Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Ternyata ya.


__ADS_3

Suara ketukan pintu terdengar di depan ruangan yang bertuliskan CEO ROOMS. Morens yang baru saja datang, tengah memeriksa laporan dari berbagai divisi, berhubung hari ini Morens tidak ada jadwal pertemuan, jadi dia datang sedikit terlambat ketimbang biasanya.


Morens memberi ijin untuk masuk pada orang yang berada di depan ruangan, dan ternyata yang datang adalah Boy.


Boy datang kesana bertujuan untuk mengajukan project kerja sama dengan Morens, rencananya Morens ingin membuka anak cabang perusahaan di salah satu daerah, dan Boy ingin mengajukan proposal untuk pembangunan gedungnya.


Boy masuk dan duduk di kursi yang berada bersebrangan dengan kursi kebesaran Morens.


"Hai Morens, gue ganggu gak?" Boy berbasa-basi sejenak.


"Gak, gue lagi free. Ada apa?" Morens menutup laporan yang sedang dia baca tadi.


"Gue denger lu mau buka anak cabang baru."


"Iya, tapi gue belum nentuin letak dan partner pembangunan gedungnya." Morens menjelaskan situasinya pada Boy.


"Begini, gue kan bergerak di bidang real estate. Jadi gue mau menawarkan diri buat jadi penanggung jawab pembangunan gedung yang mau lu bikin."


"Oh iya ya, lu kan main di bidang properti. Kok gue bisa lupa ya." Morens menggaruk keningnya serasa tidak enak pada Boy.


"Ya elu, apa sih yang inget."cibir Boy.


" Ya udah, lu ajuin aja proposal nya. Ntar gue pelajari dulu, gue itu profesional ya. Jadi biar lu temen gue, tapi tetap lu harus ngajuin proposal dulu, dan kalau cocok baru gue mau kerja sama bareng perusahaan lu." jelas Morens.


"Iya gue paham kok alurnya."


"Trus gimana kelanjutannya?" tanya Morens ambigu.


"Kelanjutan apa?" Boy menatap Morens bingung.


"Hubungan lu sama Rena." Morens berjalan dan mengambil 2 botol air mineral di dalam lemari pendingin yang ada di ruangannya.


"Ya begitulah." jawab Boy malas.


"Begitu gimana?, bukannya kemarin lu bilang dia udah panggil lu sayang. Berarti kan udah ada kemajuan." Morens bingung dengan sikap Boy yang mendadak tidak bersemangat membahas tentang Rena.


Boy mendesah pasrah dan menghembuskan nafas panjang.


"Gue pikir dia emang benar-benar buka hati buat gue, ternyata..." Boy menggantung ucapannya, serasa malas membahas masalah itu.


"Ternyata?...."


"Ya ternyata, dia ngomong begitu karena waktu itu ada Roby disana. Dia juga bilang sama Roby kalau kita udah nikah. Padahal nyatanya!!!"


"Trus, maksudnya apa dia ngomong gitu. Sebenarnya dia cinta gak sih sama Roby!"


"Justru karena dia cinta sama Roby, dia gak mau sampai Roby ngambil anaknya. Walaupun dia masih cinta, tapi dia gak mau balik lagi sama Roby." Boy menghela nafas.

__ADS_1


"Ya kalau cinta, kenapa dia gak mau sama Roby?. Gue tuh kadang bingung ya sama perempuan, hal sepele dibikin jadi rumit." Morens menggelengkan kepalanya pelan.


"Dia itu takut Roby bakal ninggalin dia lagi dengan alasan masa lalu, karena sampai sekarang Roby gak mau cerita soal masa lalunya sama Rena."


"Emang sih masa lalunya itu rumit dan runyam, gue juga gak nyangka kalau dulunya dia ngalamin hal kaya gitu." Morens mengingat semua cerita tentang masa lalu Roby yang didengar langsung dari Roby.


"Gue jadi penasaran, sebenarnya kaya apa sih masa lalunya. Sampai dia gak mau Rena tau tentang itu."


"Gue gak bisa ceritain, itu privasi Roby."


"Iya gue tau."


"Jadi lu sekarang masih pura-pura jadi suaminya?"


"Enggak, semenjak abis lahiran dia minta gue buat jaga jarak sama dia. Dia bilang gak mau bikin gue sakit hati karena harus terus pura-pura sebagai suaminya." Boy menatap langit-langit ruangan Morens. Seraya menghilangkan rasa kecewanya.


"Jadi sekarang dia balik lagi sama Roby."


Boy menggelengkan kepalanya


"Dia lebih memilih buat sendiri dan fokus sama anaknya."


"Jadi itu bener anak Roby."


"Iya."


"Itu bukan kemauan Rena."


