
"Boss!!!"
Roby berlari menghampiri Morens yang tertembak di dadanya, sedangkan para anak buahnya sedang berusaha untuk melumpuhkan Antony beserta anak buahnya.
Roby membopong tubuh Morens yang terluka dengan susah payah ke arah mobil dan segera membawanya ke rumah sakit ditemani dengan seorang timnya.
Sementara yang lain, masih melakukan adu tembak dengan lawan. Sebenarnya mereka sudah menawarkan untuk menyerahkan diri, tapi lawan menolak. Mau tidak mau mereka harus dilenyapkan.
Antony berlari ke arah tebing berniat ingin melarikan diri dengan cara menuruni tali yang sudah disiapkan sebelumnya, Antony sudah selesai memasang pengait pada pinggangnya yang terkait dengan tali panjang untuk menuruni tebing.
"Berhenti." ucap seorang pria pada Antony yang sudah siap meluncur.
Antony menoleh dan amenyeringai pada orang itu. "Selamat tinggal para pecundang."
"Kapten, dia menuruni tebing. Apa kami harus mengejarnya?” tanya pria tadi pada pemimpin mereka.
" Tidak perlu, lenyapkan saja mereka. " titahnya.
"Baik."
Pria tadi mengeluarkan sebuah belati yang disimpan di belakang pinggangnya, dia mulai menggesekkan belati tersebut pada tali yang digunakan oleh Antony untuk melarikan diri.
Antony merasakan tiba-tiba talinya mengendur dan dia langsung terhempas ke dasar tebing, dia merasakan kaki kanannya patah dan tangannya juga terkilir. Belum lagi dia merasakan ada yang mengalir dari arah kepalanya dan membuatnya tak sadarkan diri.
Tak lama setelah itu, 2 orang pria datang untuk mengevakuasi tubuh Antony dan membawanya ke rumah sakit untuk di visum. Sedangkan anak buahnya yang lain, sudah diamankan oleh anak buah morens dan dibawa ke markas besar kepolisian untuk di interogasi.
TKP juga sudah di sterilkan dan diberi garis polisi agar tidak ada barang bukti yang hilang.
Flashback 10 tahun yang lalu.
Yeslin Jonnasen.
Wanita berumur 23 tahun itu adalah seorang istri kedua dari seorang juru bicara di parlemen yang tak lain adalah Willard Jonassen.
Yeslin adalah yatim piatu dari seorang pengusaha sukses kala itu, Dia mendapatkan hak ahli waris dari sebuah perusahaan cargo yang terbilang cukup besar disana dan beberapa usaha menengah kebawah.
Tidak ada yang tau tentang siapa dan bagaimana wajah Yeslin, karena sebelum ayahnya wafat, Yeslin tinggal di Dubai Uni Emirat Arab dan membuka usaha butik dan resto miliknya sendiri.
Itu sebabnya Willard Jonnasen yang merupakan suaminya tidak mengetahui tentang harta kekayaan yang dimilikinya. Willard hanya tau bahwa Yeslin memiliki beberapa butik dan restoran.
Gaby Manuela yang notabene adalah teman semasa mereka masih berada di Dubai, mereka berteman baik karena Gaby sering datang ke butik milik Yeslin saat adanya pemotretan yang saat itu dirinya bekerja sebagai model disana.
Willard Jonnasen saat itu mendapat tugas dinas untuk pergi ke Uni Emirat Arab selama 3 bulan, dia menghabiskan waktu saat malam untuk berkunjung ke tempat wisata dan mencicipi kuliner disana. Hingga dia berkunjung ke resto milik Yeslin yang saat itu ada Gaby disana.
Willard senang makan di resto itu, karena ternyata pemiliknya berasal dari negara yang sama dengannya. Seiring berjalannya waktu, Willard kerap datang kesana dan secara tidak langsung dia juga sering bertemu dengan Gaby yang hampir setiap hari di waktu senggang menemani Yeslin di resto itu.
Gaby mulai tertarik dengan Willard yang mudah bergaul, ramah dan lembut dalam berbicara, karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan dirinya bercakap-cakap dengan sesopan mungkin, menjadikan Willard dikenal sebagai pria dengan Tutur kata yang baik.
Gaby berpikir Willard sering datang kesana karena ingin bertemu dengannya, pasalnya di setiap kali datang pasti yang ditanyakan lebih dulu oleh Willard pada pelayan disana adalah Gaby.
Namun apa yang dipikirkan Gaby selama ini salah, ternyata yang diincar oleh Willard adalah Yeslin. Dia menggunakan Gaby sebagai alasan untuk bisa bertemu dan dekat dengan Yeslin. Pasalnya, hampir setiap hari Gaby ada disana.
