
"Maksud om apa?" selidik Resti.
"Gak,, gak papa."
"Ya udah, sekarang gak ada urusan lagi kan."
"Terus!!"
"Ya, kalau udah gak ada urusan, om bisa pergi kan."
"Kamu ngusir saya!!"
"Terserah, apa menurut om." ketus Resti malas menanggapi Boy.
"Kamu kenapa sih galak banget sama saya?, saya itu cuma mau tau keadaan kamu."
"Sekarang udah tau kan!!, Nah. Berarti bisa dong pergi dari sini."
"Hei!!, Resti. Kamu kayanya gak suka ya aku dateng kesini, atau kamu maunya cowok brengsek kamu itu ya." sinis Boy.
"Mau om itu apa sih?" Resti sudah mulai tersulut emosi.
"Saya gak mau apa-apa, saya cuma heran kenapa kamu kelihatan benci banget sama saya."
"Denger ya om!!, saya itu gak benci sama om. Saya terima kasih karena om udah nolongin saya kemarin, tapi please. Hari ini saya lagi bad mood, jadi tolong. Saya mau sendiri hari ini, tanpa om ataupun Jagat." jelas Resti melemah.
"Kalau begitu, sekarang kamu ikut saya."
"Ikut kemana?"
"Ke suatu tempat."
"Mau ngapain?"
"Biar mood kamu balik lagi."
"Gak usah, makasih." Resti bersiap menutup pintu.
"Tunggu." Boy menahan pintu tersebut.
"Kenapa lagi?" tanya Resti malas, sejujurnya. Dia sangat ingin bersantai tanpa ada gangguan sedikitpun.
"Kamu gak suka saya ajak pergi?, jangan takut. Saya bukan orang jahat."
Resti menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan secara kasar.
"Aku kasih tau satu hal ya om, pertama kali saya ketemu dan kenal sama Jagat itu persis kaya kejadian kemarin. Waktu itu dia juga nolongin aku dari preman yang mau melecehkan aku, setelah itu kami dekat.
Aku pikir dia itu benar-benar baik dan tulus mau bantu aku. Tapi ternyata dia punya maksud terselubung, dan aku takut kejadian itu terulang lagi sekarang.
__ADS_1
Om bisa aja meyakinkan saya kalau om itu orang baik, tapi saya gak tau apa yang akan terjadi nanti." jelas Resti.
"Jadi kamu nuduh saya orang jahat!!" protes Boy yang merasa tersinggung.
"Saya gak bilang begitu, saya cuma berjaga-jaga aja. Saya percaya om itu orang baik, tapi terima kasih untuk tawarannya. Saya harap om ngerti."
Boy menghembuskan nafas kasar "Ok, saya gak maksa kamu. Maaf kalau udah ganggu waktu kamu. Permisi." Boy berlalu begitu saja dari hadapan Resti.
Sesampainya di samping mobilnya, Boy bersiri sejenak. Dia berpikir keras seraya menyugar rambutnya kasar. "Aaarrgghhh." teriaknya sembari menendang salah satu ban mobilnya.
Dia menundukkan kepalanya dan bersandar pada bagian atas mobil, dia berpikir apa yang salah dengan dirinya. Kenapa rasanya dia begitu sulit untuk mendapatkan seorang wanita yang baik dan benar-benar sayang padanya.
Dulu dia berpacaran dengan Rancy dan ternyata dia hanya dimanfaatkan. Kemudian saat dia baru ingin mengenal Chintya, ternyata Chintya adalah istri dari Morens.
Setelah itu, dia menaruh hati pada Rena dan berkorban apa saja untuk wanita itu, namun akhirnya dia harus berbesar hati karena ternyata Rena lebih memilih Roby.
Kini, dia bahkan kembali ditolak saat baru saja akan menawarkan bantuan. Bahkan kali ini, yang menolaknya adalah seorang gadis kecil yang masih labil. Biasanya, gadis seusia itu sangat mudah di rayu dengan hanya bermodalkan ketampanan.
