
Seminggu sejak kehadiran Boy, Roby jarang datang menemui Rena. Dia hanya sesekali datang menemui Rena, bahkan terkadang dia hanya melihat dari dalam mobil di luar kedai.
Bukannya dia tidak ingin menemuinya, dia sangat ingin bertemu. Bahkan Roby sangat rindu pada pujaan hatinya dan calon anaknya, namun Roby cukup tau diri. Karena saat ini ada Boy yang tengah bersamanya.
Pagi ini seperti biasa, Boy datang a mengunjungi Rena di rumahnya. Karena sejak Boy datang, dia memang melarang Rena pergi ke kedainya. Itu karena Boy khawatir Rena kelelahan, lagi pula saat ini Rena sedang menunggu hari kelahiran bayinya.
Boy masuk saat Leni membuka pintu untuknya, dia berjalan ke arah ruang tamu. Dimana Rena sedang duduk disana menonton televisi, tapi dengan tatapan kosong.
Boy menghampiri Rena dan duduk di sebelahnya.
"Ren." Boy memanggil, tapi Rena tetap bergeming dari posisinya.
"Rena." kali ini dengan nada sedikit keras. Tapi Rena masih tetap terdiam.
"Rena Halim." panggil Boy dengan menyentuh pundak Rena.
Rena tersentak kaget saat merasakan sentuhan di pundaknya, dia menengok dan melihat siapa yang menyentuhnya. Dilihatnya Boy tengah tersenyum padanya.
"Boy, udah lama?" tanya Rena dengan tidak enak hati.
"Enggak, baru 15 menit."jawab Boy enteng.
" Ah, masa sih!"
"Mikirin apa?" tanya Boy lembut.
Rena menggelengkan kepalanya dan membuang pandangannya, agar tidak terlihat oleh Boy.
"Jangan bohong, kamu kangen sama Roby?"
Rena menoleh. "A.... Aku."
"Kenapa gak kamu telpon dia?"
Rena menggeleng. "Enggak, aku gak mau dia terus berharap sama aku."
__ADS_1
"Lalu kamu!, apa kamu masih berharap sama dia?" tanya Boy yang sebenarnya sakit dengan pertanyaan yang dia lontarkan sendiri.
"Aku gak tau Boy, aku bingung sama apa yang aku rasain." Rena menundukkan kepalanya.
"Sekarang kamu tinggal yakinin perasaan kamu sendiri, apa yang kamu rasakan saat Roby ada ataupun tidak ada di dekat kamu. Kalau kamu masih cinta sama dia, katakan. Jangan sampai kamu nyesel." nasehat Boy pada Rena, yang sebenarnya itu berlaku untuk dirinya sendiri.
"Aku takut Boy, aku takut dia akan tiba-tiba menghilang lagi. Karena sampai sekarang, dia gak pernah mau cerita apa yang sebenarnya terjadi sama dia dan apa hubungannya dia sama cewek yang namanya Gaby."
"Gaby!!, siapa Gaby?. Apa dia kekasih Roby?" Boy penasaran dengan itu.
"Aku gak tau siapa dia sebenarnya. Aku cuma pernah liat dia beberapa kali pergi sama Roby, dan dari apa yang aku dengar. Mereka pernah punya suatu ikatan yang saling menguntungkan. Bahkan aku pernah liat mereka...." ucapan Rena menggantung, karena dia tidak sanggup mengatakan apa yang dia liat waktu itu di lift. Walaupun Roby menjelaskan bahwa mereka tidak ada apa-apa, tapi tetap saja. Apa yang dia liat dengan mata kepalanya sendiri itu sangat menyakitkan.
"Apa yang kamu liat?"
"Aku liat..."
"Liat apa Rena?" Boy mendesak Rena, dia tidak sabar mengetahui ada apa sebenarnya dengan Boy dan Rena.
"Aku liat, Roby sama cewek itu lagi asik bercumbu di dalam lift. Saat aku masuk, bahkan mereka tidak sadar dan tetap melanjutkan kegiatan mereka. Sampai akhirnya aku memberikan tanda supaya mereka sadar bahwa ada orang lain disana, dan saat itu aku kaget begitu tau kalau yang melakukan nitu adalah Roby."