Rasa benci mulai menghampiri Gaby pada Yeslin saat Willard secara terang-terangan mendekati Yeslin dan membuat hubungan 2 wanita itu sedikit merenggang. Puncaknya adalah saat Willard menikahi Yeslin sebagai istri kedua.
Awalnya Yeslin menolak untuk dinikahi Willard setelah tau bahwa pria itu sudah berkeluarga, namun karena cinta dan ucapan Willard yang mengatakan akan berlaku adil pada keduanya, ditambah istri Willard juga memberi izin, akhirnya Yeslin mau dijadikan istri kedua.
Setelah menikah, Willard membawa Yeslin kembali ke Inggris. Yeslin memilih untuk tinggal terpisah demi menghindari pertikaian antara mereka, asalkan Willard tidak melupakan tanggung jawab atas dirinya. Yeslin juga jadi leluasa untuk mengurus usahanya yang berada di 2 negara berbeda yaitu Inggris dan Dubai.
Gaby yang tidak terima akan berita itu, menyusul mereka ke Inggris dan bertekad untuk menghancurkan pernikahan Willard dan Yeslin.
__ADS_1
Apalagi setelah Gaby tau kalau ternyata Yeslin mempunyai kekayaan yang sangat banyak peninggalan dari ayahnya.
Gaby semakin yakin untuk menghancurkan dan memiliki semua harta kekayaan milik Yeslin, dia pun memutuskan untuk mencari bala bantuan dengan masuk ke dalam klub mafia, bahkan dia rela menyerahkan kehormatannya agar memperlancar niatnya hingga dia bertemu dengan Antony.
Gaby sangat mempercayai Antony, karena berkat Antony juga dia bisa masuk kedalam anggota The Dead Owner dan mendapatkan kepercayaan tinggi. Gaby dan Antony menyusun rencana untuk melenyapkan Yeslin dan mengambinghitamkan Willard.
Namun ternyata rencana mereka tidak semulus apa yang sudah direncanakan, karena kasus kematian Yeslin saat itu di tangani oleh Deinard yang tak lain ayah Roby. Dia seorang detektif handal yang terkenal cekatan dan sangat teliti dalam menguak sebuah kasus.
Sialnya lagi, Deinard menemukan kotak rahasia dimana isinya adalah kunci dari brankas yang terletak di bank Swiss. Yang dimana isi di dalamnya adalah semua berkas dari aset yang dia miliki secara pribadi dan dari warisan ayahnya.
Kotak itu juga hanya bisa dibuka dengan menggunakan sidik jari dari Yeslin sendiri, sudah lama Gaby dan Antony mencari keberadaan kotak itu dan ternyata sudah diamankan oleh Deinard dan sampai saat ini jatuh ke tangan Roby.
Flashback off.
Di rumah sakit
Beberapa orang dokter spesialis bedah dan juga jantung tengah berjibaku untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di dada sebelah kiri yang hanya berjarak 2 cm dari jantung seorang Morens.
Mereka tengah bersusah payah untuk menyelamatkan nyawa Morens yang saat ini tengah kritis, Chintiya yang dikabarkan oleh Roby langsung bergegas pergi ke rumah sakit bersama Richard sang mertua.
Dia sengaja tidak memberi tau Mora dan Zemi tentang kondisi Morens, dia mengatakan kalau Morens sedang ada pekerjaan di luar negeri untuk waktu yang belum di tentukan.
Zemi dan Mora dititipkan pada Lexi sang nenek, Chintiya tidak mau kalau anak-anak terguncang saat mengetahui kondisi ayahnya yang sebenarnya.
Chintiya berlari menuju ke ruang IGD dimana disana.suaminya tengah bertaruh nyawa.
"Roby." panggil Chintiya panik, saat sudah berada tepat dihadapan Roby yang tengah duduk sambil tertunduk.
"Chintiya, tuan Richard." jawab Roby lesu.
"Bagaimana keadaan Morens?"
"Katakan Roby!!!" bentak Chintiya karena tidak puas dengan jawaban Roby.
"Tenang sayang, daddy yakin Morens baik-baik saja." Richard mencoba menenangkan Chintiya agar tidak membuat keributan, walaupun sebenarnya dia sendiri juga merasa was-was.
"Tapi dad..." Chintiya terisak lirih, dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai Morens....
"Percaya sama daddy, Morens pasti kuat. Kita harus berdoa untuk kesembuhannya." Richard mengusap pundak Chintiya yang kini terisak sambil bersandar di dinding, kakinya lemas tak bertenaga bahkan hanya untuk segera berdiri.
"Aku takut dad. Bagaimana nanti sama Mora dan Zemi?" Chintiya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Richard mengajak Chintiya untuk duduk.
