
Roby segera meluncur ke lokasi yang diberikan oleh Morens bersama 2 orang anak buahnya, ternyata lokasi yang di tuju adalah sebuah perkebunan yang terletak diatas bukit.
Roby bersama kedua orang itu berjalan memasuki area perkebunan itu hingga menemukan sebuah rumah yang terbuat dari kayu terletak di pinggir tebing.
Hati-hati Roby berjalan mendekati rumah itu dan dia mendengar suara baku tembak yang berasal dari dalam rumah itu, dia segera berlari menuju ke dalam. Roby khawatir anak dan istrinya berada dalam bahaya.
Baru saja dia membuka pintu, dia sudah disambut dengan peluru yang melesat ke arahnya. Untung saja Roby masih sempat menghindar, kalau tidak mungkin peluru itu sudah menjadi penghuni tetap di kepalanya.
Roby beserta kedua orang tadi langsung segera membantu Morens beserta timnya, baku tembak yang terjadi disana begitu intens. Dari dua kubu sama-sama memberikan perlawanan sengit, walaupun jumlah timnya kalah jumlah. Namun mereka adalah pasukan khusus yang terlatih dan sudah terbiasa menghadapi situasi ini.
"Roby, ikut aku!. Mereka ada dibelakang rumah ini." ucap Morens dengan sedikit berteriak karena suara mereka terkalahkan dengan suara letupan peluru dari senjata mereka.
Morens, Roby dan beberapa orang menuju ke belakang rumah dimana Rena dan Kafka ditawan. Begitu sampai disana, Roby melihat Rena yang diikat di sebuah pohon yang dimana dibawahnya terdapat banyaknya beling, paku berkarat dan kawat berduri yang sengaja di pasang oleh mereka.
Sedangkan Kafka di ikat menggantung pada sebuah tiang tepat di atas tepi bukit, andai saja tali itu terputus, sudah dapat dipastikan bahwa Kafka langsung meluncur ke bawah tebing.
Roby menggeram marah melihat anak dan istrinya yang tidak tau apa-apa diperlakukan seperti itu.
Roby berlari hendak menyelematkan mereka, namun baru beberapa langkah sebuah suara menghentikannya.
"Stop!, tuan Roby."
Roby mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sumber suara tersebut. "Antony."
"Jangan terburu-buru, jika kau menginginkan keluargamu maka serahkan kotak itu."
"Kotak itu, apa sebenarnya isi kotak itu?" tanya Roby berpura-pura sambil memikirkan cara menyelamatkan nyawa Rena dan Kafka.
"Kau tidak perlu banyak tanya!, tapi aku rasa kau pasti sudah tau apa isi didalamnya."
"Kalau aku tidak mau memberikan kotak itu?"ancam Roby.
"Maka kau akan melihat satu persatu keluargamu akan lenyap."
"Brengsek!, kalau kau berani ayo lawan aku." tantang Roby kesal seraya mengulur waktu.
Sedangkan Morens memberikan kode kepada salah satu anak buahnya untuk menyelinap dan menyelamatkan Kafka terlebih dahulu.
"Maaf, aku tidak ada urusan denganmu. Aku hanya membutuhkan kotak itu, jadi aku tidak harus mengotori tanganku untuk membunuhmu."Antony berucap panjang lebar.
" SIALAN!!, kalau begitu kenapa kau tawan keluargaku." teriak Roby.
Antony berdecih "Kau tanyakan saja pada pel*curmu itu, dia yang memintaku untuk menyekap istrimu. Sebenarnya aku tidak mau mengikuti permintaannya, tapi karena daya kerja Gaby untuk mendapatkan kotak itu darimu terlalu lama, jadi aku mengikuti kemauannya."
__ADS_1
"Sekarang lepaskan mereka."
"Mudah saja, dimana kotak itu."
Roby melemparkan kotak itu dan ditangkap oleh Antony.
"Sekarang cepat lepaskan mereka."
Antony tersenyum dan menatap anak buahnya "Lepaskan wanita itu."
Anak buahnya melepaskan Rena, sesaat setelah sebelumnya menariknya ke atas dan memindahkannya ke samping pohon yang tidak terdapat paku dan kawat.
