
Ketika bangun dari tidurku, aku merengkuh agar tubuh Alexa semakin rapat denganku, namun sayangnya tindakanku itu membuatnya terbangun. Dan Alexa berusaha melepaskan diri dariku.
Alexa bangun dan melangkah ke kamar mandi. Aku menunggu Alexa keluar, tapi dia lama sekali di dalam sana.
Maka aku pun ikut bangun dan mengetuk pintu kamar mandi. Satu ketukan, Alexa tidak menyahut. Dua, tiga, sampai tujuh kali aku mengetuk pintu, Alexa tidak menjawab.
“Alexa, sedang apa kamu di dalam?” tanyaku yang tidak sabar.
Kemudian pintu perlahan terbuka, dan aku mendesah begitu melihat Alexa yang diam seribu bahasa.
“Kamu masih sakit?” tanyaku.
Alexa menggeleng.
Ketika aku menarik tangannya, saat itu juga sebuah benda jatuh ke lantai kamar mandi. Tanganku bergerak cepat mengambil benda berukuran lebih kecil dari stik es krim dan ada garis dua berwarna merah di ujungnya.
“Ini apa?” tanyaku membolak-balikkan benda itu.
“Kamu tidak tahu?” Alexa balik bertanya sama herannya.
Aku menggeleng dan kini giliran Alexa yang mendesah kesal.
“Itu alat tes kehamilan,” katanya singkat.
“Terus?”
Alexa mendengus, “Garis dua itu artinya positif hamil.”
Aku terkesiap seketika itu, secara refleks aku memeluk tubuh Alexa dan tidak lupa memberinya kecupan hangat. Ada sesuatu yang mengembang di dadaku, dan membuat aku merasa bahagia.
Alexa membalas pelukanku, saat aku tertawa dan memberi kecupan lagi dan lagi.
Selang beberapa menit barulah kami saling melepas pelukan.
“Semalam aku mau memberitahumu, tapi kamu tidak memberiku kesempatan untuk bicara,” sungut Alexa.
“Kalau begitu hari ini juga kita ke dokter kandungan, dan akan aku simpan ini sebagai kenang-kenangan,” kataku sambil melangkah pergi meninggalkan Alexa yang tercengang.
“Apa? Balin, tunggu! Benda itu kan bekas... “
***
__ADS_1
Di ruang makan, kami berempat duduk melingkari meja. Makanan yang sedang aku santap terasa jauh lebih enak karena perasaan bahagiaku. Tapi sepertinya tidak bagi Alexa. Dia makan sangat sedikit dan tidak bersemangat.
Bahkan yang kini dia lakukan hanya mengaduk-aduk nasi goreng di piring. Aku melirik yang lain. Rama dan Kirana menyantap sarapannya dengan lahap. Berarti hanya Alexa saja yang tidak nafsu makan.
“Kenapa tidak dimakan? Mau aku suapi?”
Tanpa menunggu jawaban dari Alexa, aku langsung merebut sendok dari tangan istriku. Dan menyuapinya pelan-pelan.
“Papa, nanti kita jadi belajar renang, kan?” tanya Kirana.
“Iya, jadi, Nak. Setelah ini kita belajar renang. Lalu siang nanti kita ke rumah sakit mengantar Mama ke dokter,” tuturku sambil telaten menyuapi Alexa.
“Mama kenapa? Mama sakit?”
Kirana melempar pandangan khawatir ke arah Alexa yang kini menggelengkan kepala dan mendorong sendok agar menjauh dari mulutnya.
Aku meletakan sendok ke atas piring dan menatap Kirana.
“Kirana sebentar lagi akan punya adik bayi.”
Perkataanku itu membuat Rama terlonjak kaget sampai tersedak. Dia terbatuk dan segera menyambar segelas air putih.
“Serius, Kak? Kak Alexa hamil?”
“Ibu harus mendengar kabar bahagia ini. Sebentar aku mau ambil HP dulu.”
Rama meninggalkan meja makan dan berlari ke kamarnya. Entah apa yang membuat Rama tak kunjung kembali, namun saat itu juga aku melihat wajah Kirana yang datar.
Bukan sekedar datar. Melainkan dia tampak seperti murung. Menundukkan kepala dengan tatapan kosong.
Aku meraih tangan kecil itu, dan seketika Kirana mendongak memperlihatkan mata yang berkaca-kaca.
“Kirana, kenapa bersedih?” tanyaku.
“Kalau aku punya adik bayi, nanti Papa dan Mama tidak sayang aku lagi,” rengek Kirana. Satu bulir bening melintas di pipi gembilnya.
“Kata siapa?” tanya Alexa dengan suara lembut. Dia menggeser kursi untuk bisa lebih dekat dengan Kirana.
“Kata teman-teman aku,” sahut Kirana.
Dia segera menyeka pipinya yang basah dan menunduk lagi tidak berani menatapku maupun Alexa.
__ADS_1
“Semua teman aku bilang, kalau nanti aku punya adik, Papa sama Mama akan lebih sayang ke adik bayi.”
“Jangan dengarkan mereka, Kirana. Rasa sayang Mama dan Papa tidak akan berkurang meskipun adik bayi sudah lahir,” ucapku mengelus rambut Kirana.
Alexa pun menarik Kirana ke dalam dekapan, “Justru nanti akan ada tambahan satu orang lagi yang sayang sama Kirana.”
Alexa menunjuk perutnya.
“... yaitu adik bayi.”
Kirana tersenyum di dalam dekapan Alexa yang membalas dengan mengelus lengan anak itu. Saat itulah, Rama kembali bergabung dan melanjutkan makan.
Rama bercerita kalau Ibu sangat senang mendengar kabar bahagia tentang kehamilan Alexa dan juga ingin mengadakan makan bersama di rumah orang tuaku.
Kirana yang sudah menghabiskan sarapannya, menegakkan punggungnya dan mengacungkan jari meminta izin menyela pembicaraan.
“Mama belum jawab pertanyaan aku. Dari mana asalnya adik bayi?”
Aku, Alexa, dan Rama langsung membeku di tempat. Alexa meneguk minumannya sebelum akhirnya dia berbicara.
“Adik bayi itu asalnya dari....” Alexa tampak bimbang.
Dia melirikku untuk meminta pertolongan. Tapi aku membuang muka karena aku pun tidak bisa berbuat apa-apa.
“Iya, dari mana, Ma?” tanya Kirana tidak sabar.
“Dari bagian terkecil Papa ketemu dengan bagian terkecil Mama, dan jadilah adik bayi.”
Kirana memberengut sambil menatap langit-langit. Lalu melempar pertanyaan ke Rama.
“Uncle, bagian terkecil itu apa?”
Rama melengkungkan bibir membentuk senyuman menyeringai, dia membuka mulut hendak berbicara. Namun aku segera mendahuluinya.
“Kirana, saat ini bagi Kirana penjelasan dari Mama tadi mungkin susah untuk dimengerti. Tapi ketika besar nanti, Kirana pasti akan paham.”
“Oh, begitu ya? Jadi harus menunggu aku besar dulu?”
Aku dan Alexa mengangguk kompak. Berbeda dari Rama yang menghela napas karena hak bersuaranya dirampas.
“Dan satu lagi. Kalau Kirana ingin bertanya, tanyakan pada Mama atau Papa. Jangan tanya pada Uncle Rama! Karena dia penganut ajaran sesat,” kataku dengan melirik tajam pada Rama.
“Ajaran sesat?” Kirana kembali bertanya.
__ADS_1
“Sudahlah. Kirana katanya mau belajar berenang. Yuk kita siap-siap.”