Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 37 Rama dan Shinta


__ADS_3

Keesokan pagi harinya.


Alexa : Aku sudah ada di depan rumah sakit.


Aku meregangkan badanku yang terasa pegal akibat tidur di kursi, mengucek mataku, saat itu juga aku menerima pesan dari Alexa, lalu jariku mengetikkan balasan.


Rama ternyata bangun lebih dulu dariku. Dia sudah membaik, duduk di tempat tidur pasien sambil memainkan ponselnya.


Lalu pintu ruangan terbuka, seorang perawat mendorong troli mengantarkan sarapan dan ada satu perawat lagi yang bertugas mengecek tekanan darah Rama.


“Apakah saya bisa pulang hari ini, Sus?”


“Tekanan darah normal. Mungkin bisa pulang hari, tapi tetap harus menunggu hasil dari dokter terlebih dahulu ya,” terang perawat penuh keramahan.


Setelah dua petugas medis meninggalkan ruangan, aku berjalan mendekati adikku.


“Ini akibat dari orang yang rakus. Makanan orang lain, kamu embat habis,” sindirku.


Rama tampak begitu santai, dia bahkan duduk menyila di atas ranjang rumah sakit, melahap makanannya.


“Justru karena aku makan kue itu, Kirana jadi selamat kan? Coba kalau Kirana yang makan, pasti sekarang dia yang sekarang menggantikan aku tidur di kasur ini.”


“Pandai sekali kamu melawan Kakakmu!” geramku.


“Kalian sedang apa?” tanya Alexa yang sudah ada diambang pintu.


Alexa yang menggendong Kirana menutup pintu di belakangnya, memberikan Kirana padaku, dan kemudian mendekati tempat tidur Rama.


“Kamu sudah agak membaik, Ram?”


“Iya, sudah Kak Alexa.”


Mata Rama menangkap kantong yang dibawa oleh Alexa.


“Apa itu, Kak?”


“Ini,” Alexa mengangkat kantong yang dia genggamnya. “Aku beli bubur untuk sarapan kalian.”


“Wah, senangnya. Mau. Mau. Aku mau, Kak,” ucap Rama layaknya anak kecil yang merengek pada ibunya.


“Papa... “ ucap Kirana.


“Apa, Sayang?” tanyaku pada Kirana yang sedang aku gendong.


Kirana memakai baju jumpsuit berwarna merah muda, dengan rambut yang diikat menjadi dua. Tangan mungilnya menyentuh pipiku. Sama persis seperti yang biasa Alexa lakukan.


Kirana tersenyum dan aku membalasnya.


Detik itu aku menyadari, balita seumur Kirana memiliki perasaan dan pemikiran yang sama dengan apa yang dirasakan orang dewasa.


Aku dapat membaca apa yang ingin disampaikan oleh Kirana hanya dari sorot matanya.


Kirana menjatuhkan kepalanya di dadaku.


“Kamu pasti kangen sama papa, kan?”


“Kebetulan sekali Kak Alexa membawakan bubur. Asal Kak Alexa tahu saja, makanan di rumah sakit rasanya tidak enak,” celoteh Rama.

__ADS_1


Dia menyendok bubur menggunakan kerupuk dan dilahapnya bulat-bulat.


“Tadi di luar ada seorang perempuan, dia tampaknya ingin masuk ke kamar ini tapi ragu-ragu,” tutur Alexa.


“Oh, ya. Kak Alexa tahu dia siapa?”


“Iya, tadi aku sempat menyapanya. Dia bilang temanmu, Rama. Namanya Shinta.”


“Apa?” Rama menjatuhkan sendok karena terkejut.


Mulutnya mengembangkan sebuah senyuman kemenangan. Buru-buru dia meletakkan bubur di atas meja samping tempat tidurnya. Menarik selimut dan berbaring.


“Kak Balin, Kak Alexa, aku minta tolong pada kalian. Jika Shinta masuk ke sini, tolong katakan kalau aku belum bangun dari kemarin dan kondisi ku semakin parah.”


Aku mundur satu langkah, “Aku tidak mau.”


“Kak Balin, tolonglah! Status kejombloan ku dipertaruhkan di sini. Buat Shinta kasihan melihatku, Kak.”


“Aku tidak mau ikut dalam rencana konyolmu.” ucapku tegas.


Rama beralih memalingkan wajah ke Alexa, “Kak Alexa, tolonglah aku!”


Alexa tampak bimbang tapi di berkata, “Aku bantu semampuku saja ya?”


