
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
langkah Amora pun berhenti melihat pria itu memasuki sebuah bangunan tinggi dan megah walau besarnya lebih kecil dari kerajaan kekaisaran selatan namun bangunan ini paling besar dari bangunan-bangunan yang ada di sekitar nya. Amora melihat papan nama yang ada di sana. tertulis 'kediaman gubernur Qian lu' dengan tulisan yang besar yang dapat di baca oleh orang dari jarak 2 meter.
Amora mengingat kembali apakah ada hubungan gubernur Qian lu dengan semua ini. jika di ingat-ingat lagi putri mahkota Mora tidak punya hubungan apapun, putra mahkota Marchelino seperti nya juga tidak, jika pangeran Ian ia terlalu tertutup jadi tidak mungkin. apa mungkin semua nya berhubungan dengan kaisar Wei? ia harus menanyakan nya secar langsung pada kaisar Wei, tapi bukankah itu berarti diri nya harus mempunyai hubungan yang baik dengan orang tua itu?
Baiklah mungkin Amora harus bisa melupakan masa lalu nya. tapi apakah putri mahkota Mora akan memaafkan ayah nya itu? mungkin iya.
Amora pun diam-diam masuk ke dalam dan mengamati sekitar. di sana suasana nya hampir sama dengan kerajaan. semua nya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Amora melihat pelayan di sana langsung membekap nya dengan obat bius sehingga pelayan itu tak sadarkan diri. ia pun mengganti pakaian nya dengan pakaian miliknya, lalu mengubah sedikit penampilan nya menjadi sedikit mirip dengan pelayan itu. kemudian ia pun masuk lebih dalam ke sana dan terus melihat sekeliling dan melupakan kemana pria yang ia buntuti itu pergi.
"hei! jangan diam saja cepat bekerja kembali! ini bawa minuman ini keruang kerja tuan besar" teriak seorang pelayan yang memerintahkan Amora untuk membawa nampan yang di atasnya terdapat minuman.
"maaf tapi aku lupa di mana ruang kerja tuan besar bisakah kau memberitahu ku? aku akan cepat mengerti dan hafal setelah ini" ucap Amora yang berakting seperti pelayan biasa walau sedikit geram karena seenaknya ada yang memerintah kan diri nya.
"haiiis kau ini memang pelupa. kau naik ke lantai atas dengan tangga sebelah kanan kemudian lurus saja dan berhenti di pintu paling ujung kiri yang berukiran burung gagak. di sana ada namanya. sudah cepat sana" ucap pelayan wanita tersebut.
__ADS_1
"baik terimakasih" ucap Amora
lalu Amora pun mulai berjalan sesuai arahan dari pelayan tadi saat sudah berada di lorong kedua di sana sangat sepi seperti tidak ada penghuni namun banyak sekali ruangan yang ada di sini. Amora terus berjalan sampai langkahnya berhenti di depan pintu dengan ukiran gagak itu. ia ingin mengetuk pintu namun di urungakan karena sayup-sayup telinga nya mendengar dua orang pria tengah berbicara.
"kaisar tua itu sekarang pasti tengah merasakan kesakitan di tubuhnya, dan sebentar lagi dia akan mati. dengan begitu kita dapat lebih mudah mengambil posisinya" ucap seorang pria paruh baya yang mungkin usia nya hampir sama dengan kaisar Wei menurut Amora.
"tapi bagaimana dengan putri nya itu. dia sekarang sangat susah untuk di kendalikan" ucap pria yang satunya lagi yang kemungkinan usianya seperti putra mahkota Marchelino.
"kita lenyapkan saja. lagipula dia juga tidak berguna sama sekali. toh nanti kita juga yang mengambil alih kerajaan" ucap pria paruh baya tadi
"tentu saja aku kan keturunan ayah. hal seperti itu sangat kecil bagi ku. tidak ada yang bisa menahan pesona ku bahkan wanita-wanita mengantri untuk ku"
"ya kau pemenang nya. sekarang kita akan menikmati waktu sebelum masa kemenangan itu tiba"
setiap kata yang terdengar Amora cerna kembali hingga akhirnya ia mengerti. tapi kenapa gubernur Qian lu ingin merebut posisi kaisar bukankah selama ini ia gubernur dan pemegang wilayah paling besar di kekaisaran selatan. ia akan menyuruh seseorang untuk terus memata-matai mereka.
__ADS_1
tok ... tok ... tok
Amora mengetuk pintu lalu membuka nya perlahan ia penasaran wajah kedua orang pria yang mempunyai ambisi untuk pengambilan posisi kaisar. mereka bahkan tidak bersyukur dengan apa yang mereka punya sekarang.
"saya membuatkan minuman ini untuk tuan. silahkan di nikmati" ucap Amora yang mengganti cara berbicara dan suaranya agar lebih berbeda.
"kenapa kau lama sekali!" sentak gubernur Qian lu pada Amora.
"maaf tuan saat tiba di sini saya tidak sengaja menumpahkan sedikit minuman nya jadi saya membersihkan nya terlebih dahulu" ucap Amora
"sudahlah ayah tidak perlu marah bukankah kita seharusnya merayakan kemenangan kita. bagaimana kalau kita bersenang-senang" ucap pemuda yang menurut pemikiran Amora dia adalah anak dari gubernur Qian lu.
"baiklah kali ini aku lepaskan kau. pergilah sebelum aku berubah pikiran" ucap gubernur Qian lu
...****************...
__ADS_1
_To Be Continued_