Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Efek Samping


__ADS_3

Roby mengendarai mobilnya menuju ke gedung RENS CORP, disepanjang perjalanan Roby terus saja tersenyum mengingat kejadian tadi pagi. Rasanya dia ingin memutar kembali waktu dan mengulangi saat indah pagi tadi.


Romansa indah yang berakhir dengan Rena yang mandi bersama Roby, namun mereka tetap memakai pakaian seperti sesaat sebelum mereka masuk ke kamar mandi.


Flashback on


Rena hanya bisa diam dan menikmati sentuhan Roby yang semakin lama semakin meningkatkan gairahnya, Roby membalik tubuh Rena dan kembali mencumbunya.


Namun Rena tersadar dan mencoba melepaskan tubuhnya dari kungkungan tubuh Roby, dia melangkah hendak keluar dari kamar mandi. Namun naas, Rena terpeleset dan akhirnya terjatuh di bawah shower. Untung saja Roby sigap menangkap tubuh Rena, hingga dia tidak terbentur dinding.


Roby menahan tubuh Rena dengan berpegangan pada kran shower yang membuat shower terbuka dan akhirnya menyiram tubuh mereka berdua yang masih terbalut pakaian lengkap.


Flashback off


Setibanya di kantor, Roby tetap saja menebar senyum manis pada setiap orang yang dia temui. Hingga security pun dibuat tercengang dengan pemandangan tersebut.


Sampailah Roby di ruangan Morens, masih dengan senyum mematikan miliknya. Morens sampai terheran dan bahkan terus saja mengucap doa-doa untuk menjauhkan dia dari virus bodoh yang menyerang Roby.


"Pagi boss." sapa Roby dengan senyum sumringah.


"Pagi." jawab Morens sambil bergidik ngeri.


"Roby kenapa ya?, kemarin dia abis kemana sih!, kok pulang-pulang jadi begini. Jangan-jangan dia kesambet setan banci lagi, atau gak dia kena hipnotis. Ah bisa juga,. kemarin dia kepentok tembok jadi ANEMIA eh whatever lah. Em, tapi dia masih inget tuh sama gue yang baik hati ini. Kalau gak, Roby salah minum obat kali, niatnya mau minum obat cuci perut tapi malah minum obat cuci otak. Apa mungkin Roby terserang virus yang lagi viral itu ya, tapi kok, efeknya aneh. Ini sih lebih mirip OGB (Orang Gila Baru)." Morens berspekulasi sendiri.


"Boss." Roby memanggil morens yang terlihat sedang melamun sambil menggelengkan kepalanya.


"Bossss." panggilnya dengan sedikit panjang dan masih disertai dengan senyuman mautnya.


Morens pun tersadar dari lamunannya "Eh iya."


"Boss kenapa sih?, jadi duda lagi ya. Ke gep sama cewek mana lagi boss." goda Roby sambil mengedipkan matanya.


Morens langsung bergidik ngeri, mendapati kedipan mata dari Roby.


"Rob, diluar lagi hujan ya."


"Enggak tuh."


"Apa mendung kali."


"Cuacanya cerah kok boss, secerah hati saya." ucap Roby lirih di akhir kalimat.


"Masa sih!, kok aku ngerasa kaya disamber petir ya tadi. Ngeri ngeri gimanaaaa gitu."


"Petir dari mana sih boss!, orang cuaca cerah gini." protes Roby.


"Lah itu buktinya, dari tadi kamu senyum-senyum aja trus kedip-kedip gitu matanya. Saya pikir kamu abis disamber petir kali." jawab Morens enteng.


"Cih, mana ada."


Morens mengedikkan bahunya "Ya mana tau."


"Ih gak jelas."cibir Roby.


"Oh ya ngomong-ngomong kamu kemana kemarin?, main ilang aja kaya jailangkung. Pergi gak bilang-bilang, pulang malah kaya orang gila gini." omel Morens yang kesal.


Karena kemarin rencananya dia ingin pulang cepat setelah Boy pergi dari ruangannya, namun dia tidak menemukan Roby dimana-mana. Bahkan dia juga menghubungi nomor telepon Roby, tapi tidak ada jawaban dari Roby yang kemarin sedang sibuk merayu Rena.


