
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"adik kau tahu sekarang hubungan ayah dengan selir Riu dan putri Raina sedang renggang dan tidak mungkin jika ayah meminta mereka. saat ini yang di butuhkan ayah hanya diri mu. aku mohon mengerti lah posisi ayah kali ini" ucap orang itu.
Amora pun berbalik menatap orang itu.
"putra mahkota Marchelino yang terhormat seharusnya kau bisa bijak dalam hal ini, jika saat ini hubungan mereka renggang seharusnya selir Riu dan putri Raina tetap datang mau bagaimana pun rasa benci nya harusnya ada rasa simpati bukan? dan lagipula anak kaisar Wei bukan hanya aku saja. ada diri mu dan pangeran Ian serta yang lainnya jika ia juga mempunyai nya. dan kau bilang tadi apa? ..."
"mengerti posisi ayahmu? kau lupa di saat aku hampir mati pun tidak ada yang datang dan mengerti posisi ku. lalu sekarang setelah semua yang terjadi kalian memungut sampah yang kalian buang hanya karena merasa itu semua benar. kau akan menjadi kaisar berikut nya seharusnya kau bisa bijak bukan hanya urusan kekaisaran tapi juga kehidupan mu sendiri" ucap Amora panjang lebar dengan sedikit terkekeh sinis pada orang yang tak lain adalah putra mahkota Marchelino.
sedangkan putra mahkota Marchelino terdiam bungkam dan kehabisan kata-kata lagi karena semua yang di ucapkan Amora memang benar kenyataan nya.
tapi ia juga tidak boleh menyerah ini permintaan ayah nya yang memang saat ini sedang sakit. ia sangat prihatin melihat ayahnya terbaring lemah dan setiap saat menanyakan putri nya yang selama ini tidak di perhatikan oleh ayah nya dan diri nya sendiri.
__ADS_1
"kenapa? tidak bisa menjawab bukan? lain kali jangan datang pada ku jika bukan hal yang tidak penting seperti ini" ucap Amora dan kembali berjalan lagi namun tiba-tiba tangan nya di cekal oleh putra mahkota Marchelino.
"aku mohon kali ini saja aku meminta tolong untuk mendatangi dan menemani ayah. ayah sedang sakit dan yang di butuhkan sekarang hanya kau. ayah tidak ingin makan jika tidak ada diri mu. tolong bantu ayah kali ini saja" ucap putra mahkota Marchelino dengan tatapan sendu dan memelas.
"tap-"
"Amora aku mohon bantu ayahku. aku tidak ingin melihat ia sakit" ucapan Amora menggantung saat Amora mendengar suara di dalam hati nya.
"kau gila? mereka telah membuang mu menelantarkan mu bahkan tidak ada yang peduli pada mu saat kau sakit bahkan sampai diri mu harus merasakan kematian tragis itu tidak ada yang datang pada mu. sekarang kau meminta ku untuk membantu ayah mu yang bre*gsek itu? aku tidak sudi melakukan nya" ucap Amora dalam hati membalas perkataan yang ia yakini adalah putri mahkota Mora asli.
"jika ia menyayangi mu seharusnya ia lebih membela mu dan marah saat mereka merendahkan mu bukan nya ikut terhasut" ucap Amora dengan nada kesal ia masih tidak ingin memaafkan mereka.
"tidak apa-apa jika memang tidak ada yang menyayangi ku tapi aku tetap ingin melihat mereka semua bahagia dan sehat. itu sudah membuat ku senang"
__ADS_1
"ck. kau sangat plin-plan jika kau membenci orang-orang yang merendahkan mu kau juga harus bisa untuk tidak merasa kasihan degan mereka walaupun mereka juga keluarga mu"
"tapi aku akan merasa lebih sedih lagi jika aku melihat mereka menderita dan sakit. aku tidak ingin itu terjadi pada mereka bagaimana pun mereka juga masih keluarga ku"
"baiklah terserah diri mu saja" ucap Amora yang akhirnya pasrah.
"baiklah kali ini saja aku akan membantu ayah mu" ucap Amora pada putra mahkota Marchelino. dan putra mahkota Marchelino yang mendengar nya bernafas lega ia bisa membawa Amora di hadapan kaisar Wei dan berharap dengan kedatangan Amora kaisar Wei bisa bertahan dan mempunyai semangat untuk sehat kembali.
"terimakasih! terimakasih. ayah akan senang mendengar nya" ucap putra mahkota Marchelino yang sangat senang permintaan nya di turuti. dan Amora hanya menjawab dengan berdehem saja.
"hmm"
mereka berdua pun berjalan bersama beriringan namun suasana di sana masih tetap dingin karena Amora tidak merubah ekspresi wajah nya yang datar itu. namun tetap saja walau Amora berwajah datar dan tatapan nya dingin Amora masih tetap terlihat cantik di lihat dari sisi mana pun.
__ADS_1
...****************...
_To Be Continued_