu, lalu pindah lagi ke tempat lain. Dari satu kota ke kota lain.


Aku berpindah-pindah sejak aku pergi meninggalkan Rama dan Alexa.


Kala itu, aku menghubungi Dodi tapi dia menjawab teleponku dengan suara gemetar nan ketakutan.


“Halo, Dodi. Hari ini aku dan Kirana akan pergi ke rumahmu. Apakah kamu ada di rumah pukul empat sore nanti?”


“J-jangan, Bos. Jangan datang ke rumah saya,” jawab Dodi gelagapan.


“Kenapa? Ada apa denganmu, Dodi? Kenapa kamu terdengar seperti ketakutan?”


“Bos, aku peringatkan Bos untuk segera membawa anak itu pergi jauh. Sembunyi dan terus berpindah tempat tinggal agar Harsa tidak bisa melacak keberadaan Bos.”


Tiba-tiba di seberang telepon aku mendengar suara gebrakan disusul dengan Dodi yang menjerit kesakitan.


Lalu seketika hening.


“Halo, Dodi. Kamu ada di sana. Halo,” ucapku panik.


“Halo,” sahut sebuah suara dingin yang terdengar jauh berbeda dengan suara Dodi.


“Harsa?”


“Yes, how are you, Balin Mahendra?” Harsa terkekeh.


Aku terdiam, lidahku terasa kelu dan aku sontak membelalakkan mata.


“Teman dekilmu ini sudah mati. Ini akibatnya jika ada orang yang berani melawanku.”


Harsa lagi-lagi tertawa jahat.


“Sekarang cepat serahkan anak itu atau kamu akan bernasib sama dengan si kutu dekil!”


Tanganku terkepal dan aku mengumpat keras.


“Jika kamu ingin mengambil Kirana, langkahi dulu mayatku!”


Tut.


Hari itu adalah hari pertama aku dan Kirana hidup dalam pelarian. Aku segera mengganti nomor ponselku, dan beberapa kali menjual mobil dan menggantinya dengan yang baru.


Aku hanya menghubungi Ibu. Sekedar memberitahu bahwa aku dan Kirana baik-baik saja, tanpa ibu perlu tahu aku berada di mana.


Semua itu aku lakukan agar Harsa sulit untuk melacakku.

__ADS_1


“Dua puluh dua bulan... “ gumam nenek di sampingku yang netranya terus meneliti Kirana.


“Dua puluh dua bulan tapi sudah lancar bicara dan bisa diajak mengobrol. Itu bisa jadi pertanda bahwa Kirana anak yang cerdas,” jelas sang Nenek.


Aku hanya menoleh, lalu tersenyum, “Terima kasih.”


“Hai, anak muda, aku sedang tidak bercanda. Kecerdasan seorang anak sudah bisa dilihat dari mereka masih bayi. Jika perkembangannya melebihi kemampuan anak seusianya, itu pertanda mereka memiliki kecerdasan di atas rata-rata.”


Aku hanya bisa mendesah. Nenek satu ini mengingatkan aku pada seseorang yang tahu banyak tentang mengurus anak. Seseorang yang telah aku coba untuk melupakannya dari pikiranku.


Alexa.


Bagaimana kabar gadis berambut ikal itu? Apakah dia masih tinggal di sebelah rumah kontrakanku yang dulu?


“Alangkah bahagianya memiliki anak secantik dan sepintar Kirana,” oceh si Nenek.


“Orang tua pasti selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Terlebih lagi seorang ayah. Semua ayah pasti akan berusaha untuk melindungi putri mereka. Benar kan?”


Aku tidak menyahut, malah mataku terasa panas dan berkaca-kaca karena menyadari di belahan bumi ini ada satu ayah yang ingin sekali mencelakai darah dagingnya sendiri.


Harsa.


Entah apa yang membuat dia tega melakukan hal yang tidak baik pada putrinya. Dari Kirana lahir hingga sekarang, aku pun masih mencari jawaban itu.


