
Setelah tiba di rumah singgah Boy dan bersantai sejenak, Resti dan Rena pamit pulang dengan di antar oleh Boy. Awalnya Resti menolak untuk diantar oleh Boy, namun Boy bersikeras untuk mengantar sang kekasih sekaligus ingin berbicara dengan Resti.
Setelah melalui 30 menit perjalanan yang membosankan, akhirnya mereka tiba di depan rumah Bu Lastri. Rena yang duduk di kursi belakang sudah turun dari mobil, dan saat Resti yang duduk di sampingnya ingin turun juga, Boy menahan tangan kanan Resti agar tetap berada di dalam mobil.
"Ikut aku." ucap Boy tegas.
"Mau kemana?" Resti menjawab dengan malas.
"Ke kantor, ada yang harus aku urus."
"Kenapa aku harus ikut?" tanyanya dengan skeptis.
"Karena memang harus."
"Ya whatever."
"Ren, aku izin bawa Resti ya." ucap Boy lembut pada Rena yang sudah lebih dulu turun.
"Gak papa, tapi jangan terlalu malam. "
"Teh, aku pamit ya."
"Ya, kalian hati-hati."
Boy langsung melajukan mobilnya menuju ke arah kantor seperti yang dia katakan tadi. Begitu tiba disana, Boy hendak menggandeng tangan Resti namun Resti lebih dulu menjaga jarak darinya.
"CK." decak Boy kesal, kalau saja ini bukan di kantor dia pasti akan menggendong tubuh Resti menuju ke ruangannya.
Di sepanjang jalan, para pegawai disana terus memperhatikan Resti yang berjalan di belakang Boy dengan tatapan yang sinis dan bertanya, terutama para pegawai wanita. Mereka bertanya-tanya, siapa gerangan gadis yang berjalan bersama bos mereka ke dalam ruangannya.
Begitu masuk ke dalam ruangan Boy, Resti memperhatikan ruang yang di dominasi oleh warna coklat itu. Terlihat sangat rapih dan berkelas.
"Duduk sayang." ucap Boy dan dituruti oleh Resti.
"Bisa cepat selesaikan urusan kamu, aku capek mau istirahat." ucap Resti ketus.
Boy menarik nafas dalam-dalam melihat sikap Resti yang seperti ini. "Kamu kenapa?"
"Aku!!!, kenapa sama aku?"
__ADS_1
"Kamu diam aja dari sejak pulang dari bandara, bahkan kamu mengabaikan aku."
"Maaf, aku cuma capek."
"Kalau capek, istirahat disini aja. Aku jamin gak akan ada yang berani ganggu kamu." ucap Boy seraya mengusap rambut sebahu milik Resti.
"Gak usah, aku mau pulang aja." tolak tegas Resti.
"Aku minta maaf."
"Minta maaf buat apa?"
"Soal ucapan mommy waktu di bandara." Boy menatap intens mata Resti.
"Memang mommy ngomong apa?, aku lupa tuh tadi mommy ngomong apa."
"Sayang, jujur sama aku. Aku tau kamu sedih dengar ucapan mommy soal Rena. Aku tau mom gak ada maksud apa-apa, dia cuma asal ngomong." Boy menggenggam tangan Resti.
"Aku gak sedih soal itu, kamu tenang aja."
jawab Resti tanpa memandang wajah Boy.
"Terima kasih sayang, aku juga minta sama kamu. Tolong jangan marah sama Rena, dia juga gak salah soal ini."
"Maksud kamu apa?, tentu aja kamu punya hak untuk marah. Baik itu sama aku, ataupun Rena. Biarpun dia kakak kamu, kamu berhak marah kalau dia emang berbuat salah."
"Tapi sayangnya seperti yang kamu bilang, teteh gak salah dalam hal ini. Kamu juga pernah bilang, kalau selama ini teteh juga udah menanggung kesusahan sendiri dan menyembunyikan kesedihannya seorang diri, cuma karena dia gak mau kalau sampai ibu dan aku tau lalu iku sedih. Iya kan."
"Tapi emang itu kenyataannya sayang, Rena itu udah terlalu banyak menanggung beban saat kepergian Roby dulu."
"Kayanya kamu lebih jauh mengenal teteh dibandingkan aku, aku gak tau sampai sejauh mana hubungan kalian dulu. Aku jadi ragu, apa aku bisa melihat keakraban kalian nanti setelah kita menikah." Resti menundukan kepalanya.
