Pembalasan Mafia Dari Masa Depan

Pembalasan Mafia Dari Masa Depan
episode 56


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"yang mulia merasakannya juga bukan? itulah mengapa aku sangat khawatir pada yang mulia saat mendengar yang mulia di rawat oleh putri Mora." ucap selir Riu


selir Riu terus mencoba memprovokasi kaisar Wei agar percaya dengan ucapan nya. kaisar Wei sendiri masih diam tak menyahut ia bingung apa benar yang di ucapkan selir Riu adalah kebenaran. lalu mengapa saat ini tubuh nya tidak merasa kan dan malah semakin membaik saat di rawat putri Mora daripada para pelayan di istananya. tapi ia juga bingung dengan sikap putri Mora yang berubah hangat dan menatap nya tanpa adanya kebencian. hal itu membuat Kaisar Wei ragu.


"tapi aku tidak merasakan nya. tubuh ku malah merasa lebih baik dan terus membaik setiap hari jika di bandingkan dengan di rawat dengan pelayan atau tabib istana" ucap kaisar Wei yang merasa linglung ia bingung ingin mempercayai siapa.


belum sempat membuat keputusan namun pintu depan terbuka memperlihatkan putra mahkota Marchelino dan pangeran Ian yang melihat ke arahnya dengan tatapan bertanya.


"ayah apa yang terjadi? aku mendengar bahwa putri Mora di bawa ke tahanan apa yang terjadi?" tanya putra mahkota Marchelino.


"apa? apa putri Mora benar-benar di tangkap?" tanya kaisar Wei dengan sedikit terkejut karena tidak tahu bahwa putri nya di bawa. lalu kaisar Wei menoleh ke arah selir Riu seperti menanyakan 'apakah itu benar?' .


"dia memang seharusnya di tangkap dan di hukum bukti nya sudah jelas ada di tempat tidur nya dan yang memeriksanya juga bukan hanya aku saja" ucap selir Riu yang mencoba menjelaskan dengan versi nya sendiri.


"itu tidak mungkin! jika benar putri Mora meracuni ayah, lalu kenapa selama di rawat oleh nya ayah baik-baik saja dan malah semakin membaik dari sebelumnya" ucap putra mahkota Marchelino yang tetap tidak mempercayai apa yang di katakan ibu tirinya itu.

__ADS_1


"ya. jika benar seharusnya kondisi ayah semakin buruk bukan membaik" ucap pangeran Ian yang sependapat dengan putra mahkota Marchelino.


sial seperti nya setan kecil itu sudah membuat mereka bertiga mempercayai nya


batin selir Riu berteriak kesal.


"jika kalian tidak mempercayai ucapan ku tidak apa-apa mungkin sekarang kalian lebih mempercayai dia. tapi kalian juga harus melihat nya. bagaimana jika kita memeriksanya secara langsung?" ucap selir Riu ia yakin dengan begini mungkin bisa membuat mereka bertiga. walau ia takut apa yang di rencanakan nya gagal.


kaisar Wei, putra mahkota Marchelino dan pangeran Ian saling tatap agak ragu untuk mengiyakan ajakan selir Riu. tapi mereka juga penasaran dengan hal ini. membuat nya bingung harus kah mereka mempercayai selir Riu atau tetap mempercayai putri Mora. selir Riu sudah sangat baik bagi mereka karena selalu merawat mereka dengan kasih sayang. hanya akhir-akhir ini saja mereka melihat selir Riu membuat keributan. tapi di sisi lain mereka juga sangat menyayangi putri mahkota Mora apalagi dia sudah mau merawat kaisar Wei saat sakit.


setelah sekian lama diam dan saling tatap mereka pun pasrah dan menghela nafas. daripada menduga apa yang akan terjadi mungkin sebaiknya mereka harus melihat sendiri. mereka bertiga pun mengangguk.


