Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Penyelematan


__ADS_3

Maaf baru bisa update, aku sedang tidak fit kakak beberapa hari kemarin. Dan juga aku lagi fokus mau menamatkan PEMBANTUKU SUPERSTAR yang tinggal beberapa episode lagi.


Jadi harap maklum kalau cerita ini agak lama up nya, insyaallah setelah menyelesaikan yang itu aku baru fokus sama yang ini.


Makasih


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Louise segera meluncur ke rumah Jennie setelah mendapat kabar dari Robby agar memintanya kesana, Memang Louise sudah akan bersiap pulang esok hari, namun mendapat kabar tentang Jennie yang diserang oleh beberapa orang tak dikenal, Louise langsung meluncur saat itu juga.


Sementara di rumah Jennie, orang-orang yang tadi menyerangnya kini tengah mencari dimana keberadaan Jennie yang tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi.


Beruntung gudang tersebut berada lumayan jauh dari lokasi rumah Jenni, dan letaknya pun tertutup oleh banyaknya pohon besar nan tinggi, hingga menutupi keberadaan gudang tersebut.


Di dalam gudang, Jennie sedang mempersiapkan sebuah cairan mematikan yang akan dia masukan ke dalam beberapa buah suntikan yang sempat dia bawa sebelum pergi menyelamatkan diri.


Beruntung waktu itu Jennie pernah melakukan uji coba di dalam gudang ini dan semua bahannya masih berada disana. Saat tengah fokus meracik cairan itu, Jennie mendengar suara baku tembak diluar.


Jennie segera menuangkan cairan tadi kedalam alat suntik yang sudah dia bawa dan kemudian dia segera bersembunyi, beberapa saat kemudian tiba-tiba keadaan menjadi hening dan tidak terdengar lagi suara tembakan.


Baru saja Jennie ingin melihat kondisi di luar, namun suara pintu yang terbuka mengurungkan niatnya dan kembali ke tempat semula.


Jennie mendengar suara derap langkah suara sepatu yang semakin lama semakin mendekat, Jennie sudah mempersiapkan diri, bila saja dirinya tertangkap, dia akan langsung menyuntikan cairan itu tepat di lehernya.


Jennie melihat bayangan hitam yang di hasilkan dari cahaya lampu taman yang berada di luar pintu, tiba-tiba saja tangannya di cekal oleh seseorang dan menariknya ke luar dari tempat persembunyian.


Jennie segera akan menyuntikan cairan tadi, namun naas kakinya tersandung dan menjatuhkan alat suntik yang dia pegang.


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya si pria yang menangkap Jennie.


Seketika Jennie terkejut


"Louise."


"Kamu mau membunuhku?, hampir saja." ucap Louise sambil mengelus dadanya, karena dia tau apa yang dibawa Jennie tadi.


Kalau saja tadi dia terkena suntikan itu, kini dia pasti sudah kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya dan darah dari hidung dan juga telinganya.


"Sorry, untung saja Louise."

__ADS_1


"Are you okey?." tanya Louise sambil mendekap tubuh Jennie.


"Ya. Tapi Silvia." Jennie menangis mengingat apa yang terjadi pada Silvia.


"Tenanglah, ikhlaskan dia istirahat dengan tenang. Silvia sudah diurus." ucap Louise mencoba menenangkan Jennie.


"Terima kasih Louise, tapi ngomong-ngomong bagaimana kau bisa ada disini?." Jennie menatap heran pada Louise, pasalnya yang Jenniw tau saat ini Louise sedang berada di luar kota dan baru akan kembali beberapa hari lagi.


"Roby yang menghubungiku, dan diluar juga ada orang suruhan Asgar yang sedang membereskan kekacauan ini."


Baru saja Jennie ingin menjawab ucapan Louise, tapi niat itu tertahan karena ponsel milik Louise berdering.


Louise merogoh ponselnya di saku celananya dan melihat nama yang tertulis adalah Roby.


"Hallo Rob."


"Uncle bagaimana mommy?, apa kau berhasil menemukannya?." tanya Roby panik.


