Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Bertemu Calon


__ADS_3

Mendekati hari pernikahan, segala sesuatu telah dipersiapkan oleh keluarga. Kini tinggal menunggu kedatangan kedua orang tua Boy dari Turki, rasa takut dan penasaran terus saja menyelimuti hati dan pikiran Resti sedari pagi.


Kini mereka tengah di bandara, hanya Boy, Resti dan Rena yang datang menjemput di bandara. Sedangkan Roby dia tengah kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu sebelum acara, dan Bu Lastri menunggu di rumah bersama Kafka.


Boy menggenggam tangan Resti yang terasa dingin, dia tersenyum tipis melihat hal itu. Boy sadar bahwa sebenarnya Resti belum siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, hanya saja gadis itu mencoba untuk mulai belajar menjadi seorang istri yang baik dengan menuruti keinginan Boy untuk segera menikah, dan Boy senang akan hal itu. Dia berpikir bahwa dia tidak salah dalam memilih pendamping, walaupun Resti terhitung masih sangat muda di usia 20 tahun, tapi dia bisa berpikir lebih bijak dari usianya.


"Tangan kamu dingin, are you nervous baby?" tanya Boy lembut.


"Hm, sedikit."


"Its ok, just relax baby." Boy merangkul pundak Resti untuk mencoba memberikan ketenangan padanya.


"Hm, iya. Aku cuma takut aja, kalau orang tua kamu bakal kecewa liat aku nanti."


"Listen, mereka itu orang yang baik dan ramah. Aku yakin kalian pasti cocok, lagian kamu juga udah beberapa kali ngobrol sama mereka kan!!"


"Yah, i know."


"Thats good my little girl." Boy mencium pucuk kepala Resti lembut.


"Yes, my old Boy."


"Hahaha, you are so funny." Boy mencubit pipi kanan Resti.


"Sakit tau ih,,,," Resti mengusap pipinya yang di cubit oleh Boy "Aku ke toilet dulu ya."


"Aku antar ya."


"Gak usah."


"Loh kenapa?, kamu malu jalan sama aku!!"


"Itu tau,,,, hehehe gak kok. Kamu disini aja, kalau ntar orang tua kamu datang trus kamu gak ada, gimana!!"


"Iya juga. Ya udah, jangan lama ya."


"Kenapa?, takut kangen ya."


"Gak, takut aku keburu di ambil orang."


"EGP."


"Apa itu?"


"Emang gue pikirin." jawab Resti sambil melengos pergi.


"Dasar bocah."

__ADS_1


"Teh, aku ke toilet dulu." pamit Resti tanpa bersuara pada Rena yang sedang asik bertelpon ria dengan si asisten pencemburunya itu.


Tak lama kemudian, yang di tunggu akhirnya tiba. Terlihat sepasang suami istri paruh baya yang nampak gagah dan anggun berjalan mendekat kearah dimana Boy dan Rena yang sedang berdiri.


Melihat ada dua orang mendekat, Rena yakin kalau itu adalah orang tua Boy. Dia menyudahi panggilan telepon dari Roby, dan ikut menyambut kedatangan kedua orang tua Boy.


"Assalamualaikum dad, mom." sapa boy sambil mencium punggung tangan keduanya.


"Waalaikumsalam my Boy." jawab sang ibu sambil memelum Boy, begitupun sang ayah.


"Maaf sayang, kami telat. Penerbangan di tunda beberapa saat." ucap sang ibu.


"Gak masalah mom."


"Assalamualaikum." Rena mencium punggung tangan keduanya.


"Waalaikumsalam,,, oh ya ampun. Calon anak mommy cantik sekali, tapi kok agak lebih tua dari biasanya. Apa mungkin karena efek kamera ponsel!!!, tapi gak masalah. Kamu masih tetap cantik kok." jawab sang ibu, seraya mengusap-usap rambut Rena dengan sayang.


"Emmm, mom. Dia bukan Resti." jawab Boy canggung, dia merasa tidak enak hati pada Rena. Begitupun sebaliknya dengan Rena.


"What!!!, oh my god. So!!, Who is she?" sang ibu mundur seraya menutup mulutnya terkejut. Sedangkan sang ayah, hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.


"Dia Rena, kakaknya Resti."


"Oh,,, im sorry. Pantas kamu mirip banget sama Resti." pintanya pada Rena.


"Terus!!, dimana Resti?. Apa dia gak ikut?" tanya sang ayah.


"Dia sedang di.... Nah itu dia." tunjuk Boy pada Resti yang berjalan ke arah mereka.


"Assalamualaikum." ucap Resti dengan tersenyum manis dan mencium punggung tangan keduanya.