"Trus bagaimana kamu bisa hamil anak Roby?, apa kalian sama-sama menginginkan hal itu!. Maaf sebelumnya kalau aku lancang bertanya tentang hal pribadi. Tapi aku peduli sama kamu, dan aku gak mau kamu terluka lagi Ren. Biarpun gak pernah membalas perasaan aku, tapi aku tetap menganggap kamu sebagai seorang yang penting di hidup aku. Mungkin kita bisa menjadi kakak adik." ucap Boy jujur dengan perasaannya.
"Jadi kalau begitu, kamu gak keberatan kan cerita sama aku sebagai kakak kamu." Boy sedikit ngilu saat mengatakan kalau dirinya hanya dianggap sebagai kakak, tapi dia ikhlas dengan segala sesuatu yang tidak bisa dia paksakan.
"Jadi setelah kejadian di lift, malam harinya Roby datang kerumah. Aku sebenarnya udah malas mendengar apapun dari dia, aku bahkan udah menyerah ngadepin sikap Roby yang berubah-ubah. Malam itu, kami berdebat dan sampai akhirnya Roby marah lalu melampiaskannya dengan maksa aku untuk melakukan itu. Dia bilang, aku harus percaya sama dia kalau dia gak ada hubungan apa-apa sama cewek itu." Jelas Rena menitikan air mata mengingat kejadian malam itu, ya walaupun memang saat itu Rena mencintai Roby. Tapi dia tidak mau bila harus kehilangan sesuatu yang berharga dengan cara seperti itu, meski dengan orang yang dia cintai.
"Brengsek Roby, berani-beraninya dia berbuat begitu sama kamu. Liat aja, aku akan buat perhitungan sama dia." Boy mengepalkan tangannya dengan sangat kencang, bahkan sampai terdengar bunyi gesekan dari tulang-tulang di kepalan tangannya. Dia sangat marah mendengar cerita dari Rena.
"Boy, udah gak usah. Aku udah lupain itu semua."
"Tapi Ren, dia harus tanggung jawab sama apa yang udah dia lakuin."
Rena menggenggam tangan Boy dan menggeleng pelan.
"Aku gak mau kalau itu hanya sebuah keterpaksaan, dan ntarnya malah bikin aku sakit hati lagi. Kalau sampai masa lalu yang selalu dia tutupi itu kembali hadir disaat aku udah bersama dia, aku gak sanggup Boy. Lebih baik kaya gini aja."
__ADS_1
"Jadi kamu gak berniat kasih tau ke dia, kalau sebenarnya kita ini bukan suami istri."
"Iya."
"Trus sampai kapan?"
"Sampai dia menyerah, atau sampai kamu bosan dengan status palsu ini. Aku terima kalau kamu gak mau lagi jadi suami bohongan aku lagi, aku sadar diri aku udah banyak banget ngerepotin kamu Boy."
"Siapa yang bilang aku gak bersedia, sebagai kakak adik bukankah kita harus saling tolong menolong." ucap Boy dengan tersenyum, dia senang bisa terus dekat dengan Rena. Ya walaupun hanya sebagai suami palsunya untuk saat ini.
"Sekali lagi terima kasih Boy."
Boy menarik Rena kedalam pelukannya dan itu membuat Rena menangis, dia merasa beruntung bertemu dengan orang sebaik Boy. Dia merasa kini dia mempunyai seorang kakak yang akan selalu ada untuk membantu segala kesulitan yang dialami.
Tiba-tiba saja Rena menghentikan tangisnya dan berubah menjadi suara rintihan disertai dengan cengkraman tangannya di lengan kekar Boy.
"Ren, kamu kenapa?" tanya Boy panic.
"Kayanya aku mau melahirkan deh."
jawab Rena sambil terbata menahan sakit.
"Sekarang?" tanya Boy polos dan Seketika menjadi linglung.
"BOY."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Up kedua buat ganti yang kemarin gak up.
Jangan lupa sajennya ya. Terima kasih buat akak readers semua, yang nampak maupun yang tidak nampak.
__ADS_1
Next
👏👏👏👏👏