Roby menghampiri Rena yang nampak pucat dan sangat lemas, sedangkan Morens terus memperhatikan pergerakan orang suruhannya yang tengah berusaha menyelamatkan Kafka tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan Antony.
"Kenapa cuma istriku?, apa kau mau menipuku!" hardik Roby.
"Sabar sedikit tuan Roby, aku hanya harus memastikan terlebih dahulu bahwa yang ada di dalam kotak ini benar-benar apa yang aku butuhkan. Setelah aku akan melepaskan anak itu."
"Kurang ajar."
Antony membuka kotak itu dan mengecek isi di dalamnya, dia tersenyum senang setelah melihat isinya. "Baiklah, aku suka bekerja sama denganmu."
Antony menatap ke arah orang suruhannya dan memberikan isyarat agar melepaskan Kafka, namun sebelum itu terjadi salah satu dari anak buahnya memberi tau bahwa jasad Yeslin sudah tidak ada.
"Mempermainkanmu!, aku sudah memberikan apa yang kau mau."
"Jangan omong kosong!, kau yang membawa mayat Yeslin kan?"
Roby mengerutkan keningnya "Yeslin!!, jadi mayat wanita itu adalah Yeslin." kini Roby tau apa maksud dari ucapan ibunya, karena memang kunci itu tidak akan berguna tanpa sidik jari dari pemiliknya yaitu Yeslin.
"Ternyata benar kau yang membawanya."
"Ya, tapi itu tidak termasuk dalam perjanjian kita kan." Roby melirik Morens yang di angguki oleh Morens.
Morens melihat kalau anak buahnya sudah berhasil menyelamatkan Kafka, dan Rena juga sudah di amankan.
"Roby, sekarang." titah Morens.
Roby, Morens dan timnya langsung menyerang kelompok yang di pimpin oleh Antony tersebut, baku tembak pun kembali terjadi.
Roby dan Morens berlindung di balik pohon besar menghindari tembakan yang bersahutan.
"Roby kau larilah dulu, aku akan melindungimu dengan memberikan tembakan pengalihan." perintah Morens.
__ADS_1
"Tapi boss..."
"Tidak ada tapi Roby, cepatlah ini perintah. Bawa istrimu ke rumah sakit, dia butuh pengobatan."
"Maaf boss, untuk kali ini aku tidak menuruti perintahmu."
"Kau mau di pecat hah!!" hardik Morens.
"Tidak masalah."
"Dasar kau asisten durhaka."
Roby tersenyum "Kalau begitu, aku keluar lebih dulu dan setelah itu boss menyusul ok."
Morens berdecih "Setelah masalah ini bersiaplah untuk lembur."
"Siap kapten."
Roby mulai berlari disaat dirasa ada kesempatan, Morens terus memberikan tembakan pengalihan kepada lawan. Roby sudah sampai di luar area rumah itu, dan memberikan kode pada Morens untuk segera berlari.
Morens memberi isyarat pada anak buahnya untuk memberikan perlindungan padanya, Morens berlari menuju ke tempat dimana Roby menunggu, namun di tengah jalan dia mendengar teriakan salah satu anak buahnya yang tertembak.
Morens menghentikan langkahnya, dan melihat orang itu terduduk sambil memegangi kakinya, Morens memutuskan untuk kembali dan membantunya terlebih dahulu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Morens seraya membantu memapah orang itu.
"Saya tidak apa-apa boss, ini sudah biasa."
"Kalau begitu, ayo aku bantu keluar dari sini. Kau harus mengobati kakimu."
"Saya tidak papa boss, lebih baik boss segera pergi dari sini. Saya hanya perlu mengikat dengan kencang pada bagian yang tertembak untuk memperlambat pendarahan." tolak orang itu.
"Tapi..."
Saat itu Antony melihat mereka berdua, dia segera membidik ke arah Morens. Anak buahnya melihat Morens yang sudah menjadi sasaran tembak itu segera bangun guna melindunginya dengan tubuhnya yang memakai rompi anti peluru, namun Morens terlanjur bangun dari duduknya dan akhirnya mengenai dada sebelah kirinya.
"BOSS!!"
...----------------...
...----------------...
Next
__ADS_1
👏👏👏