"Waalaikumsalam sayang, kamu dari mana aja?. Tadi mommy kira kakak kamu itu kamu, abis mereka kelihatan cocok sekilas." jawab sang ibu tanpa sadar, karena memang mereka tidak tau ada hubungan apa antara Boy, Resti dan Rena.


"Itu,,, tadi aku tadi abis dari toilet." jawab Resti lesu.


Rena dan Boy melihat ke arah Resti yang bicara dengan mencoba tetap tersenyum, padahal mereka berdua tau. Resti sedang berusaha menahan gejolak yang dia rasakan saat ibu Boy secara tidak sengaja mengungkit hubungan antara keduanya dulu.


Boy merasa sedih melihat gadis pujaannya terluka karena hal itu, sementara Rena sangat merasa bersalah karena keadaan ini.


"Ehem,,, mom, dad. Sebaiknya kita segera pulang, kita ngobrol di rumah. Kalian pasti lelah dan butuh istirahat kan." ucap Boy mencoba memecah kondisi yang sudah tidak kondusif bagi mereka.


"Ya sayang, bo kong mommy panas sekali. Udah lama mom gak pergi sejauh ini. Lagian kasian Daddy kamu, ngeluh pinggang sakit karena terlalu lama duduk di pesawat."


Mereka langsung beranjak menuju ke mobil, Boy duduk di belakang kemudi dengan sang ayah yang ada disampingnya. Sementara di kursi belakang, dihuni oleh para ladies berbeda generasi.


Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah singgah milik Boy, hanya diisi dengan kesunyian. Sang ayah yang tertidur karena lelah, sedangkan sang ibu yang sibuk ber swafoto bersama kedua gadis yang duduk di samping kanan dan kirinya.

__ADS_1


Boy melihat dari kaca spion, Resti yang lebih banyak diam dibandingkan hari biasanya. Bahkan, Resti terus saja membuang pandangannya ke luar jendela bila sang calon ibu mertua tidak mengajak bicara padanya, tanpa mau melihat ke arah kemudi ataupun spion sama sekali.


Boy tau, gadisnya itu tengah sedih dengan perkataan sang ibu. Padahal, sebenarnya. Resti melihat seluruh kejadian dari awal kedua orang tua Boy datang.


Bagaimana cara mereka memandang sang kakak dengan kagum, dan Resti juga menyadari. Bahwa memang Boy dan Rena terlihat lebih cocok dibandingkan dirinya.


Dia merasa seperti dia yang berada di tengah hubungan antara Boy dan Rena. Resti menjadi kembali berpikir, apakah setelah menikah nanti dia akan sanggup melihat keakraban antara sang suami dan sang kakak. Ya walaupun, dia tau. Kakaknya itu tidak mungkin menghianati suami tercintanya yaitu Roby. Tapi tetap saja, rasa was-was dan cemburu itu masih ada.


Boy yang melihat Resti seperti itu, merasa tidak tahan lagi. Ingin sekali rasanya dia segera sampai ke rumah dan menyelesaikan masalah ini, lalu mencium bibir merah muda itu sebagai hukuman karena sudah mengabaikannya dan membuatnya cemas.


"Aarrggghhh." tanpa sadar Boy menggeram sambil memukul kemudi mobil dengan tangannya, hingga membuat seluruh penumpang di mobil itu terkejut.


"Kenapa Boy?" tanya sang ayah.


"Upps maaf dad, itu... Aku lupa ada urusan penting dan harus segera diselesaikan." ucap Boy sambil melirik Resti dari kaca spion.


"Kalau begitu, biar kami naik taksi aja. Kamu selesaikan dulu urusan kamu " jawab sang ibu.


"Beneran, mom gak papa." Boy sudah sangat tidak tahan ingin bicara dengan Resti.


"Gak papa sayang."


"Ya udah kalau gi..."


"Gak usah mom, kak Boy akan antar kalian sampai rumah. Pamali kalau setengah-setengah." sela Resti ucapan Boy.


"Tapi sayang, siapa tau masalah darurat." jawab sang ibu lembut.


"Gak kok mom, aku tau itu urusan apa. Aku pikir itu gak terlalu penting, keselamatan mom sama Daddy itu lebih penting." ucap Resti tenang.


"Tapi."


"Trust me mom."


"Ok."


Boy melihat ke arah kaca spion, dimana ternyata Resti juga tengah menatapnya dengan tatapan mata yang mengintimidasi.


...----------------...


...----------------...


3 bab lagi menuju ending. Stay with me.


Lanjut


👌👌👌

__ADS_1


__ADS_2