
Jam kerjapun usai, Rena berencana untuk memeriksakan kehamilannya itu ke rumah sakit agar lebih meyakinkan dan dia juga ingin tau bagaimana kondisinya.
Seperti biasa Rena menggunakan jasa transportasi online, begitu tiba di loby, taksi yang dipesan Rena sudah tiba. Dia langsung naik dan mobil menuju ke alamat yang tertera di aplikasi.
Tanpa Rena sadari bahwa ternyata Asgar terus mengawasi apa yang dilakukan oleh Rena, hingga mobil yang ditumpangi oleh Rena berhenti di sebuah rumah sakit.
Asgar semakin yakin bahwa Rena tidak dalam keadaan baik-baik saja, Asgar terus memantau pergerakan Rena, tapi yang membuat bingung adalah. Rena berhenti dan mendaftar pada bagian poli kandungan.
Asgar dengan sabar tetap menunggu, hingga 2 jam kemudian Rena nampak keluar dari ruangan dokter kandungan. Setelah kepergian Rena, Asgar menghampiri dokter itu untuk bertanya.
"Maaf dok. Sebenarnya ada masalah apa dengan wanita yang tadi?" tanya Asgar pada dokter kandungan yang berjenis kelamin wanita itu.
"Wanita yang mana?"
"Wanita yang baru saja keluar."
"Maaf pak, tapi kami tidak bisa memberitahukan kondisi pasien ke sembarang orang." ucap dokter wanita itu ramah.
Asgar menghela nafas.
"Begini dokter, sebenarnya wanita itu atau ibu Rena tadi itu adalah istri saya. Dia sedang merajuk pada saya, makanya dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sendirian." ucap Asgar berbohong.
Dokter itu tersenyum.
"Biasalah pak, namanya juga ibu hamil jadi bawaannya lebih sensitif."
"Apa?, hamil." Asgar terkejut.
"Iya pak, memangnya bapak belum tau?"
"Belum dok."
"Ibu Rena itu sedang hamil berusia 10 Minggu, kondisi janinnya bagus hanya saja sepertinya ibu Rena sedikit mengalami stress."
"Stress!, oh mungkin itu karena saya pernah ngomong sama istri saya kalau dia sudah hamil saya tidak mengijinkan dia buat kerja." kilah Asgar memberi alasan.
"Iya pak. Kalau bisa, istrinya jangan sampai stress, dan bapak juga jangan kaget kalau nanti liat istrinya tidak seperti biasanya karena memang kadang hormon ibu hamil mempengaruhi tingkat sensitivitas dan kebiasaan si ibu."
"Baik, terima kasih dok."
Setelah dokter itu pergi, Asgar lalu kembali ke apartemen yang dulu ditempati oleh Roby. Asgar sangat terkejut dengan berita yang baru saja dia dengar.
Jadi Rena hamil, lalu anak siapa yang di kandung oleh Rena?. Apa itu anak Roby?, kalau begitu, apa Roby sudah tau tentang hal ini.
Tapi apa mungkin itu anak orang lain, Apa Rena pernah dekat dengan pria lain?. Pemikiran itu terus saja berkeliaran di kepala Asgar selama dia di perjalanan.
Setelah tiba di apartemennya, Asgar langsung mencoba menghubungi Roby. Namun Roby tidak langsung menjawab panggilan itu, butuh beberapa saat Asgar menunggu jawaban itu.
"Hallo, ada apa?" tanya Roby to the point.
"Aku mau memberi tau kabar yang sangat mengejutkan."
"Apa itu?"
"Rena hamil."
__ADS_1
"Apa?, kamu gak bercanda kan!"
"Buat apa aku bercanda!"
"Dari mana kamu tau kalau Rena sedang hamil?"
"Aku mengikutinya ke rumah sakit, dan aku bertanya pada dokter yang tadi menanganinya."
"Terus, bagaimana kondisinya?, apa dia baik-baik saja?" tanya Roby khawatir, entah kenapa dia merasa cemas pada keadaan Rena. Roby tau pasti saat ini Rena sedang tidak baik-baik saja.
"Janinnya bagus, tapi dokter bilang Rena sedikit mengalami Stress. Itu bisa membahayakan janin yang dia kandung."
"Stress!!!"
"Iya, stress. Apa Rena sedang hamil anakmu?" tanya Asgar to the point.
"Aku gak tau, terima kasih atas infonya." Roby memutuskan panggilan itu sepihak.
Setelah panggilan itu terputus, Roby langsung mencoba menghubungi nomor Rena, tapi ternyata nomor yang dia tuju tidak aktif.
Roby terus mencoba berkali-kali menghubungi nomor Rena, namun hasilnya sama saja. Roby bingung, apa yang harus dia lakukan. Dia sangat yakin kalau Rena sedang mengandung darah dagingnya.
Ingin rasanya Roby terbang ke Indonesia dan menemui Rena untuk mengetahui kepastiannya, Roby yakin yang di katakan Asgar tadi adalah Rena stress memikirkan nasibnya yang hamil tanpa didampingi oleh suaminya atau orang yang sangat dia butuhkan.
