Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Rahasia


__ADS_3

"Hallo mom." tanya Roby pada Jennie lewat sambungan telepon.


"Hallo my son, how are you?"jawab Jennie antusias, dia tidak menyangka, setelah sekian lama akhirnya Roby mau menghubungi dirinya lagi.


"Im good mom. I have a good news for you."Roby tidak sabar ingin memberitahukan pada Jennie tentang pernikahan dan juga anaknya.


"Oh ya. What is that?"


"Im a weeding, and I got a baby Boy."


"Realy?"tanya Jennie sedikit tidak percaya.


"Yes mom."


"Thanks God. Finally you found her. Mommy ingin bertemu dengan mereka Roby. "


"Kami memang berencana menemui mommy."


"Oh mommy sangat tidak sabar untuk itu."


"Doakan kami mom."


"Absolutly son. "


"Kalau begitu aku tutup dulu ya mom. Aku harus segera berangkat ke kantor. "


"Baiklah nak."


"Jaga diri mommy ok. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan cepat hubungi louise."


"Iya sayang, kamu gak usah khawatir. Louise selalu datang mengunjungi mommy setiap 2 atau 3 hari sekali. "


"Ya sudah kalau begitu. "


Louise adalah pria berumur sekitar 50 tahun, seorang mantan anggota kepolisian yang dulu bertugas bersama Deinard, Louise juga sepupu dari Gerald.


Dahulu Louise sempat menaruh hati dengan Jennie, namun saat dia tau bahwa Jennie adalah istri dari Deinard yang tak lain teman satu divisinya, Louise mengurungkan niatnya dan akhirnya dia menikah dengan orang lain.


Namun kini Louise sudah menduda karena dia sudah bercerai dengan istrinya 3 tahun lalu. Begitu tau kalau Roby sedang mencari seseorang untuk menjaga ibunya, Louise dengan sigap menawarkan diri untuk membantu.


Selain karena dia juga khawatir dengan keselamatan Jennie, Louise juga sedang dalam masa pendekatan kepada Jennie.


Roby tiba di kantor setelah menempuh jalan selama 50 menit, begitu turun dari mobilnya, Asgar sudah menghadangnya.


"Roby, gue mau ngomong sesuatu. " ucap Asgar serius.


"Ada apa?, apa ada yang penting!"

__ADS_1


"Ini tentang Gaby." Asgar berucap lirih, dia tidak ingin ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.


"Kalau gitu kita ngomong di ruangan gue." ajak Roby melangkah lebih dulu disusul oleh Asgar.


Untung saja hari ini tidak ada jadwal meeting dan Morens juga akan datang lebih siang bila seperti itu. Jadi mereka bisa bicara lebih leluasa tanpa memikirkan persiapan untuk rapat nanti.


Begitu tiba diruangan, Roby langsung duduk di kursinya dan Asgar duduk di kursi yang ada dihadapannya yang terhalang oleh meja.


"Kenapa Gaby?" Roby memulai pembicaraan.


"Sebelumnya lu harus liat ini dulu." Asgar menyerahkan sebuah poto yang dimana di dalamnya terdapat gambar Gaby sedang bicara dengan seorang pria di sebuah gang sepi, dan terlihat Gaby menyerahkan sejumlah uang kepada pria itu.


Roby mengamati dengan seksama poto yang diberikan oleh Asgar padanya.


"Kayanya gue kenal cowok itu."


"Ya, dia salah satu anak buah dari The dead owner dan dia ada dibawah asuhan Gaby saat itu. "


"Lalu apa masalahnya? " tanya Roby yang masih belum mengerti tentang situasinya.


"Lu juga harus liat gambar ini." Asgar kembali memberikan sebuah poto kepada Roby, dimana disitu nampak 2 orang wanita yang tengah duduk disebuah restoran dan tengah terlibat suatu obrolan serius.


"Wanita ini siapa?, dan bukannya ini Gaby ya."


"Iya, dan wanita itu adalah Yasmin."


"Yasmin!!"


