
3 hari kemudian
Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Roby pun tiba, dia sangat senang dan sudah tidak sabar untuk mempersunting Rena sang pujaan hati.
Di sepanjang pagi, Roby terus saja tersenyum. Berbeda hal dengan Rena yang sangat terlihat gugup dan gelisah.
Resti masuk kedalam kamar dimana Rena sedang dihias.
"Teh, aduh si teteh meni geulis pisan teh." Resti takjub melihat kakaknya yang sangat nampak berbeda dari biasanya.
Rena terlihat sangat cantik dengan kebaya berwarna biru hingga membuat wajah imutnya nampak lebih imut dari usia sebenarnya.
"Bisa aja kamu neng." jawab Rena gugup.
"Jangan gugup teh, tau gak teh!. Kak Roby aduh kasep pisan, Resti jadi gemes deh pengen nyubitin pipinya." cerosos Resti mencoba menenangkan hati Rena.
Rena tidak menjawab, dia hanya tersenyum menanggapi ucapan Resti. Rena terus saja berpikir, apa ini sudah benar?. Apa menikah dengan Roby adalah keputusan yang tepat?. Rena masih saja dirundung dilemma, antara senang, takut, gelisah dan gugup.
Karena waktunya telah tiba, Bu Lasmi menjemput Rena di kamarnya. Lasmi melihat Rena yang terlihat gelisah, Lasmi paham apa yang dirasakan oleh Rena.
Pernikahan yang tiba-tiba, pasti sedikit membingungkan buat Rena.
"Kamu udah siap nak?." tanya Bu Lasmi.
"Iya bu, insya Allah." jawab Rena gugup.
"Jangan takut, ibu yakin Roby anak yang baik."
"Iya bu."
Rena keluar dengan digandeng oleh bu Lasmi, sedangkan Resti keluar dan menjaga Kafka. Rena diwakilkan oleh adik dari almarhum ayah Rena yaitu pamannya, sedangkan Roby diwakilkan oleh penghulu.
Rena duduk di sebelah Roby yang memandangnya dengan tidak berkedip, Roby merasa hari ini Rena sangat terlihat cantik.
"Kamu cantik banget hari ini." ucap Roby setengah berbisik pada Rena.
Acara dimulai dengan sangat khidmat dan berlangsung lancar, Rena menghembuskan nafas lega setelah Roby selesai mengucap ijab Kabul dengan sekali ucap.
Pernikahan mereka memang hanya dihadiri oleh beberapa orang saja, yaitu keluarga inti mereka, tokoh masyarakat dan beberapa orang tetangga dekat.
Kemudian Rena mengambil tangan Roby dan mencium punggung tangan Roby, sedangkan Roby mencium kening Rena lama dan kemudian Roby memasangkan cincin pernikahan di jari manis Rena lalu mencium tangan wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya itu.
Roby sangat senang dan masih tidak menyangka bahwa kini dia benar-benar sudah menikah dengan seorang wanita yang sangat dia cintai.
Setelah para tamu mulai berangsur pergi, Rena menghampiri sang ibu yang terlihat tengah berbicara dengan ketua RT disana dan disusul oleh Roby.
"Bu."
__ADS_1
"Iya." jawab Bu Lasmi pada Rena, kemudian dia menatap ketua RT yang bicara dengannya " Begitu saja ya pak RT, jadi nak Roby adalah keluarga kami sekarang. "
"Iya Bu Lasmi, selamat ya karena sekarang udah punya mantu. Bule lagi, mimpi apa Bu dapat mantu yang model bule kaya gini." ledek pak RT.
"Pak RT mau tau caranya!, nih bapak harus puasa 40 hari 40 malam berturut-turut." jawab Bu Lasmi dengan wajah serius.
"Kalau udah begitu dapat Bu." tanya pak RT.
"Enggak, yang ada mati malah." jawab Bu Lasmi.
"Eleh si ibu, Aya aya wae. Ya udah ah saya pamit dulu." pak RT pamit kepada mereka.
Setelah keadaan rumah sepi, Rena duduk bersujud di depan Bu Lasmi yang kini duduk di sofa.
"Bu maafin teteh ya, sekali lagi teteh minta maaf udah bikin ibu malu."
