Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Rencana


__ADS_3

Hari ini Rena ingin mengajak Resti untuk berjalan-jalan, kebetulan tadi pagi Chintiya menghubungi dirinya dan mengatakan ingin bertemu.


Setelah menyepakati tempat pertemuannya, kini mereka tengah bersiap-siap untuk menuju ke tempat yang telah disepakati dengan diantarkan oleh Roby.


"Mom, aku gak nunggu kamu selesai gak papa ya?. Aku mau ke tempat Asgar."


"Emangnya kenapa sama Asgar!, apa dia sakit?" tanya Rena panik, karena di Indonesia Asgar cuma mengenal Roby dan Rena.


"Enggak kok, aku cuma pengen ngobrol-ngobrol aja sama dia. Soalnya kalau di kantor gak bebas kan." Roby mengusap pipi gembul Kafka yang terombang ambing karena gerakannya yang tidak bisa diam.


"Ma ma ma ma ma." celoteh Kafka saat pipinya di tarik oleh Roby.


"Uh anak daddy udah bawel ya kaya mommy."


"Cih bawel juga tapi kamu bucin sih."


cibir Rena.


Roby terkekeh "Justru karena bibir bawel ini bikin aku kangen terus pengen nubruk." goda Roby.


"Ehhemm, Hello!!!, disini ada manusia juga loh ya. Kalau mau pada ngegombal bisa gak ditahan di rumah. Gak kasian apa sama aku sih jomblowati." omel Resti yang kesal melihat kakak dan kakak iparnya mengobral kemesraan di hadapannya. Apa mereka tidak tau kalau hal itu membuat jiwa kesendiriannya meraung-raung.


"Eh iya, lupa. Abis biasanya cuma kita berdua kan, ternyata sekarang ada penghuni lain." ledek Roby yang melihat Resti sedang cemberut lewat kaca spion.


"Kamu sih." Rena memukul lengan kiri Roby.


"Dasar bucin gak jelas, sini lah Kafka sama aku aja. Biar aku gak denger obrolan absurd kalian, ih GELAAY." Cibir Resti.


Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah mall terbesar di Jakarta.


"Mom, ntar kalau udah selesai telpon aja ya. Biar aku jemput nanti." ucap Roby berdiri mengantarkan Rena sampai di tempat parkir.


"Iya dad, hati-hati. " Rena mencium punggung tangan Roby.


"Iya, Kafka daddy pergi dulu ya. Selamat bersenang-senang. " Setelah itu Roby pergi meninggalkan mall tersebut menuju ke apartemen Asgar.


Rena menghubungi Chintiya dan bertanya dia sudah sampai atau belum. Ternyata Chintiya sudah tiba 10 menit yang lalu, dan sekarang menunggu mereka di arena bermain.


"Hai bu boss." ucap Rena mencium pipi sahabatnya itu.

__ADS_1


"Idih jangan cium-cium gue. Gua masih normal ya, gue masih doyan tongkat sakti laki gue. Biarpun mukanya udah agak keriput, tapi masih tetap ganteng dan jangan diragukan untuk urusan olah mengolah raga gue, mau itu pagi kek, siang kek, apalagi malem. Itu kalau malem ularnya bangun nyariin goa punya gue." cerocos Chintiya dengan suara yang lumayan keras, hingga beberapa orang yang ada disana menatap heran padanya.


Rena hanya menggaruk pelipis nya sambil bergumam "Gue heran, kok tuan Morens mau sih punya bini yang mulutnya kalau ngomong kaya rel kereta."


Sedangkan Resti hanya menepuk keningnya sambil menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka bahwa seorang istri dari pemilik RENS CORP berkelakuan absurd dan bermulut toa.


"Oh ini Resti ya, udah lama gak liat Tau - tau udah melebar di mana-mana. " ucap Chintiya pada Resti sambil memegang pipinya serasa gemas, karena memang dia tidak memiliki adik. Jadi dia senang mengganggu adik Rena ini.


"Melebar!!, maksudnya aku gemuk gitu?" tanya Resti heran, pasalnya teman-temannya saja menyebutnya ramping. Tapi kenapa Chintiya bilang bahwa dia melebar.