"tidak perlu, belakangan ini aku sudah mencoba berlatih berdiri dan berjalan. aku akan berjalan sambil mencoba, mungkin akan jatuh beberapa kali" ucap kaisar Wei.


mereka berempat pun keluar dari kediaman putri mahkota Mora dan berjalan ke aula istana tempat itu sudah sangat ramai dengan para pelayan dan pengawal yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. dan ingin mengetahui hasil tes nya. sementara Amora sedang duduk dengan tangan dan kaki di ikat penampilan nya agak berantakan namun tidak menutupi kecantikan yang ia miliki.


para pelayan dan pengawal berbisik-bisik satu sama lain. membicarakan Amora yang di duga melakukan percobaan pembunuhan pada kaisar Wei. tak sedikit orang yang mempercayai nya namun banyak juga yang membenarkan dugaan tersebut. itulah manusia terkadang merasa benar sehingga membuat mereka selalu berekspektasi tanpa tahu kebenaran nya.

__ADS_1


saat mereka berempat sampai mereka langsung duduk di kursi yang sudah ada khusus untuk mereka. mereka melihat sekeliling dengan wajah yang sedikit gelisah dan tak tenang. tiba-tiba Kasim istana datang dan membacakan isi kertas yang di pegang nya.


"PENYELIDIKAN YANG DI LAKUKAN ATAS DUGAAN PERCOBAAN PEMBUNUHAN PADA YANG MULIA KAISAR WEI OLEH PUTRI MAHKOTA MORA TERBUKTI BENAR. DENGAN DI TEMUKAN NYA BOTOL RACUN DI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA DAN ADANYA SAKSI YANG MENGAKU BAHWA IA PERNAH MELIHAT PUTRI MAHKOTA SEDANG BERBICARA DENGAN SESEORANG YANG MENCURIGAKAN YANG MEMBAWA BANYAK BARANG DARI ARAH TEMPAT PENYIMPANAN BARANG BERHARGA ISTANA" ucap Kasim istana tersebut dengan lantang dan tegas seolah tidak ada keraguan di dalamnya.


selir Riu langsung tersenyum mendengar hal itu, namun berbeda dengan kaisar Wei, putra mahkota Marchelino dan pangeran Ian yang terdiam mencerna setiap kata yang baru saja di ucapkan oleh Kasim tadi. namun otak dan hati mereka seakan enggan untuk mempercayai hal tersebut padahal bukti nya sudah ada, dan juga memang belakangan ini ada beberapa barang dari tempat penyimpanan yang di nyatakan hilang. berbeda lagi dengan Amora ia terlihat santai dengan walaupun banyak pasang mata yang menatap ke arahnya seakan-akan mengimintidasi.


"Mora apakah yang di ucapkan Kasim itu benar?" tanya kaisar Wei yang mencoba bertanya pada Amora mungkin ini hanya jebakan saja dan kaisar Wei berharap Amora mengelak.


"racun tersebut memang benar ada di kediaman ku dan yang saksi lihat juga benar" ucap Amora yang tidak ada takut-takut nya.


kaisar Wei kecewa dengan jawaban Amora. ia berharap Amora akan membela diri nya sendiri dengan begitu ia juga tidak akan menghukum nya di depan banyak orang.


"yang mulia dengar? dia sendiri yang mengatakan nya sudah seharusnya ia di hukum karena perbuatannya. bukankah dia akan mendapat hukuman mati atau pengasingan untuk selamanya?" ucap selir Riu yang senang dengan jawaban Amora. yang dapat memperlancar rencananya dengan begini ia yakin Amora akan di hukum mati atas perbuatannya.


"kenapa aku harus di hukum? memang nya aku salah?" tanya Amora dengan wajah polosnya. "tentu saja. kau sudah mencoba untuk membunuh yang mulia kaisar maka hukuman yang paling pantas adalah mati bukan?" ucap selir Riu yang tersenyum miring.


...****************...

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2