
Selama di perjalanan pulang, Roby tak henti-hentinya tersenyum dan itu membuat Rena kesal.
"Kenapa sih senyum-senyum aja?" tanya Rena dengan nada ketus.
Pasalnya Rena tau, apa yang membuat Roby seperti itu. Setelah tau kalau Rosi adalah seekor macan, Rena menjadi bahan tertawaan mereka, yaitu Roby, Morens dan Chintiya.
Apalagi Chintiya terus saja menggoda Rena, dengan terus memanas-manasi Rena dengan menyebut nama gadis cantik yang lain, walaupun sebenarnya itu tidak ada.
"Abis kamu lucu sayang!, masa cemburu sama macan!" ejek Roby sambil tetap fokus mengendarai mobilnya.
"Siapa yang cemburu sih!, aku tuh cuma pengen tau Rosi itu kaya apa."
elak Rena.
"Ngaku aja sayang, dari pada ntar aku direbut sama Rosi-Rosi yang lain."
"Ih bodo amat, emang urusan aku."
"Yakin!!"
"Tau ah." Rena langsung membuang muka menghadap ke jendela di samping.
Roby terkekeh melihat wajah Rena yang memerah karena malu dan juga marah.
Saat tiba di apartemen, Rena ingin menggendong Kafka, Tapi Roby menahan Rena.
"Kenapa?" Rena menatap bingung pada Roby.
"Biar aku aja."
Roby melepas carseat yang digunakan Kafka dan menggendong Kafka yang tengah tertidur.
"Duh anak daddy, tidur mulu sih." Roby berjalan sambil menciumi Kafka yang tertidur.
Rena yang melihat hal itu, merasa terharu. Roby yang menyadari bahwa Rena berjalan di belakangnya, lalu berhenti dan menunggu Rena.
Setelah posisi mereka sejajar, Roby menggenggam tangan Rena dan berjalan kembali secara beriringan.
"Kamu itu bukan pembantu aku, jadi jalan disamping aku. Kalau perlu aku gendong sekalian." ucap Roby sambil terus berjalan.
"Hm."
Setelah tiba di dalam apartemennya, Roby meletakkan Kafka di kamar. Dan saat itu ponsel Rena berdering, Rena mendadak gelisah saat melihat siapa yang menghubungi dirinya.
Rena menuju ke taman belakang untuk menjawab panggilan itu.
"Hallo." jawab Rena gugup.
"Hallo Ren, gimana kabar kamu?"tanya seseorang di sebrang sana.
" Aku baik Boy." jawab Rena mencoba biasa.
__ADS_1
"Maaf ya, aku belum bisa kesana. Aku masih sibuk banget, kamu gak papa kan!"
"Its okey, kamu gak usah khawatir. Yang penting kamu dan kerjaan kamu lancar."
"Kamu lagi dimana sekarang, Kafka lagi apa?. Aku mau liat dia dong, ganti ke VC ya." tawar Boy.
"Eh,, gak usah Boy." tolak Rena.
"Kenapa?"
"Kafka lagi tidur, trus aku juga belum mandi." bohong Rena.
"Hah, belum mandi. Emang kamu gak ke kedai?" tanya Boy penasaran.
"Gak, hari ini aku lagi dirumah. Bersih-bersih rumah, jadinya jam segini belum mandi deh hehehe."
"Pantes!, dari tadi ada aroma yang gak enak." ejek Boy.
"Lebay!!"
"Ya udah, aku tutup dulu ya. Kamu hati-hati disana, kalau ada apa-apa kabari aku."
"Ya bawel."
"Da babe."
"Da."
"Eh Rob, kamu ngagetin aja." Rena bicara dengan gugup, Rena tau bahwa saat ini Roby sedang menahan amarahnya.
"Siapa tadi?, Boy!" tanya Roby dengan datar.
"I... iya."
"Ngapain kamu masih terima telpon dari dia?. Mau bohongin aku lagi, iya!"
"Bohongin apa sih!, dia cuma tanya kabar aku aja kok."
"Oh, perhatian sekali. Aku terharu melihat keromantisan kalian." ucap Roby dengan tersenyum sinis.