"Udah ah teh bangun, jangan kaya gini." Bu Lasmi mengangkat tubuh Rena dan menuntunnya untuk duduk di sebelahnya.
"Ibu udah maafin kamu kok, ibu cuma kecewa aja sama kamu. Tapi ibu gak boleh egois, karena sekarang bukan hanya kamu yang harus ibu pikirin, tapi juga ada cucu ganteng ibu."
"Iya Bu, Rena paham."
"Saya juga mau minta maaf sama ibu, sekaligus mengucapkan terima kasih karena ibu mau merestui pernikahan kami." timpal Roby pada Bu Lasmi.
"Iya nak, ibu cuma minta sama kamu. Tolong jaga dan sayangi dia, karena dia sekarang udah jadi tanggung jawab kamu. Kalau suatu saat kamu udah merasa gak lagi cocok sama anak ibu, tolong kembalikan dia kesini secara baik-baik."
"Ya udah sekarang kalian ganti baju dulu sana terus istirahat, biar Kafka sama ibu dan Resti."
"Iya bu." Roby berjalan dengan menggenggam tangan Rena menuju ke kamar mereka.
Setelah di dalam kamar, Roby menutup pintu dan menguncinya. Roby menghampiri Rena yang berdiri di depan jendela kamar yang biasa di tempati Rena, jendela yang menghadap tepat ke sebuah sungai kecil di belakang rumah.
Roby memeluk Rena dari belakang dan mencium pipi Rena lama.
"Ren, makasih ya. Kamu udah bersedia nikah sama aku." ucap Roby sambil mengendus ceruk leher istrinya itu.
"Hm."
Roby membalik tubuh Rena, hingga kini mereka saling berhadapan.
"Kok kamu murung sih!, kamu gak bahagia nikah sama aku?" tanya Roby sambil menatap wajah sendu Rena.
"Aku takut kamu nanti nyesel nikah sama aku." jawab Rena dengan menunduk.
Roby mengangkat wajah Rena dan menatap manik coklat milik Rena.
"Aku gak akan nyesel nikah sama kamu, karena emang ini yang aku mau. Justru aku yang takut kamu nyesel nikah sama aku, apalagi setelah semua yang udah aku lakuin ke kamu."
__ADS_1
"Gak Rob, aku udah lupain semua itu. Bener kata ibu, sekarang kita harus fokus sama Kafka dan kalau kamu udah bosen sama aku, tolong kita pisah baik-baik. Aku gak mau ada yang namanya perselingkuhan."
Roby memeluk Rena erat dan memberikan kecupan berkali-kali dipucuk kepalanya.
"Aku gak akan khianatin kamu, aku juga gak akan merasa bosen sama kamu. Asal kamu tau ya, justru aku tuh bosen kalau gak berdebat sama kamu."
"Jadi kamu mau ngajakin aku berdebat gitu!" Rena berkacak pinggang.
"Iya, tapi untuk sekarang aku mau berdebat versi yang lain." ucap Roby sambil menyeringai.
"Maksudnya?"
"Debat versi ranjang." ucap Roby berbisik di telinga Rena.
"Uh modus."
Roby terkekeh dan mulai membuka baju yang dia pakai.
"I LOVE YOU Rena."
"Me too." jawab Rena lirih
"Apa?, aku gak denger." goda Roby sambil tangannya mulai melucuti pakaian istrinya.
"Gak usah iseng, ngomong-ngomong kamu mau ngapain?" Rena tersadar saat tangan Roby sudah berhasil membuka kebaya milik Rena.
"Aku kan udah jadiin kamu, jadi aku mau test drive dulu." ucap Roby sambil menaik turunkan alisnya.
"Ah gak mau." Rena menghilangkan tangannya menutupi dadanya.
"Oh tidak bisa."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Maaf ya, Roby dan Rena tidak menggelar pesta. Karena sedang diberlakukan PPKM.
Jadi kalau yang mau undangan, tolong amplopnya via transfer aja lewat othor ya.
Untuk adegan prikitiw ntar malem ya, ini masih siang. Bocil masih pada melotot.
Next
👏👏👏
__ADS_1