Padahal benar yang dikatakan si Nenek, Kirana anak yang cantik dan pintar. Seharusnya Harsa bangga memiliki anak sepertinya.


Sebuah mobil putih berhenti tak jauh dari kami, dan perempuan lanjut usia di sampingku berdiri memanggil kedua cucunya.


“Ray, Raka, sudah mainnya. Mommy sudah jemput. Waktunya kita pulang.”


Kedua kakak beradik itu berjingkrak riang, “Yey, Mommy pulang... Mommy.. Mommy... “


Si Nenek juga berpamitan denganku, lalu mereka bertiga naik ke dalam mobil.


Sekarang hanya ada Kirana sendirian di taman itu, dia berjalan mendekatiku yang langsung aku sambut dengan pelukan.


“Papa ikat,” kata Kirana menyentuh rambutnya yang kini telah panjang.


“Papa tidak pandai mengikat rambut. Tapi Papa akan coba dulu.”


Aku mengeluarkan ikat rambut di saku celana, sebisa mungkin mengikat rambut Kirana yang lebat nan lurus. Dan jadi. Meski hasilnya tidak rapi dan ada beberapa helai rambut yang masih menjuntai.


“Kamu punya rambut yang sama persis dengan mama,” kalimat itu begitu saja meluncur dari mulutku.


“Mama,” ulang Kirana.


Aku hanya tersenyum sambil merapikan poni Kirana. Lalu terdengar suara perut yang sedang meminta diisi. Kirana langsung menutup mulut malu.


“Ups,”


Aku terkekeh pelan, “Kirana lapar? Kirana mau makan apa?”


“Ayam goleng.”


“Okey, kalau begitu, kita cari restoran ayam goreng ya? Come on.”


Kirana bersorak riang, “Yey, ayam goleng.”

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, aku dan Kirana tengah duduk di restoran. Kirana melahap ayam goreng bagian paha bawah dengan sangat rakus. Tapi bagiku terlihat lucu, aku tertawa begitu melihatnya.


“Papa makan?” tanya Kirana menawariku.


Aku menggeleng, “Tidak, Papa melihat Kirana makan saja sudah kenyang.”


Kemudian, pandanganku beralih memantau sekitar. Sejak berada di taman tadi, aku merasa ada yang sedang mengintai kami dari jauh.


Namun, sejauh mata memandang memang tampak tak ada yang mencurigakan. Atau mungkin firasatku saja.


“Habiskan makananmu, terus kita langsung pulang, oke?”


“Ke mana?”


Aku mengerutkan kening, “Entahlah, nanti kita coba cari penginapan di sekitar sini.”


Tepat saat itu, ponselku berdering dengan nama Ibu tertera di layar.


“Papa angkat telepon dulu ya. Kirana lanjutkan makannya.”


“Iya, Papa.”


Aku berjalan menjauh, namun masih berada di area yang dapat memantau Kirana. Lalu kuangkat telepon yang ternyata bukan dari Ibu. Melainkan Rama.


“Halo, Kak Balin, ini aku adikmu, Rama.”


“Iya, aku juga tahu.”


“Kakak ada di mana sekarang?”


“Kamu itu mulut ember, jadi tidak perlu tahu.”


Rama mendesah frustasi, “Kak pulanglah! Kakak mau sampai kapan begini terus. Kasihan Kak Alexa, dia juga tinggal berpindah-pindah mencari Kakak.”


Aku menoleh sekilas pada Kirana. Gadis kecil itu masih makan di tempat semula, sedang menyeruput jus jeruk.


“Memangnya aku peduli.”


Tut. Panggilan telepon aku matikan secara sepihak.


 


***


 


Seorang pria berkaca mata hitam duduk di dalam mobilnya dengan pandangan tak pernah putus dari sosok anak kecil yang sedang makan di restoran sederhana.


Kemudian, pria itu menelepon Tuannya.


“Tuan, sudah aku temukan anak itu.”


“Bagus, pantau terus dari kejauhan. Ingat! Jangan sampai kehilangan jejaknya lagi.”


“Baik, Tuan.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2