" Kamu ngomong apa sih?" Rena bingung dengan sikap aneh Roby.
"Apa begitu gak berharganya semua perhatian aku sama kamu!"
"Maksud kamu apa?"
"Kamu selalu bersikap lembut sama Boy, bahkan kamu selalu berusaha agar Boy gak kecewa. Tapi aku, kamu bahkan selalu ketus tiap ngomong sama aku. Bahkan beberapa hari ini, kamu acuh sama aku, ngomong juga seperlunya aja."
Roby tersenyum sinis.
"Kok, kamu ngomong kaya gitu." Rena menatap nyalang Roby.
__ADS_1
"Ya emang gitu kan faktanya."Roby pun menatap tajam Rena.
"Dengerin ya apa yang mau aku omongin ke kamu." Rena menjeda ucapannya "Kenapa aku selalu bicara dan bersikap lembut sama Boy?, itu karena.... Cuma Boy yang ada disamping aku saat aku terpuruk, saat aku merasa sendirian. Bahkan Boy, gak memperdulikan dirinya sendiri yang harus bolak-balik dari Jakarta ke kota L."
"Aku udah tolak dia berkali-kali, tapi dia tetap sabar dan ikhlas merawat aku. Biarpun aku gak balas perasaan dia, tapi dia tetap berprilaku baik, bahkan dia gak pernah sedikitpun membentak aku."
"Sedangkan kamu, jujur sampai sekarang aku masih bingung sama sikap kamu. Kadang kamu baik, kadang lucu, dan terkadang juga suka marah-marah gak jelas tanpa sebab. Kamu juga suka bertindak sesuka kamu, tanpa perduli sama apa yang aku rasain."
"Kalau mau jujur, kamu itu egois dan cuma mikirin diri kamu aja. Kamu bahkan gak pernah nanya sama aku, apa yang aku mau."
"Tapi aku juga bingung, kenapa aku cintanya sama kamu. Kenapa aku gak tersentuh sama kebaikan Boy dari dulu sampai sekarang. Mungkin ini yang disebut pembodohan perasaan. Ya aku adalah wanita paling bodoh, cinta dan kepolosan membutakan mata hati aku."ucap Rena panjang lebar dengan dada naik turun.
Mendengar jawaban Rena, Roby tersadar kalau yang dikatakan Rena memang benar. Roby merasa jadi orang bodoh yang selalu gampang tersulut emosi.
" Maaf Ren, aku gak pernah ngertiin kamu. Aku benar-benar minta maaf, sekarang kamu bilang sama aku, apa yang kamu mau." Roby menggenggam tangan Rena.
"Kalau aku bilang, apa kamu mau ikutin mau aku?" tanya Rena meyakinkan.
"Iya. Sekarang bilang, apa yang kamu mau?"
"Emm, aku mau... Kamu lepasin aku, biar aku nentuin hidup aku sendiri."
Roby langsung melepaskan genggamannya dari tangan Rena.
"Enggak, kalau untuk itu aku gak bisa." tolak Roby dengan tegas.
"Kenapa Rob?, kamu udah janji sama aku kan."
"Karena aku akan nikahin kamu secepatnya, biar aja kamu bilang aku egois dan mau menang sendiri. Karena aku udah bersumpah, kalau aku dapat kesempatan buat deket kamu lagi, aku gak akan lepasin kamu lagi."
"Tapi kamu juga harus pikirin perasaan aku." Rena menatap Roby dengan kekecewaan.
"Dan kamu juga harus pikirin masa depan Kafka, pokoknya besok kita ketemu ibu kamu buat bicara soal pernikahan kita."
"Tapi Rob."
"Gak ada tapi-tapi."
"Kamu jahat banget sih, dari dulu kamu gak pernah ngertiin aku." Rena tertunduk, dan tak terasa air matanya jatuh.
Melihat Rena menangis, Roby memeluk erat tubuh mungil Rena.
"Aku begitu karena aku sayang sama kamu, maaf kalau mungkin cara aku salah selama ini. Tapi aku cinta kamu Ren, please percaya sama aku. Kita pasti bisa hidup bahagia sama-sama, membesarkan Kafka bersama."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Next
__ADS_1
👏👏👏