Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Perasaan apa ini?


__ADS_3

"Selamat pagi Rena."


"Loh Boy, kok kamu disini?" Rena terkejut karena melihat Boy sudah ada di kedai miliknya, saat akan membuka pintu.


"Iya, emang gak boleh?"


"Ya, gak papa sih. Cuma aneh aja, kedai aku aja bahkan belum buka. Tapi kamu udah ada disini."


"Aku mau jadi pelanggan pertama kamu, siapa tau aja dapat diskon lebih bagus lagi kalau gratis." goda Boy.


"Idih bos sih cari gratisan, pantes aja gak ada yang mau." ejek Rena.


"Bukan gak ada yang mau, tapi aku lagi tunggu seseorang, eh orangnya malah lagi hamil." jawab Boy jujur.


Rena memicingkan matanya "Maksud kamu?"


"Udah gak usah dibahas, kira-kira ini masih lama gak?" Boy mengalihkan pembicaraan.


Sebenarnya Boy memang menaruh hati pada Rena, hanya saja Boy tau kalau saat itu Rena hanya menganggapnya sebagai teman dan Rena terlihat sedang menunggu kepastian dari Roby.


Karena tidak ingin merasakan sakit hati yang lebih dalam, akhirnya Boy memilih menjauh dari Rena.


"Lama apanya?"


"Buka kedainya!"


"Emang kenapa?" tanya Rena heran.


"Aku udah laper tau gak."


"Oh,,, kenapa gak bilang dari tadi!, pake segala acara tebak-tebakan dulu. Aku bikinin dulu buat kamu ya "


"Kamu sendiri yang bikin?"


"Iya."


"Wah berarti aku special dong." Boy merasa bangga.


"Kamu tuh bukan special, tapi spe sial."


"Kamu udah berani ya sekarang." Boy mencubit gemas hidung Rena.


"Udah kaya tuan Crabs tuh tangan." Rena mengusap hidungnya yang bekas dicubit Boy.


"Iya Squidward."


Rena tidak membalas perkataan Boy, dia berjalan menuju ke dapur untuk membuatkan sendiri menu makanan untuk Boy.


Setelah selesai, dia meminta kepada salah satu pegawai untuk membawakan makanan tadi pada Boy.


"Silahkan dinikmati." ucap Rena tulus.

__ADS_1


"Terima kasih mbak cantik."


Rena memutar bola matanya dan hendak pergi dari sana, namun sebelum itu Boy memanggil Rena.


"Ren."


Rena hanya menengok tanpa menjawab panggilan Boy.


"Temenin makan dong."


"Untung cuma satu pembeli yang kaya gini, kalau ada 3 aja bisa tua sebelum waktunya ini." jawab Rena sambil mendudukan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Boy.


Boy hanya terkekeh sambil mulai memakan masakan Rena, entah mengapa Boy merasa Rena menjadi galak dan jutek. Apa itu ada hubungannya dengan hormon kehamilan?, entahlah. Tapi yang pasti Boy menyukai Rena yang seperti ini, dari pada yang terlalu lembut dan hanya memendam kekesalan dalam hati.


Saat mereka tengah terdiam, tiba-tiba Rena memekik kesakitan.


"Awww."


"Kenapa?" tanya Boy memberhentikan makannya.


"Perutku,,,, perutku keram."


"Ayo kita ke dokter."ajak Boy yang terlihat panic.


" Gak usah, ntar juga ilang kok."


"Yakin?"


"Iya."


"Iya, tapi tunggu dulu kakiku lemes."


Boy langsung mengangkat tubuh Rena dan membawanya ke ruangan Rena.


"Eh Boy, jangan gini dong. Aku gak mau repotin kamu." tolak Rena, namun Boy tidak menghiraukan perkataan Rena.


Setelah sampai di dalam, Boy meletakkan Rena di sofa dan meminta Rena meluruskan kakinya.


Tiba-tiba Rena merasakan dadanya sesak, entah apa itu. Tapi dia merasa ada sesuatu yang tidak baik dan seketika dia teringat akan Roby. Keringat dingin membanjiri wajahnya dan Boy mengetahuinya.


"Ren, kamu gak papa?" tanya Boy menyentuh pundak Rena.


