
Aku mampir ke toko perlengkapan bayi. Banyak yang harus aku beli untuk Kirana.
Apa saja ya? Aku lupa.
Aku membuka catatan di handphone. Oke aku mungkin mulai dulu dari diapers. Ketika berada di rak diapers, banyak sekali pilihan.
Hmm sebentar. Aku mengamati jejeran diapers yang tersusun rapi. Ah ini yang aku butuhkan diapers ukuran newborn.
Kemudian lanjut minyak telon, baby cream, baby lotion, baby oil, tisu basah, sampo bayi dan tidak ketinggalan sabun bayi. Ah banyak juga kebutuhan untuk bayi.
Aku berkacak pinggang melihat barang-barang yang ada di troli. Belum lagi aku harus membeli baju untuk Kirana. Ya, setelan baju pendek, baju panjang, piyama, selimut, jaket, sarung tangan dan sarung kaki.
Kurasa sudah semua. Aku mengecek sekali lagi catatanku, lalu mendorong troliku yang berat menuju kasir. Tapi belum sampai aku ke kasir, aku membelokkan troli karena aku lupa sesuatu.
Susu untuk Kirana. Hah, bagaimana bisa aku kelupaan yang satu itu. Lalu handphoneku berdering.
“Halo, ada apa, Rama?” Kataku saat mengangkat telepon dari Rama. Aku dapat mendengar suara samar tangisan Kirana.
“Kak, cepatlah pulang. Kirana menangis sejak tadi. Aku tidak tahu bagaimana membuatnya diam.”
“Oke, Oke, aku sedang belanja kebutuhannya Kirana. Sebentar lagi aku pulang. Coba kamu kasih Kirana susu. Mungkin dia lapar.”
“Sudah, Kak. Tapi dia tetep nangis. Ayo Kak cepat pulang. Gendang telingaku bisa pecah.”
“Iya, iya, aku akan segera pulang.”
Aku menutup telepon. Huft. Menghela napas sejenak. Apa yang aku duga benar. Rama tidak tahu cara mengasuh bayi. Ya, begitu juga dengan aku sih. Sama-sama masih nol.
Aku sempat dibuat kebingungan dengan deretan susu untuk bayi baru lahir. Ada banyak merk.
Pilih yang mana ya? Aku putuskan untuk membeli susu dengan merk yang direkomendasikan bidan Indah kemarin.
__ADS_1
Baiklah, sudah semua. Saatnya bayar. Sang kasir menghitung semua total belanjaanku sekaligus mengemasnya ke dalam kantong belanja.
Aku menyerahkan kartu kredit, lalu pandanganku beralih ke berita televisi yang berada di dekat kasir.
“Permisa, tim SAR akhirnya berhasil mengevakuasi jasad Indra Irawan dari dasar jurang di Kawasan Pantai Batu Merah. Proses evakuasi sendiri memakan waktu cukup lama dikarenakan kondisi medan tebing yang sulit dan berbahaya.
Sebelumnya, seperti yang sudah diketahui bahwa korban dinyatakan hilang pada minggu malam. Seorang saksi mata mengaku melihat Indra Irawan pergi bersama putrinya yang bernama Karina Irawan pada pukul 23.45 mengendarai sebuah mobil.
Mereka diperkirakan pergi menuju kawasan pantai Batu Merah. Namun, naas Indra Irawan beserta putrinya mengalami kecelakaan tunggal.
Sekarang kita telah tersambung dengan reporter kami, Cindy, yang telah berada di tempat evakuasi. Baik, Cindy, bagaimana keadaan di sana?”
Layar televisi beralih ke seorang reporter yang sosoknya aku kenal. Dia adalah temanku dan teman Karina juga. Dia tengah berdiri menggenggam mikrofon. Tersenyum ke arah kamera dengan seragam reporternya.
“Ya, baik, Magda dan juga permisa, bisa dilihat di belakang saya sedang berlangsung proses pengangkutan mobil Indra Irawan yang terjatuh ke dalam jurang di sebuah Kawasan Pantai Batu Merah.
Kondisi mobilnya sendiri telah hancur total di bagian depan dan belakang mobil. Menurut pihak kepolisian, penyebab dari kecelakaan ialah tidak adanya penerangan di sepanjang jalan.”