"Apa aku harus kesana?, tapi bila aku kesana rencanaku akan berantakan. Aku mau segera menyelesaikan masalah disini dan segera kembali ke Indonesia untuk menemui Rena dan hidup bersama keluarga kecilku." ucap Roby bermonolog.
"Aaargghh, kenapa semua harus terjadi disaat seperti ini?. Maaf Rena, bersabarlah. Aku pasti kembali padamu dan berkumpul dengan keluarga kita." Roby menjambak rambutnya frustasi.
Sedangkan di tempat lain
Setelah Rena mengetahui kepastian hasil pemeriksaan tadi, Rena kembali ke rumah dengan sejuta pikiran.
"Inget Rena, kamu gak boleh stress. Itu bisa berakibat fatal sama kandunganmu, sekarang intinya adalah nikmati saja apa yang terjadi sekarang. Syukuri apapun yang digariskan Tuhan buat kamu, kamu pasti bisa, kamu adalah wanita kuat. Ya kamu harus kuat buat anak kamu, kalau bukan kamu sendiri siapa lagi!" Rena menyemangati dirinya sendiri.
Kini dia telah memantapkan hati dan dia sudah tau apa yang harus dia lakukan sekarang. Rena mengeluarkan koper dan merapikan pakaian dan barang-barangnya.
Setelah itu dia membersihkan dirinya dan beranjak untuk tidur, dia harus punya banyak tenaga untuk menyambut hari baru esok.
Keesokan paginya
Asgar yang telah datang di kantor, tidak melihat Rena di meja kerjanya.
Karena penasaran, diapun bertanya pada Morens saat masuk ke ruangannya untuk memberikan berkas untuk meeting nanti.
"Maaf bos, apa Rena gak datang hari ini? tanya Asgar pada Morens.
" Oh,,, dia izin hari ini. Dia bilang gak enak badan." kilah Morens, dia teringat akan ucapan Rena kemarin yang memintanya tidak memberi tahu perihal pengunduran dirinya pada siapapun.
"Oh, kalau begitu saya permisi. Meeting dimulai 15 menit lagi bos."
"Ok."
"Aku harus ke rumah Rena nanti sore, aku harus pastiin kalau dia baik-baik saja." batin Asgar.
Sedangkan disana, Rena sudah tiba di kota L. Dia tidak mungkin pergi Ke kota S, karena dia khawatir akan bertemu dengan orang yang dia kenal.
__ADS_1
Dengan berbekal uang tabungan dan uang pesangon yang terbilang sangat besar, Rena bertekad untuk memulai hidup baru disana, dia dan anaknya.
Rena sudah mendapatkan sebuah rumah kecil untuk dia tempati, dan dia berencana untuk membuka sebuah rumah makan disana. Dengan berbekal keahliannya memasak, Rena akan mencoba peruntungan dalam dunia bisnis kuliner.
Rena sudah mengubur semua kenangan pahitnya kemarin, kini dia sangat bersemangat menjalani hidupnya dengan semua yang serba baru.
Bahkan dia sudah mengganti ponsel dan juga nomornya, karena dia tau suatu hari Roby akan mencarinya dan dia tidak mau itu. Rena bahkan memperkenalkan dirinya sebagai Rere disana.
Sore harinya di gedung RENS CORP.
Begitu jam kerja usai, Asgar langsung menuju ke rumah Rena.
Dia mengetuk pintu rumah itu berkali-kali, namun tidak ada Jawaban.
Asgar makin cemas, dia takut terjadi sesuatu pada Rena di dalam. Dia kembali mencoba mengetuk pintu lagi, namun kali ini dengan lebih keras, berharap ada jawaban dari sana.
Bukannya Rena yang membuka pintu, tapi seorang wanita paruh baya menghampiri Asgar dan bertanya padanya.
"Maaf, mas cari siapa?" tanya wanita itu.
"Oh iya Bu, saya cari Rena."
"Oh Rena sudah pergi dari tadi pagi."
"Pergi!, maksudnya pergi keluar rumah gitu!"
"Gak mas, dia udah pindah rumah."
"Apa?, pindah."
"Iya, dia bilang mau pulang ke kampung."
"Ibu tau dimana kampungnya?"
"Enggak."
"Ya udah makasih Bu."
"Sama-sama."
Setelah kepergian wanita tua tadi, Asgar langsung menghubungi Roby. Namun ponsel Roby sedang tidak dalam jangkauan.
Jadi Asgar mengirimkan pesan pada Roby, berharap jika nomor ponsel Roby sudah aktif lagi dia akan membaca pesan yang dikirim olehnya.
(Asgar MBF) : Rena Menghilang, dia sudah pergi.
......................
......................
Maaf baru sempat update, karena aku sudah mulai kembali ke aktivitas semula dalam mengumpulkan pundi-pundi berlian.
Jadi aku harus menyusun ulang jadwal ku agar semua masih bisa tercover. Keluarga Ok, kerja Ok, Nulis Ok, Bobo Ok 😆😆.
Jangan lupa udah awal Minggu ini, VOTE VOTE VOTE dan Hadiah hadiah hadiah. Biar aku ngegas nih updatenya.
__ADS_1
Next
👏👏👏