"Eh,,, aku gak papa kok."


"Tapi muka kamu pucat dan kamu keringetan gini." Boy memberikan tisue pada Rena.


"Makasih ya Boy."


"Ren."


"Hm."

__ADS_1


"Kamu gak mau kasih tau tentang kehamilan kamu sama ayah anak itu?" tanya Boy serius.


Pasalnya Rena hanya mengatakan bahwa pria yang menghamilinya pergi ke luar negeri, tapi Rena tidak mengatakan siapa pria itu.


"Gak usah, aku gak mau denger kalau dia menolak kehadiran anak ini. Karena kejadian itu adalah kesalahan, tapi anak ini bukanlah kesalahan. Biar aku yang mengurus anak ini sendiri, aku bahagia dengan hidupku sekarang." jawab Rena tanpa memandang wajah Boy.


"Sebelumnya aku minta maaf, kalau ucapanku akan buat kamu tersinggung. Tapi jujur aku gak ada maksud kaya gitu."


Rena menengok kepalanya menatap Boy dengan memicingkan matanya. "Maksudnya?"


"Kalau memang pria itu tidak menerima kehadiran anak itu, aku siap menggantikan posisinya dan aku ikhlas menerima kamu dan anak kamu sebagai bagian dari diriku." Boy menatap mata Rena lekat.


"Terima kasih Boy, tapi aku gak mau kalau sampai aku akan nambah beban kamu." tolak Rena halus.


"Aku gak pernah merasa terbebani, aku tulus terima kamu apa adanya. Karena sebenarnya aku udah lama suka sama kamu, aku sayang kamu. Tapi waktu itu aku sadar diri, kalau kamu menyukai pria lain. Jadi saat itu aku memilih mundur dan menghindar." jelas Boy jujur.


"Pantes aja kamu gak pernah dateng lagi ke gedung RENS CORP, tapi maaf Boy. Untuk sekarang aku mau menenangkan diri dulu, aku mau menikmati hidupku dengan apa adanya." Rena merasa tidak enak, karena Boy sudah sangat baik padanya sejak dari dia bekerja di RENS CORP. Walaupun saat itu statusnya hanya pegawai disana.


"Ok, aku ngerti. Tapi kalau kamu berubah pikiran, kamu bilang sama aku ya. Ya siapa tau aja, tiba-tiba kamu kepentok tembok dan pengen nikah sama aku." goda Boy mencairkan suasana.


"Dih, kok nyumpahinnya jelek sih. Jahat banget, amit-amit jabang bayi." Cibir Rena sambil mengusap perutnya.


"Hahahaha, gak papa loh kalau anak kamu mirip sama aku. Secara aku ganteng, blasteran, kaya, ramah tamah, murah hati, tidak sombong dan rajin merayu." jawab Boy enteng.


"Kalau yang lain boleh deh mirip kamu, tapi jangan yang terakhir. Amit-amit deh."


Sementara di tempat lain.


Setelah 3 bulan tertidur lelap, tiba-tiba hari ini terdengar suara tarikan napas yang berasal dari Roby. Jenni yang duduk di sofa tengah tertidur mendengar suara itu.


Jenni bangun dan mendekati ranjang, dia terkejut melihat Roby yang sudah membuka mata terlihat menarik nafas sesak. Jenni lalu berlari memanggil dokter.


Tak lama kemudian, Jenni kembali dengan seorang dokter dan suster. Dokter tersebut langsung memeriksa keadaan Roby, setelah dirasa cukup dokter beranjak pergi, tapi sebelum itu dia bicara pada Jenni.


"Syukurlah tuan Roby sudah melewati masa kritisnya, dan untuk saat ini tuan Roby hanya tinggal menjalani proses pemulihan." dokter menjelaskan kondisi Roby pada Jenni.


"Terima kasih dokter."


...****************...


...****************...


Maaf ya 2 hari kemarin aku gak up. Badanku drop banget, niat nulis sih ada. Cuman mata gak bisa diajak kompromi buat melek.


Inipun harus dicelup-celup dulu matanya baru bisa melek.


Jangan lupa hadiah dan VOTENYA ya. Terima kasih.


Next


👏👏👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2