"Baby, dengerin aku. Aku sama Rena itu gak ada apa-apa, kami cuma teman dari dulu sampai sekarang. Aku cuma membantu kesusahan dia saja, tapi aku emang salah karena udah masuk diantara mereka berdua dan berniat untuk merebut Rena.
Tapi sekarang rasa itu udah gak ada, sekarang aku cuma cinta dan sayang sama kamu. Aku harus bagaimana lagi, biar kamu percaya. Aku akui aku emang salah, karena udah lancang mencintai kalian berdua. Tapi sekarang aku cuma mau kamu sayang."
"Boleh aku bilang satu hal?"
"Of course baby."
__ADS_1
"Ya, kamu emang salah. Tapi, kalau aku boleh ngomong dan kalau kamu gak keberatan...."
"Apa itu?"
"Menurut aku, teteh juga salah saat itu. Kalau dia memang gak ada perasaan apapun sama kamu, seharusnya dia bisa tegas dengan gak memberi kamu harapan dan selalu bergantung sama kamu.
Bahkan kalian berdua benar-benar salah,,,,, waktu kalian memutuskan untuk tidur di dalam satu kamar. Apalagi saat itu status kalian bukan mukhrim, aku gak tau apa yang ada di pikiran kalian waktu itu. Aku cuma gak sangka teteh bisa seperti itu."
Boy membelalakkan matanya, dia terkejut karena ternyata Resti tau masalah itu, sebenarnya dia sangat ingin bercerita pada Resti, hanya saja dia belum siap karena takut kalau Resti tau tentang hal itu, Resti tidak akan setuju menikah dengan dia. Tapi nyatanya Resti memang sudah tau masalah itu.
"Ka.... Kamu tau soal itu!!!" tanya Boy terbata.
"Kenapa?, kamu kaget aku tau masalah ini. Bukannya kamu bilang, kamu udah cerita semuanya. Tapi yang satu ini, aku rasa kamu lupa." Resti tersenyum smirk.
"Sayang, percaya sama aku. Kami gak lakuin apa-apa malam itu, aku cuma berakting dan cuma tidur di dalam satu kamar. Aku bahkan memindahkan sofa ke kamar itu buat aku tidur. Kami benar-benar gak ngelakuin apa-apa." jujur Boy takut.
"Hah,, aku gak tau apa yang kalian lakukan. Bahkan aku juga gak mau tau, sekarang coba kamu pikir. Apa ada orang yang akan percaya, bila dua orang berbeda jenis tidur di kamar yang sama tanpa ada apapun. Coba posisinya kita tukar, apa kamu masih mau percaya sama aku."
"Tapi sayang, aku berani sumpah. Kami gak ngapa-ngapain."
"Udahlah gak usah dibahas lagi, gak penting. Sekarang yang penting, cepat selesaikan urusan kamu trus antar aku pulang. Aku capek."
"Gak, aku gak akan antar kamu pulang sebelum masalah kita selesai. Karena urusan yang aku maksud ya urusan aku sama kamu, aku gak tahan liat kamu diamin aku dari tadi.
Please sayang, percaya sama aku. Aku gak ada perasaan lagi sama Rena, aku cuma cinta sama kamu. Tolong jangan kaya gini, 2 hari lagi kita menikah. Aku gak mau pernikahan itu batal."
"Dasar egois kamu, kamu cuma mikirin masalah pernikahan. Tapi kamu gak mikirin perasaan aku, aku jadi semakin ragu buat lanjutin rencana pernikahan kita." Resti menatap tajam Boy.
Mendengar Resti mengucap ingin membatalkan pernikahan, membuat Boy menjadi emosi dan secara tidak sadar dia langsung mencium bibir Resti dengan sedikit kasar.
Resti yang terkejut dan tidak siap atas tindakan Boy merasa kesal, awalnya dia mencoba memberontak namun tenaganya jauh bila di bandingkan oleh Boy. Akhirnya dia hanya bisa diam seraya menahan marah sekaligus kesedihan atas perilaku Boy.
Merasakan sesuatu mengalir diantara bibir mereka, Boy membuka matanya dan melihat bahwa Resti tengah terpejam sambil menitikkan air mata. Boy langsung tersadar dari amarahnya dan menghentikan apa yang dia lakukan pada Resti.
"Ya Tuhan."
...----------------...
......................
__ADS_1
Lanjut
😘😘😘