Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 34 Istriku


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Pintu depan rumahku diketuk oleh seseorang. Pasti itu Alexa.


Aku yang sedang bermain dengan Kirana di ruang tamu, segera bangkit dan berlari untuk membukakan pintu.


Namun, aku malah tersandung kaki meja dan kemudian terdengar suara tawa mengejek. Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata Rama sedang memperhatikanku sambil bersender di pintu kamarnya.


“Mau ke mana, Kak. Buru-buru sekali. Tidak sabar ketemu Kak Alexa lagi ya?”


“Diam kamu!” geramku sambil menahan sakit di kaki.


Aku berjalan terseok-seok menuju pintu. Ketika membuka pintu, aku sudah senang bukan main.


“Ale... “


Satu detik berikutnya, aku memberengut. Mendapati orang yang berdiri di depan pintu bukanlah Alexa, melainkan seorang bocah laki-laki kurus dan berpakaian lusuh.


Bocah itu menatapku dengan tatapan memelas.


“Om Rama ada?” tanya si bocah.


“Ada urusan apa dengan adikku?”


“Aku Ujang, Om. Yang kemarin disuruh Om Rama kirim bunga ke perempuan bernama Shinta.”


Lalu Ujang menengadahkan tangannya, “Dan sekarang aku mau minta bayaran yang sudah dijanjikan Om Rama.”


Aku berkacak pinggang dan berteriak, “RAMAAAA... “


Tanpa berbalik badan, aku tahu Rama langsung masuk lagi ke kamarnya karena aku mendengar suara gebrakan pintu tertutup.


Aku membuang napas panjang. Merogoh saku celana untuk mengambil dompet, dan aku keluarkan selembar uang berwarna merah.


“Ini. Cepat pergi sana!”


Kututup pintu, tapi baru juga aku berbalik, pintu sudah diketuk lagi.


Ujang tak beranjak dari tempatnya berdiri, dia masih menadahkan tangannya.


“Apa?”


“Kemarin Om Rama janji kasih uang dua ratus ribu.”


“Astaga, Rama... Rama.. “


Aku mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru dan aku serahkan pada Ujang. Sebelum bocah itu meminta lagi, aku segera tutup pintu.


Tok... Tok.. Tok..


Dengan menahan seluruh kesabaran, aku membukakan pintu lagi. Napasku sudah terengah-engah seperti banteng yang sedang mengamuk.


“Om, aku mau yang warna merah ,” ucap Ujang dengan polosnya.


Aku merebut lagi dua lembar uang lima puluh ribu dari tangan Ujang. Menodongkannya di depan mata bocah ingusan itu.


“Dengar ya. Ini ada dua lembar uang lima puluh ribu. Lima puluh tambah lima puluh berapa hasilnya?” kataku dengan penuh kesabaran.


Ujang menghitung dengan jemarinya.


“Seratus, Om.”


“Jadi dua lembar uang berwarna biru ini nilainya sama saja dengan selembar uang yang warna merah. Mengerti? Sudah sana pergi.”


Aku mengembalikan lagi uang ke Ujang dan membalikkan badan bocah itu agar segera pergi.


Pintu terbanting menutup, dan aku berteriak memanggil Rama. Kepalanya menyembul di balik pintu. Cengar-cengir seperti biasa.


Aku memarahi Rama habis-habisan, tapi suara ketukan pintu sekali lagi menyela pembicaraanku dengan Rama.


“Apalagi, Ujang?” raungku seraya membuka pintu.


Ternyata sosok di balik pintu adalah Alexa yang terlonjak karena teriakkanku.


“Alexa? Eh, maaf. Aku pikir tadi Ujang.”

__ADS_1


Di belakang punggungku, Rama menahan tawa seperti kambing yang sedang tersedak. Aku memutar badan dan menonjok perut adik si pawang masalah.


 


***


 


“Aku mau mengembalikan ini,” Alexa menyerahkan jas hitam milikku yang pada saat makan malam aku pinjamkan padanya.


“Sudah aku cuci, setrika, pakai pewangi dan parfum juga.”


Aku menerima jas itu, lalu kulempar asal-asalan ke sofa.


Emosiku belum reda akibat masalah si Ujang tadi. Rama kekanak-kanakan sekali, meminta bocah untuk mengirimkan bunga. Pakai janji palsu memberikan uang segala lagi.


“Balin, kenapa jasnya dibuang? Aku sudah bersusah payah supaya jas itu licin dan wangi, tapi kamu malah membuang seenaknya saja,” protes Alexa.


“Diam kamu! Itu jas milikku jadi terserah aku,” kataku ketus.


Alexa memberengut, berjalan mendekati Kirana yang sedang bermain bola karet. Suasana hatinya langsung berubah ketika sudah bermain dengan Kirana. Kembali ceria seperti biasa.


Lalu muncullah adik pawang masalah dari dalam kamar sambil terkekeh, dia menggendong tas, kedua tangannya masih memegangi perut. Entah karena kesakitan akibat tinjuku tadi atau karena sakit tertawa terus.


Rama pamit hendak pergi bersama Doni, tapi aku mengabaikannya.


Mau pergi ke lubang semut pun silahkan.


“Lempar bolanya... Lempar...” suara riang Alexa bermain bersama Kirana.


