Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Penjelasan


__ADS_3

"Om, makasih ya atas bantuannya. Ternyata om baik juga ya." Resti berterima kasih pada Boy, saat mereka sudah berada di dekat rumah Resti namun masih berada di dalam mobil.


"Saya emang baik, kalau gak baik saya ada di rumah sakit dan gak bisa anter kamu kesini." ketus Boy.


"Ih, galak amat sih om. Gak ikhlas ya?, kalau gak ikhlas mending tadi biarin aja saya disana. Paling saya jadi temen tidur si brengsek itu." jawab Resti lirih.


Boy berdecak "Ck, kalau saya gak ikhlas saya gak bakal repot-repot mukul pacar kamu yang brengsek itu."


"Dia bukan pacar saya!!, lagian kenapa si om mukanya asem banget kaya cuka sebotol. Padahal om itu udah baik ganteng lagi, tapi sayang mukanya jutek." jujur Resti disertai sedikit rayuan.


Boy sedikit terpesona mendengar gombalan dari Resti, karena selama ini semua wanita yang dekat dengannya hanya memuji uangnya saja kecuali Rena.


Melihat sikap dan ucapan gadis yang bersamanya saat ini, mengingatkan dirinya akan sosok Rena si gadis polos nan baik hati. Sikap polos mereka sangat mirip, hanya saja Rena lebih pendiam sedangkan Resti terdengar lebih cerewet.


Boy menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan ingatannya tentang Rena yang sekarang sudah bahagia bersama keluarga kecilnya.


"Om.... Om. Ih si Om kok malah bengong sih, ya udah lah aku turun. Makasih atas semuanya." Resti meraih handle pintu hendak membukanya, namun Boy lebih dulu mencegahnya.


"Tunggu." Boy mencekal tangan kanan Resti.


"Kenapa?" tanya Resti malas.


"Nama kamu siapa?" Boy menatap Resti intens.


"Saya Resti."


"Oh..."


"Udah!!"

__ADS_1


Boy mengangguk lemah, dia bingung ingin berkata apa lagi. Resti melihat tangannya yang masih di cekal oleh Boy.


Melihat arah tatapan mata Resti, Boy tersadar dan langsung melepaskan cekalan tangannya. "Maaf."


Resti tidak menghiraukan ucapan Boy, dia segera turun dan berhenti sejenak hingga mobil yang tadi dia tumpangi hilang dari pandangan.


Resti berjalan gontai memasuki lahan teras rumahnya seraya menunduk, karena tidak fokus pada apa yang ada dihadapannya, Resti hampir saja menabrak seseorang yang sedari tadi berdiri diambang pintu masuk seraya memperhatikan Resti dari awal mobil Boy berhenti .


"Eh,,, teteh. Ngagetin aja, aku kira tadi manekin selamat datang." guraunya menghilangkan kegugupannya melihat tatapan tajam Rena.


"Dari mana kamu?, kok jam segini baru pulang!!. Bukannya hari ini kamu cuma ada kelas sampai jam 1 siang, kenapa sekarang baru pulang?" tanya Rena seraya melihat ponselnya yang menunjukan pukul 8.30 malam


"Itu,,, tadi aku mampir ke toko buku dulu." jawab Resti jujur.


"Trus!, mana bukunya?" tanya Rena menyelidik.


"A... Aku gak nemu buku yang aku cari." jawab Resti tergagap.


"Maaf teh, ponsel aku hilang. Trus tadi itu teman aku, dia cuma antar aku sekalian lewat." Resti tertunduk, dia tidak akan menceritakan apa yang baru saja menimpa dirinya. Resti tidak mau membuat keluarganya khawatir karena masalah yang sama.


Resti yakin, jika sampai keluarganya terutama sang ibu mengetahui bagaimana sifat Jagat yang sebenarnya, mereka pasti akan merasa kecewa. Karena selama ini yang mereka tau, Jagat adalah pemuda yang baik. Bahkan sang ibu sudah sangat mempercayakan keamanan dan keselamatan Resti pada pemuda itu.


Rena menarik nafas dalam-dalam dan panjang sebelum bicara, untuk mengendalikan emosinya saat bicara pada Resti.


"Dengar ya dek, teteh mau bicara sama kamu. Sekarang ini yang menemani ibu disini cuma kamu, jadi teteh mohon sama kamu, jaga diri dan nama baik keluarga kita.


Sekarang ini cuma kamu harapan ibu satu-satunya, teteh gak mau apa yang terjadi sama teteh terjadi juga sama kamu. Teteh cuma mau yang terbaik buat kamu dan ibu.


Andai saja ibu bersedia tinggal bersama teteh disana, teteh dan kak Roby pasti dengan senang hati membawa kalian tinggal bersama, namun sayangnya ibu menolak karena beliau sudah nyaman tinggal disini.

__ADS_1


Jadi, jangan membuat ibu kembali kecewa ya. Cukup teteh aja yang udah bikin ibu malu, teteh gak mau kamu sampai..." ucapan Rena terhenti karena dia tak sanggup melanjutkan ucapannya, dia sangat takut Resti akan mengalami hidup yang sulit seperti dirinya dulu.


Resti memeluk tubuh Rena seraya terisak bersama "Maafin Resti teh, Resti janji tidak akan mengecewakan ibu dan teteh. Aku akan belajar semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai bagus dan dapat membanggakan nama baik keluarga."


Roby yang sedari tadi melihat dan mendengar percakapan kakak beradik itu, akhirnya menampakan diri setelah sebelumnya bersembunyi dibalik pintu.


Roby berjaga-jaga karena khawatir Rena tidak dapat mengontrol emosinya saat bicara dengan Resti. Namun dia bisa bernapas lega karena yang ditakutkan ternyata tidak terjadi, bahkan Roby merasa bersyukur dan bangga atas sikap bijak yang dimiliki oleh istrinya itu, dia merasa tidak salah memilih istri.


"Udah-udah, mending kita bicara di dalam. Kasian Resti baru pulang, dia pasti capek dan lapar. Lagian gak enak kalau sampai ada tetangga yang liat." ucap Roby sambil merangkul pundak sang istri.


"Iya, kamu masuk dan istirahatlah sana. Jangan lupa makan malam dulu, jangan sampai sakit." Rena menurunkan intonasi bicaranya.


"Iya, aku ke kamar dulu ya teh, kak." pamit Resti berjalan melewati Roby dan Rena.


Setelah kepergian Resti, Roby menutup pintu dan menggandeng lengan istrinya menuju ke kamar.


"Loh, ngapain ngajak aku ke kamar?" protes Rena.


"Aku juga mau ngomelin kamu."


"Lah emang aku kenapa?"


"Kamu ngomel panjang lebar sama Resti, tapi aku malah di anggurin aja. Lain kali di apelin kek, atau di pisangin gitu." bisik mesra Roby seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Lah maksud."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


Next


👏👏👏


__ADS_2