Kemudian, Rama memejamkan mata, pura-pura tertidur, Alexa membuka pintu, dan dari yang aku dengar dia berusaha membujuk Shinta untuk masuk melihat kondisi Rama.


Gadis bertubuh mungil itu pun menuruti ajakan Alexa, dia masuk dengan langkah yang malu-malu.


Shinta menganggukan kepala padaku yang duduk di sudut ruangan bersama Kirana. Lalu dia berdiri di samping ranjang Rama yang sekarang benar-benar tidak bergerak sama sekali.


Aku menonton drama yang diciptakan oleh Rama dan Alexa.


“Dokter bilang, kemungkinannya kecil untuk Rama bisa bangun lagi.”


Terdengar isakan kecil Shinta. Dia menutupi hidung merahnya menggunakan tisu.


“Dia selalu menceritakan betapa dia menyukaimu,” tambah Alexa lagi.


“Dia lebih baik menjadi bujangan lapuk, jika sampai akhir hayatnya tidak bisa mendapatkan cinta darimu.”


Aku menutup mulut seketika itu. Ingin tertawa tapi aku menahan sekuat tenaga. Berbeda dariku, Shinta yang termakan ucapan Alexa menyeka pipinya yang basah.


Shinta menunduk memandangi kakinya, sehingga dia tidak melihat ujung bibir Rama yang melengkung ke atas.


Kirana yang ada di pangkuanku menunjuk dinding yang ada di belakangku. Aku menoleh mengikuti arah yang ditunjukkan Kirana.


Ada seekor cicak.


Aku tahu Rama takut sekali pada cicak. Dengan tanganku yang cekatan, aku menangkap cicak itu.


Menekan jari telunjukku ke bibir, Kirana seakan mengerti apa yang aku maksud. Balita itu tertawa.


Aku berjalan menghampiri Alexa dan Shinta. Kulempar cicak yang aku tangkap tadi dan mendarat tepat di wajah Rama.


“Rama, ada cicak!” seruku.


Detik berikutnya, Rama memekik, matanya membelalak terbuka lebar dan dia meloncat dari tempat tidur. Shinta terperanjat melihat Rama yang tiba-tiba bangun.

__ADS_1


Sedangkan Rama yang sudah lupa akan sandiwaranya berputar-putar mencari jejak cicak itu. Mengayun-ayunkan tiang penyangga infus sebagai alat pengusir cicak.


Tapi seketika dia segera sadar. Menatap penuh rasa bersalah pada gadis yang dia incar selama bertahun-tahun.


Lalu melayangkan pandangan menusuk padaku.


“Kak Balin... “


Gelak tawa tak bisa aku bendung lagi. Aku terbahak-bahak melihat ekspresi malu adikku. Bersamaan dengan Kirana yang tertawa lepas.


Memangnya kamu saja yang bisa merusak rencana orang lain.


 


***


 


Sore harinya, Rama sudah mendapat izin pulang dari dokter. Dia melipat tangan, bibirnya dimanyunkan lima senti, dan duduk diam di kursi belakang mobil.


Aku melirik Rama sekilas dari kaca mobil, lalu pandanganku tertuju pada Alexa yang tengah melamun.


“Kamu baik-baik saja?” tanyaku menggenggam tangannya yang terasa dingin.


Alexa tersentak, lalu mengangguk.


“Ada yang sedang kamu pikirkan?”


“Aku hanya sedang berpikir, siapa orang yang mengirim kue beracun itu?”


“Sudah pasti otak dari semua ini adalah Ha... “


Aku menghentikan ucapanku. Melirik pada Alexa yang tengah menunggu.


Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakan Harsa pada Alexa. Karena aku pun belum tahu apa yang menyebabkan Harsa begitu ingin mencelakai Kirana.


“Ha siapa?” tanya Alexa tidak sabar.


Aku berdeham, “Otak dari semua ini adalah hantu penghuni kontrakan.”


“Oh ya, memang di kontrakan kita ada hantunya.”


Aku mengangguk, mengacak rambut ikal Alexa.


“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Ini urusanku.”


Alexa tetap diam, tahu kalau ucapanku hanyalah gurauan belakang.


“Tapi... aku heran kenapa ada yang begitu tega ingin mencelakai Kirana. Padahal dia itu bayi yang tidak tahu apa-apa,” geram Alexa.


Aku mengulum senyum, mencubit hidungnya yang terlihat lucu mengembang dan mengempis saat Alexa marah.


“Ayo, Kak, jalan! Jangan bermesraan di hadapanku!” seru Rama dengan nada kesal.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2