Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Pengakuan


__ADS_3

Tak terasa Resti dan Boy menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling tempat wisata yang ada di daerah itu, hingga waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Setelah menyelesaikan makan malam bersama, Boy mengantarkan Resti pulang dan barulah dia kembali ke hotel tempatnya menginap.


Karena terlalu lelah, Resti sampai tertidur di mobil. Di sepanjang perjalanan, Boy berkali-kali melirik ke pada gadis yang tertidur di sampingnya itu. Dia tidak menyangka bahwa dia bisa tergila-gila dengan gadis polos nan cerewet ini.


Sampai di depan rumah, Boy menghentikan mobilnya dan memperhatikan Resti yang masih tertidur pulas. Karena tidak tega membangunkan, akhirnya Boy membopong tubuh Resti ke dalam kamar.


Di depan pintu, dia bertemu dengan Leni dan sempat menghentikan langkahnya sesaat. "Saya minta, kamu jangan cerita apapun tentang saya dan Rena dulu." ucap Boy serius.


"Tapi kak, saya rasa lebih baik neng Resti tau semuanya. Dari pada dia tau di belakang nanti, bisa-bisa dia berpikir kalau kak Boy itu menipunya."


"Saya sendiri yang akan menceritakan semuanya, saya tidak mau dia mendengar sesuatu dari orang lain. Saya tidak mau dia mengira saya tidak mau jujur dan terbuka padanya."


"Maaf kak, apa kakak serius sama neng Resti?" tanya Leni hati-hati.


"Kenapa kamu tanya begitu?"


"Saya cuma tidak mau kalau kak Boy itu cuma mempermainkan neng Resti, dia ini gadis yang baik. Saya juga tidak rela siapapun mengganggu keluarga teh Rena yang sudah sangat baik sama saya." Leni menatap Boy tajam.


"Apa saya ada tipe seperti itu?. Kamu tenang saja, saya jamin Resti tidak akan pernah merasa bersedih selama bersama saya. Saya akan buat dia bahagia selalu, karena saya tidak main-main dengan perasaan saya ini." ucap Boy seraya menatap wajah Resti yang terlelap.


Leni tersenyum lega "Saya pegang ucapan kak Boy, kalau sampai Resti menangis karena kakak, saya orang pertama yang akan menentang hubungan ini."


"Terima kasih." Setelah berkata demikian, Boy kembali melanjutkan perjalanan ke kamar masih dengan Resti di gendongannya.


Tanpa dia sadari, bahwa ternyata semua percakapan Boy dan Leni terdengar jelas oleh Resti yang sebenarnya sudah terbangun saat dia merasa tubuhnya melayang ketika Boy mengangkat tubuhnya.


Sesampainya di kamar, Boy meletakkan tubuh Resti secara perlahan agar tidak membangunkan gadis itu. Boy membenarkan posisi tidur dan menyelimuti tubuh Resti.


Saat hendak pergi, tiba-tiba langkah Boy terhenti karena dia merasakan sebuah tangan mungil menggenggam pergelangan tangannya.


Boy melihat ke arah tangannya, dan ternyata Resti yang terbangun tengah memandangnya dan menggenggam pergelangan tangannya. "Kenapa?" tanya Boy seraya kembali mendekat dan duduk di pinggir ranjang.

__ADS_1


Secara tidak terduga, tiba-tiba Resti menarik dan memeluk erat tubuh Boy. "Makasih." ucapnya lirih.


"Iya, sama-sama. Aku gak tega bangunin kamu, jadi aku gendong kamu. Sekarang kamu lanjut tidurnya." jawab Boy masih dalam posisi memeluk dengan tubuhnya berada di atas tubuh Resti.


"Bukan itu."


"Terus!, apa?"


"Makasih, karena kakak udah sabar ngadepin aku yang labil. Makasih juga udah memperjuangkan aku dan makasih karena udah mau memberikan rasa nyaman buat aku." tutur Resti seraya menyembunyikan wajahnya di dada Boy.


Boy terkekeh, lalu dia menjauhkan tubuhnya untuk melihat wajah Resti dari dekat "Sekarang kamu udah percaya sama aku!!, kita akan sama-sama berjuang untuk mendapatkan restu dari keluarga kamu, terutama dari Roby."


"Kenapa kak Roby?"


"Karena aku yakin, Roby pasti akan mengira kalau aku cuma main-main sama kamu untuk balas dendam sama Rena. Seperti yang Leni juga pikir."


"Aku mau tau semua tentang cinta segitiga antara kalian." sindir Resti.


"Kenapa nanti!!" Resti memajukan bibirnya.


"Karena sekarang ada yang lebih penting dari itu."


"Apaan?"


Boy berbisik "Kamu gak sadar udah mancing aku."


"Mancing!!, mancing apaan?" tanya Resti bingung.


"Kamu liat posisi kita sekarang."


Resti baru tersadar akan posisi mereka yang sangat intim saat ini "Ih, awas ih. Kok kita bisa begini sih?, kakak pasti ambil kesempatan."


"Sembarangan, kamu lupa siapa yang tadi narik tangan aku."

__ADS_1


"Ehh!!"


Boy tersenyum manis melihat raut wajah malu Resti "Aku sayang sama kamu, aku cinta kamu my baby duck."


"Kok duck!!" protes Resti seraya tambah memanyunkan bibirnya.


"Itu bibir kamu kaya duck."


"Ih nyebelin."


"Tapi suka kan!!"


"Suka bikin kesel."


"Kesel tapi kangen."


"Ih sebel!!" Resti memukuli lengan Boy, setelah puas membiarkan lengannya dipukuli, dia menatap dalam mata Resti yang tepat berada di hadapannya.


Kemudian, tatapan mata Boy teralih pada bibir tipis yang suka mengomel itu. Perlahan Boy mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Resti.


Resti memejamkan matanya menikmati lembutnya perlakuan Boy padanya, perlahan dia mulai membuka bibirnya dan membalas ciuman dari Boy.


Mendapatkan balasan, Boy merasa sangat senang. Dia meraih tengkuk Resti untuk memperdalam ciuman mereka.


Dan setelah itu aku selesai, lagi gak mood nulis adegan gitu. Jadi ya di make in feel sendiri aja ya.


...----------------...


...----------------...


Next


👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2