Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Kejujuran yang membawa sengsara


__ADS_3

Setelah bergelut dengan hati dan pikirannya, akhirnya Rena memutuskan untuk bertemu dengan Boy. Rena ingin menjelaskan kepada Boy semuanya tanpa ada yang ditutupi lagi, Rena ingin menyelesaikan semua permasalahan yang telah melibatkan orang yang tidak bersalah yaitu Boy.


Waktu sudah menunjukan pukul 11 siang, dan kini Rena tengah bersiap-siap. Rena menitipkan Kafka kepada Bu Rika ARTnya.


"Bu Rik, saya titip Kafka ya."


"Iya neng."


Sebelum itu Rena ingin memberi tau Roby bahwa dia akan bertemu dengan Boy, Rena tidak ingin Roby salah paham dan menimbulkan masalah baru.


Rena mencoba menghubungi Roby, namun berkali-kali dia coba, tetap tidak ada jawaban dari sana. Rena berpikir Roby mungkin sedang meeting bersama Morens hingga Roby tidak bisa menjawab panggilan telepon darinya.


Akhirnya Rena mengirim sebuah pesan singkat pada Roby.


To Daddy's Kafka : "Dad, aku izin mau ketemu Boy. Dia bilang ada yang penting. Nanti sore aku jelasin ke kamu ya dad, aku telpon kamu tapi gak bisa-bisa. I LOVE YOU."


Kemudian Rena bergegas menuju ke resto yang di maksud, karena waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 11.30 siang.


Rena memilih untuk berjalan kaki saja, karena lokasi resto dan apartemen yang berdekatan.


Rena datang dengan menggunakan Dress berwarna peach sepanjang lutut dengan rambut yang di kuncir kuda, dan tak lupa sebuah tas kecil dan sebuah payung yang melindunginya dari panas matahari.


Boy nampak terpesona melihat rena yang sedang berjalan menghampirinya dengan tersenyum. Rena nampak seperti remaja belasan tahun, dengan tubuh yang mungil dan wajah yang imut. Rena tidak nampak seperti ibu-ibu dengan satu orang anak.


Boy tersenyum saat Rena sudah berada di hadapannya.


"Maaf ya aku telat." ucap Rena menarik kursi sambil terengah-engah, karena dia berjalan dengan sedikit terburu-buru.


"Enggak kok, akunya aja yang kecepetan datangnya." elak Boy.


"Oh syukur deh, tapi kamu udah lama disini?" Rena bertanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya seraya menghilangkan panas yang dia rasakan.


Boy tersenyum melihat tingkah polos Rena yang masih sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.


Boy mengambil sebuah tisue dan mengusap keringat yang ada di kening Rena. Rena terkejut dan refleks menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan Boy.


Boy yang sadar kalau Rena sedang menjaga jarak, merasa tidak enak hati dan sedikit kecewa.


"Maaf gak sengaja." ucap Boy dengan menurunkan tangannya.


"Gak papa Boy."


"Oh ya kamu mau pesen apa?" tanya Boy mengalihkan suasana.

__ADS_1


"Lemon tea aja, Kayanya seger deh. Di luar panas banget soalnya." jawab Rena mencoba bersikap biasa.


"Ya udah aku pesenin ya."


Boy memanggil pesanan untuk mencatat apa saja yang akan mereka pesan. Setelah pelayan itu pergi, Boy kembali bertanya.


"Kamu jalan kaki kesini?"


"Iya."


"Kenapa gak bilang, kan bisa aku jemput."


"Gak papa, aku emang sengaja mau jalan kaki. Semenjak tinggal disini, aku belum pernah kemana-mana sendiri."


"Kenapa?"


"Roby larang aku, katanya takut aku kenapa-kenapa?" jawab Rena pelan, dia merasa tidak enak pada Boy.


"Trus sekarang Roby tau kalau kamu kesini?"


"Aku udah bilang sama dia."


Pembicaraan mereka terhenti karena pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Ya."


"Aku tau sekarang kamu kembali dekat sama Roby, tapi apa kamu tinggal bareng sama roby?"


"Iya, aku tinggal sama dia."