"Emm, itu... Em." Roby ragu-ragu ingin berkata, antara gengsi dan malu menjadi satu. Karena dia tau, kalau dia menceritakan alasannya kemarin, pasti Morens akan menjadikannya bahan perbulyian.


"Ita itu Ita itu apa?. A I U E O gitu!"


"Anu boss."


"Ana anu, anumu kenapa?. Si anu sakit?. Kalau sakit cepat bawa ke si anu, takutnya ntar keburu anu." jawab Morens makin melenceng.


"Hah!!" Roby ternganga tidak mengerti maksud dari ucapan Morens.


"Hah huh hah huh, kamu kenapa sih jadi cengo begitu. Kalau mau olah raga jangan disini, sana di pasar bantu angkat-angkat beras."


"Hehe iya, maaf boss" Roby cengengesan menunjukkan deretan giginya.


"Ok saya maafin. Ya udah, cepet ngomong." bentak Morens.


"Ah itu, kemarin saya pergi ke daerah L."

__ADS_1


"Ngapain kamu kesana?"


"Menjemput masa depan."


"Hahahaha, menjemput masa depan. Kirain menjemput ajal." ledek Morens sambil tertawa terbahak-bahak.


"Wah... wah... wah... mah ngajak!,,," Roby berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala.


"Ngajak apa?, kenapa geleng-geleng kepala?, kamu udah bosen kerja disini!. Apa mau langsung meluncur ke Amerika lagi. Mau jalan normal apa jalan pintas." tantang Morens.


"Eh,, enggak."


"Trus!, ada urusan apa kamu kesana?"


"Saya menemui Rena."


"Rena!!. Trus udah ketemu?"


"Udah dong."


"Abis itu kamu mau apa?"


"Mau ngajak dia nikah."


"Emang dia mau?" cibir Morens.


"Pasti mau, ya kalau pun gak mau. Harus mau." jawab Roby enteng.


"Jih pemaksaan."


"Kan enak boss kalau agak dipaksa gitu." Roby mulai tertular virus nyeleneh Morens.


Morens memicingkan matanya mendengar ucapan ambigu Roby


"Emm, maksudnya kalau dipaksa itu, berasa ada tantangannya gitu."kilah Roby yang mendapat tatapan tajam dari Morens.


"Alasan, trus sekarang Renanya udah mau sama kamu?"


"On proses boss, semua gak ada yang instan kan. Mie aja yang katanya instan harus dimasak dulu. Begitu juga sama cinta, harus pake perjuangan dulu." jawab Roby percaya diri.


Dia tidak sadar diri rupanya, sebenarnya dirinya itu lebih bucin dari pada Roby. Bahkan dia rela mendobrak pintu rumah Chintiya, hanya untuk memberi penjelasan saat Chintiya sedang salah paham.


"Okelah kalau begitu." ucap Morens datar.


"Eh dia gak ngomel nih, tumben. Jangan-jangan ntar Justin Bieber berubah jadi penyanyi dangdut gara-gara kaget liat dia yang gak biasanya." batin Roby.


"Makasih boss." Roby berbalik badan hendak keluar dari ruangan Morens. Namun langkahnya terhenti karena Morens memanggil.


"Roby."


"Ya boss." Roby membalikan badannya kembali.


"Hari ini kamu gak usah kerja dulu, kamu pasti capek kan abis perjalanan jauh."


"Ih boss tau aja, peka banget deh jadi orang. Pantes non Chintiya cinta mati sama boss." rayuan maut ala Roby meluncur deras dari bibirnya.


"Oh itu udah pasti, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Morens." Morens mulai menyombongkan dirinya.


Roby memutar bola matanya malas, saat sudah mulai mendengarkan kenarsisan dari bossnya itu.


"Tapi kamu temenin Mora main ya."


"Eh." tubuh Roby mulai merinding saat mendengar suara lembut sama tatapan menggelikan itu.


"Iya, kamu temenin Mora main sama Rosi ya."


"APA?"


...****************...


Sementara di apartemen.


Rena kini sedang membantu bi Asih membereskan dan membersihkan isi apartemen, awalnya bi Asih menolak bantuan dari Rena. Namun Rena tetap memaksa dengan berbagai cara, dan akhirnya mau tidak mau BI Asih mengizinkan Rena untuk membantunya.