"Ya, sekarang dia sudah aman."


"Ah syukurlah, uncle tolong bawa mommy ke Indonesia secepatnya. Aku yakin mereka pasti akan kembali datang mencari mommy."


"Thanks uncle."


Sementara di Jakarta


Roby tiba di apartemennya pukul 4 sore, Morens memang menyuruh Roby agar pulang lebih cepat. Morens tau kalau saat ini Roby tengah kalut memikirkan kejadian yang baru saja menimpa ibunya.


Roby masuk kedalam apartemen dalam keadaan yang amat kacau, rambutnya sedikit berantakan, dasinya sudah menggelantung tak jelas, kemeja yang sudah keluar sebelah dan berjalan dengan langkah gontai.


Roby memperhatikan situasi yang nampak sepi, dia mencari keberadaan sang istri yang tidak terlihat dimana-mana. Bahkan hanya ada Kafka yang tengah tertidur pulas sambil memegang botol susu di kamarnya, dengan aroma bedak bayi yang menguar menandakan sehabis mandi.


Roby melanjutkan langkahnya ke arah kamar, dia melemparkan jas dan juga dasi secara asal. Dia sudah tidak sabar menyusul sang istri yang dia yakini sedang berada disana karena terdengar suara gemericik air dari shower.


Pintu yang tidak tertutup rapat memudahkan Roby untuk masuk tanpa menimbulkan suara, disana dia melihat Rena yang tengah memejamkan mata menikmati kucuran air dari shower yang menyegarkan tubuhnya.


Roby melucuti sisa pakaian yang menempel di tubuhnya, dia sudah tidak bisa menahan hasratnya melihat tubuh mungil nan polos milik Rena yang terpampang jelas.


Roby mengangkat tubuh Rena dan langsung meluncurkan rudalnya yang sudah siap tembak tanpa aba-aba terlebih dahulu.

__ADS_1


"Aaahhhhh." teriak Rena karena kaget sekaligus sakit menerima serangan senja yang secara tiba-tiba itu.


"Jangan kencang-kencang teriaknya, ntar Kafka bangun." ucap Roby sambil berbisik, dia masih belum menggerakkan pinggulnya dan memberi waktu untuk Rena mempersiapkan diri.


"Dad, kamu benar-benar ya mau nyiksa aku." omel Rena yang sedikit tidak terima karena ulah Roby.


"Iya, aku bakal siksa kamu habis-habisan dengan kenikmatan. Kamu harus siap, karena aku mau bermain agak kasar."


Belum sempat Rena menjawab, Roby sudah membungkam Rena dengan ciuman mautnya sambil pinggangnya mulai bergerak lincah.


Roby terus menggempur Rena dengan hentakan yang semakin lama semakin cepat dan bertambah kasar.


"Ohh, Dad." racau Rena sambil memeluk erat kepala Roby, karena Roby terus menaik turunkan tubuh mungilnya yang berada di gendongannya.


"Call my name baby." bisik Roby seraya menggigit bahu Rena.


Suara erangan dan desahan yang keluar dari mulut mereka berdua, seakan berkolaborasi dengan irama percikan air yang menyirami tubuh mereka dengan bunyi perpaduan kulit yang saling bertemu.


Roby semakin gencar meluncurkan serangan pada Rena disertai dengan beberapa kali tepukan di daerah gumpalan padat dibelakang milik Rena, hingga membuat Rena memekik kencang.


"Roby,,, ahh to close Roby." desah Rena mencengkeram lengan suaminya yang tengah bergerak bebas nan semangat.


"With me baby."


Roby menekan pinggulnya hingga Rena merasa sudah sampai diujung dinding rahim saat mereka mengerang bersama melepaskan mesiu.


"Thanks baby."


"Jangan kaya gitu lagi ah, aku hampir kena serangan jantung." omel Rena sambil masih mengatur nafas yang terengah-engah.


"Sorry sayang, udah gak tahan. Rudalku udah siap tempur liat sasarannya sudah pada posisinya." jawab Roby sambil meringis.


...----------------...


...----------------...


Next


👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2