"Ya dulu kan waktu kamu ikut Rena kamu masih SMP, dan sekarang kamu udah mau kuliah. Jadi ini kamu dan ini kamu udah melebar sekarang. " tunjuk Chintiya pada bagian dada dan bo*ong Resti.


"Astaga nek, lu ya. Makin kesini makin gesrek aja." ucap Rena yang sudah kehabisan kata-kata pada sahabat sekaligus istri dari boss suaminya itu.


"Hehehe, iya nih. Virus mesum laki gue udah merasuk ke relung otak gue yang terdalam." Chintiya menjawab dengan cengengesan.


Resti hanya bisa menghela nafas dengan ucapan sahabat kakaknya itu.


"Oh ya, Mora mana?" tanya Rena yang dari tadi tidak melihat keberadaan Mora disekitar Chintiya.


"Tuh lagi ma... Oh my god." ucap Chintiya.


"Ya amplop." Resti menyaut.


Mereka semua terkejut saat melihat Mora yang dikira sedang bermain mandi bola, ternyata tengah berkelahi dengan 2 orang anak laki-laki seusianya.


"Benar-benar perpaduan antara Morens dan Chintiya. Morens yang tak mau kalah dan Chintiya yang galak." batin Rena.


...----------------...


Di apartemen Asgar.


"Gimana?, ada pergerakan dari Gaby yang mencurigakan."tanya Roby.


Asgar menghela nafas sebelum menjawab.


"Lu harus siap-siap."


"Buat apa?" Roby bingung dengan maksud dari ucapan Asgar.

__ADS_1


"Gaby udah mulai bergerak, gue sih belum tau motif dia apa, dan ada hubungan apa sama lu. Cuma gue minta lu hati-hati, karena informasi yang gue dapet Gaby kerja sama dengan salah satu kelompok dunia bawah The black eyes."


"The black eyes itu terkenal licin dan sangat lincah dalam bergerak. Bahkan mereka bekerja dengan sangat rapih yang nyaris tidak meninggalkan jejak ataupun barang bukti. Dan yang harus lu tau, ketua The black eyes adalah kakak dari ketua geng The dead owner yang lu bunuh waktu itu. "ucap Asgar menjelaskan.


"Jadi dia punya saudara kandung!, kenapa gue gak tau?, bahkan semua anggota The dead owner juga mengira bahwa ketuanya tidak punya sanak saudara." Roby berpikir bingung.


"Itulah anehnya, cuma Gaby yang mengetahui semua ini."


"Pantas aja, dia jadi tangan kanan di The dead owner. "


"Itu artinya Gaby bukan orang sembarangan, dan lu harus lebih hati-hati. " Asgar menyodorkan minuman kaleng dan rokok pada Roby.


"Iya lu bener, dan sekarang gue harus susun rencana buat ini semua."Roby mulai menghisap rokok yang diberikan oleh Asgar.


"Saran gue, mending lu ngomong sama tuan Morens. "


"Kenapa harus tuan Morens?, dia gak ada sangkut pautnya sama masalah ini. Gue juga gak mau melibatkan dia."


"Bukan begitu, maksud gue adalah, kalau lu ngomong sama tuan Morens, siapa tau dia bisa kasih solusi yang tepat buat masalah ini. Dan dari yang gue tau, kakek tuan Morens adalah seorang purnawirawan yang mempunyai cakupan luas soal prajurit perang." Asgar menyesap minuman kaleng yang dia bawa.


"Iya sih, kenapa gue bisa lupa soal itu ya. Bahwa ayah dari tuan besar Richard adalah seorang mantan prajurit tangguh yang sudah berpengalaman turun di medan perang. "


"Nah, siapa tau lu bisa dapat bantuan dari orang berpengalaman kaya beliau."


"Ok. Gue bakal diskusikan masalah ini sam tuan Morens. Thanks ya Gar, lu selalu bisa diandalkan dan selalu ada buat gue."


"Santai aja kali, kita kan friend dari jaman kuliah."Asgar menepuk pundak Roby.


"Thanks ya." Roby menjeda ucapannya "Oh ya, tolong bantu kepindahan nyokap gue kesini ya."


"Tenang aja, udah gue urus."


"You are the best. "


......................


......................


Next

__ADS_1


👏👏👏👏👏


__ADS_2