Layar televisi kembali menampilkan pembawa berita yang berada di studio.
“Ya, Magda. Sampai saat ini jasad Karina Irawan masih belum ditemukan. Namun tim SAR masih berusaha menyisir laut sekitar tempat jatuhnya mobil Indra Irawan.”
“Pak, permisi.” Suara tegas namun lirih dari kasir mengembalikan perhatianku. Aku tersentak. Beberapa kantong belanja besar sudah berada di depanku. “Ini belanjaan bapak dan ini kartu kreditnya. Terima kasih telah belanja di toko kami.”
Seketika itu juga, ada yang menepuk pundakku dengan kasar, aku pun menoleh. Ternyata di belakangku antrean sudah mengular dan yang paling depan adalah seorang wanita paruh baya berwajah garang. Dia menatap sinis.
Aku menundukkan kepala meminta maaf telah membuatnya menunggu lama karena aku fokus melihat berita di televisi.
Sebelum aku keluar dari toko, aku menoleh ke arah televisi lagi.
“Berita tadi sekaligus menutup acara kita siang ini. Saya Magdanela mewakili kru yang bertugas mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa.”
__ADS_1
Ternyata kepolisian dan juga media menganggap bahwa Karina ada di dalam mobil yang ditumpangi Indra Irawan. Lokasi ditemukannya Indra Irawan ada di Kawasan Pantai Batu Merah, itu tidak jauh dari Taman Merpati.
Pasti Indra Irawan menurunkan Karina di Taman Merpati dan dia sendiri pergi ke arah Pantai Batu Merah.
Dan kecelakaan itu? Aku yakin bukan kecelakaan biasa. Hah, konyol sekali alasan polisi. Seorang Indra Irawan kecelakaan hanya karena penerangan jalan? Aku menggelengkan kepala.
Apakah ada kaitannya dengan ucapan Karina yang mengatakan bahwa suaminya adalah orang jahat?
Kalau begitu apakah Harsa yang menyebabkan kecelakaan Indra Irawan? Pikiranku kembali lagi memikirkan Karina.
Begitu sampai di apartemen, ku bergegas masuk karena mendengar suara tangis Kirana. Aku mendapati Rama yang duduk di sofa sambil menutup kedua telinga sedangkan Kirana dibiarkannya saja menangis di samping Rama.
“Kamu ini, sudah aku perintahkan menjaga Kirana malah dibiarkan saja menangis.” Aku membentak Rama.
“Kak Balin, aku tidak tahu harus bagaimana lagi membuat Kirana diam. Susu, dia tidak mau. Aku ayun-ayun supaya diam, malah tambah kenceng nangisnya. Aku frustasi, Kak.”
Aku menghela napas, mengatur emosiku. Lalu aku gendong Kirana dengan sangat hati-hati. Bayi kecil yang masih berwarna merah itu tetap tidak berhenti menangis. Aku jadi keheranan dan mulai panik.
“Tuh, lihat! Dia tidak mau diam, kan?”
“Rama, biasanya bayi nangis itu pertanda apa?”
Rama mengangkat bahu. “Mana aku tahu.” Satu detik kemudian, dia mengangkat jari telunjuknya. Itu kebiasaan Rama jika otaknya tiba-tiba muncul ide.
“Kita tanya saja pada ibu, Kak.”
“Kamu mau kita semua mati. Jangan! Seperti yang aku bilang sebelumnya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan pada ibu tentang keberadaan Kirana.”
“Ya, terus bagaimana?”
Aku berusaha melakukan cara agar Kirana diam. Hingga tanpa sengaja tanganku menyentuh popok yang dipakai Kirana. Ya popok Kirana yang sudah kotor. Itu yang membuat Kirana menangis sejak tadi karena merasa tidak nyaman. Aku tersenyum pada Kirana.
__ADS_1
“Kenapa tidak bilang sejak tadi kalau popokmu sudah kotor?” Candaku sembari berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Rama yang berkacak pinggang.
“Kakak ini. Bayi sekecil itu mana bisa ngomong kalau popoknya penuh.”