Karena Rena sedang merasa bosan tanpa adanya kegiatan setelah Kafka tertidur lelap sehabis mandi dan menyusu. Biasanya Rena disibukkan dengan membaca laporan keuangan atau membantu para pegawainya di kedai.

__ADS_1


Setelah selesai bersih-bersih rumah, Rena memilih untuk bersantai dengan menonton acara televisi. Saat tengah asik menonton, fokusnya teralihkan oleh suara dering ponsel milik Rena. Rena melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut dan dia langsung tersenyum tipis saat mengetahui yang menelpon adalah Roby.


"Hallo." sapa Rena sambil menahan rasa bahagia, agar Roby tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan Rena saat ini.


Karena bila sampai Roby tau, pasti Roby tidak berhenti menggodanya.


"Hallo sayang."


"Issh apaan sih sayang-sayang." protes Rena, padahal sebenarnya dia sedang tersipu malu mendengarnya.


"Ok Ok. Aku gak panggil sayang lagi."


"Nah gitu dong."


"Tapi gimana kalau cinta,,, atau My love,,, mungkin sweety,,, kalau darling gimana,,, oh honey ya,,, babe ok gak,,, nah pasti My quenn, iya kan. Kamu tinggal pilih mau dipanggil apa, atau kalau perlu tiap hari aku ganti nama panggilannya. Kita mulai hari ini dengan pujaanku, gimana!. Kamu suka gak?" jawab Roby yang membuat Rena hanya bisa menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Roby!!!, astaga...."


"Kamu ganteng banget." Roby menyambung ucapan Rena yang menggantung.


"Aduh makin gak jelas kan!, kamu mau apa sih sebenarnya nelpon aku!" tanya Rena sedikit galak, karena dia sudah kehabisan kata-kata menghadapi Roby.


"Mau ngomong sama kamu."


"Ya tapi ngomong apa?, cepetan ih."


"Tuh kan, kamu mah mancing-mancing gak sabar banget sih. Aku lagi kerja loh, kalau mau nanti pulang kerja ya. Kamu masih bisa tahan kan!." Roby menahan tawanya diserang telpon. Dia yakin, saat ini pasti Rena sedang menahan emosinya mendengar celotehan Roby.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Rena mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa?, kamu pasti lagi mikirin aku kan."


"Enak aja, enggak sih mana ada."


"Udah ah gak usah gengsi, ntar cenut-cenut lagi kalau di tahan."


"ROBY. Bisa gak sih sebentar aja ngomong serius." Rena sedikit frustasi melayani tingkah konyol Roby.


"Bisa, bisa banget malah. Kamu mau balik lagi sama aku kan!"


"Beneran ya Rob, kalau kamu masih gak bisa serius, aku tutup nih telponnya." ancam Rena akhirnya.


"Jangan dong, please ya. Jangan OK."


"Ya Ok. Tadi aku tanya sama kamu, kamu lagi apa?"


"Oh,, aku lagi nemenin Rosi main." jawab Roby tanpa beban.


"Rosi!!, apa Rosi itu perempuan?" tanya Rena penasaran, entah kenapa mendengar Roby menyebut nama Rosi, Rena sedikit cemburu.


"Ya jelas dong Rosi itu perempuan."


"Dia pasti sexy banget kan!" selidik Rena.


"Ih jangan ditanya. Bodynya beh gila." jawab Roby tanpa sadar, saat mengingat dia menyentuh Rosi secara langsung. Membuat bulu kuduknya merinding disco melihat Rosi yang nampak semakin berisi dan padat, terlihat lebih menyeramkan. Roby tak habis pikir, kenapa Mora bisa mempunyai peliharaan seperti itu.


"Huh dasar, ngomongnya manis banget ya kamu."


"Iya dong." Roby percaya diri menjawab dengan bangga.


Dia tidak tau, bahwa yang ada di sebrang telpon sedang menahan cemburu.


"Ya udah lanjutin mainnya sama Rosi. Assalamualaikum." seketika Rena langsung memutuskan panggilan itu.


"Eh, kenapa lagi dia." batin Roby.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Sebenarnya part ini masih panjang, cuma karena mata aku berat kaya bawa beras 25 kg. Jadinya aku cut sampai disini dan lanjut di part berikutnya.


Next

__ADS_1


👏👏👏💪💪


__ADS_2