Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 77 Terbongkar


__ADS_3

Di dalam sana, Kak Alan, Mirza, dan Nick sudah duduk melingkar di sofa. Tatapan mereka sama-sama menunjukkan keheranan. Sesekali melirik satu sama lain.


Aku duduk bergabung bersama mereka. Membuka laptop dan menunjukkan rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang pria memasang tali di tangga.


Semua tampak tercengang saat rekaman di putar.


“Aku sudah bilang, kan? Bukan Kirana yang meletakan bola di tangga, dan Alexa jatuh bukan karena tergelincir bola itu,” aku berkata sambil melirik Kak Alan yang kini terlihat salah tingkah.


“Kalau begitu siapa pria ini, Balin?” tanya Mirza menunjuk pria yang terekam CCTV.


Aku melempar pandangan padanya.


“Lihat saja! Dia memakai jas biru dongker milikmu. Bisa jadi itu kamu sendiri?”


Mirza gugup seketika, menelan saliva dan melirik Kak Alan penuh ketakutan. Akan tetapi dia membantah dengan suara yang bergetar.


“Balin, kamu sendiri ingat, kan? Jas itu hilang saat pesta berakhir, dan aku langsung menuju kamar.”


Aku mendengus sekaligus menyeringai yang membuat Mirza semakin gelisah.


“Kalau begitu, kenapa jas itu ditemukan oleh pelayanku di kamar tamu tempat kamu menginap, Mirza?”


“Percayalah! Bukan aku yang melakukan itu! Untuk apa aku mencelakai anakmu, Balin,” seru Mirza gemetaran.


Aku lanjutkan lagi rekaman CCTV lain yang memperlihatkan pria misterius itu berjalan ke area kolam renang.


Lalu aku menjelaskan teoriku. Bahwa ada dua kemungkinan orang itu bisa pergi dari rumah. Menuju halaman belakang atau menuju lorong kamar tamu.


Aku memperlihatkan rekaman di halaman belakang. Tidak ada sosok pria misterius tertangkap kamera.


“Itu berarti, si pria misterius pasti berjalan ke lorong kamar tamu.”


“Tapi kami tidak menyadari ada orang yang berjalan ke depan kamar kami pada jam itu,” sela Nick santai sambil memainkan kumisnya.


“Ya, karena pria misterius itu adalah salah satu dari kalian,” jawabku sambil menatap Kak Alan, Nick, dan Mirza secara bergantian.


Ketiga tamu undanganku itu saling tatap satu sama lain. Namun, pandanganku hanya lurus pada satu orang.


“Bukan begitu, Harsa?” ucapku pada Nick.


Kak Alan dan Mirza tercengang, menoleh cepat ke arah Nick yang duduk di tengah-tengah mereka. Namun, orang yang mengaku bernama Nick itu menertawakanku.


Dia berdecak dan menarik napas. Membenarkan kacamata yang sedikit merosot.


“Balin, kehilangan anak sepertinya membuat kamu juga kehilangan akal sehatmu. Aku Nick, bukan Harsa.”


Kak Alan meliriku keheranan, “Apa maksud semua ini? Jelaskan Balin!”


Aku membantah, bangkit berdiri, berjalan perlahan mengitari mereka bertiga.


“Aku menyadari kamu adalah Harsa, ketika aku membacakan Kirana sebuah dongeng 'Gadis Bertudung Merah dan Sang Serigala'.”

__ADS_1


“Di dalam dongeng, Serigala memakan dan menyamar menjadi nenek si Gadis Bertudung Merah. Sama sepertimu, Harsa, yang sudah membunuh Nick yang asli dan menyamar menjadi Nick ketika datang ke acara pernikahanku.”


(Ingat kan, guys. Di bab you don't have a choice, ada adegan Harsa menusuk seorang pria. Pria itu adalah Nick yang asli.)


Semua tampak tercengang mendengar penuturanku. Tidak terkecuali Harsa yang kedoknya telah terbongkar.


“Kemanakan jasad Nickolas yang asli, Harsa?” tanyaku mendekatkan tubuh ke arah Harsa.


Kak Alan melirik Harsa dengan tatapan ingin menghabisi saat itu juga. Berbeda dengan Mirza yang tampak syok.


“Di dalam dongeng tujuan utama Serigala adalah memakan Gadis Bertudung Merah. Begitu juga kamu yang tujuan utamanya adalah ingin menghancurkan keluargaku. Dengan kamu menyamar menjadi Nick, jalanmu untuk balas dendam padaku akan semakin mudah.”


“Jadi kamu mengaitkan ini semua dengan dongeng murahan seperti itu?” cibir Nick palsu yang belum mau mengaku.


“Kirana juga yang mengingatkan aku tentang suara Serigala yang pasti jauh berbeda dengan suara Sang nenek. Sama seperti kamu, Harsa, yang datang pada hari pernikahanku. Alexa menyadari suaramu berubah saat itu, bukan?”


( Di bab Hari yang Dinanti, ada adegan Alexa menanyakan suara Nick palsu yang berbeda, ya guys.)


Aku berhenti tepat di hadapan Harsa, mencondongkan badan, meneliti setiap jengkal wajahnya.


Harsa terlihat canggung ditatap seperti itu olehku. Dia berdehem agar bisa tenang. Sementara aku mulai senang melihat kegelisahan Harsa.


“Apakah kumis itu palsu atau asli? Jika asli berapa lama kamu menumbuhkannya, Harsa? Dan katakan kapan kamu melakukan operasi plastik?”