"Maksud lu?"


"Itu diluar kehendak Rena yang dilakukan Roby."


"Jadi maksud lu Roby perkosa dia!"


"Semacam itu, tapi entahlah." Boy mengedipkan bahunya.


"Oh My God, jika Chintiya tau, Roby pasti habis dapat siraman rohani darinya."


Mereka kemudian diam dan terhanyut dalam pikiran masing-masing. Namun sepasang telinga yang mendengar percakapan mereka, hanya bisa merutuki kebodohannya karena selama ini dia telah ditipu oleh sepasang suami istri gadungan.


Roby merasa senang sekaligus kesal mendengar kenyataan yang sebenarnya. Dia senang karena ternyata, dia masih punya kesempatan untuk bersama dengan Rena kembali.


Namun dia juga merasa kesal, kala mengingat Rena dan Boy pernah tidur dalam satu kamar, dan itu membuat Roby berpikir yang tidak-tidak tentang sesuatu yang terjadi di dalam kamar waktu itu.


Roby yang awalnya ingin masuk, kini mengurungkan niatnya. Dia memilih untuk pergi menemui Rena sekarang juga, dia tidak perduli bila nanti Morens akan menyambutnya dengan ucapan manisnya seperti biasa, karena dia pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Roby langsung kembali ke ruangannya untuk mengambil ponsel dan kunci mobilnya, dia langsung berjalan dengan setengah berlari untuk mencapai ke tempat parkir.

__ADS_1


Roby bahkan tidak menjawab panggilan dari Asgar saat mereka bertemu di depan pintu lift, saat ini pikirannya hanya ingin secepatnya sampai di tempat Rena dan memberikan hukuman pada wanita itu, karena telah berani membohonginya.


Roby langsung melajukan mobilnya begitu sampai di tempat parkir, dia berkendara dengan kecepatan tinggi. Dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu wanita menyebalkan yang sayangnya sangat dia cintai.


Setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam dengan kecepatan tinggi, akhirnya dia sampai juga di rumah Rena. Dia langsung turun setelah memarkirkan mobilnya asal.


Dia mengetuk pintu dengan tergesa-gesa, namun setelah begitu lama, tetap tidak ada yang membuka pintu. Roby yakin Rena pasti berada di kedainya.


Roby kembali ke dalam mobil dan kini tujuannya adalah kedai Rena, tempat pertama kali mereka bertemu setelah cukup lama berpisah. Kurang dari 20 menit, Roby telah sampai di tempat yang di tuju.


Mendadak Roby merasa gugup dan jantungnya berdetak lebih cepat, Roby menarik nafas berkali-kali seraya menetralkan perasaannya yang tidak karuan.


Roby menurunkan tempo langkah kakinya saat menuju ke ruangan pribadi milik Rena, saat tiba di depan pintu, Roby mendadak linglung ingin berkata apa nanti saat bertemu dengan Rena.


Padahal sedari tadi Roby begitu menggebu-gebu ingin meminta penjelasan dan memberi hukuman untuk wanita yang kini telah menjadi seorang ibu untuk anaknya, dan nanti akan menjadi seorang istri untuknya. Itu harapan Roby.


Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Roby mulai mengetuk pintu dengan tangan yang sedikit gemetar.


Roby melangkah masuk setelah mendapat izin masuk dari sang pemilik hatinya. Roby berdiri mematung menatap Rena yang terlihat semakin cantik pasca melahirkan.


Rena yang melihat bahwa yang datang adalah Roby juga sedikit terkejut, namun dengan cepat Rena menetralkan kembali perasaan terkejutnya. Rena berpikir, Roby datang karena ingin menemui Kafka setelah beberapa bulan dia tidak menemuinya.


Ya walaupun memang benar Roby sangat ingin bertemu dengan Kafka, namun Roby menahannya. Karena dia takut, jika dia datang langsung menemui Kafka dan bertemu Rena , dia tidak bisa pergi melepaskan Rena lagi.


Jadi selama ini Roby hanya bertanya kabar dan memantau perkembangan anaknya melalui panggilan video. Roby juga tidak lupa mengirimkan sejumlah uang pada Rena, untuk biaya hidup orang-orang yang sangat dia sayangi.


"Roby."


"Rena, aku akan memberimu hukuman. Kamu pasti akan menyesal Rena." ucap Roby dengan menyeringai.


"Maksudnya?"


......................


......................


......................


Jamunya mana jamu, othor lemes nih belum dapet jamu dari kalian.


Boleh nih sekarang kirim jamu, suplemen atau vitamin buat othor. Supaya othor semangat nih upnya.


Ya ya ya ya jangan lupa Ok.


Maaciw.


Next

__ADS_1


👏👏👏👏👏


__ADS_2