"WHAT!!" pekik Roby "Apa itu artinya Gaby ada hubungannya dengan Willard dan kematian Yasmin?" tanya Roby.


"Gue juga berpikir kaya gitu, tapi gue belum menemukan bukti yang lainnya. "


"Trus darimana lu dapet semua poto ini?" Roby mulai tertarik dengan pembahasan ini.


"Poto pertama gue dapet dari orang-orang yang gue suruh pantau gerak-gerik Gaby. Dan poto yang kedua gue dapet waktu dia suruh gue sembunyi di apartemen nya. "


"Lu kasih tau gue kalau ada info lagi, emang gue udah curiga sama dia. Tapi gue belum tau apa yang dia rencanain dan gue juga belum punya bukti soal dia."


"Lu tenang aja, gue tetap pantau kegiatan dia disana kok."


...----------------...


Sementara itu di kota S


Saat ini Resti tengah berada di salah satu mall yang ada disana, untuk membeli keperluan dia selama berada di Jakarta.


Karena sebentar lagi adalah hari kelulusan sekolahnya. Dan dia berniat untuk berlibur di tempat Rena sebelum dia melanjutkan pendidikan di kampung halaman.

__ADS_1


Sebelumnya Rena sudah menawarkan pada Resti untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta, tapi dia menolak karena dia memikirkan sang ibu yang harus tinggal sendiri bila Resti kuliah di Jakarta.


Resti terlihat membeli beberapa buah baju, celana, sepatu dan yang lainnya. Semua itu adalah uang hasil dari Resti memutar otak selama.di sekolah.


Terkadang Resti membantu teman-teman sekilas nya membuat karya tulis ataupun tugas yang lainnya, dan dia akan mendapatkan bayaran untuk itu. Kadang juga Resti membantu mengedarkan dagangan milik temannya dan Resti akan diberi upah untuk itu.


Sedangkan uang yang dikirimkan Rena ataupun Roby hanya dia gunakan khusus untuk keperluan sekolah.


Setelah asyik berbelanja, Resti merasa lapar dan dia memutuskan untuk mampir di sebuah kafe. Setelah kenyang dia memutuskan untuk pulang, Resti sangat kewalahan dengan banyaknya paperbag yang berada di tangan kirinya dan tangan kanannya sibuk memegang sebuah minuman dingin.


Resti berjalan sambil menerima panggilan telepon dari Rena melalui perangkat bebas genggam (Handsfree). Karena terlalu asik mengobrol, dia sampai tidak begitu memperhatikan jalan dan akhirnya menabrak seseorang dan membuat minuman yang sedang dia pegang terkena orang yang dia tabrak tadi.


"Ya allah. Pak maaf ya, saya gak sengaja." ucap Resti takut dan langsung mematikan panggilan telponnya.


"Tapi kamu udah bikin baju saya kotor."Ucap si pria sambil mengibaskan bajunya yang kotor terkena minuman milik Resti.


"Iya pak, sekali lagi saya minta maaf. Saya benar-benar gak sengaja."


"Jangan panggil saya pak, emang saya bapak kamu. Makanya kalau jalan tuh pakai mata."


"Aduh om, dimana-mana tuh kalau jalan pakai kaki. Kalau pakai mata itu buat melihat. " jawab Resti enteng.


"Iya itu tau, sedangkan tadi mata kamu gak kamu pakai buat liat jalan. Kamu malah asik tengok kesana kemari. " omel pria itu.


"Om, saya kan udah minta maaf. Kok om masih ngegas aja sih."


"Ya terus kalau udah minta maaf baju saya bisa bersih gitu."


"Ya terus sekarang mau om apa?"


"Am om am om, saya masih muda." protes pria itu karena tidak suka dipanggil om.


Resti terkekeh "Ya terus maunya dipanggil apa?, dek gitu!"


"Kamu ya kecil-kecil tapi udah bikin orang darah tinggi." ucap si pria itu berlalu pergi diikuti oleh sekertarisnya.


"Aneh."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Up lagi buat ganti yang kemarin,


jangan lupa vitamin ok.

__ADS_1


Next


👏👏👏


__ADS_2