Kirana berdiri memegang bola, sedangkan Alexa mundur untuk mengambil jarak. Kemudian Kirana melempar bola itu yang tidak berhasil ditangkap oleh Alexa.


Bola itu menggelinding, berhenti tepat di tumitku.


“Balin, tolong dong ambilkan bolanya,” pinta Alexa.


Aku menendang bola itu, duduk di sofa untuk menonton Alexa bermain dengan Kirana. Segera aku mengambil ponselku dan menyalakan kamera.


Merekam dua gadis berbeda generasi itu saling melempar bola.


“Ayo, sini Kirana,” ajak Alexa.


Baik aku dan Alexa sama-sama terkejut, karena Kirana melangkahkan kakinya menuju Alexa. Hanya dua langkah dan lalu Kirana nyaris terjatuh, tapi untungnya lengan Alexa sigap menangkap Kirana.


“Itu langkah pertamanya,” ucap Alexa padaku.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Alexa bersorak, dan Kirana pun ikut tergelak menirukan Alexa bertepuk tangan.


Satu jam kemudian,


Kirana yang sudah lelah bermain, kini tertidur lelap di dalam boks bayinya.


Aku dan Alexa duduk agak berjauhan di ruang tamu. Kami saling membuang muka dan diam, meskipun sebenarnya aku ingin sekali memandang wajah cantik Alexa.


Untungnya cermin kecil yang tergantung di dinding ruang tamu dapat menolongku. Dari bayangan cermin itu, aku menatap Alexa yang tampak tengah merenung.


“Kalau dilihat-lihat...” ucap Alexa memecah kesunyian.


“Aku merasa tidak ada satu pun foto mendiang istrimu yang terpajang di rumah.”


Istriku? Oh ya, maksud Alexa mungkin Karina. Yang dia tahu aku ini kan duda. Heh, aku sendiri pun nyaris lupa dengan sandiwara yang aku ciptakan.


“Untuk apa memajang foto orang yang telah tiada. Hanya akan mengingatkan kita pada hati yang terluka.”


“Pasti istrimu itu secantik Kirana ya?” gumam Alexa pelan.


Hei, kamu pun tidak kalah cantiknya tahu.


Aku menghela napas, malas untuk mengatakan tapi mulutku sudah terlanjur berucap, “Ya, begitulah.”


“Sampai detik ini kamu masih mencintai istrimu?” tanya Alexa dengan sangat hati-hati.


Istri. Istri. Istri. Kenapa yang dia bahas istriku melulu? Aku belum punya istri. Karina itu istri orang lain.

__ADS_1


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja seperti apa sosok ibunya Kirana dan bagaimana awal kalian bertemu?”


“Ibunya Kirana dan aku berteman baik ketika masih kuliah. Setelah beberapa tahun berpisah, kami bertemu kembali, dan kemudian...."


"Menikah," ucapku bohong.


Aku melirik Alexa yang tertunduk menatap ujung kakinya. Aku tak dapat melihat bagaimana raut wajah Alexa sekarang, karena rambut ikalnya menghalangi pandanganku.


“Jangan bahas itu lagi! Karina sudah tenang di sana.”


Lalu aku beranjak ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu di dalam laci meja, kembali menghampiri Alexa, dan memberikannya benda itu.


 “Ini untukmu.”


Alexa mendongak. Tangannya mengambil benda kecil yang hampir menyerupai botol parfum.


“Pepper spray,” katanya dengan sedikit keheranan.


“Semprotkan ini ke semua mata laki-laki yang berusaha kurang ajar padamu!”


“Kalau begitu, kamu orang pertama yang akan aku semprot.”


“Apa?” tanyaku kebingungan.


“Karena kamu merampas ciuman pertamaku yang sudah aku jaga untuk calon suamiku nanti.”


Nyaris saja mataku terkena pepper spray. Namun, Alexa tidak tinggal diam. Dia ingin meraih bajuku, dan aku menghindar dengan melompat melewati sofa.


Detik berikutnya, aku dan Alexa sudah seperti anak kecil yang berlari kejar-kejaran.


Hingga akhirnya aku berhasil menahan lengan Alexa, mencoba merebut kembali botol semprotan merica dari tangannya.


Namun, dalam usahaku itu tubuh Alexa malah limbung dan aku pun terseret terjatuh di atas sofa dengan badanku menindihi Alexa.


Kami sama-sama menampilkan wajah tersentak. Tak lama, aku bangkit dan menjulurkan tangan untuk membantu Alexa berdiri.


“Aku bukan lelaki macam itu, mengerti?”


Alexa yang pipinya sudah seperti kepiting rebus hanya mengangguk. Lalu dengan muka ditundukkan, dia pamit pulang.


“Tunggu!”


Alexa yang telah berada di ambang pintu berbalik.


“Minggu depan aku akan merayakan ulang tahun Kirana yang pertama. Kamu mau ikut?”


Alexa mengangguk lagi. Masih dengan sikap yang gugup. Kemudian, dia hendak melangkah pergi tapi aku meraih tangannya.


“Kamu itu mirip sekali dengan adikku ya? Aku belum selesai bicara kamu sudah main pergi saja.”


“Kamu mau bilang apa?”


“Kita akan ke pantai. Jadi, jangan sampai salah kostum lagi.”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2