Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Kesialan membawa kebahagiaan


__ADS_3

"APA!!!, om jangan kurang ajar ya." marah resti seraya menampar pipi kiri Boy. "Saya pikir om itu berbeda, ternyata om itu sama saja dengan Jagat. Sama-sama brengsek."


"Maaf Res, saya emosi." Boy sedikit menjauh dari Resti.


"Emosi!!, memangnya salah saya apa?"


"Saya cuma gak suka kamu dekat sama cowok lain, apalagi Roby." ucap Boy dengan sedikit menaikan intonasinya.


"Sama mau dekat sama siapa, itu bukan urusan om. Om gak ada hak ngatur-ngatur saya, kita ini bukan siapa-siapa!!"


"Kalau gitu jadilah pacar saya." Boy berucap dengan santai.


Resti tertawa hambar "Hah!!, pacar. Om abis kepentok ya."


"Gak."


"Tapi kok otak om kayanya rada geser deh, kabelnya ada yang konslet tuh."


"Maksud kamu?"


"Ya kalau gak konslet, mana mungkin om bisa ngingau saat sadar kaya gini."


"Maksud kamu apa sih?, saya gak ngerti."


"Akting,,, akting pura-pura bego. Padahal bloon, pake sok gak ngerti. Om pikir saya grup PAUD yang gampang dibohongi, segala suruh saya jadi pacar om. Cih, emang saya gak tau!!.


Cowok kaya om itu macarin cewek kaya saya, atau apa namanya ayam kampus. Itu cuma senang-senang doang kan, trus kalau udah puas tinggal ampasnya langsung deh dilepeh.


Lagian asal om tau ya, saya bukan ayam kampus. Saya mah ayam Kate, jadi gak menarik. Mending om cari yang lain aja deh." jelas Resti panjang lebar.


Boy terkekeh "Udah pidatonya?, kalau belum terusin aja lagi."


"Kurang asem, saya udah mangap panjang kali lebar kali-kali aja om ngerti. Eh malah dibilang pidato, padahal saya tadi lagi ngaji loh."


Boy tertawa sambil mengacak-acak rambut Resti. "Kamu selain bawel, ternyata lucu juga ya. Jadi makin gimanaaaa gitu. Dengerin aku ngomong ya, aku itu serius sama yang aku ucapin.

__ADS_1


Aku mau kamu jadi pacar aku, karena semenjak kamu numpahin minuman ke baju aku waktu itu, aku tuh selalu keinget sama kamu. Apalagi setelah pertemuan kedua kita, aku semakin yakin kalau pertemuan kita itu gak kebetulan semata.


Ya memang aku sempat ragu sama perasaan aku, karena kamu mengingatkan aku sama seseorang di masa lalu aku. Tapi saat liat kamu begitu dekat sama Roby, aku merasa sangat kesal dan cemburu.


Dan aku baru menyadari bahwa belakangan ini aku selalu kebayang sama muka kamu yang jutek itu tapi sayangnya aku suka lihatnya, dan satu hal lagi. Aku lebih suka ayam Kate dari pada ayam kampus, karena ayam Kate itu berbeda dari yang lain, dia imut dan bikin gemes." Boy mencubit kedua pipi Resti.


"Oh!!, jadi om suka sama saya karena saya itu ngingetin sama masa lalunya om gitu!!. Itu berarti saya cuma jadi pelampiasan dong." cibir Resti dengan menyebikkan bibirnya.


"Enggak Res, aku tuh bener-bener suka sama kamu. Kalian itu serupa tapi tak sama, lagian aku udah gak ada rasa lagi kok sama dia. Sekarang aku maunya sama kamu." Boy berbisik lirih seraya memeluk tubuh Resti.


Resti mendorong tubuh Boy agar menjauh, namun sayangnya justru dialah yang terpental dan mengenai salah satu rak buku di toko itu. "Awas ih!!, jangan sembarangan peluk-peluk ya. Emang saya guling apa?"