"Chintiya, maafkan aku. Ini semua karena aku, kalau tuan Morens tidak membantuku, dia pasti masih baik-baik saja sekarang." ucap Roby lirih, dia benar-benar merasa bersalah pada Chintiya.
Roby tau perasaan Chintiya saat ini, dia juga tidak sanggup kalau sampai harus kehilangan boss gilanya itu. Namun, dibalik tingkah gilanya itu, Morens adalah sosok yang penyayang, peduli dan paling mengenal dirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Richard mencoba bijak, walaupun sebenarnya dadanya juga bergemuruh saat mendengar ucapan Roby yang mengatakan kalau semua ini karena Morens membantunya.
Roby mengangkat wajahnya sekilas melihat raut wajah tuan besarnya itu. "Jadi..."
Roby menceritakan semua permasalahan sampai kronologi kejadian yang menimpa Morens saat ini.
Richard menghela nafas "Lalu bagaimana dengan keluargamu?" tanya Richard, sedangkan Chintiya sudah tidak berselera mendengar percakapan antara Roby dan Richard.
Chintiya hanya menunduk memikirkan kondisi suaminya sambil terus berdoa dalam hati memohon kesembuhan untuk suami sekaligus ayah dari kedua anaknya.
"Mereka semua sudah selamat, ibu berada di rumah. Istri dan anak saya sekarang berada di rumah sakit ini juga untuk mendapatkan perawatan. Karena khawatir mereka mengalami syok akibat kejadian ini." jelas Roby.
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah belakang mereka, Jennie datang bersama dengan Asgar setelah mendapat kabar dari Roby. Awalnya Roby melarang Jennie untuk datang ke rumah sakit karena khawatir dengan kesehatan Jennie, tapi bukan Jennie namanya kalau tidak keras kepala.
"Roby." panggil Jennie berjalan cepat.
"Mom, kenapa kesini?"
"Aku mau melihat keadaan bossmu, biar bagaimanapun dia sudah membantu kita." ucap Jennie, lalu dia beralih menatap pada 2 orang yang duduk bersama dengan Roby.
"Chintiya,,, RI...Richard."
"Jennie!!"
"Mom kenal dengan tuan Richard!!" tanya Roby yang terkejut bahwa ternyata Jennie kenal dengan Richard.
"Apa dia?....." Jennie tak menjawab pertanyaan Roby yang di balas dengan pertanyaan.
"Tuan Richard adalah ayah dari tuan Morens."
"Astaga!!!" pekik Jennie yang tidak enak hati, kalau ternyata orang yang sedang terbaring lemah itu adalah anak dari seorang pria yang di kenal.
Richard dan Jennie dulu satu universitas, mereka dulu sempat saling memiliki perasaan. Hanya saja karena jurusan akademik mereka berbeda, Richard mengambil jurusan bisnis dan menagement sementara Jennie mengambil jurusan kedokteran membuat mereka sulit bisa bertemu dan membagi waktu untuk mencoba mendekat satu sama lain.
Setelah lulus kuliah, Richard sempat pindah ke luar daerah, sedangkan Jennie bekerja di salah satu rumah sakit dan akhirnya dia ditugaskan di Inggris dan menetap disana hingga saat ini. Dan kini mereka mempunyai keluarga yang saling terhubung.
"Aku minta maaf Rich, karena masalah keluargaku anakmu harus mengalami kejadian kaya gini. Aku benar-benar minta maaf." ucap Jennie tulus.
Richard menghela nafas "Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Mungkin memang kejadiannya harus begini sehingga aku tau bahwa Roby adalah anakmu teman lamaku sendiri."
"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf." sesal Jennie.
"Sudahlah. Roby, lebih baik kamu temani istrimu, disini biar aku yang mengawasi." titah Richard.
"Baik tuan Richard, saya permisi dulu." pamit Roby.
"Aku juga mau melihat anak dan cucuku dulu. Sekali lagi aku minta maaf."
"Iya, tidak apa-apa." jawab Richard tersenyum tipis.
Jennie menghampiri Chintiya yang terlihat melamun "Sayang, kamu haru kuat ya. Doakan yang terbaik untuk suamimu, Tante yakin Morens baik-baik saja."
Chintiya hanya mengangguk.
Setelah itu Jennie menghilang di balik lorong ruang IGD yang di pandangi oleh Richard sambil menghembuskan nafas panjang.
...----------------...
...----------------...
Part ini panjang gila Mak, 2 bab jadi 1.
1810 kata, cuma buat kalian. sebagai pengobat rindu yang kata dilan itu berat.
Emang berat sih harus ketik segitu panjang dan merelakan jariku sedikit keriting. Yang penting akak semua senang.
Awal Minggu, jangan lupa VOTE seikhlasnya. Like dan komen jangan pura-pura amnesia ya.
Makasih cinta.
Next
__ADS_1
👏👏👏