Sederet pertanyaan itu menjadikan Harsa gugup luar biasa. Dia menghela napas beberapa kali. Dari sorot matanya, dia sudah tidak tenang.


Kak Alan yang ada di samping kanan Harsa, menarik kerah bajunya, dan satu tangan lagi terkepal kuat tapi belum siap menonjok.


Kak Alan mengguncangkan tubuh Harsa yang diam tak menyahut.


“JAWAB!”


Harsa melepaskan cengkeraman Kak Alan dan menatap tajam padaku.


“Tolong berikan bukti yang lebih jelas kalau aku ini Harsa, Balin! Jangan mengaitkan aku dengan  serigala di dalam dongeng anak-anak,” bentak Nick gadungan.


Aku berjalan menuju meja di salah satu sudut ruang baca. Mengambil bola kasti milik Kirana. Dari tempatku berdiri, aku melempar bola itu ke arah Harsa, yang langsung ditangkapnya dengan sangat sempurna menggunakan tangan kanan.


Harsa, Kak Alan, dan Mirza keheranan atas tindakanku ini. Namun, aku tersenyum puas.


“Apa maksudnya ini, Balin?” tanya Harsa yang mengguncangkan bola kasti.


Aku berdehem.


“Sepertinya kamu dan kita semua juga lupa, kalau Nick asli seorang yang kidal. Kenapa kamu menangkap bola itu menggunakan tangan kananmu, Harsa?”


(Di bab keluarga Asher, ada dialog Nick bilang sendiri kalau dia itu kidal.)


 


Mirza terkesiap, dan membenarkan jika Nick yang asli memang kidal.

__ADS_1


“Sudahlah. Akui saja, Harsa. Kedokmu sudah terbongkar.”


Merasa kalah telak dan tidak bisa beralasan lagi, Harsa berdecih melepaskan kacamata kotak yang bertengger di hidung. Lalu membantingnya ke lantai.


Kak Alan dan Mirza mendelik begitu melihat perubahan sikap si Nick palsu yang kini menyeringai mengerikan. Sebuah seringai ciri khas Harsa.


“Kau pintar juga rupanya, Balin. Sial, aku selama ini meremehkanmu. Tahu begitu, aku lebih berhati-hati dalam setiap menjalankan rencanaku.”


Harsa mengakui perbuatannya. Dia menemui Nick, menusuknya dengan sebuah pisau dan diam-diam menguburnya di pekarangan rumah milik Harsa yang pernah terbakar di pinggir hutan.


Harsa memanfaatkan Nick, karena memiliki kemiripan wajah, ditambah Nick yang tidak begitu dekat dan jarang sekali bertemu dengan anggota keluarga Asher. Menjadikan Kak Alan dan yang lain tidak begitu menyadari perubahan pada Nick yang palsu.


“Hanya perlu sedikit sentuhan operasi agar pipiku terlihat tirus, kumis palsu dan kacamata kotak, aku sudah bisa menyerupai Nick yang asli,” jelas Harsa sambil mengusap pipinya dengan gaya santainya.


“Itulah sebabnya kamu pergi ke Singapura setelah menghadiri pernikahanku, dan tinggal di sana selama dua tahu. Agar tidak banyak orang yang menemuimu?” kataku menebak, dan dijawab oleh Harsa dengan sebuah anggukan.


Aku mendengus kesal, “Pantas saja. Sosok Harsa yang aku cari selama ini tidak pernah ditemukan, karena nyatanya dia sudah berubah penampilan.”


Kemudian, Harsa mengaku dialah orang yang memberikan kado pernikahan berupa kalung miliknya sendiri.


Mengaku jika dialah pria yang memasang tali tak kasat mata di tangga. Menaruh bola agar semua orang mengira Kirana penyebab Alexa jatuh.


“Ketika semua orang lengah, aku menaruh jas itu di lemari kamar Mirza berada. Supaya jika Balin melihat rekaman CCTV, dia mengira Mirza lah pria misterius itu.”


Bugh.


Kak Alan menonjok Harsa tepat di hidungnya yang membuat pria itu jatuh ke lantai. Tidak sampai di situ, Kak Alan menyerang Harsa lebih dari yang aku dapatkan saat di rumah sakit.


Mirza tidak menahan Kak Alan. Dia terlihat membisu tidak menyangka Kak Alan akan sebrutal itu. Sama sepertiku.


“Kau bejat, Harsa,” raung Kak Alan.


“Kau sudah membunuh Nick, membunuh calon keponakanku, dan membuat kita semua membenci Kirana.”


Mirza maju mendekat dengan tangan terkepal, “Dan secara sengaja kamu menjadikan aku kambing hitam, Harsa.”


Mirza juga menyumbang pukulan untuk Harsa. Setelah dirasa cukup, aku menenangkan Kak Alan dan Mirza.


“Dia harus mendekam di penjara, Balin,” geram Kak Alan yang sudah seperti kesetanan.


“Di dalam dongeng, Serigala berhasil dimasukkan ke perangkap oleh Pria Penebangan Kayu. Begitu juga kamu, Harsa. Sekarang, kamu tidak bisa ke mana-mana. Rumahku ini, sudah dikepung polisi.”


Harsa tertawa mencemooh, dia berjalan mundur hingga melewati pintu menuju balkon. Dia berhenti karena tubuhnya sudah membentur pagar.


“Aku akan membuat akhir cerita yang berbeda, Balin.”


Di luar dugaanku, ketika itu juga Harsa menjatuhkan diri ke bawah.


“Haarrsaaaa.”


 

__ADS_1


__ADS_2