Tapi berbeda dengan Resti, gadis ini tidak terpengaruh dengan wajah tampan campuran khas timur tengah yang dimilikinya. Apa yang kurang darinya, tampang so pasti ok, harta mumpuni, tubuh gak diragukan. Tapi kenapa dia selalu gagal mendapatkan wanita yang dia inginkan.
Setelah puas berpusing ria,boy masuk kedalam mobil. Rencana awal yang ingin meninjau proyek, kini dia alihkan ke sembarang tempat.
Saat ini dia sedang tidak bersemangat membahas apapun tentang pekerjaan, maka dari itu dia hanya mengikuti arah setir kemudi melaju. Akhirnya setir kemudi mengarahkannya ke sebuah tempat wisata yang berada di daerah S.
Boy turun dari mobilnya, dia berjalan berkeliling melihat lihat pemandangan alam yang indah. Untung saja ini bukan hari libur, jadi dia bisa leluasa menikmati pemandangan tanpa harus berdesakan dengan padatnya pengunjung lainnya.
Di saat tengan duduk sembari mengabadikan nuansa alam disana, Boy melihat sepasang suami istri. Dimana sang suami dengan setia menggenggam tangan sang istri dengan perut buncitnya mengelilingi tempat itu.
Sampai dimana dia menyelamatkan Rena yang hampir saja terjatuh akibat terlalu bersemangat melihat makanan yang sangat diinginkan wanita hamil itu.
Boy tersenyum miris, kasihan sekali nasibnya yang gagal dalam urusan asmara. Walaupun dia memiliki semua penunjang untuk di jadikan seorang pendamping, namun sampai saat ini dia masih belum bisa menemukan kekasih hati.
Boy memutuskan untuk menyudahi acara refreshing ddakan itu, dia berjalan seraya memperhatikan foto hasil jepretannya di dalam ponselnya.
Tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
"Aduh." ucap seorang wanita paruh baya.
"Oh, maaf Bu. Saya gak sengaja." Boy membantu ibu itu berdiri.
"Gak papa, saya juga salah gak lihat jalan."
"Ibu kayanya lagi bingung, emang ibu mau kemana?"tanya Boy.
"Tadi saya habis dari toilet, keluarga saya udah tunggu di area parkir. Tapi saya lupa jalannya kemana, maklum faktor U."
"Umur!!"
"Bukan."
__ADS_1
"Oh, faktor uang maksudnya."
"Enggak."
"Terus apa?"tanya Boy penasaran dengan jawabannya yang selalu salah.
"Utang."
"Eh!!"
"Iya, faktor utang jadi gak fokus. Sampai gak ingat jalan."
"Hah!!" Boy memasang tampang bingung.
"Hahaha, gak kok canda. Ibu mah cuma itu loh, yang kaya anak jaman now. Ngeprank katanya."ucap si ibu menepuk lengan kiri Boy pelan.
"Hahaha, ibu lucu juga ya. Oh ya, nama ibu siapa?. Kebetulan saya juga mau ke area parkir, kalau begitu bareng sama saya aja."
"Nama ibu Lastri, ya udah ibu bareng kamu ke tempat parkir."
"Iya." mereka mulai berjalan beriringan. "Kenapa ibu gak hubungi keluarga ibu, biar mereka gak khawatir sama ibu."
"Saya gak bawa ponsel, makanya saya gak inget jalan keluarnya tadi sebelah mana."
"Pak Boy." panggil seseorang dari arah belakang mereka berdua.
Boy mencari asal suara tersebut, dan ternyata itu adalah salah satu rekan bisnisnya yang tengah mengantar sang anak jalan-jalan.
Boy berbincang sebentar, sementara Bu Lastri masih setia menunggu sambil menganga, karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan menggunakan bahasa asing.
Setelah beberapa saat, Boy menghampiri kembali Bu Lastri.
"Bu maaf ya."
"Kenapa?"
"Aduh maaf Bu, itu tadi rekan bisnis saya. Saya ada kerjaan mendadak di dalam, jadi saya gak bisa mengantar ibu ke tempat parkir."Sesal Boy.
"Oh gak papa kok."
"Saya panggil security aja ya, buat antar ibu."tawar Boy sebagai rasa tak enak hati.
"Terima kasih ya."
......................
......................
Next
__ADS_1
👏👏👏