
membuat permaisuri Sheila dan putra mahkota Chris terdiam mereka bingung melakukan apa sekarang. tidak mungkin protes lagi jika mereka terus memaksa kemungkinan akan ada perang antara kekaisaran barat dan kekaisaran selatan. mereka tidak mau itu terjadi karena kekuatan ke-dua nya hampir sama dan kemungkinan besar akan banyak korban yang terlibat. jika seperti itu mungkin kaisar Juna akan marah. karena kaisar Juna tidak suka jika untuk masalah yang bisa di selesaikan harus berperang dan membuat banyak korban berjatuhan. mereka tidak ingin jika kaisar Juna sampai marah kepada mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"baiklah tapi aku ingin pertunangan ini di tunda karena putra ku belum siap untuk hal seperti ini aku tidak ingin memaksa putra ku. dan ku harap kaisar Wei bisa mengerti" ucap permaisuri Sheila ada sedikit nada kekecewaan yang terdengar saat permaisuri Sheila mengucapkan kalimat tersebut.
"hmm aku mengerti" ucap kaisar Wei
"apa kah sudah? aku ada urusan yang lebih penting dari ini. apa bisa jika aku pergi terlebih dahulu ku rasa tidak ada yang membutuhkan ku lagi saat ini" ucap Amora setelah beberapa menit semua nya hening tanpa suara.
"ya silahkan" ucap kaisar Wei
setelah mendengar jawaban dari kaisar Wei Amora pun langsung pamit mengundurkan diri dari sana, dengan semua orang yang menatap kepergian Amora dengan pandangan berbeda-beda. ada tatapan marah, tatapan kebencian, tatapan permusuhan, tatapan kekecewaan, tatapan ketidak-puasan dan ada juga yang menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.
saat Amora sedang berjalan menuju kediaman nya untuk kembali tiba-tiba ada yang menarik tangan nya dari arah belakang.
__ADS_1
Amora pun berhenti dan berbalik untuk melihat siapa yang menarik tangan nya. lalu menautkan kedua alis-nya seolah-olah memberikan pertanyaan 'kenapa?'
"maaf apa bisa kita berdua berbicara sebentar?" ucap seorang pria tampan yang memegang tangan Amora tanpa niat melepaskan nya.
"berbicara tentang?" tanya Amora pada pria tersebut.
"akan aku jelaskan bisakah kita berbicara hanya sebentar saja aku janji!" ucap pria itu lagi.
"baiklah"
"apa yang ingin anda bicarakan putra mahkota Marchelino?" tanya Amora pada pria di hadapan nya yang tak lain adalah putra mahkota Marchelino kakak dari putri mahkota Mora.
mendengar kalimat Amora yang menggunakan kata 'anda' untuk menyebut diri nya seolah ia di anggap putra mahkota dan bukan sebagai kakak membuat hati nya tercubit akan hal itu.
putra mahkota Marchelino meraih kedua tangan Amora dan di genggam dengan erat "maaf, maafkan aku" ucap putra mahkota Marchelino yang menunduk tidak berani menatap mata tajam Amora yang seakan dapat membunuh nya kapan saja.
__ADS_1
"maaf untuk?" tanya Amora
"untuk semua kesalahan ku pada mu. aku tau kesalahan ku sangat besar dan mungkin kau tak bisa memaafkan ku. bisakah aku di beri kesempatan untuk memperbaiki semua nya?" ucap putra mahkota Marchelino.
sedikit kaget saat tiba-tiba putra mahkota Marchelino menggenggam tangan nya dan meminta maaf pada nya. namun ia mengerti maksud putra mahkota Marchelino saat mendengar penjelasan itu.
"saya pikir putra mahkota Marchelino tidak ada kesalahan jadi tidak ada yang di maafkan lagi pula saya saja yang salah karena telah lahir di dunia. memang seharusnya aku yang di salahkan karena telah terlahir di dunia" ucap Amora dengan tersenyum yang mana membuat hati putra mahkota Marchelino berdenyut nyeri mendengar kalimat yang di ucapkan Amora apalagi Amora tersenyum saat mengatakan hal tersebut seolah-olah itu sudah biasa.
"aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki nya. aku tau aku sangat salah dan sangat terlambat untuk ini. bisa kah kau memaafkan ku dan memberikan ku kesempatan. sekali saja jika aku menyakiti hati mu lagi aku akan menyerah. aku mohon" ucap putra mahkota Marchelino yang masih terus memohon pada Amora berharap akan di maafkan dan di beri kesempatan namun semua nya salah.
"mohon maaf putra mahkota saya rasa untuk pertanyaan itu anda sendiri yang menjawab nya. tanyakan pada diri anda apa bisa atau tidak. terserah apapun itu tapi saya tak punya banyak waktu sekarang untuk hal yang tidak penting. aku pamit undur diri" ucap Amora yang meninggalkan putra mahkota Marchelino tanpa menunggu jawaban.
sedangkan putra mahkota Marchelino masih terdiam di tempat nya mencerna semua kata-kata yang Amora ucapkan matanya menatap kosong ke arah kepergian Amora yang semakin jauh. adik nya yang dulu ia abaikan dan tidak di pedulikan sudah berbeda. ia merasa bahwa semakin ia dekati maka adik nya akan semakin menjauh. membuat nya bingung harus bagaimana. apakah tetap untuk memperbaiki semua nya atau menyerah saja?
...****************...
__ADS_1
_To Be Continued_