"Kamu mau jadi guling hidup buat temenin aku!!, aku gak keberatan kok." goda Boy menaikan alisnya.


"Ogah." Resti melanjutkan acara pencarian buku yang tertunda.


Boy hanya tersenyum memperhatikan punggung Resti yang sibuk memilih buku, dia tidak menyangka bahwa dia bisa tertarik dengan bocah labil seusia Resti. Padahal dulu, dia paling tidak suka dengan wanita seusia Resti yang bersifat dominan manja. Itu sebabnya mengapa dulu dia tertarik dengan Rena yang bersikap dewasa dan juga mandiri. Tapi entah mengapa, pengecualian terhadap Resti yang bisa membuat Boy terus teringat dengan dirinya.


Boy tanpa sengaja mengadahkan kepalanya ke atas untuk meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.


"Res!!, awas." Boy dengan sigap merengkuh tubuh mungil Resti mendekapnya erat dan menjadikan punggungnya sebagai tameng agar wanitanya tidak tertimpa buku-buku itu.


"Ya Allah om." Resti mendekap mulutnya saat sadar akan apa yang dilakukan Boy.


"Kamu gak papa kan?" tanya boy dengan tersenyum.


"Saya gak papa, tapi om. Itu pasti sakit kan!!"


"Enggak kok."


Resti membantu Boy berdiri dengan susah payah "Ssshhh." Boy mendesis menahan rasa nyeri di punggung.


"Aduh om maaf ya, gara-gara saya om jadi kaya gini. Harusnya om gak usah kaya gitu, saya jadi ngerasa bersalah." Resti mendudukkan Boy di salah satu bangku yang berada disana.


Mendengar kegaduhan di toko tersebut, para pegawai dan juga pengunjung melihat apa yang terjadi disanan. Begitu tau ada korban yang terkena atas insiden ini, pihak toko segera berinisiatif menolong Boy untuk dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Namun Boy bersikeras menolak, Akhirnya Resti memutuskan membawa Boy ke rumahnya untuk di obati. Biar bagaimanapun ini semua terjadi karena dia.


Mereka pergi menuju ke rumah Resti diantar oleh salah satu pegawai toko tersebut dengan mengemudikan mobil milik Boy, 30 menit kemudian mereka tiba dan disambut dengan raut wajah bingung dan panik Bu Lastri.


"Neng, ini teh saha?" ( Neng, ini siapa?) tanya Bu Lastri.


"Ini temen Resti bu."


"Kunaon atu neng?" (Kenapa ini neng?).


"Ntar aja ya neng jelasin, bisa tolong bantu neng bawa ke dalam. Berat nih." keluh Resti yang memapah tubuh kekar Boy.


"Eh,,, eh iya. Aduh ibu sampe bingung gini." Bu Lastri membantu Resti membawa boy ke ruang tamu dan didudukan di sofa.


"Bentar ya Bu, neng mau ambil air buat kompres dulu."


"Iya."


Tak lama kemudian Resti kembali dengan membawa baskom berisi air dengan handuk kecil dan sebuah botol yang berisikan minyak urut.


"Di buka dulu atuh bajunya neng." ucap Bu Lastri yang melihat boy masih lengkap dengan jas berbalut di tubuhnya.


"Om bisa buka baju sendiri kan!!"


"Tangan saya sakit Res, kayanya agak memar deh." ucap Boy dengan sedikit berakting.


Memang benar dia merasakan nyeri di punggung dan tangannya akibat menahan jatuhnya buku- besar tadi. Namun bila hanya sekedar membuka baju, sebenarnya Boy masih mampu. Namun dia berbohong agar dia bisa lebih lama dekat dengan Resti disana.


"Uh!!!, pahlawan kepagian." rutuk Resti kesal. Sebenarnya dia tau kalau Boy hanya berbohong, namun dia tidak bisa berkata kasar karena sang ibu ada dekatnya.


......................


......................


Next

__ADS_1


👏👏👏


__ADS_2