"Tapi kalian gak ada hubungan apa-apa, kenapa kamu mau tinggal satu atap sama dia?. Bagaimana kalau sampai ibu kamu tau kalau kalian bersama tanpa ada ikatan apapun."


cecar Boy.


Rena menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Boy.


"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu Boy, jujur aku juga susah mengambil keputusan ini. Tapi disini aku gak bisa egois, aku juga harus mikirin masa depan Kafka."


Rena menjeda ucapannya sejenak, kemudian dia melanjutkan ucapannya. "Roby sudah menunjukkan kalau sekarang dia udah berubah, dia lebih sayang dan perhatian sama aku dan Kafka. Sampai akhirnya aku..."


"Aku apa?" tanya Boy penasaran.


"Aku memutuskan untuk menerima lamaran dia buat nikahin aku, aku udah lama berpikir, emang Roby salah karena udah menghamili aku dan ninggalin aku. Tapi itu semua karena dia punya alasan tersendiri, dan disini aku juga salah. Aku gak pernah kasih dia kesempatan buat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, aku bahkan menghindar dan lari dari kenyataan."

__ADS_1


"Sekarang aku melihat kesungguhan dia buat memperbaiki semua, dan aku memberikan dia satu kesempatan lagi untuk membuktikan ucapannya."


"Tapi apa kamu cinta sama dia?" Boy bertanya dengan sedikit lesu.


"Sekali lagi aku minta maaf Boy, aku emang sempat benci sama dia, waktu dia meminta paksa sesuatu yang aku jaga dengan baik. Tapi aku juga gak bohong, kalau cinta aku masih lebih besar dari rasa benci aku. Di tambah lagi dengan adanya Kafka, aku makin gak bisa benci sama dia, walaupun aku berusaha sekeras mungkin."


Boy merasa sesak mendengar ucapan Rena, dia merasa apa yang dilakukan untuk Rena tidak pernah terlihat oleh wanita ini. Karena di sudut hatinya yang terdalam masih tertulis nama seorang Roby. Boy tersenyum kecut menertawakan dirinya sendiri.


Boy menghembuskan nafas kasar dan mengusap wajahnya.


"Aku ikut bahagia kalau akhirnya kamu bisa bahagia walaupun bukan sama aku."


"Maaf Boy." Rena menundukkan kepalanya.


"Kamu gak salah Ren, aku yang salah karena udah terlalu berharap kalau suatu saat aku bisa gantiin posisi Roby dihati kamu. Padahal kamu udah sering bilang sama aku, buat gak terlalu berharap sama kamu." Boy berucap dengan wajah yang sendu dan tersirat akan kekecewaan pada Rena.


"Boy, maaf. Aku gak maksud buat mempermainkan perasaan kamu. Aku tuh benar-benar sayang sama kamu Boy, aku tuh udah nganggep kamu sebagai kakak aku."


"Aku bahkan sampai lupa, kalau kamu cuma anggep aku sebagai kakak." Boy tertawa hambar "Aku terlena sama kedekatan kita belakangan ini."


"Boy."


"Ya udah, aku ucapin selamat buat pernikahan kamu. Semoga kalian bahagia selamanya tanpa saling menyakiti."


"Boy, aku benar-benar minta maaf. Aku berdoa kamu akan bertemu sama gadis yang lebih baik dari aku, yang sayang sama kamu dengan tulus."


"Kalau begitu aku pergi dulu, kayanya semua udah jelas, dan aku harap aku bakal ketemu kamu lagi dengan perasaan yang berbeda." Boy berdiri dan menjulurkan tangannya sebagai salam perpisahan.


Karena setelah ini Boy berniat akan kembali ke Amerika. Semoga saja disana dia bisa melupakan rasa pahitnya menunggu dalam ketidakpastian.


"Aku akan tetap sayang sama kamu Boy, my Brother. Aku berharap kamu gak lupa sama aku, sama pertemanan kita." Rena menyambut uluran tangan Boy.


"Apa kalian sudah selesai!"


...----------------...


...----------------...


Like, komen dan hadiah jangan lupa ya say.


Next


👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2